
Hari-hari segera berlalu sejak kejadian malam itu, saat ini baik Airin juga Erlan terlihat dalam suasana yang cukup canggung.
Seperti saat pagi ini mereka sarapan bersama-sama.
Suasana meja makan terlihat canggung.
Airin jujur masih merasa tidak mengerti tentang situasi sekarang ini.
Apakah keputusan yang dirinya ambil itu salah?
Namun apa yang bisa dirinya lakukan?
Dirinya hanya...
Tidak ingin hubungan mereka menjadi sesuatu yang di mulai dari rasa bersalah.
"Kak Erlan, Apakah kakak hari ini akan mengurusi salah satu Proyek yang bersaing dengan Perusahaan Keluarga Castillo?"
"Ya, hari ini ada sebuah proses besar dan perusahaanku pasti akan memenangkan tender itu,"
"Aku mendoakan semoga semuanya berjalan dengan lancar,"
"Terimakasih Airin, atas dukungannya,"
Setelahnya ada keheningan yang ada di sana.
Airin masih cukup binggung ingin berbicara soal apa.
Erlan sendiri juga, merasa canggung tentang apa yang terjadi sebelumnya dan perasaannya masih terasa tidak nyaman.
Dirinya sejujurnya, tidak tahu bagaimana caranya menghadapi wanita yang ada di depannya saat.
Kejadian malam itu adalah sesuatu yang tidak pernah dirinya duga.
Lalu kemudian, Erlan menjadi teringat soal beberapa hal, soal Keluarga Airin.
"Airin, ada sesuatu yang penting yang ingin aku katakan padamu,"
Airin yang diam itu, segera menjadi kaget ketika pria di depannya itu berbicara, terlihat ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Apakah ini ada kaitannya dengan kejadian malam itu?
Apakah sebenarnya pendapat Kak Erlan tengah malam itu?
Apakah itu sebuah penyesalan pada akhirnya?
Airin benar-benar tidak sanggup untuk mendengar alasan semacam itu hatinya seolah tidak siap.
Ya, dirinya paham saat ini di mata pria yang ada di hadapannya itu dirinya tidak lebih dari temannya, pasangan dalam melakukan balas dengannya tidak lebih dan tidak kurang.
Dirinya juga tidak ingin juga merusak hubungan baik antara mereka berdua.
Namun jelas sekali kejadian malam itu, membuat hubungan mereka tidak bisa sebaik sebelumnya, menjadi canggung seperti ini selama beberapa hari terakhir.
Walaupun mereka berdua memutuskan untuk melupakannya Namun sepertinya itu tetaplah sulit, untuk menganggap bahwa tidak pernah terjadi apapun antara mereka.
Airin jelas tidak bisa melupakan kejadian malam itu juga, salah satu malam indahnya.
"Apa yang ingin kamu katakan?"
Erlan segera berkata lagi,
"Ini soal Keluargamu, Apakah kamu benar-benar tidak ingin tahu soal mereka?"
Airin terdiam, tidak pernah mengira jika pria yang ada di depannya itu akan membicarakan soal Keluarganya.
"Aku sebenarnya cukup penasaran dengan mereka,"
"Belakangan aku sudah mencari informasi soal mereka, yah kamu tahu, Aku merasa kamu jelas tidak bisa mereka memiliki kehidupan tenang setelah apa yang mereka lakukan kepadamu terutama untuk saudara-saudaramu,"
Airin yang mendengar itu segera terdiam memikirkan soal kata-kata pria yang ada di depannya.
"Yah... Aku tidak pernah memikirkannya selama ini karena aku juga tidak tahu tentang apa yang harus aku lakukan kepada mereka,"
Erlan yang mendengar itu segera tersenyum.
"Aku sebenarnya memiliki sebuah ide yang bagus,"
__ADS_1
"Huh apa itu?"
"Mari datang ke Pesta denganku malam ini, ada Pesta Ulang Tahun Pernikahan Adik perempuanmu,"
"Jadi sekarang dia sudah menikah?"
"Ya, kamu jelas akan terkejut begitu tahu dengan siapa dia menikah,"
"Dengan siapa?" Tanya Airin penasaran.
"Jeremy Will, dia adalah Kakak Tiri Sylvia, dia kebetulan adalah seseorang yang memiliki reputasi yang buruk,"
"Eh? Kakak Tiri Sylvia? Aku cukup terkejut Kenapa bisa ada kebetulan semacam itu, namun jika dia memiliki reputasi buruk, harusnya adikku tidak ingin menikahinya?"
