
Malam itu, di salah satu Restoran Mewah di Hotel Bintang lima, terlihat Airin dan Erlan sedang menikmati makan malamnya bersama dengan senang.
Mereka terlihat sekali sangat menikmati makan malam itu.
"Kak Erlan, aku senang jika semuanya berjalan lancar sesuai rencana," kata Airin dengan senang.
"Ya, itu karena kita sudah berusaha dengan keras. Inu juga berkat bentuan Paman Haikal,"
"Ah iya, Paman Haikal tidak jadi datang kesini? Dia bilang nanti saja kalau semuanya benar-benar selesai juga ingin merayakannya," kata Erlan sambil tersenyum.
"Aku rasa kita berdua saja yang terlalu excited bukan? Padahal ini baru langkah pertama kita,"
"Bukankah tidak apa-apa lagi pula kita sudah menunggu cukup lama untuk melakukan semua ini,"
"Kak Erlan benar, lagi pula mereka itu pantas mendapatkan semua itu,"
"Kamu benar, Airin. Sebaiknya memang kita menikmati saat ini tidak perlu terlalu risau,"
Kamudian, beberapa Pelayan mulai datang untuk menghidangkan makanan yang mereka pesan, juga beberapa minuman disana.
Suasana malam itu benar-benar terlihat sangat indah untuk kedua orang itu namun di saat beberapa orang bahagia jelas ada beberapa orang yang merasa kesal.
Misalnya saja, saat ini di Rumah Besar Keluarga Castillo, suasana makan malam itu terlihat sangat tegang.
Ibu Austin, Diana baru saja mendegarkan soal masalah apa yang terjadi sebelumnya Perusahaan, jelas dirinya menjadi sangat marah.
"Max, lihat putra pertamamu itu dia benar-benar ingin membuat masalah dengan kita apakah kamu memang benar-benar ingin membiarkan hal itu?"
Ayah Austin Maximilan jelas segera menunjukkan ekspresi rumit.
Sejujurnya dirinya juga tidak tahu harus berbuat apa, karena mau bagaimanapun juga Erlan masih Putranya, walaupun dirinya sedikit membenci anak itu, namun dia tetap Putranya.
Fakta yang jelas tidak akan bisa dirubah.
"Kamu ragu karena dia Putramu? Hah, jelas kesalahanmu sendiri dari awal!"
"Diamlah, Diana. Menurutmu apa yang bisa kita lakukan?"
Austin yang mendengar orang tuanya itu bertengkar, jelas merasa tidak senang.
"Papa Mama, aku hanya merasa sedikit aneh Bagaimana bisa Kak Erland mendapatkan porsi Saham yang cukup besar, tidak kah kalian merasa? Apalagi tiba-tiba dia memiliki Perusahaan sebesar itu, Aku yakin ada seseorang yang mendukungnya,"
__ADS_1
Diana yang mendengar kata-kata dari putranya itu segera mengangguk setuju.
"Ya, Aku juga merasa itu aneh kenapa dia tiba-tiba bisa Kaya Raya seperti itu, ini terlalu mencurigakan untuk menjadi nyata, jelas ini perlu diselidiki lebih lanjut,"
"Namun siapa yang mendukung Kak Erlan? Apakah keluarga kita ini memiliki masalah atau sesuatu?"
Ketika Austin mengatakan itu, baik Diana atau Max segera merasa terdiam.
Mereka berdua juga tidak tahu.
"Hmm, sebaiknya memang kita perlu menyelidikinya lebih lanjut," kata Diana kemudian.
"Ya, Aku akan menyuruh anak buahku untuk menyelidiki soal mereka aku pasti akan menemukan seseorang yang ada di belakang Kak Erlan, jelas tidak mungkin dia begitu sukses seperti itu dengan dirinya sendiri," kata Austin dengan keyakinan.
Diana sendiri, hanya bisa menahan rasa kesalnya.
Dirinya tidak pernah mengira jika putranya itu akan kembali dan ingin balas dendam seperti itu.
Seandainya, dirinya tahu hal itu, dirinya pasti tidak akan membiarkan Erlan selamat dulu.
Hah, sayang sekali kecelakaan itu tidak membuat Erlan mati sekalian, padahal akan mudah jika dia lenyap dari dunia ini.
Awas saja ya, dirinya pasti tidak akan membiarkan Erlan itu berbuat seenaknya.
Dirinya pasti akan mencoba meletakkannya lagi.
