Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 38: Rahasia Masalalu


__ADS_3

Siang itu, Austin yang merasa kesal dengan Sylvia memutuskan untuk pergi berjalan-jalan kelilingi daerah sekitar sana, mencoba untuk menenangkan pikirannya.


Masalah menjadi semakin menyebalkan sejak Kakaknya Erlan yang sekarang kembali, dan mulai membuat keributan.


Dan hal yang paling tidak masuk akal, adalah kenapa Airin bisa-bisanya menikah dengan Kakaknya yang menyebabkan itu.


Jelas kedekatan dan pernikahan mereka itu hal yang mencurigakan, kan walaupun dua orang itu benar-benar saling menyukai, kita berdua jelas memiliki tujuan yang buruk.


Kakaknya Erlan yang selalu merebut semua yang dirinya memiliki, sekarang mulai kembali berulah.


Jelas, dirinya tidak akan pernah membiarkan Kakak tirinya itu, mengambil apapun yang saat ini dirinya miliki.


Ya, dirinya jelas tidak boleh kalah dalam persaingan bisnis dengan Perusahaan Kakaknya itu.


Dan soal Airin yang menikah dengan Kakaknya itu...


Apa pula yang akan Airin dapatkan dengan menikahi Pria mandul seperti Erlan itu?


Itu jelas merupakan keputusan yang sangat bodoh, menikah dengan Pria yang tidak lengkap itu.


Airin itu, memang dari dulu terlihat sangat bodoh, entah apa yang ada di pikiran wanita bodoh itu.


Sudahlah, dirinya tidak perlu lagi memikirkan soal masalalunya dengan Airin, toh dirinya sekarang sudah memiliki Sylvia wanita yang sangat dirinya cintai, juga Putranya Elvin yang sangat dirinya sayangi.


Ah, benar mungkin dirinya akan membelikan beberapa mainan untuk Elvin?


Daripada menjadi kesal sendiri.


Namun sebelum Austin pergi, ponselnya berbunyi.


Itu adalah sebuah telepon dari Ibunya, jadi Austin jelas saja mengangkat telepon itu.


"Hallo, Mama,"


'Bagaimana Liburanmu dan Keluarga mu disana? Apakah kalian bersenang-senang?'


Austin yang mendengar pertanyaan itu menjadi cukup sulit untuk membicarakan nya.


Karena liburan ini jelas tidak menyenangkan terutama karena adalah Erlan dan Airin, belum lagi soal masalah di Hotel yang ada disini, belum lagi masalahnya dengan Sylvia.


'Austin? Kenapa kamu malah diam saja?'


Ada nada khawatir dari balik telpon.


Austin mulai berpikir sebentar apakah sebaiknya dirinya menceritakan soal masalah hah Kak Erlan buat pada Mamanya?


Dia saat ini memang membutuhkan seseorang untuk bisa curhatan mengeluh tentang semua hal ini.

__ADS_1


"Sebenarnya di sini tidak menyenangkan karena ada beberapa gangguan,"


Mama Austin yang mendengar kabar itu jelas merasa tidak senang lalu berkata,


"Ada apa memangnya?"


"Aku kebetulan bertemu dengan Kak Erlan dan Istrinya itu, Airin, dan tentang bagaimana Kak Erlan ternyata mulai membangun hotel baru untuk menyanyi hotel milik perusahaan kita di sini hal-hal itu benar-benar membuat Hotel kami bermasalah,"


Austin coba untuk menjelaskan soal keuntungan hotel yang bermasalah, juga soal hotel yang semakin sepi karena orang-orang lebih memilih untuk tinggal di Hotel milik Erlan, dan jelas rencana Erlan sepertinya tidak hanya itu.


Mendengar cerita Putranya itu, Diana jelas saja merasa marah dan emosi.


'Apa? Kakakmu yang cacat itu, berani sekali kembali dan bahkan mengganggu bisnis perusahaan mu?'


"Itu benar, sepertinya memang dia memiliki niat yang tidak baik pada perusahaan ku, hal ini benar-benar membuatku khawatir,"


'Hah, Erlan itu memang tidak tahu malu dan tidak tahu untung, udah bagus dia menghilang selama ini, sekarang dia malah muncul dan membuat masalah, coba saja dulu dia tidak pernah bangun dari komanya, dan segera menyusul Ibu Kandungnya itu di alam baka, sial, itu dia harus selamat benar-benar merusak rencanaku saja,'


Diana mengatakan hal-hal itu tanpa sadar.