"Itu karena Kakak Laki-laki Sylvia ini licik, Aku sudah dengar dari dia dulu, bagaimana Kakaknya itu Pria Brengsek dan Playboy, namun dia sangat pintar menyembunyikan kebusukannya itu,"
Airin yang mendengar itu cukup terkejut namun ketika pria yang ada di hadapannya itu menyebut nama mantan istrinya entah kenapa perasaannya tidak enak.
Apakah dirinya cemburu?
Padahal dirinya juga tahu, hal-hal yang diucapkan oleh pria yang ada di hadapannya ini jelas tidak memiliki arti tertentu, hanya karena kebetulan saja Adik Perempuannya yang menyebalkan itu menikah dengan Kakak Sylvia.
"Hah, jelas pasti adikku itu ingin menikahinya karena dia Kaya,"
"Seperti yang kamu kira, maka marilah kita datang ke pesta itu nanti malam pasti akan ada sesuatu yang menarik, Aku baru saja menyiapkan beberapa kejutan,"
Erlan mengatakannya dengan santai sambil tersenyum.
"Sebuah kejutan?"
"Ya, lihat saja nanti aku yakin kamu akan menyukainya. Untuk seseorang yang merusak Pernikahan Kakaknya sendiri, Bukankah saudaramu itu layak mendapatkan bayarannya sendiri? bahkan walaupun kita tidak perlu repot-repot pada akhirnya dia menikah dengan seorang pria brengsek, dan hanya dengan sedikit percikan..."
Airin yang mendengar tentang pria yang ada di depannya itu memiliki sebuah rencana yang besar demi membalaskan dendam dirinya itu, jelas merasa hatinya sangat hangat.
Kak Erlan memang benar-benar seseorang yang sangat bisa diandalkan dan sangat baik, semakin ke sini dirinya jelas merasa terpesona.
Dengan pesona mematikan seperti itu wanita mana yang tidak akan tertarik?
####
Di tempat lainnya saat ini di Rumah Keluarga Castillo, pagi itu Sylvia yang baru selesai memandikan Elvin, menerima sebuah telepon.
"Elvin sayang, Mama akan mengangkat telepon dulu oke? Kamu sebaiknya bermain dulu dengan Bibi Pengasuh,"
Elvin yang saat ini baru saja mengenakan pakaiannya itu, segera menjawab dengan patuh.
"Baik, Mama, Elvin akan pergi bermain dulu,"
Setelah Elvin pergi, Sylvia segera mencari tempat yang tenang di sekitar rumah itu, memastikan pembicaraan ini tidak akan bisa didengar oleh siapapun.
"Ya, ada apa Kak Jeremy? Kenapa kamu mesti meneleponku segala?"
Ada suara tawa dari balik telepon,
'Sylvia, Kenapa kamu semakin ke sini semakin kurang ajar padaku? Apalagi sejak kamu menikah dengan Austin itu, aku bisa melihat kamu itu sepertinya menjaga jarak dengan Kelurgamu,'
"Lalu Memangnya kenapa jika aku memang menjaga jarak dari kalian? kita berdua sama-sama tahu jika kita tidak memiliki hubungan baik dari awal,"
Sylvia jelas merasa kesal Ketika harus dihadapkan dengan kakak laki-lakinya itu.
Ya, dirinya selalu ingin balas dendam kepada Kakak-kakaknya, juga pada Keluarganya, namun Kakaknya ini memegang kartu Truff, dan memegang beberapa rahasia miliknya.
Terutama, dulu ketika dirinya menikah dengan Erlan, dirinya benar-benar tidak berani untuk menyentuh keluarganya itu bahkan sedikitpun.
'Kamu itu benar-benar semakin kurang ajar? Ini membuatku penasaran sebenarnya tipuan apa yang kamu lakukan pada Austin yang bodoh itu?'
"Aku tidak melakukan penipuan apapun,"
Lalu ada suara tertawa dari balik telepon yang terlihat sekali sangat meremehkan.
