Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 21: Perasaan Familir


__ADS_3

Ditengah Sylvia yang gugup itu, Austin masih terlihat marah pada Airin dan Erlan.


Airin segera kembali bicara,


"Kita lihat saja nanti," kata Airin dengan ekpersi yakin.


Ya, Airin sendiri sebenarnya hanya membicarakan hal-hal omong kosong, walaupun terapi dan pengobatan yang di lakukan Erlan berjalan dengan cukup baik, yah tidak benar-benar sembuh namun kata dokter kemungkinan memang selalu ada, bahkan dari awal memang Erlan tidak seperti benar-benar mandul, hanya kurang subur, namun tetap bisa memiliki anak.


Sylvia saja yang bodoh, dan tidak sabaran, dan malah mengatakan hal fitnah dan omong kosong semacam itu pada semua orang.


Ketika terjadi ketegangan itu, Elvin kecil itu segera menatap kearah wajah dia orang asing di depannya, terlihat sangat tertarik dan penasaran.


"Papa... Itu benal Kakak Papa?" Tanya Elvin pada Austin sambil menunjuk ke Erlan.


Airin segera menjawab, tidak menunggu Austin bicara.


"Itu benar, anak manis, namamu Elvin bukan? Ini, Paman Erlan dan Tante Airin, ke sini perkenalkan dengan kami,"


Elvin yang memang penasaran itu, jelas segera bergerak dan menuju kearah Airin.


"Tante Ailin? Dan Paman Elan?"


Anak itu mencoba berbicara dengan sedikit cedal, ya karena dia memang masih kecil.


Airin segera mengusap wajah kecil itu.


"Itu benar,"


Airin merasa anak ini sangat lucu sekali, yah walaupun orang tua nya Brengsek, namun sekali lagi, anak-anak tidak ada hubungannya.


Airin lalu segera menatap ke sampingnya, dimana Erlan berdiri, terlihat diam saja dari tadi, sambil menatap kearah Elvin.


Ya, Airin juga mengerti perasaan Erlan, mungkin karena Erlan juga sudah lama mendambakan seorang anak, dan cukup binggung ketika melihat wajah keponakaanya.


Airin segera berbisik di telinga Erlan,


"Hey, jangan diam saja, sapalah anak itu, dia terlihat penasaran denganmu,"


Erlan lalu segera menunduk dan berbicara pada anak didepannya itu,


"Salam kenal Elvin," kata Erlan sambil menjabat tangan kecil itu.


Ya, namun entah kenapa ketika Erlan menatap anak ini, ada perasaan misterius yang tidak bisa digambarkan.


"Paman, Paman, mau mengendong Elvin?"


Sylvia yang ada disana jelas merasa kaget dengan permintaan putranya itu, segera menyusul Elvin, mengandeng anak itu,


"Sudahlah, Elvin sayang, mereka berdua sibuk, mari kita pergi saja oke?"


"Tapi, Ma..." Elvin terlihat merajuk pada Mamanya itu.


Tepat saat itu, ada dua orang yang datang, itu adalah Ayah dan Ibu Austin.


"Biarkan saja, Elvin di gendong oleh Pamannya," kata Max, Ayah Erlan dan Austin yang baru saja datang itu.


Dan itu ditambahkan beberapa kata oleh Ibu Tiri Erlan, Diana,


"Itu benar, sangat malang mereka tidak akan bisa dikaruniai anak jadi biarkan saja, mengendong keponakaanya, anggap saja ini adalah niat baik dari keluarga kami,"


Kata-kata itu, sungguh seolah menjatuhkan harga diri Erlan.


Yang membuat Erlan entah kenapa menjadi engan untuk mengendong anak itu.


"Yey! Kakek mengijinkannya, Paman Gendong Elvin!"


Namun tatapan penuh harapan dari anak itu, membuat Erlan tiba-tiba merasa tidak tega, karena seolah ada perasaan hangat ketika menatap anak itu.


Apakah ini karena memang dirinya sudah lama mengiginkan anak?

__ADS_1


Erlan lalu menatap Airin sebentar yang mana Airin langsung memberikan anggukan, seolah mengatakan tidak apa-apa untuk mengendong anak itu, toh anak itu tidak ada hubungannya dengan konflik.


Itu hanya seorang anak polos yang tidak tahu apa-apa, sangat tidak adil memberlakukannya dengan buruk hanya karena orang tuanya.


Airin sendiri yang mengalaminya, hanya karena dirinya beda Ibu dengan saudara-saudaranya, dan ada konflik antara Ibu Kandungnya dulu dengan Ibu Tirinya, dirinya diperlakukan tidak adil.


Erlan yang melihat tatapan Airin, lalu segera mengambil keputusan.


Rasanya tidak apa-apa untuk mengedong anak ini.


Hanya beberapa orang jahat saja yang memanfaatkan kepolosan anak-anak untuk menghinanya.


Erlan lalu dengan sigap mendekat kearah Elvin, berniat mengendongnya.


Sylvia yang awalnya mengandeng tangan Putranya itu, jelas merasa cemas dan tidak tenang.


Namun, tetap berusaha untuk tenang.


"Mama? Boleh ya?"


"Ya, Elvin,"


Dan akhirnya, setelah Sylvia melepaskan tangannya, Elvin segera masuk kepelukan Erlan.


Sepintas, tatapan mata Erlan bertemu dengan Sylvia, namun jelas Erlan menunjukan ekpersi dinginnya, hanya merasa kesal ketika menatap wanita itu sekarang.


