
Hari-hari berlalu dalam sekejap, sejak kejadian pesta dari Kakak Airin itu.
Airin, kelas memiliki imut yang sangat senang ketika memikirkan tentang saudara tirinya itu.
Ya, hal-hal di masa lalu yang sudah adiknya lakukan itu, pada akhirnya menjadi bumerang untuk adiknya itu sendiri karena dia malah menikah dengan laki-laki brengsek semacam itu.
Karma, batang kepada orang yang tepat dengan hal-hal yang mereka lakukan.
Dan Kak Erlan, hanya membongkar sedikit dari beberapa hal dari mereka berdua, dan sekarang semua orang sudah tahu soal keburukan dari pasangan itu.
Jelas, Airin akan mengira juga jika pasangan itu tidak akan bertahan dengan lama, atau setidaknya, tidak akan terlihat damai dan baik-baik saja seperti sebelumnya.
Ya, seseorang seperti Dahlia itu, memang sangat pantas untuk menerima semua ini.
Airin, benar-benar sangat senang memikirkan ini juga tentang bagaimana Kak Erlan yang membantu dirinya untuk membalas dendam nya.
Kak Erlan, selalu menjadi begitu perhatian padanya.
Apakah itu artinya, Kak Erlan mulai memiliki beberapa perasaan padanya?
Airin, terlihat tersenyum sendiri ketika memikirkan hal itu.
Erlan, yang kebetulan mampir dan berkunjung ke galeri itu merasa heran ketika menatap Airin sedang tersenyum sendiri.
"Hey? Apa yang kamu pikirkan kenapa kamu dari tadi tersenyum sendiri?"
Airin yang melamun itu jelas tidak menyadari jika ada seseorang yang datang ke stodio lukisnya.
"Eh? Kak Erlan? Kenapa Kak Erlan disini?"
Erlan lalu memberikan sekotak makan siang dan jus buah untuk Airin.
"Tidak ada apa-apa. aku hanya kebetulan mampir ke sini karena sebentar lagi aku akan mengadakan rapat tidak jauh dari tempat ini,"
Airin menata paket yang diberikan oleh Erlan dengan senang, lalu segera menerimanya.
"Emm, Terimakasih. Kak Erlan sangat baik,"
"Ini bukan masalah namun aku masih penasaran apa yang kamu pikirkan sebelumnya, sesuatu sampai kamu tersenyum bahagia seperti itu,"
Airin jelas kok malu untuk mengatakan hal yang sebenarnya tentang apa yang dirinya pikirkan.
Ya dirinya memikirkan soal pria yang ada di hadapannya ini namun jelas dirinya masih sangat malu untuk mengatakannya sejujurnya.
"Aku hanya memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu, soal Dahlia itu, aku benar-benar sangat senang karena dia akhirnya terkena karmanya, dan Terimakasih pada Kak Erlan, yang bahkan sampai repot-repot membantuku untuk mengatasi masalah itu,"
Erlan yaitu juga segera sangat senang,
"Ya, aku akan selalu mendukung dan membantumu, baik sekarang dan di masa depan,"
Airin jelas merasa cukup terkejut dengan jawaban tiba-tiba itu.
Apa maksud nya itu?
"Aku juga sangat senang, memiliki kamu sisi ku, Airin."
Kata-kata itu, dikatakan dengan nada tulus, membuat Airin merasa tersipu.
Namun, Airin masih bingung untuk berkata apa.
Sayangnya, Erlan segera buru-buru pergi dari sana karena sudah hampir waktunya untuk pertemuan dengan Klaiennya itu.
Erlan sebelumnya, sepertinya terlalu lama mengantri membeli makanan.
Airin menatap ke kotak makan siang itu, yang sepertinya berisi menu makanan kesukaannya.
Jelas, Airin yang melihat itu merasa sangat senang.
__ADS_1
Astaga, Kak Erlan, kenapa dia begitu perhatian seperti ini?
Ukhh, kalau seperti ini, bagaimana dirinya bisa tahan?
Jelas, ini membuat Airin makin mencintai Pria itu.
Hal-hal baik, mungkin terjadi dengan beberapa orang.
Berapa hal buruk saat ini terjadi dengan beberapa orang lainnya.
Misalnya, saat ini Austin dan Ayahnya sedang melakukan pertemuan, dengan beberapa Klaien.
"Maaf kami memutuskan untuk membatalkan kerjasama kita," kata Klaien itu tiba-tiba.
Austin yang mendengar itu jelas aja merasa tidak terima.
"Tunggu, kenapa pembatalan nya begitu tiba-tiba?"
