
Katika Airin dan Erlan mendengar cerita itu, keduanya jelas sangat kaget, tidak tahu harus merespon seperti apa, hal-hal ini sungguh mengejutkan untuk keduanya terutama untuk Erlan.
Kisah tentang Ibu kandungnya yang selama ini tidak dirinya ketahui.
"Tragedi macam apa Paman?" Tanya Airin dengan penasaran.
"Apakah ini sebuah pernikahan yang tidak diinginkan?" Kata Erlan mencoba mengambil kesimpulan.
"Kurang lebih iya, namun juga tidak bisa dikatakan tidak,"
Hal ini jelas membuat keduanya semakin bingung dan menatap satu sama lain, hanya saling mengelengkan kepalanya, karena tidak mengerti.
"Aku tahu kalian pasti tidak mengerti, hal ini memang sedikit rumit untuk diceritakan, namun aku akan mencoba menjelaskannya dengan ringkas,"
Mereka melihat bagaimana Haikal mulai menarik nafas mencoba untuk menormalkan emosinya.
"Dari awal yang Aku tahu, Ayahmu memang sudah memiliki Kekasih, Aku juga tidak begitu tahu, namun dia sendiri yang mengiginkan Pernikahan itu dan meninggalkan Kekasihnya, namun seperti yang Aku bilang sebelumnya, Mama memiliki orang yang dia sukai. Ayahmu selalu salah Paham jika yang di sukai Mamamu adalah Aku, dan itulah kenapa Pernikahan penuh tragedi itu dimulai," kata Haikal sambil mengelap nafas, lalu segera melanjutkan perkataannya,
"Sherina, walaupun membenci pernikahan itu, namun dia adalah orang yang cukup ambisius, jadi dia benar-benar memanfaatkan Kedudukan sebagai Nyonya Keluarga Castillo sampai dia cukup sukses dengan Bisnis miliknya dan mengejar mimpinya, namun jelas hal itu tidak membuat Ayahmu senang, apalagi Mamamu adalah Menantu Kesayangan Kakekmu, dan bagaimana Kakekmu memberikan kedudukan yang bagus untuk Mamamu di Perusahaan Keluarga. Ayahmu yang memang tidak suka Pernikahannya itu, pada akhirnya berselingkuh dengan Mantan Kekasihnya, namun sekali lagi Ayahmu tidak akan pernah bisa menceraikan Mamamu, Aku juga tidak begitu tahu pasti soal rincian hubungan mereka berdua, namun yang jelas semua berubah sejak kamu lahir, Aku pikir Sherina mulai menyukai Ayahmu, namun itu tadi Ayahmu sudah memiliki wanita lain, bukan ini rincian penting yang ingin Aku ceritakan,"
Dua orang itu yang mendengar semua cerita ini jelas menjadi semakin penasaran dengan kelanjutannya.
"Lalu apa bagian paling penting?" Tanya Airin lagi.
"Istriku, dan Sherina kebetulan saling berkenalan, dan menjadi teman baik. Kecelakaan yang menimpa Sherina hari itu yang merenggut nyawanya, jelas bukan hanya kecelakaan... Kecelakaan yang juga merenggut Nyawa Istriku,"
Erlan yang paling pertama merasa begitu kaget ketika mendengar itu.
Dirinya hanya tahu, bahwa Mamanya terlibat suatu kecelakaan ketika dirinya masih kecil.
Namum dirinya tidak akan pernah mengira jika itu bukan hanya kecelakaan namun seseorang benar-benar mencoba ingin membunuh Mamanya.
"Paman... Kenapa paman tidak cerita dari dulu soal ini?"
"Bukannya Aku tidak ingin cerita, namun seperti yang kamu tahu, hubunganku dengan Kakekmu buruk, aku juga belum menemukan jati yang cukup, Namun yang jelas adalah sesuatu yang disengaja, namun kasus itu di tutup hanya dengan kecelakaan, walaupun Aku mencoba menyelidiki nya, namun seolah-olah semua bukti benar-benar sudah di hapuskan, namun aku sempat menemukan sebuah bukti penting, ini juga baru aku temukan sekitar belakagan ini, tengah bagaimana Ibu Tirimu bertemu dengan orang misterius, saat Anak Buahku memantaunya belakagan. Mana tahu, jika orang itu, adalah seseorang yang terlibat dalam kecelakaan itu, dan sekarang semua misteri benar-benar sudah jelas,"
Ketika mendengar itu, Erlan jelas merasa cukup syok,
"Jadi... Dia.. Dia yang merencanakan pembunuhan Mama?"
"Erlan, mungkin kenyataan yang sebenarnya lebih buruk daripada yang kamu kira,"
"Apa maksudnya, Paman?"
"Aku sudah bilang sebelumnya bahwa kasus itu hanya ditutup sebagai kecelakaan bukan? Bahkan semua bukti di TKP dihilangkan, bahkan pihak berwajib yang menangani kasus itu, juga tidak bisa dimintai keterangan jelas dan hanya menganggap hal itu kecelakaan dan tidak lagi mau menyelidikinya, bukankah menurutmu itu aneh?"
Erlan yang mendengar itu segera terdiam sebentar mulai memikirkan kemiskinan paling buruk yang mungkin saja terjadi.
"Jadi maksudmu, orang yang menyembuyikan barang bukti adalah orang yangang memiliki pengaruh yang cukup?" Tanya Erlan lagi.
"Ya, seperti yang kamu kira kamu mungkin sudah memiliki bayangan soal siapa pelakunya,"
__ADS_1
Airin masih sedikit tidak mengerti tentang apa yang dua orang itu bicarakan.
"Jadi, siapa, pelakunya? Aku tidak mengira ada orang yang begitu kejam seperti itu," tanya Airin.