Tunggu dan lihat, dirinya akan membuat Erlan itu segera menyusul Ibu Kandungnya itu.
####
Kembali ke sebuah Restoran Mewah tempat Airin dan Erlan berada. Saat ini, di Dapur Restoran terlihat seorang pelayan memiliki ekspresi cemas.
"Hey, kapa kamu itu diam saja dari tadi?" Tanya seorang Pelayan yang lain.
"Itu... Sebenarnya, untuk Ruangan Private No 2, Aku salah mengirimkan minuman dan malah tertukar dengan Ruangan sebelahnya. Itu harusnya hanya Cocktail Non-alcohol, namun itu tertukar dengan pesanan di sebelah yang sebenarnya Cocktail kandungan Alkohol tinggi, Bagaimana ini apakah ini tidak masalah?"
"Astaga, Bagaimana kamu bisa kamu membuat kesalahan seperti itu?"
"Sungguh, tadi itu di ruangan sebelah orang-orangnya sangat menyebalkan, jadinya aku hanya asal meletakkan minum, banyak orang berisik disana,"
"Sudahlah, asal kamu diam saja dan mereka tidak ada yang protes harusnya tidak apa-apa,"
__ADS_1
"Ya, benar,"
Namun mana tahu, saat ini Erlan dan Airin, yang dua-duanya sama-sama bukan tipe orang yang bisa minum Alkohol, saat ini dalam keadaan mabuk, dan hampir tidak sadar dengan tindakan atau kata-kata mereka hanya mengeluarkan seluruh isi hati mereka secara tiba-tiba.
"Astaga.... Suasana malam ini benar-benar sangat indah," kata Erlan tiba-tiba.
"Benar sekali, ukhhh... Rasanya tiba-tiba aku sedikit semangat,"
"Ah, kenapa ini jadi sedikit gerah?" Kata Erlan tiba-tiba.
Airin yang saat ini terpengaruh minuman, dirinya benar-benar menjadi memiliki keberanian tinggi.
"Benarkah? Apakah mau untuk aku bantu membuka bajumu?" Kata Airin yang sudah berdiri dari tempat duduknya itu, mulai berjalan sempoyongan dan menuju kearah Erlan, dan dengan berani langsung duduk di pangkuannya.
"Airin, kenapa kamu terlihat begitu seksi dengan baju itu? Apakah kamu mencoba mengodaku? Sungguh, aku ini masih seorang Pria normal, bagaimana kamu itu selalu menguji ku selama ini?"
"Menguji apa? Lihat wajah tampan dan tubuhmu yang bagus ini, bukankan itu terlalu curang untukmu memiliki wajah dan tubuh yang sempurna ini? Itu benar-benar menarik setiap wanita yang bertemu denganmu, Ah~" kata Airin sambil meraba-raba tubuh Erlan, dan mencoba membuka kancing bajunya.
"Kamu itu, ternyata bisa juga bersikap nakal seperti ini, sangat seksi,"
Suasana malam itu, entah kenapa terasa panas untuk mereka berdua.
Saling menatap dari dekat seperti itu....
"Ya ampun, wajah ini, kenapa kamu bisa begitu Tampan Kak Erlan? Aku kadang iri dengan Sylvia mantan Istri Kakak itu, karena dia telah melihat dan menyentuh semua bagian tubuh yang indah ini, dan menikmati tubuh bagus dan wajah tampan ini bertahun-tahun,"
"Hah, apa yang kamu katakan soal wanita gila itu Ah? Dia hanya wanita kurang ajar, yang memanfaatkan tubuhku dan uangku, dan begitu menemukan Aku tidak berguna, dia membuang ku, dan berselingkuh, sungguh Aku merasa jijik memikirkan Aku pernah berbagi wanita di tempat tidur dengan Pria lain saat itu,"
"Hoh, tetap saja Aku iri, dengan dia yang sudah menikmati Tubuh Kak Erlan yang bagus ini, Ah, iri hingga membuatku merasa kesal," kata Airin sambil memukul-mukul kecil ke dada bidang Erlan itu.
"Apa yang membuatmu iri? Kamu ingin mencobanya juga?"
Airin tertawa mendengar itu,
"Ah? Mencobanya? Apakah bisa?"
Erlan yang mendengar nada menggoda itu segera berkata,
"Kenapa tidak? Tubuh ini, sekarang bukan milik siapa siapa... Apakah kamu ingin mencoba memilikinya?"
Erlan berbisik di telinga Airin, membuat Airin merasa sedikit geli.
__ADS_1