Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 39: Persiapan


__ADS_3

Airin yang mendengar kata-kata Erlan itu, terdiam sebentar karena dirinya tidak benar-benar pernah memikirkan soal hal ini.


Ya, soal Keluarganya, sejak putus kontak dengan keluarganya dirinya tidak benar-benar lagi memikirkan soal mereka.


Bagaimanapun juga, Keluarganya itu sangat menyebalkan, sungguh jika dirinya bisa dirinya benar-benar tidak ingin untuk berurusan dengan mereka lagi.


Sudah cukup tentang hal-hal yang dialami selama ini dengan Keluarga itu.


Namun jika dipikirkan lagi apa perlu dirinya membalas pada mereka?


Mereka adala Keluarga, namun di saat dirinya paling membutuhkan mereka adalah orang pertama yang pergi dari dirinya bahkan tanpa ada niat sedikitpun untuk menolongnya, padahal selama ini dirinya bertahan di Keluarga Castillo demi mereka, setidaknya dirinya menganggap mereka adalah keluarga yang penting baginya.


Walaupun perlakuan mereka tidak begitu baik padanya, namun Ayahnya tetap memberikan fasilitas yang cukup sampai dirinya bisa lulus ke universitas, tidaknya saat itu ketika dirinya menikah dengan Austin, dan keluarganya menerima begitu banyak keuntungan dirinya sudah menganggap bahwa setidaknya balas budi pada keluarganya sudah cukup.


Lagi pula bukan dirinya yang memang berniat untuk putus hubungan dengan mereka namun mereka yang memulai duluan dengan cara menjual Rumah peninggalan Almarhum Ibunya.


"Sebenarnya aku tidak benar-benar tahu soal keadaan mereka sekarang, aku sudah putus hubungan cukup lama dengan mereka,"


"Jadi begitu, namun kamu bilang mereka menjual rumahmu bukan? Apakah kamu benar-benar rela kehilangan peninggalan Almarhum Ibumu,seperti itu?"


Mendengar pertanyaan itu dirinya segera terdiam sebentar.


"Sejujurnya aku juga tidak rela, bagaimanapun juga itu tempat yang membawa banyak kenangan dengan Almarhum Ibuku, walaupun aku hanya mengingat sebagian kecil namun tetap saja,"


"Mari tahu soal keluargamu itu setidaknya kamu harus membuktikan kepada mereka bahwa saat ini kamu bisa sukses tanpa mereka? Setidaknya melihat wajah kesal mereka itu hal yang cukup?"


Airin yang mendengar itu segera mengangguk setuju karena sepertinya itu memang merupakan hal yang baik.


"Tentu, Aku akan memperhitungkan hal itu."


Selanjutnya mereka segera kembali ke hotel dan mulai membicarakan soal siapa siapa saja yang kira-kira akan di undang.


Karenya waktu cukup mepet dengan jatwal Pameran Airin, belum lagi masih ada terlalu banyak hal yang harus dipersiapkan Airin, mereka berdua memutuskan untuk pulang lebih awal.


"Apakah tidak apa-apa , kalau kita berdua pulang lebih awal?" tanya Airin terlihat merasa tidak enak karena tiket Liburan ini dari Pamannya Erlan.


"Tidak masalah sama sekali lagi pula rencana kita di sini sudah selesai bukan? Kita sudah membuat Austin dan Sylvia merasa kesal,"


"Itu benar sekali,"


Malam itu, mereka berdua masih tidur di kamar hotel yang sama, dan ditempat tidur yang sama, namun karena ini hari kedua tidak ada hal apapun yang terjadi, mungkin karena mereka berdua sudah mulai terbiasa untuk ada di jarak yang begitu dekat satu sama lain.


Airin malam itu, diam-diam menatap sosok pria yang tertidur pulas disampingnya.


Melihat wajah ini sebelum tidur juga merupakan hal yang baik, pesona dari wajah itu membuat Airin cukup terpesona.


Dan lagi karena mereka berdua akan segera pulang mungkin tidak ada lagi kesempatan mereka bisa tidur satu ranjang lagi, yah setidaknya tidak dalam waktu dekat.


Jadi di waktu yang langka ini, Airin sekali lagi diam-diam menatap wajah tampan itu dari dekat, wajah Airin semakin mendekat, sambil memastikan jika Pria disampingnya benar-benar tidur pulas, setelah memastikan hal itu, Airin mencium bibir Erlan.


Itu hanya berlangsung kurang dari 2 detik, Airin mempertaruhkan banyak keberaniannya untuk bisa melakukan hal yang cukup berani dan nekat ini, toh ini adalah kesempatan yang langka, dan entah kenapa rasanya sangat menyenangkan untuk melakukan hal-hal rahasia semacam ini.


Hanya, Airin benar-benar merasa tidak tahan setelah melihat wajah tampan itu, itu benar-benar sangat tampan, apalagi dirinya sudah pernah merasakan rasa dari bibir lembut itu, wajar jika memiliki keinginan untuk merasakannya lagi.


Huh, semoga saja kerja heran betulnya ini tidak ketahuan.

__ADS_1


Setelah itu, Airin segera tertidur lelap malam itu, tidur tenang, yang bahkan membuat Airin sampai bangun kesiangan.


####


Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya Erlan dan Airin sudah tiba di Apartemen mereka.


Airin sudah mulai membereskan barang-barang nya, begitu pula dengan Erlan.


Airin setelah beres-beres terencana untuk pergi ke galeri miliknya, untuk melihat koleksi koleksi lukisan nya yang akan dipamerkan saat pameran nanti.


Erlan yang kebetulan tidak memiliki kegiatan apapun, segera mendatagi Airin dan mulai bertanya,


"Apakah aku boleh pergi melihat-lihat ke Galerimu?"


