
Austin dikit tenggelam pada pemandangan yang ada di depannya, tempat dimana Airin berada.
Setelah tanpa sadar mengatakan hal-hal omong kosong, Austin segera menggelengkan kepalanya, tentang kenapa bisa dirinya memiliki pemikiran ini?
Pemikiran yang benar-benar sungguh konyol.
"Pak Austin? Apakah anda memperhatikan apa yang saya katakan?"
Austin yang mendengar itu segera tersadar dari lamunannya lalu menatap ke arah kliennya itu, dirinya sebenarnya tidak mendengarkan apa yang dibicarakan namun mencoba untuk mengikuti.
"Ya, tentang pelukis itu bukan?"
"Bener, dia adalah seorang Pelukis yang sangat berbakat. Aku sudah pernah mengikuti pameran yang dia adakan sebelumnya di Luar Negeri,"
Ketika mendengar itu, Austin menjadi kaget.
Airin itu ternyata pernah juga mengadakan pameran di luar negeri?
"Di sehebat itu?"
"Benar, saat itu dia pernah memenangkan salah satu penghargaan dalam lomba melukis di Luar Negeri,"
Austin sedikit tahu soal Airin, jika dia dulunya memang salah satu lukisan Fakultas Seni.
Namun, selama mereka menikah, Airin jarang untuk melukis?
Dirinya pikir, itu hanya hobi belakang, dan Airin tidak sebebakat itu sehingga dia mulai berhenti melukis dan memilih menjadi Ibu Rumah Tangga biasa, dan tetap di Rumah.
Dan rasanya benar-benar cukup aneh melihat wanita itu sekarang berdiri di atas panggung seperti itu, dari pada saat dia hanya berada di Rumah.
Ya, sosok di atas panggung itu, benar-benar sangat cocok untuk berada di tempat itu.
Semakin Austin memikirkannya, perasaannya menjadi semakin rumit.
Seolah-olah, dirinya tidak pernah mengenal sosok orang yang ada di atas panggung, yang benar-benar berbeda dari Airin yang dirinya tahu.
Namun jika dipikirkan lebih lanjut, Austin merasa dirinya tidak benar-benar mengenal Mantan Istrinya itu.
Hal-hal apa yang dia sukai, hal-hal apa yang dia benci, Austin tidak benar-benar tahu.
Hah, lagi pula Kenapa dirinya memikirkannya sekarang?
Ini tidak lagi ada artinya.
Airin yang berada di atas panggung itu jelas tidak tahu jika ada Austin disana.
Airin hanya melakukan hal-hal yang seharusnya dirinya lakukan ketika berada di atas panggung.
Ini adalah Impiannya.
Sesungguhnya dirinya tidak pernah menyangka bisa sampai ke tempat ini.
__ADS_1
Bisa mengatakan sebuah Pameran Pribadi di tanah kelahirannya, di mana itu disaksikan oleh lebih banyak orang-orang yang dirinya kenal dan familir.
Rasanya begitu hebat ketika ada di tempat ini.
Jelas, sebuah perasaan yang tidak pernah dirinya kira akan dapatkan.
Ini membuat Airin mulai memikirkannya, jika dirinya masih menjadi Istri Austin, apakah dirinya memiliki keberanian untuk bisa bermimpi sampai menjadi dirinya yang sekarang?
Airin ketika memikirkan ini perasaannya menjadi rumit.
Ya, karena hal itu mungkin saja hal yang mustahil.
Melihat bagaimana saat itu tidak ada seorangpun yang mendukungnya.
Ketika seseorang tidak memiliki dukungan, itu adalah hal yang sangat berat.
Ketika Airin turun dari panggung setelah memotong pita, dan segera para Audiens mulai memasak galeri pameran itu satu persatu.
Dan sekarang tatapan mata Airin segera tertuju ke seseorang.
Ya, seseorang yang sampai membawanya pada tahap ini.
"Airin, kamu tadi sangat hebat ketika berada di panggung," kata Erlan sambil menyerahkan sebuket bunga pada Airin.
Airin menerima bunga itu dengan ekspresi sedikit tersipu.
Tidak menyangka jika Kak Erlan akan repot-repot memberinya bunga seperti ini.
Erlan yang mendengar itu segera menggelengkan kepalanya dan berkata lagi,
"Tidak sama sekali, ini bukan karena Aku Namun karena kemampuanmu sendiri, kamulah yang bisa membawa dirimu sendiri ke tempat ini, bahwa kemampuanmu cukup hebat untuk bisa mendapatkan pengakuan orang-orang, kamu sangat layak berada di tempat ini karena usaha kerasmu sendiri."
Kata-kata itu begitu hangat dan penuh semangat, membuat Airin merasa hatinya sangat hangat ketika mendengarnya.
Ya, semua kata-kata inilah yang memberi dukungan selama ini agar dirinya tetap bisa maju dan tidak menyerah.
Jika Airin memikirannya lagi, soal perasaan pada Kak Erlan....
Dirinya sendiri mungkin tidak pernah menyadarinya selama ini.