Austin tentu saja yang mendengar itu menjadi heran dan kaget.


"Rencana Apa memangnya Mama?"


Diana yang mendengar pertanyaan dari putranya itu segera sadar jika dirinya salah bicara.


Karena dirinya cukup takut jika hal ini bisa bocor ke telinga Ayahnya, Putranya ini, benar-benar bisa menjadi pengecut jika soal masalah-masalah seperti ini, sangat lembek, itulah kenapa putranya itu bisa selalu kalah dari Erlan itu.


Coba saja, Putranya ini sedikit pintar, dan berani mengunakan cara-cara yang cukup berani, pasti sudah dari lama, Putranya itu mendapatkan posisi CEO.


Sayangnya, Putranya itu cukup bodoh.


Belajar keras apa?


Usaha meningkatkan posisi apa?


Tidak ada gunanya hal-hal semacam itu, karena toh dia pada akhirnya kalah.


Hah, namun mau bagaimanapun juga Austin tetap Putranya, dirinya sebisa mungkin membantu Putranya itu, dan tentu saja dirinya tidak cukup naif, untuk hanya melakukan hal-hal jujur.


Jika tidak, bagaimana dirinya saat ini bisa berada di posisi nya menjadi Nyonya Keluarga Castillo?


Dan Erlan itu, merupakan batu sandung yang sangat susah untuk dihilangkan sama seperti Almarhum Ibu Kandungnya itu.


Dulu, seandainya saja rencananya berjalan lancar, pasti sekarang Erlan, tidak akan pernah bisa mengganggu Putranya.


Dan bahkan Erlan mungkin tidak akan pernah lahir di dunia ini!

__ADS_1


Ketika memikirkan masalalu, hal-hal menjadi sangat rumit.


Terutama soal wanita itu...


Untung saja, dirinya berhasil mengadu domba dia dan Suaminya, kalau tidak....


"Mama? Jawab apa yang aku tanyakan? Rencana apa maksudmu?"


'Sudahlah, kamu tidak perlu tahu. Yang jelas, kamu jangan sampai terganggu dengan kedatangan Kakakmu itu, tetap jalankan bisnis Perusahaan dengan baik, minta bantuan Ayahmu, jika kamu memiliki kesulitan, Ayahmu pasti tidak akan suka juga jika tahu, Kakakmu Erlan membuat masalah pada Perusahaan Keluarga kita,'


"Ya, Mama. Aku akan berusaha melakukannya sebisaku, Aku tidak akan membiarkan Kak Erlan bertindak semaunya,"


'Itu bagus, sekarang kamu nikmatilah saja liburanmu itu, jangan terlalu khawatir soal Kakakmu itu,'


Austin juga memikirannya, mungkin memang sementara dirinya merupakan soal masalah-masalah rumit ini.


Namun sekarang dirinya memiliki rasa penasaran.


Rencana apa yang Mamanya bicarakan?


Namun sayangnya, Austin hanya bisa memikirkan itu, dan tidak tahu jawaban sebenarnya.


####


Di sisi lainnya, Airin dan Erlan saat ini sedang menikmati waktu liburan mereka dengan tenang.


Keduanya, kembali menyusuri pantai, mencoba mencari tempat terpencil yang indah, agar mereka berdua bisa berteriak sepuasnya, untuk melampiaskan emosi.


Sampai ketika keduanya, tiba di ujung tebing, Airin melihat pemandangan yang cukup familiar.


Seolah dirinya pernah datang ke tempat ini.


"Airin? Kenapa kamu diam saja dari tadi? Ayo naik, tempat ini sepertinya bagus untuk berteriak,"


"Tidak, Aku hanya merasa jika tempat ini cukup familiar,"


"Kamu pernah kesini?"


"Aku tidak begitu ingat, dulu ketika kecil, aku pernah mengalami suatu insiden yang membuatku kehilangan sebagian ingatanku ketika kecil,"


"Ada kejadian seperti itu?"


"Aku juga tidak tahu pasti, tapi yang jelas Aku merasa itu ada hubungannya dengan saudara-saudaraku."


Erlan yang mendengar itu merasa cukup simpati.


"Sepertinya kamu memiliki hari-hari berat juga dimasalalu. Bagaimana jika nanti kamu mengundang mereka juga dalam acara Pameran mu? Yah, sekalian agar mereka melihat betapa hebatnya kamu sekarang,"

__ADS_1


__ADS_2