
Saat ini baik Airin dan Erlan Saja membereskan bunga-bunga yang ada di te dimpat tidur, karena hal-hal semacam itu cukup membuat mereka berdua sedikit tidak nyaman.
“Hmm, Aku rasa di sini sudah beres,” kata Airin Akhirnya merasa lega karena kekacauan di tempat tidur sudah selesai.
“Kamu Benar sekali akhirnya ini selesai benar-benar merepotkan ada bunga-bunga semacam ini,”
“ Bagaimana lagi ini adalah apa yang sudah diatur oleh Paman eh, paket bulan madu untuk kita, Aku rasa memang cukup wajar disiapkan hal-hal semacam ini,” kata Airin dengan nada yang cukup tenang.
“Ya, Mau bagaimana lagi Kita juga tidak bisa menyuruh para pelayan untuk membereskan nya karena ini akan aneh,”
Airin yang merasa lelah itu, Mulai berbaring di tempat tidur, sedangkan Erlan duduk di tepi tempat tidur.
Sebelumnya mereka juga sudah sempat mengambil beberapa foto yang cukup bagus.
Dan sekarang ketika Airin ada di tempat tidur, dirinya menemukan ada semacam masalah.
Benar sekali masalahnya soal tentang bagaimana mereka berdua akan tidur nantinya.
Dikamar ini jelas hanya ada satu tempat tidur besar , Namun ketika teringat beberapa kejadian memalukan ketika mereka berdua ada di satu kamar, Airin merasa malu.
Bagaimana jika nanti ada kejadian memalukan lainnya?
Memang benar saat ini ini, ini baik dirinya dan Erlan Memutuskan untuk bersikap biasa-biasa saja dan bisa menjadi lebih dekat, mereka bahkan sudah berciuman.
Jadi seharusnya tidak Masalah bukan, jika mereka berdua berbagi tempat tidur yang sama?
“Kak Erlan, soal nanti malam?”
Erlan yang tiba-tiba ditanya itu segera terdiam sejenak, karena mengerti tentang apa yang dimaksud oleh Airin.
“Jika kamu tidak keberatan, Aku rasa tidak masalah jika kita berdua mencoba untuk tidur di tempat tidur yang sama. Benar yang sebelumnya, Ini aku tidak akan meminum obat ku jadi seharusnya tidak akan ada masalah, lagipula di masa depan kita mungkin juga akan dihadapkan situasi yang sama dimana kita berdua harus berada di satu kamar kita tetap tidak bisa menghindari satu sama lain,”
Airin Terlihat berpikir sebentar soal ucapan dari Erlan yang mungkin benar juga.
“Tentu, Tidak masalah dengan itu. Hal ini jelas sudah menyelesaikan salah satu masalah yang kita miliki Dan lagi aku percaya denganmu,”
Erlan tersenyum, cukup senang dengan jawaban yang Airin berikan.
Keduanya, tenggelam dalam sebuah keheningan.
Sampai, Erlan segera berdiri dan berkata,
"Bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar? Aku rasa cukup baik untuk melihat pantai?"
Airin saat ini sedang tiduran itu segera bangun, semangat dengan tawaran barusan.
"Tentu saja, ini juga sudah cukup sore cukup cocok untuk pergi berjalan-jalan di pinggir pantai, aku ingin melihat juga matahari tenggelam,"
"Ya, setelah semua, kita di sini untuk berlibur, mari bersantai sedikit,"
Setelah mengabil keputusan itu, keduanya segera pergi menuju kearah pantai yang tidak jauh dari hotel yang bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki.
Namun mana tahu, begitu mereka berdua keluar dari pintu hotel, dari arah hotel sebelah yang hanya berbatasan jalan, itu terlihat sosok sosok familiar.
Airin dan Erlan juga cukup terkejut untuk saat bertemu dengan mereka berdua.
Tentu saja, Airin cukup sigap untuk merangkul tangan Erlan dengan mesra.
Erlan sendiri, cukup kaget dengan tindakan tiba-tiba itu, ya Erlan masih belum terbiasa dengan hal-hal ini namun jelas dirinya harus mulai terbiasa dengan hal semacam ini mulai dari sekarang.
__ADS_1
Sylvia yang paling awal berkata dengan pedas ketika melihat pasangan itu,
"Mau apa kalian di sini? Benar merusak pemandangan,"
Austin lalu segera menambahkan,
"Bener sekali, hanya merusak mood melihat kalian berdua,"
"Itu benar, jangan bilang kalian memang sengaja mengikuti kami berdua agar merusak mood kami?" Kata Sylvia lagi dengan sinis.
Ya, Sylvia jelas merasa sangat terganggu ketika melihat sosok dua orang itu.
Terutama melihat Erlan sekarang bersama dengan Airin.
Lihat, apa yang bagus pula dari Wanita sialan itu?
Yang bahkan tidak menarik sedikitpun.
Airin yang mendengar respon buruk dari mereka, memasang senyum nya dan segera berkata,
"Kenapa kalian berdua terlihat sangat percaya diri? Nami berdua jelas tidak ada hubungannya dengan kalian berdua. Kami ke sini untuk melakukan pemeriksaan pada Hotel milik Perusahaan kami ini, sambil berbulan madu tentu saja,"
Mendengar itu, jelas ada ekpersi terkejut di wajah Austin, lalu menatap kearah sebuah hutan mewah yang berada tepat di depan hotelnya.
"Apa Hotel itu? Milik kalian?"
