Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 67: Harga Yang Harus di Bayar (Part 1)


__ADS_3

Malam itu, Airin sudah tiba di restoran tempat dirinya dan Erlan janjian, Airin jelas tidak memiliki firasat apa pun, dirinya hanya merasa sedikit aneh ketika Erlan tidak bisa dihubungi.


Dirinya memang sengaja datang lebih awal, video cukup terkejut dengan dekorasi ruangan pribadi itu, ya minta kenapa terlihat suasana romantis, biasanya metallica berdua memang sering makan malam bersama di tempat ini, namun tidak di dekorasi seperti ini.


Ini membuat Airin, malah menjadi penasaran tentang apa nanti yang akan Erlan katakan.


Jangan bilang...


Airin, entah kenapa memiliki beberapa hal terpikirkan.


Dirinya bukanlah seseorang yang tidak peka, terutama sikap pria itu belakangan ini yang memang selain lebih perhatian juga menunjukkan sesuatu yang lainnya, lebih dari bagaimana tidak itu bersikap adanya sebelum-sebelumnya.


Airin, merasa cukup positif tentang itu bahwa mungkin saja...


Kak Erlan mulai jatuh cinta padanya?


Nanti bisa Pria itu, akan menyatakan perasaannya jawaban seperti apa yang akan dirinya berikan?


Airin, tenggelam dalam pikirannya sendiri terlihat begitu senang sampai tidak menyadari jika waktu benar-benar cepat berlalu namun orang yang ditunggu tidak kunjung datang.


####


Sore itu, di tempat lainnya, saat ini sebuah rumah sakit, terlihat di Ruang IGD, dari tadi terlihat ribut-ribut, pasalnya baru saja terjadi sebuah kecelakaan hebat beruntun, yang mengakibatkan seberapa korban terluka.


Saat ini, beberapa pasien baru saja diturunkan dari ambulans dan dimasukkan ke dalam ruangan IGD.


Ada seorang wanita, juga seorang Pria dewasa disana.


Ada juga terbang seorang anak kecil, yang sepertinya mengalami luka yang cukup parah lebih parah daripada orang-orang dewasa di sana.


Di samping ranjang si anak kecil, terlihat Erlan yang memiliki darah dan luka di kepalanya terlihat cemas.


Erlan benar-benar tidak mengerti soal apa yang terjadi barusan hal-hal terjadi begitu cepat.


Ketika truk itu menabrak kearah mobilnya, memang hal itu akan bisa menyebabkan hal parah kalau saja tidak ada mobil lain yang tiba-tiba datang dan menabrak truk itu dari sisi samping, untuk menghentikan laju nya, namun sayangnya, truk itu tetap sudah menabrak mobil miliknya, posisi dirinya cukup baik, ada di kursi kemudi sehingga tidak langsung terkena tabrakan truk itu.


Sayang sial, Elvin ada disampaignya, pas terkena tabrakan itu.


Seandainya saja tabrakan itu terjadi lebih keras mungkin tidak hanya Elvin yang mungkin tidak selamat namun mungkin juga dirinya juga.


Kecelakaan ini adalah sesuatu yang Erlan binggung.


Apalagi setelah melihat mobil yang sebelumnya menabrak truk dari samping.


Itu adalah mobil Austin dan Sylvia.


Erlan game menatap kearah pasangan itu yang saat ini sudah memasuki IGD, luka mereka terlihat cukup buruk, namun sepertinya tidak separah itu, karena Austin masih sadar.

__ADS_1


"Elvin... Bagaimana Elvin...."


Sang perawat yang melihat Austin yang terluka ingin bangun itu, segera mencoba untuk menenangkan nya.


"Bapak jangan banyak bergerak dulu untuk pasien anak kecil sebelumnya, saya akan segera dirawat juga, Bapak tenang saja, dan fokus pada kesehatan Bapak dulu,"


Erlan yang ada di sana juga segera menghampiri adiknya itu,


"Austin, kamu fokus saja dengan kondisimu, biar aku yang memantau kondisi Elvin,"


Sekarang mendegar suara Kakaknya itu dan menatapnya, ekpersi Austin menjadi begitu rumit.


Dirinya tidak tahu harus menyalahkan siapa atau dirinya harus menyalahkan dirinya sendiri.


Dirinya tidak pernah mengira pada awalnya, jika ada Elvin yang akan masuk ke mobil Erlan sebelumnya.