"Pak Austin, Perusahaan Kami sudah cukup sabar menunggu soal kelanjutan proyek, namun menurut pengamatan kami sejauh ini persiapan nya benar-benar dulu matang kami cukup kecewa dengan kalian,"
"Tapi, kami benar-benar akan akan memulai proyek ini dengan tepat waktu," kata Ayah Austin, mencoba untuk mendukung putranya itu.
"Perusahaan kami sudah melihat juga tentang bagaimana kalian gagal menangani Proyek C milik Perusahaan D, bagaimana kami bisa percaya akan project besar ini kepada kalian? Bagaimana jika ini gagah seperti poyek itu?"
Austin mendengar itu sekali lagi mencoba untuk membuat alasan,
"Sungguh Proyek itu bisa gagal karena saat ini memang perusahaan kami sedang kekurangan dana saat itu. Namum kali ini kami benar-benar berjanji akan bisa melaksanakan proyek dengan baik karena kami sudah memiliki begitu banyak dana baru,"
"Maaf, kami benar-benar sudah cukup sabar untuk menantikan nya namun persiapan project ini mengecewakan, di kami memutuskan untuk bekerjasama dengan perusahaan lain,"
"Apa? Kenapa kalian bisa begitu tiba-tiba seperti ini?"
"Ini bukan sesuatu yang tiba-tiba kami mengambil keputusan ini jelas berdasarkan fakta yang kami lihat, kami permisi dulu, saya mengajak kalian untuk bertemu di sini karena memang ingin membatalkan proyek dengan kalian, dan kami sudah akan bertemu dengan perusahaan baru yang akan kami ajak bekerjasama,"
Kata Klaien itu, terlihat sudah pergi dan mengucapkan permisi pada Austin.
Ayah Austin disana juga sebelumnya mencoba meyakinkan kayen itu juga namun tetap saja masih gagal.
Ya, pembatalan proyek barusan tentu saja memberikan dampak yang signifikan.
"Hah, kenapa semuanya menjadi berantakan seperti ini?" Kata Ayah Austin dengan putus asa.
"Aku juga tidak tahu ayah sudah belakangan ini banyak perusahaan mulai membatalkan proyek, belum lagi saat ini para Debitur, mulai menagih hutang hutang mereka pada perusahaan kita, saat ini perusahaan benar-benar sangat krisis,"
"Lalu bagaimana dengan produk baru yang akan kita luncurkan itu?"
"Saat ini pengembangannya baru dalam proses namun masih belum siap untuk muncul," kata Austin mencoba untuk menjelaskan.
"Sial, Austin. Kenapa kamu begitu lamban? Setidaknya kita harus segera meluncurkan produk baru ini hingga ingin tetap mendapatkan keuntungan, nanti apa yang akan kita katakan kepada dewan direksi jika sampai kita gagal? Kamu tahu sendiri bukan saat ini kita sudah didesak?"
"Ayah, jangan menyalahkan ku seperti ini. Dinas aku yakin semua masalah ini bukan hanya salahku, ada seseorang yang memang mencari masalah dengan perusahaan kita,"
"Sudahlah, tidak ingin membicarakan itu sekarang mari sebaiknya kita pergi dari sini saja,"
Mereka berdua, segera berniat untuk keluar dari ruangan itu.
Sampai ketika mereka melewati Ruangan di sebelah, mereka melihat sebuah kejutan di sana.
Klaien yang sebelumnya menolak mereka saat ini sedang melakukan pertemuan dengan seseorang yang sangat familiar untuk Austin ataupun Ayahnya.
Dua orang itu sepintas mendengar pembicaraan dari dalam.
"Kami sangat senang bisa bertemu dengan Pak Haikal dan Pak Erlan, kami berharap kerjasama yang kita jalin antara perusahaan kita ini akan berjalan dengan baik,"
Erlan lalu segera tersenyum dan menjawab,
"Tentu saja saya juga mengharapkan kerjasama itu dengan baik saya sangat senang kalian menerima kerjasama dari kami,"
__ADS_1
"Ya, ide dan konsep yang kalian miliki benar-benar sangat menarik dan bagus perusahaan kami sangat puas dengan itu,"
Didalam, jelas saja pembicaraannya terjadi sangat positif yang membuat Austin menjadi semakin marah ketika mendengarnya.
Dirinya tidak mengira, jika yang merebut proyek mereka adalah Kak Erlan!
Austin, lalu menatap ke samping ke arah ayahnya ingin melihat responnya seperti apa ketika melihat Putra pertama nya itu.
Maximilian, terlihat sangat syok ketika melihat seseorang yang berada di samping Erlan.