Erlan lalu segera berkata dengan tenang,
"Ya, ini adalah udah yang dibangun oleh perusahaan ku,"
Austin lalu menjadi teringat tentang keuangan Hotel miliknya itu dari Management, tentang bagaimana menurunnya keuntungan yang mereka memiliki, yang juga mulai sepinya pengunjung akhir-akhir ini padahal itu adalah saat untuk liburan.
Dulunya hotel milik mereka ini merupakan hotel paling ramai disini, namun sejak ada hotel lain yang dibangun itu benar-benar menggangu aktivitas hotel milik Perusahaannya.
Dan setelah semua, ternyata hotel itu milik Kak Erlan?
Sial, jelas itu adalah hal yang disengaja.
"Kamu benar-benar sangat ingin membuat masalah denganku bukan? Sekali mencoba membangun hotel di depan hotel milikku?"
Sylvia jelas merasa cukup terkejut dengan kata-kata Airin dan Erlan barusan.
Sylvia sebelumnya, melihat soal Hotel disebelah yang terlihat sangat mekah dan mewah dan bahkan lebih besar dari Hotel yang dirinya tempati.
Tidak perlu dikatakan pemilik hotel itu jelas orang yang sangat Kaya Raya.
Dirinya hanya tidak pernah mengira jika itu adalah milik Erlan?
Bagaimana bisa, Erlan sesukses itu?
Hanya dalam waktu yang tidak begitu lama tidak hanya dia memiliki sebuah perusahaan seperti ER. Group yang memiliki bisnis luas salah satunya adalah dalam bisnis perhotelan?
"Ini adalah sebuah persaingan bisnis jadi kamu jangan marah jika kalah," kata Erlan lagi dengan ekpersi dinginnya, yang jelas itu membuat Austin menjadi semakin marah.
Ya, Austin tidak benar-benar mengira jika pergi ke tempat liburan ini hanya membawa sebuah ke sialan terutama setelah bertemu dengan mereka berdua.
"Siapa menurutmu yang kalah? Ku tidak kalah apapun dari mu! Jelas hotel milikku yang lebih baik,"
Erlan yang mendengar itu segera tertawa,
__ADS_1
"Sungguh? Kamu mengaku itu adalah milikmu? Padahal itu semua hanyalah sebuah rampasan yang menggunakan trik licik,"
Austin yang marah segera memegang kerah baju Erlan, kelas merasa tidak terima dirinya dihina semacam itu.
Merampas apa?
Ini semua dari awal memang miliknya.
"Jaga bicaramu!"
Airin yang melihat Austin emosi itu, segera mendorong Austin menjauh dari Erlan.
"Cukup! Kami berdua benar-benar tidak ingin berurusan dengan sampah-sampah seperti kalian, benar-benar merusak pemandangan, mari Erlan seperti dari sini saja tidak ada gunanya berdebat dengan orang-orang bodoh seperti mereka,"
Sylvia yang mendengar kata-kata merendahkan dari Airin itu jelas tersinggung.
"Airin! Jaga bicaramu! Kamu itu pasti hanya menumpang ke Suami barumu itu bukan? Dan kamu bertingkah sok berkuasa dasar tidak tahu malu,"
Mendengar itu, Airin segera tertawa dan berkata,
"Sylvia apakah kamu membicarakan soal dirimu sendiri? Bukankah kamu hanya parasit yang menempel pada Suamimu? Sungguh, aku terkejut kamu benar-benar mengatakan soal keburukanmu sendiri,"
"Kurang Ajar kamu!" Kata Sylvia yang mengangkat tangannya, hendak menampar Airin, namun jelas, itu gaga karena tangannya segera di pegang oleh Erlan, mencegah untuk menampar Airin.
Austin melihat bagaimana Erlan memengang tangan Sylvia itu menjadi marah.
"Lepaskan tangan Istriku!"
Erlan jelaskanlah melepaskan tangan itu karena dari awal dirinya memang tidak punya niat untuk memengang tangan dari wanita menjijikan itu lebih lama.
"Aku jelas tidak memiliki keinginan untuk memegang tangan Istrimu, to karena istrimu saja yang mencoba untuk menyakiti Istriku, Airin. Aku jelas tidak akan biarkan siapapun untuk menyakiti Istriku tercinta ini," kata Erlan sambil memeluk Airin kedalam dadanya, seolah ingin melindunginya.
Airin yang tiba-tiba dipeluk itu jelas merasa cukup berdebar.
Apalagi, mendengar kata-kata cinta yang terdengar sangat romantis itu.
Aroma maskulin dari Erlan, memasuki penciumannya aroma yang sangat harum, khas lelaki.
Dada bidang yang terbentuk, buat itu sangat nyaman untuk dipeluk.
Seolah Airin tengelam dalam pelukan singkat itu.
Austin dan Sylvia jelas menjadi kesal dengan kata-kata itu.
Ketika mereka bertengkar, dari dalam hotel terlihat ada sosok kecil yang familiar yang sepertinya baru saja keluar dengan pengasuhnya, menghampiri mereka.
Anak-anak selalu tidak tahu tentang urusan orang dewasa.
Namun, ketika Elvin lihat ada dua orang yang terlihat familiar yang diajak bicara oleh Papa dan Mamanya, Elvin segera menjadi begitu jadi ceria dan semagat.
"Paman Elan! Paman Elan!"
Si kecil segera memasuki medan perang tanpa tahu apa-apa, dan menatap Erlan dengan ekpersi senang.
Orang-orang dewasa disana juga cukup terkejut dengan kedatangan anak itu tiba-tiba.
Terutama Erlan, yang melihat anak itu langsung menghampiri dirinya seolah minta dipeluk itu.
Ya, kenapa anak ini begitu lucu dan mengemaskan?
__ADS_1