Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 34: Wanita Ambisius


__ADS_3

Memdengar pertanyaan Erlan tiba-tiba itu, jelas saja Sylvia merasa cemas, namun jelas aja dirinya mencoba untuk menormalkan ekspresinya, dan berkata dengan kesal,


"Menyembunyikan apa? aku sama sekali tidak menyembunyikan apapun itu hanya kamu saja yang mengada-ada," kata Sylvia mencoba untuk mengelak.


"Namun kenapa kamu bertingkah seperti itu ingin sekali menjauhkan Elvin dariku?" tanya Erlan lagi, dengan menuntut dan benar-benar ingin tahu alasannya.


"Itu karena Austin, dia jelas sangat tidak menyukai tentang bagaimana putranya dekat-dekat denganmu bukannya itu sudah jelas?"


Erlan jelas mengerti soal ini bahwa adiknya itu tidak suka dengan nya, hanya saja dirinya merasa ada sesuatu yang janggal soal Slyvia.


Seolah dia menyembuyikan sesuatu, tingkahnya yang memang mencurigakan sejak awal dirinya bertemu dengan Elvin.


Suara tangisannya Elvin muncul lagi, membuyarkan lamunan Erlan.


"Sudahlah lupakan saja, sepertinya memang tidak ada artinya berbicara seperti ini padamu namun yang jelas kamu itu tidak bisa membentak Elvin seperti itu, lihat Elvin begitu ketakutan, dia ini hanya anak-anak, dia tidak tahu tentang masalah kita, jadi jangan membentak nya dan memarinya seperti itu," kata Erlan sambil mengelus rambut Elvin mencoba untuk menenangkan anak itu agar tidak lagi menangis.


"Paman Elan..."


Suara kecil itu menunjukan kesedian.


Slyvia jelas tidak suka itu, tentang bagaimana mereka berdua bisa terlihat dekat itu, padahal belum lama sampai mereka berdua bertemu.


Hal-hal ini jelas membuat dirinya semakin cemas, dua orang ini tidak boleh saling dekat, dan Erlan tidak boleh curiga sama sekali.


"Jelas bukan urusanmu tentang bagaimana aku merawat Putraku!"


"Memang ini bukan urusanku, namun aku ini masih memiliki hati dan tentu saja merasa tidak nyaman melihat anak sekecil itu dimarahi olehmu seperti itu sampai dia menangis,"


"Aku akan bisa menghiburnya nanti, ini anak-anak sangat wajar untuk menangis nanti juga dia akan baikan."


"Kamu itu, benar-benar bersikap sangat seenaknya pada putramu sendiri, kamu itu seharusnya lebih mengerti perasaannya, dia hanya ingin bertemu denganku dan menyapa sebentar Apa yang salah dengan itu?"


"Sudahlah, lepaskan Elvin, Aku akan membawanya masuk dan mengurusnya," kata Sylvia berniat pergi.


Namun tangan Elvin memegang tangan Erlan dengan erat, solah tidak ingin melepaskan tangan itu.


"Elvin, lepas kan sekarang juga, mari kita segera masuk nanti mama akan membelikanmu kue coklat kesukaanmu," kata Sylvia mencoba untuk merayu putranya itu.


Anak kecil selalu memilikimu yang berubah-ubah jadi mendengar ingin diberikan kue coklat itu jelas aja Elvin senang.

__ADS_1


"Benar Ma? Kue Coklat?" tanya Elvin dengan nada penasaran.


"Benar, nanti ada juga es krim coklat kesukaanmu, jadi lepaskan Paman Erlan oke? Lain kali saja kamu bertemu dengannya,"


Elvin kecil lalu dengan patuh melepaskan tangan itu.


"Paman Elan, Elvin akan dibelikan oleh Mama Kue Coklat, Elvin ingin Paman ikut makan, Kue Coklat sangat enak,"


Erlan sedikit terdiam setelah mendengar itu, yang karena dirinya sebenarnya juga cukup menyukai kue coklat.


Dan Elvin sebenarnya menyukai apa yang dirinya sukai juga?


Apakah ini kebetulan saja?


Tentu saja, beberapa hal kadang terbesit dalam pikirannya bahwa...


Tidak, Erlan mencoba untuk tidak memikirkan kemungkinan itu, hanya ada 0,00001 % kemungkinan, menggingat kondisinya saat itu.