Erlan lalu menatap kearah Airin dengan ekspresi wajah pucat dan cukup gemetar, lalu berkata dengan pelan,
"Itu adalah Ayahku, kemungkinan dia dalang dibalik semua ini, atau mungkin dia hanya mencoba membela Diana, Ibu Tiriku agar dia tidak tertangkap,"
Airin tidak pernah mengira jika kejadiannya akan menjadi sangat parah seperti itu.
Sekarang masuk akal juga kenapa Paman Haikal sangat membenci Ayah atau Ibu Tirinya Erlan.
Kecelakaan sialan itu, juga merupakan sebuah kecelakaan yang membuat Paman Haikal kehilangan Istrinya tercinta.
Seberapa berat kah ditinggalkan oleh orang yang di cintai?
Airin tidak benar-benar bisa membayangkan nya namun dirinya kurang lebih mengerti.
Seperti bagaimana dirinya kehilangan calon bayinya.
Dan sekarang, jika memikiran ini, bagaimana perasaan Kak Erlan?
Airin menatap wajah pucat itu, yang masih terlihat sangat syok dengan semua ini.
Ketika Airin menyentuh tangan Erlan, tangan itu berkeringat dingin, dan gemetar.
Jelas saja semua ini pasti lah sangat berat untuknya.
"Baik, mungkin cukup ini saja yang bisa aku katakan sekarang. Aku lelah dan ingin beristirahat, jadi dimana Kamar Tamu?" Tanya Haikal yang sudah berdiri.
"Sebentar Paman, Paman mau kamar Tamu yang dibawah atau di Atas? Yang diatas Kebetulan dekat dengan Kamarku,"
Haikal lalu bertanya lagi,
"Kamar Tamu dekat dengan Kamar Utama?"
Airin tentu saja tidak begitu mengerti soal pertanyaan itu.
Namun hal-hal itu membuyarkan lamunan Erlan, yang sekarang baru teringat sesuatu.
"Ya, Paman Kamar di Apartemen ini cukup banyak dan kosong, tentu saja ada Kamar juga di samping Kamar Utama tempat Aku dan Airin tidur,"
Airin menatap Erlan dengan ekspresi binggung.
Paman Haikal lalu segera berkata,
"Aku akan ada di lantai bawah saja, aku tidak ingin mengganggu kalian berdua, Para Pengantin Baru yang bersenang-senang,"
Airin tentu saja masih tidak mengerti soal kata-kata Paman Haikal itu, barulah setelah Paman Haikal pergi, Airin mulai bertanya pada Erlan.
"Apa maksud soal kamar kita barusan? Dan bersenang-senang apa?"
__ADS_1
Erlan lalu segera menunjukkan tiket bulan madu yang ada di tangannya.
"Paman mengira kita menikah sungguhan... Dan tiket ini hadiah dari dia,"
Dan baru setelah melihat tiket itu, wajah Airin berubah menjadi sangat merasa merah tomat.
Karena merasa sangat malu, apalagi ketika mengingat kata-kata, Paman Haikal, yang tidak ingin menganggu Pengantin Baru untuk bersenang-senang.
Astaga...
Dirinya dan Erlan bahkan tidak melakukan apa-apa!
Namun ini jelas bukan saat yang penting untuk memikirkan hal hal ini.
"Memiliki sampingkan soal itu, bagaimana keadaanmu?"
Erlan lalu segera berkata dengan ekspresi yang terlihat masih sedih itu.
"Aku sedang tidak baik-baik saja,"
Airin yang melihat wajah seperti itu ngerasa ikut sedih juga ini semua pasti sangat berat.
Erlan yang pada akhirnya ditinggalkan oleh seluruh Keluarganya, dan kabar jika ternyata Kecelakaan Mamanya bikin hasil dari perbuatan Ayahnya sendiri.
Airin tanpa sadar langsung memeluk Erlan, untuk mencoba menenangkan pria itu.
"Ini semua pasti berat untukmu, tidak apa-apa, lampiaskan saja semua kesedihanku tidak perlu menahan nya atau merasa malu di depanku,"
Erlan cukup kaget dengan pelukan itu namun pada akhirnya membalas pelukan itu, sekarang hatinya benar-benar terasa tidak baik baik saja.
Dirinya pikir kejadian 3 tahun lalu sudah cukup untuk menghancurkan hatinya, namun sekarang ada kejadian dan informasi lain yang lebih membuat hatinya terluka.
Kenapa bisa Ayahnya begitu tega?
Pada Istrinya sendiri?
Pada Ibu dari Putranya sendiri?
Itukah alasan kenapa selama ini dirinya tidak pernah diperlakukan dengan baik?
Sejak kecil, dirinya selalu mencoba untuk tidak merasa iri pada Austin yang selalu mendapatkan kasih sayang dari Ayah mereka, dan selalu dimanja kan oleh ayah mereka.
Berbeda dengan dirinya, Ayahnya selalu memperlakukan dirinya dengan cukup dingin.
"Tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja kita pasti akan bisa membalas semua perbuatan mereka,"
Kata-kata yang mencoba menenangkan Erlan, entah kenapa membuat Erlan merasa cukup damai.
Jika Erlan pikir lagi, wanita yang memeluknya ini, sudah melihat cukup banyak ketika dirinya berada dalam posisi menyedihkan, namun Airin tidak pernah sekalipun meremehkannya, dan malah selalu memberikan dukungan dan semangat untuknya, menghiburnya selama ini...
Sampai tingginya bisa melangkah maju dan bangkit seperti ini...
__ADS_1
Dan sekarang, pelukan ini terasa sangat hangat...
Sebuah pelukan yang tidak ingin dirinya lepaskan.