Airin yang mendengar pertanyaan itu jelas aja berkata dengan yakin,


"Tentu saja boleh kamu selalu bisa berkunjung ke galeri milikku kapan saja, kamu adalah orang pertama sejujurnya yang ini, Aku tunjukkan lukisan-lukisanku,"


Erlan yang mendengar itu segera tersenyum dan bertanya lagi,


"Owh? Benarkah itu? Aku benar-benar sangat tersanjung. Itu bener, nanti jika Kak Erlan memiliki lukisan yang Kakak sukai, Kakak boleh mengambilnya," kata Airin lagi.


"Astaga, kamu tidak bisa begitu memberikan karya seni lukisan mu itu secara gratis keorang-orang,"


Airin lalu segera kembali menatap Erlan dan berkata dengan yakin,


"Namun yang aku berikan lukisan ku saat ini bukanlah sembarang orang, ini adalah Kak Erlan, seorang yang sangat penting untukku,"


Ketika mengatakan itu, Airin merasa sedikit malu karena dirinya merasa keceplosan.


Entah Airin harus merasa senang atau merasa sedih tentang hal itu, bahwa sebenarnya untuk beberapa hal, Pria yang ada di hadapannya ini termasuk seseorang yang tidak terlalu peka.


"Baiklah mari kita segera pergi ke sana saja,"


Keduanya segera tiba di galeri tempat yang sudah Airin sewa.


Disana, mereka segera disambut oleh beberapa Pelayan yang sudah Airin sewa.


"Bagaimana soal persiapan yang sebelumnya?" Tanya Airin foto salah satu penanggung jawab tempat itu.


"Kami sudah menata beberapa lukisan yang baru datang itu sesuai dengan instruksi Nona Airin, namun masih ada beberapa lukisan yang belum memahami susun saat ini masih berada di gudang, karena kami binggung untuk menyusunannya, belum di beri instruksi,"


"Baiklah, aku akan mengecek lukisan lukisan yang ada di gudang, mari ikut Aku saja, nanti aku bisa memberitahumu di bagian mana lukisan itu akan di pajang," kata Airin sambil memberikan instruksi pada bawahannya itu dengan perkataan.


Erlan menatap Airin yang terlihat sangat berdedikasi itu merasa cukup senang entah kenapa.


Lalu, Para Pegawai disana tentu saja hati kan seorang pria yang datang dengan Airin itu dengan penasaran.


Itu bener, ini adalah pertama kalinya Erlan datang ke tempat itu.


Jika Galeri Airin di Luar Negeri, Pegawai disana, sudah paham betul soal Erlan itu siapa, namun orang-orang disini baru jadi tentu saja tidak memiliki petunjuk apapun.


Airin juga melihat bagaimana pegawainya menatap Erlan dengan pandangan penuh kagum itu, juga beberapa merasa tersipu malu.


Memang, dengan wajah Tampan itu, benar-benar bisa menjerat setiap wanita.

__ADS_1


Hal ini jelas, tidak begitu Airin sukai.


Lalu, Airin segera mendekat kearah Erlan dan merangkul tangannya, dan segera berkata,


"Perkenalkan, ini adalah Suamiku Erlan Castillo, di masa depan dia mungkin akan sering ke sini, kalian selalu boleh mengijinkan nya masuk kapanpun dia ingin ke sini,"


Beberapa pegawai perempuan itu, kelas ada yang merasa kecewa, setelah tahu kalau Pria tampan yang barusan mereka lihat ternyata sudah memiliki Istri.


Erlan yang melihat sikap Airin itu, jelas hanya merasa cukup bingung, apalagi sekarang Airin merangkulnya, untuk diajak menuju gudang tempat lukisan lukisan itu disimpan.


Airin sendiri merasa tidakannya ini terlalu berlebih-lebihan.


Kenapa pula, dirinya menjadi seperti ini?


Apakah perlu, untuk melakukan hal-hal tidak berguna seperti sebelumnya?


Ukh, jika dipikirkan lagi dirinya jadi merasa malu.


Ya, mau bagaimana lagi...


Sampai mereka tiba di gudang, dan akhirnya Airin merasa cukup malu, segera melepaskan tangannya.


"Itu... Ya, Kak Erlan tahu... Hubungan kita..."


Erlan lalu segera berkata,


"Tentu saja aku tahu maksudmu. Bagaimanapun juga hubungan kita di hadapan publik adalah Suami dan Istri,"


Airin hanya bisa tersenyum setelah mendengar itu.


Setelahnya, mereka segera memasuki gudang itu yang penuh dengan berbagai lukisan yang juga dipajang di sana.


Ada sebuah lukisan, yang tiba-tiba sangat menarik perhatian Erlan.


Airin sedang memeriksa lukisan lainnya bersama pegawainya, ketika dirinya menjadi cukup kaget melihat Erlan berhenti, dan memandang dengan antusias pada sebuah lukisan.


Airin, kelas penasaran tentang lukisan apa yang Erlan lihat itu.


Airin lalu mendatangi Erlan, dan menatap kearah lukisan yang Erlan lihat.


Hal itu jelas membuat Airin sungguh terkejut!


Bagaimana bisa, lukisan itu ada disana?


Ini hanya beberapa lukisan, yang dirinya buat secara random, ketika dirinya mengagur.


Lukisan wajah Erlan!


Astaga, harusnya barang-barang itu bukanlah termasuk yang dikirimkan ke galeri ini?


Namun ke Ruang Lukis Pribadinya di Apartemen!


Astaga....


Ini...

__ADS_1


Ini terlalu memalukan!


__ADS_2