Sylvia jelas saja semakin menunjukkan wajah yang pucat, dirinya tahu hal-hal yang Erlan sukai, bahkan alergi apa yang dia miliki, dan sialnya Putranya ini, selain menyukai sesuatu seperti Kue Coklat seperti Erlan, anak ini juga Alergi sesuatu seperti kacang, sama seperti Erlan.


Hal-hal menjadi semakin merepotkan jika sampai fakta-fakta kecil ini terungkap.


"Paman Erlan sibuk, jadi kita berdua pergi saja, oke Elvin?" kata Sylvia terlihat sekali ingin cepat-cepat pergi dari sana.


Erlan masjid ke sini malah makin curiga dengan gerak-gerik itu, ingin tahu lebih banyak soal Elvin.


Jadi, Erlan menahan tangan Sylvia agar wanita itu tidak melarikan diri.


Sylvia yang di pegang oleh Erlan itu menjadi kaget.


Tangan yang sudah lama untuk tidak menyentuhnya.


Tatapan mereka berdua bertemu.


Melihat Erlan dari jarak yang cukup dekat seperti ini membuat Sylvia sama lihat wajah itu dari dekat, wajah Erlan yang terlihat sangat tampan, sedikit terbawa suasana.


Penampilan itu, yang hampir tidak berubah sejak tiga tahun lalu, wajah tampan yang mempesona.


Dirinya dulu meninggalkan Erlan bukan karena dirinya tidak menyukai wajah tampan ini, namun jadi orang harus realistis.

__ADS_1


Dirinya lebih menyukai uang dan kedudukan dari pada segalanya, tidak ada yang lebih penting dari itu dan saat itu Erlan jelas dalam posisi menyedihkan, dirinya tahu benar tentang bagaimana persaingan perebutan warisan di kalangan orang Kaya.


Yang menang mendapatkan segalanya, sedangkan yang kalah kehilangan segalanya dan dipermalukan, dan Erlan posisi yang kalah menyedihkan.


Berada di posisi yang kalah tentu saja bukan sebuah pilihan untuk dirinya, dirinya tidak bisa hancur bersama Erlan, dirinya harus tetap mendapatkan kedudukan yang dirinya inginkan, menjadi menantu Keluarga Kaya Raya.


Kalau tidak, nanti bagaimana dirinya memiliki muka dihadapan Kakak-kakaknya yang mewarisi harta keluarga dan yang sukses semua itu?


Dalam Keluarga Will, dirinya hanya sebatas alat untuk transaksi bisnis, dirinya tidak memiliki hak untuk warisan Ayahnya karena anak dari Istri ke dua Ayahnya yang tidak di sukai semua di Keluarga.


Sangat beruntung dirinya bisa memasuki Keluarga Castillo yang Kaya Raya itu, jadi dirinya bisa menunjukkan kepada semua orang di keluarganya itu bahwa saat ini dirinya mendapatkan kekuasaan dan kesuksesan besar, memiliki harta dan kedudukan lebih dari mereka semua.


Benar, walaupun Keluarga Will cukup Kaya, namun itu jelas tidak sebanding dengan Kekayaan Keluarga Castillo.


"Siapa yang bilang jika Aku sibuk?"


Ketika Erlan barusan segera menyadarkan Slyvia dari lamunannya.


"Lepaskan Aku! Apa-apa sih kamu itu?"


Hal ini mengingatkan Slyvia juga jika Erlan sekarang cukup Kaya?


Owh, tapi seberapa banyak kekayaannya sekarang?


Namun sekarang sepertinya bukan saatnya untuk memikirkan itu, dirinya masih yakin jika Austin lebih kaya.


"Kamu itu, dari tadi benar-benar ingin melarikan diri?"


Disisi lainnya, ma mereka berdua tahu ternyata ada seseorang yang menatap mereka berdua dari arah kejauhan.


Itu adalah Airin yang tanpa segaja melihat mereka dari tadi saat berjalan-jalan.


Dari jauh terlihat adegan itu, dimana Erlan menarik tangan Slyvia seolah-olah tidak ingin dia pergi.


Hal ini, jelas membuat dirinya bisa untuk tidak berpikir macam-macam.


Apakah sebenarnya, Kak Erlan masih mencintai Sylvia?


Kenapa dirinya merasa kesal ketika melihat itu?

__ADS_1


__ADS_2