'Aku jelas tahu kamu itu wanita semacam apa, pasti kamu memiliki tipuan untuk Austin Suamimu itu, seperti bagaimana kamu menipu Kakaknya Erlan dulu, kamu selalu mengaku gadis kecil yang menolongnya ketika Erlan kecil, tapi aku jelas sangat tahu kamu mendapatkan gelang itu bersamaku ketika kita jalan-jalan di pantai, Kamu benar-benar sangat pandai melakukan sebuah kebohongan,'
Sylvia yang mendengar itu jelas merasa sedikit gugup.
Ya ini adalah salah satu rahasia penting yang dipegang Kakaknya yang menyebalkan itu.
Sesuatu yang sangat lama dirinya sendiri kan dari Mantan Suaminya, Erlan.
__ADS_1
Namun toh dirinya sekarang sudah bercerai jadi rahasia Ini seharusnya tidak lagi penting?
Namun entah kenapa dirinya merasa, tidak ada yang baik jika dirinya memprovokasi Kakaknya ini lebih banyak.
Rahasia dan omong kosong apa nantinya yang akan Kakaknya katakan pada semua orang?
Terlebih, Erlan sekarang sudah kembali, jika sampai kabar rahasia masa lalu itu terungkap, dirinya akan menjadi semakin malu dan menjadi bahan hujatan semua orang.
Sudah cukup sebelumnya dirinya menerima hujatan dari semua orang.
Jadi, Sylvia mencoba untuk sedikit mengalah sekarang.
"Jadi, apa mau Kakak sekarang?"
'Aku benar-benar tidak mau apapun, Aku hanya ingin mengundangmu ke Acara Perayaan Ulang Tahun Pernikahanku, itu saja. Ajak Suamimu juga, Aku rasa kehadiran Keluarga Castillo dalam Acara itu, sudah cukup untuk memberiku beberapa wajah,'
Sylvia yang merasa permintaan itu tidak terlalu berlebihan, hanya segera berkata,
"Ya, Aku akan datang nanti,"
Dan setelahnya, telepon itu selesai.
Sylvia lalu segera menuju ke arah meja makan untuk sarapan, namun ketika dirinya sampai di sana jelas ada sebuah ketegangan di sana.
Sylvia Yang penasaran itu segera berbisik dan bertanya kepada Austin,
"Sebenarnya ada apa? Kenapa suasana meja makan ini terlihat mencekam?"
Austin menatap ke arah istrinya itu lalu segera menghela.
"Kami sebenarnya sudah tahu soal Siapa orang yang mendukung, Kak Erlan,"
Sylvia yang merasa penasaran jelas segera bertanya lagi,
"Siapa itu?"
Austin lalu segera berkata lagi,
"Ini Paman Haikal Castillo, kamu masih ingat dia? Dia Adik dari Ayahku, yang sebelumnya pernah diusir dari rumah karena menikah dengan Wanita yang tidak di setujui Keluarga, dan terlibat dalam beberapa pengelapan dana Perusahaan,"
Sylvia cukup terkejut mendengar nama itu.
Paman Haikal?
Astaga...
Ini menjadi sesuatu yang tidak terkira.
Dirinya juga tidak terlalu tahu soal Paman Haikal ini, namun dia sepertinya memiliki hubungan buruk dengan Ayah Austin?
Hah, ternyata masalah ini lebih buruk dari yang dirinya perkirakan.
Astaga...
Nanti apa yang akan terjadi berikutnya?
Sayangnya, Sylvia hanya bisa merasa cemas soal hal-hal di masa depan karena semuanya menjadi begitu rumit.
Elvin yang sudah selesai bermain itu, segera menuju kearah Ruang Makan, dan mendatangi Mamanya.
Anak kecil selalu bisa memberikan suasana hangat.
"Mama! Mama! Mama hari ini menyulapi, Elvin?"
Kata-kata ceria itu, sedikit menghangatkan meja makan.
Ayah Austin yang dari tadi tegang itu, segera menatap kearah cucunya, dan memanggilnya,
"Elvin, hari ini mari bersama Kakek saja, mau Kakek suapi?"
Elvin dengan gembira segera mendatangi Kakeknya itu.
Sylvia menatap ke arah Putranya yang lucu dan menggemaskan itu.
Owh, benar juga dirinya masih memiliki Elvin?
Ini sebenarnya kartu Joker yang tidak boleh terungkap, seperti pedang bermana dua.
__ADS_1
Namun mungkin saja, suatu saat itu bisa digunakan dan menjadi senjata rahasia yang bagus.
Anggap saja rencana cadangan.