Wajah yang familiar yang sudah lama tidak dirinya lihat.
Adiknya, Haikal.
Haikal kebetulan menatap kearah keluar pintu di mana dua orang itu ada di sana.
Haikal segera meminta ijin untuk permisi, keluar sebentar, dan jelas saja tujuannya untuk menyapa dua orang yang ada di depan.
Erlan juga cukup paham dan dengan keinginan pamannya itu, agar pamannya sendiri saja yang berurusan dengan mereka berdua.
Dirinya sudah cukup bermain di depan layar selama ini dan sekarang saatnya pamannya juga ikut naik ke depan layar, dan berhenti bermain dari belakang layar.
"Wah, Kak Max dan Keponakanku, Austin, kebetulan sekali kita bertemu di sini bukan?" Sapa Haikal melihat memiliki ekspresi yang ramah.
Max yang melihat adiknya itu segera berkata dengan marah,
"Haikal!! Kamu bukan yang memanfaatkan Putraku Erlan, untuk berani melawan ku dan keluarganya seperti itu?"
Haikal yang mendengar kata sepakat satunya itu segera tertawa,
"Apa? Aku tidak pernah memanfaatkan nya sama sekali, aku hanya memberikan bantuan kepada keponakanku yang malang. dia ditinggal pandan dikhianati oleh keluarganya sendiri bahkan hak-hak warisan yang dia miliki di ambil oleh Ayah dan Adiknya sendiri, iya benar benar memiliki nasib yang malang dan dibuang oleh keluarganya aku hanya merasa sangat prihatin padanya memiliki seorang ayah yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu juga serakah seperti mu!"
"Diam kamu Haikal! Kamu jelas tidak mengerti apa apa!"
"Apa yang tidak aku mengerti soal keserakahan Kak Max? Apakah tidak cukup membuat hubunganku dengan Ayah kita menjadi buruk? Dan melihat ku di usir dari Keluarga dan dari Perusahaan? Lupakan gitu serakah sampai mengusir Putramu sendiri, tidakkah kamu memiliki hati nurani?"
"Paman Haikal, jangan bicara macam-macam tentang Ayahku!"
Haikal malu segera menatap keponakannya itu dan tertawa,
"Austin, kamu sebaiknya tidak perlu ikut campur soal masalah aku dan ayahmu, kenapa kamu tidak memikirkan saja cara agar membayar hutang-hutangmu pada Perusahaanku Hcl. Investment? Aku tahu sepertinya sebentar lagi kalian jatuh tempo bukan? Bagaimana jika kamu memberikan persenan dari saham milik mu itu untuk pembayaran utang?"
Baik Austin dan Ayahnya, jelas tahu Hcl Investment itu apa, itu adalah sebuah perusahaan investasi yang sebelumnya memberikan cukup banyak pinjaman kepada perusahaan mereka saat krisis belakangan melanda perusahaan mereka.
Jelas, Perusahaan mereka, tidak memiliki pilihan lain selain meminjam dari perusahaan itu, yang selain memiliki bunga yang lumayan, juga jatuh tempo yang dekat.
Mereka berdua benar-benar tidak pernah menggunakan pemilik perusahaan itu adalah Haikal Castillo.
Dan, jelas sekali apa tujuan dari orang itu.
Yaitu untuk mendapatkan perusahaan Keluarga Castillo.
"Haikal!! Kamu benar-benar berani untuk menyentuh Perusahaan Milik Keluarga Castillo!!" Kata Max dengan marah.
"Memang kenapa dengan itu? itu adalah sesuatu yang seharusnya menjadi milikku namun dirampas dengan kejam dariku, hanya ingin mengambil kembali sesuatu yang menjadi milikku sampai yang salah dengan itu?"
"Haikal kamu!"
Disana menjadi sebuah keributan karena beberapa orang mulai tertarik dengan pertengkaran itu dan mulai melihatnya.
Austin melihat ke arah sekeliling bahwa mereka saat ini tidak diuntungkan.
"Ayah, baliknya kita tidak perlu menanggapi paman haikal atau kita akan menjadi malu,"
Max mencoba menahan amarah nya dan berniat segera pergi.
Namun tangannya di tarik oleh Haikal, dan Haikal mulai berbisik di telinganya,
__ADS_1
"Kak Max juga harus membayar hal-hal apa yang pernah kamu lakukan kepada mendiang Istriku dan Istri Kak Max, dosa-dosanya yang kamu lakukan di masa lalu tidak akan pernah bisa terhapus, jangan Kakak pikir aku akan diam saja, aku sudah tahu segalanya,"
Wajah Max karena menjadi pucat setelah mendengar soal hal itu.