Hanya karena Kak Erlan selalu ada di sisinya dan selalu ada di sampingnya untuk memberikan dukungan, jadi dirinya menjadi sangat terbiasa dengan sosok itu.
Menjadi nyaman dengan sosok itu.
Lukisan yang dirinya buat itu, adalah lukisan sekitar dua tahun lalu, tepat setelah Kak Erlan selesai rehabilitasi Kakinya.
Sebenarnya, jarak antara mereka memang terlalu ambigu dari awal.
Saat itu, Airin merasa jika Pria yang ada di hadapannya itu jelas angka jarak yang aman untuk hubungan mereka yang hanya bisa sebatas teman.
Jadi, dirinya juga tidak pernah melanggar batas batak itu dan tidak pernah mencoba memikirkan untuk memiliki hubungan yang lebih dari itu.
__ADS_1
Namun sekarang sedikit berbeda, hanya tepat ketika dirinya melihat Erlan bersama dengan wanita lainnya, dirinya merasa tidak nyaman.
Kalau dipikir-pikir lagi, apa mungkin memang dirinya juga tidak peka sejak lama soal perasaannya sendiri?
Yah, mau bagaimana lagi mereka sudah bersama senter teman baik seperti ini dan memiliki hubungan yang cukup dekat, cara untuk tidak bisa membedakan perasaan yang dimiliki.
Apakah itu rasa cinta, atau sekedar rasa hormat dan balas budi.
"Ya, namun sungguh dukungan Kak Erlan selama ini lah yang bisa membuatku sampai berusaha sekeras ini, jujur jika tidak ada Kak Erlan, aku tidak yakin bisa sampai pada posisi ini,"
"Kamu terlalu berlebihan dan menganggapku begitu tinggi,"
"Tidak Kak Erlan, ku hanya mengatakan kenyataan yang aku rasakan. Sejujurnya, jika Aku masih bersama Austin, aku mungkin tidak akan pernah mencapai kedudukan yang Aku miliki sekarang, atau bahkan bisa sampai sejauh ini," kata Airin begitu yakin.
"Ah, bener itu karena Austin tidak peduli padamu bukan? Dia bahkan, tidak tahu jika kamu bisa sehebat itu dalam melukis."
"Memang, Austin adalah orang seperti itu, bahkan berlian pun jika ada di orang yang salah yang tidak mengerti nilainya itu hanya akan seperti bongkahan batu biasa. Begitupula Aku ketika ada bersamanya, dia yang tidak pernah menghargai ku, bisa akan pernah mengerti soal nilaiku yang sebenarnya, berbeda dengan Kak Erlan. Kak Erlan cukup baik dalam menilai seseorang."
Austin yang kebetulan berada di dekat sana, udah sengaja mendengar pembicaraan itu dirinya tiba-tiba menjadi begitu marah terutama setelah mendengar perumpamaan dari Airin, yang membandingkan dirinya dan Erlan dengan jelas.
"Airin! Hal omong kosong apa yang kamu bicarakan tentang ku?"
Airin dan Erlan yang awalnya asik mengobrol itu jelas merasa kaget dengan suara tiba-tiba itu segera tatapan mereka menuju ke arah Austin yang menghampiri mereka.
Awalnya, Airin cukup kaget dengan kedatangan Austin karena tidak mengira jika orang itu berada di tempat ini.
Namun, Airin segera mencoba untuk mengendalikan emosinya dan segera berkata,
"Apa? Kenapa kamu marah, Austin? Hanya mengatakan fakta yang sebenarnya, jika dibandingkan Kak Erlan, kamu memang bukan apa-apa. Kamu yang bahkan, tidak tahu dan tidak memahami Istrinya sendiri seperti apa, apalagi mencoba untuk membuatku sampai ke tempat ku yang sekarang? Kamu bukan orang yang bisa melakukannya. Itulah perbedaan mu dan Kak Erlan, Kak Erlan selalu pandai dalam menilai orang, ah bener mungkin pernah dia salah yaitu Mantan Istrinya,"
Sekarang, hati Austin diliputi dengan emosi.
"Airin! Kamu itu memang tidak pernah tahu apa-apa....."
"Kamu tidak pernah memberitahumu jadi bagaimana Aku tahu?"
Austin yang mendengar itu segera tertawa dan berkata,
"Hah, kamu pikir Aku tidak tahu? Dari awal Pernikahan Bisnis kita, yang kamu incar dari awal Kak Erlan bukan? Bukan Aku! Aku tahu segalanya soal rencanamu! Dan sekarang, kamu bersama Kak Erlan? Lihat, kamu benar-benar bisa memanfaatkan situasi dengan baik."
Airin benar-benar tidak mengerti dengan ucapan omong kosong Austin barusan.
Dirinya mengiginkan Erlan apa?
Ya, jika sekarang memang iya.
Namun dulu..
Tidak pernah terbesit dalam pikirannya....
Lalu, dari mana Austin memiliki gagasan ini?
__ADS_1