Takdir memang berjalan menjadi begitu aneh, sekarang Erlan terlihat dalam keadaan baik-baik saja, namun malah Putranya Elvin, dan bahkan dirinya yang terluka dari Kecelakaan ini.


Apalagi memikiran ketika dirinya melihat kondisi Elvin sebelumnya, yang terlihat pucat dan memiliki begitu banyak luka.


Hatinya terasa hancur...


Harusnya, dari awal dirinya tidak menyetujui soal rencana yang Mamanya buat.


'Austin, kamu menurut saja apa kataku, kita akan melenyapkan Kakakmu Erlan, juga Pamanmu Haikal itu, dengan begitu semua masalah yang kita alami akan segera berakhir, jika perlu Airin itu juga akan kita lenyap kan,'


Senter bawa emosi dan tidak berpikir jernih hingga hanya menyetujui rencana Mamanya...


Dan sekarang, ini adalah akibat dari kecelakaan itu...


Austin menjadi begitu takut ketika memikirkan keadaan Elvin, bagaimana jika...


Tepat saat memikirkan itu, Austin mulai kehilangan kesadaran.


Erlan sendiri, hanya bisa menunggu di ruang tunggu melihat kondisi-kondisi pasien diperiksa.


Erlan juga tiba-tiba menjadi cemas ketika memikirkan soal kondisi Elvin.


Putu beberapa saat sampai sepertinya pemeriksaan tahu pertama selesai.


Salah satu dokter segera keluar, dan berbicara pada Erlan.


"Apakah anda Keluarga dari Pasien?"


"Ya, benar mereka bertiga adalah keluargaku jadi bagaimana kondisi mereka?"


"Untuk Pak Austin dia perlu menjalani beberapa operasi namun kondisinya tidak terlalu mengancam jiwa dan untuk Nyonya Sylvia, dia mungkin terguncang efek kecelakaan itu, dan hanya pingsan hanya mengalami berapa benturan,"

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan anak kecil sebelumnya?"


Dokter itu segera menunjukkan ekspresi tidak nyaman.


"Kondisinya saat ini masih perlu dipantau dia baru saja dimasukkan ke ruang ICU,"


Ekpersi Erlan segera menjadi pucat setelah itu.


"Anak itu... Apakah dia akan bisa selamat?"


"Kami saat ini masih menangani kondisinya lukanya cukup parah jadi kami akan membutuhkan beberapa operasi dulu, kami juga membutuhkan beberapa tanda tangan persetujuan untuk melakukan beberapa operasi untuk Pak Austin dan Elvin,"


"Lakukan saja yang terbaik untuk mereka, saya yang akan mengurus semua berkas berkasnya,"


"Kalau boleh tahu, anda mereka?"


Erlan yang ditanya itu segera terdiam, menjelaskan hubungan sebenarnya memang terlalu rumit untuk saat ini.


"Saya adalah Kakak dari Austin dan Paman dari Elvin,"


"Baik nanti perawat akan memberikan berkas-berkas yang perlu ditandatangani,"


Dengan itu, dokter segera pergi dari sana.


Dan tidak lama sampai Perawat tiba dan memberikan beberapa berkas untuk Erlan tanda tangani.


Erlan menunggu disana cukup lama, sampai dirinya lupa jangan sebuah janji yang dirinya buat dengan Airin.


Erlan ingat jika ponselnya, hilang entah kemana.


Sangat beruntung, dirinya hafal nomor ponsel, jadi dirinya berniat untuk menelepon Airin.


Erlan katanya sini sudah jam tujuh lebih, sudah saatnya janjian mereka mungkin Airin sudah ada di tempat itu.


Airin tim menjadi khawatir karena dirinya tidak memberi kabar dan tidak bisa dihubungi.


Tepat ketika Erlan berniat pergi dan meminta bantuan, ada seberapa orang yang tiba di sana.


Itu adalah Ayahnya dan Ibu Tirinya.


Ibu Tiri Austin, yang melihat Erlan saat ini dalam keadaan sehat, jelas merasa sangat kesal.


Menerima laporan dari anak buahnya jika ada sedikit kesalahan dalam rencana mereka.


Orang yang seharusnya celaka malah terlihat sehat, namun sekarang Putra dan Cucunya harus berbaring di ranjang rumah sakit.


Diana segera memberikan sebuah tamparan pada Erlan,

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kamu!! Kamu itu memang pembawa sial!"


__ADS_2