"Woah, Paman Elan sangat kelen!"


Kata-kata ceria dari Elvin itu membuyarkan lamunan Erlan.


Melihat anak ceria dalam gendongannya itu, Erlan merasa hatinya hangat.


Mari lupakan hal-hal rumit dulu, dan menyenangkan anak dalam gendongan nya ini.


Ya, Elvin ini benar-benar sangat lucu dan menggemaskan, pelukan anak itu benar-benar terasa sangat hangat dan nyaman, hal-hal yang membawa sebuah perasaan familiar, seperti Keluarga.


Mungkin karena ini keponakaanya, lagipula dirinya dan Austin memang masih berbagi daerah yang sama dari Ayah yang sama.


Dua orang itu, terlihat menikmati momen mereka.


Austin, hanya memasang wajah kusut ketika melihat Putra tersayangnya itu, malah dekat-dekat dengan Erlan, namun demi menjaga muka, Austin memilih diam.


Lagipula ini juga bagus, untuk bisa pamer anaknya didepan Erlan.


Sedangkan Sylvia, memiliki perasaan yang begitu rumit ketika melihat pemandangan hangat dihadapannya itu.


Darah memang tidak bisa berbohong.


Hah, tapi tenang, ini tetap tidak akan ada yang tahu.


Tenang, jangan berkata macam-macam.


Sylvia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


Pada akhirnya, tidak ada banyak hal yang terjadi, hanya Elvin terlihat bersenang-senang dengan Erlan.


Erlan sempat menyapa Ayah dan Ibu Tirinya itu, hanya untuk basa-basi.


Airin juga lebih memilih diam dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Dan begitulah, pertemuan singkat itu berakhir ketika Erlan menurunkan Elvin.


"Paman, di masa depan kita akan bertemu lagi?"


Mendengar pertanyaan itu, Erlan lalu segera tersenyum dan berkata,


"Ya, tentu saja, Elvin,"


Erlan mengelus rambut Elvin dengan senang.

__ADS_1


Sylvia langsung mengambil Elvin dengan agresif ke gendongannya, dan segera mengajak Austin pergi dari sana..


Seolah benar-benar tidak suka, Elvin bersama Erlan.


####


Setelah beberapa saat berlalu, dan pesta itu akhirnya selesai, Erlan dan Airin kembali ke lantai atas, ke Apartemen mereka tinggal.


Saat ini, Airin sedang duduk di ruang tamu, mencoba melepaskan lelah setelah kejadian hari ini.


"Ternyata hal-hal semacam tadi lebih mengalahkan daripada yang aku kira," keluh Airin yang terlihat lelah itu.


"Ya, kamu benar,"


"Ngomong-ngomong, Aku tadi cukup kaget ketika anak Austin dan Sylvia itu muncul,"


"Benar, aku tidak mengira dia tiba-tiba muncul seperti itu,"


"Itu benar, mereka sangat beruntung memiliki seorang anak yang lucu,"


"Nasip orang memang tidak bisa ditebak,"


"Tapi sungguh, kalau dipikir umur anak itu sudah dua tahun lebih bukan?"


"Ya, seperti itulah, Aku dengar anak itu lahir sekitar bulan Januari, kabarnya lahir prematur,"


"Hah, itu berati, bahkan belum delapan bulan setelah Perceraianmu?"


"Itu artinya, Austin dan Sylvia sudah berselingkuh lebih lama daripada yang kita kira, sungguh Aku benar-benar tidak tahu, sejak kapan Aku berbagai ranjang dengan laki-laki lain," kata Erlan dengan ekpersi kesal.


"Kamu benar, mereka terlihat sangat tidak masuk akal memamg, begitu keji di belakang kita, Hah,"


"Itulah kenapa kita menjalankan semua rencana ini,"


"Tapi, Erlan kalau dipikir apakah kamu tidak pernah berpikir jika Elvin..."


"Tidak, Aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Tapi kamu sendiri tahu keadaanku,"


"Baik-baik, mari lupakan soal topik ini, dan lanjutkan semua sesuai rencana,"


"Ngomong-ngomong, ini baru membuatku ingat, kamu tadi sempat bicara omong kosong," kata Erlan sambil mengingat beberapa kata-kata Airin.


"Soal apa?"


"Soal kita segera memilih anak,"


Airin ketika mengingat hal-hal yang dirinya bicarakan di pesta itu, jelas merasa malu.


Astaga...


Ini bukan seperti dirinya dan Erlan benar-benar Menikah, mereka bahkan tidak melakukan hal-hal suami istri, jadi mana mungkin ada anak.


"Ayolah, aku hanya sekedar asal mengatakannya, karena mereka menyebalkan. Tapi kalau dipikir sebenarnya tidak apa-apa,"


"Tidak apa-apa?" Tanya Erlan dengan heran, karena beberapa hal random tiba-tiba memasuki pikirkan Erlan.


Tidak apa-apa apa?


Tidak apa-apa kalau mereka berdua memiliki anak?


"Ya, kan Aku tinggal pura-pura hamil,"


Erlan benar-benar merasa pikirannya baru saja melenceng, dan terbatas setelah mendengar kata-kata Airin.


"Hmm, kamu pintar dalam membuat rencana,"


Melihat Erlan tertawa itu, Airin lalu menjadi kesal, dan memasang ekpersi cemberut.


"Lalu apa yang kamu pikirkan? Hey? Jagan hanya tertawa!"

__ADS_1


"Bukan apa-apa,"


"Sungguh, kenapa kamu jadi menyebalkan,"


__ADS_2