Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 40: Berbeda


__ADS_3

Disana, Erlan serius melihat sebuah lukisan yang menggambarkan dirinya, hanya sebuah gambar tentang dirinya yang sedang bermain dengan seekor kucing.


Itu bener, saat di luar negeri, dirinya sharing mengunjungi sebuah kafe tempat dimana binatang peliharaan bisa di lihat, dirinya buka mengunjungi tempat itu karena ada seekor kucing yang sangat lucu dan menarik.


Sebenarnya pertama kali dirinya pergi ke tempat itu adalah saat dirinya masih memakai kursi roda, dan melihat seekor kucing itu membuat hatinya merasa lega, itu benar kucing lucu yang bisa menghibur hatinya saat itu yang sedih.


Dirinya dan Airin sering pergi ke Cafe itu, oke ntar untuk melihat kucing atau menikmati makanan disana yang memang sangat enak.


Jadi, kalau tidak salah, mungkin lukisan ini menggambarkan dirinya sedang bermain-main dengan beberapa kucing di sana.


Sebuah lukisan yang terlihat sangat hidup, membuat dirinya tiba-tiba merasa rindu pada tempat tidur.


"Lukisan mu sangat bagus, ini membuatku rindu untuk pergi ke Cafe itu lagi,"


Mendengar komentar itu, Airin hanya bisa merasa lega, setidaknya pria yang ada di hadapannya itu tidak bertanya macam-macam soal alasan kenapa dirinya melukis Erlan disana.


"Ya... Aku juga sangat merindukan cafe itu."


"Jadi itukah kenapa kamu membuat lukisan ini?"


Airin hanya bisa menjawab seadanya dan berkata,


"Ya, karena aku pikir tempat itu sangat indah,"


"Lalu kenapa kamu menggambar ku juga?"


Airin tentu saja tidak bisa menjawab sesuatu seperti, 'Karena Kak Erlan juga Indah,'.


"Hanya suasana punya saja kebetulan cocok jadi aku menggambarnya itu saja,"


Erlan yang mendengar alasan untuk hanya bisa mengangguk, merasa alasan itu cukup masuk akal.


Kadang memang seorang seniman, bisa mendapatkan inspirasi di mana saja tentang apa yang ingin di gambar, mungkin Airin tipe yang seperti itu?


"Kalau begitu bolehkah aku meminta lukisan ini?"


Airin yang ditanya itu segera merasa terdiam dirinya merasa cukup malu soal lukisan ini, ingin rasanya menyembuhkan lukisan ini di ujung-ujung sampai tidak bisa dilihat oleh siapapun.


"Itu...."


"Bukankah kamu bilang aku boleh mengambil lukisan apa belum yang aku mau?"


"Tapi, lukisan itu tidak sebagus itu, banyak mahakarya ku yang lebih bagus dari itu, bahkan Kak Erlan boleh mengambil salah satu lukisan yang sudah dipajang di Galeri,"


Erlan yang mendengar itu segera menggeleng selalu tangannya menunjuk ke lukisan yang ada di depannya.


"Tapi aku menginginkan lukisan ini. aku akan menggunakan hak khusus ku untuk mengambil lukisan yang ada di depanku ini,"


Mendengar nada keras kepala itu membuat Airin menjadi bingung sendiri.


"Ayolah, semua lukisan kenapa lukisan itu?"

__ADS_1


Erlan segera menjawabnya sambil menunjukkan senyumannya,


"Tentu saja karena lukisan ini sangat indah, benar-benar mengingatkanku pada cafe itu, kan aku sangat menyukai lukisan ini, kamu benar-benar sangat detail dalam melukis wajahku disini. Semakin aku melihatnya semakin aku menginginkan lukisan ini, jadi apakah tidak boleh aku untuk memilikinya?"


Erlan mengatakan itu dengan ekspresi memohon yang bisa sekali tidak bisa ditolak oleh wanita yang ada di depannya itu.


Airin merasa binggung juga, setelah dipuji dengan berbagai cara seperti itu tidak mungkin jika dirinya menolak karena semakin dirinya menolak itu malah akan menjadi semakin mencurigakan.


"Itu.... Baiklah Kak Erlan ambil saja lukisan itu,"


Lalu Airin segera memanggil salah satu pegawai di sana untuk segera membungkus lukisan yang Erlan minta.


"Tolong kamu segera bungkus ini, dan berikan pada supir di depan dia nanti bisa dibawa pulang oleh Suamiku,"


"Tentu saja Nyonya Airin. Lukisan ini benar-benar sangat indah, Nyonya Airin memang sangat hebat dalam melukis, lihatlah dalam lukisan ini saya juga bisa melihat bagaimana Nyonya Airin sangat mencintai Suami Nyonya,"


Airin yang mendengar kata-kata itu jelas aja merasa malu.


"Kamu ini bicara apa sih? Sebaiknya segera saja kamu urus,"


Pegawi itu hanya bisa tersenyum dan segera melaksanakan tugas yang diberikan.


Setelahnya kedua orang itu hanya melihat-lihat ke seluruh gudang, lalu Airin juga mengajak Erlan melihat-lihat lukisan yang ada di galeri.


Erlan juga sangat suka dengan lukisan, dan ternyata tahu banyak soal mereka.


Airin benar-benar menjadi sangat senang berbicara dengan Erlan soal semua ini.


Sayangnya, tinggal dua Minggu sebelum acara Pameran itu diselenggarakan.


Jadi, Airin menjadi sangat sibuk selama dua minggu ini termasuk mendekorasi Galeri, memilih Lukisan yang akan di panjang, dan memilih Lukisan mana yang akan dilelang untuk acara amal.


Acara Pameran ini, jelas merupakan acara yang sangat besar yang akan dihadiri oleh orang-orang penting yang ada di Kota, Erlan dan Paman Haikal memiliki banyak koneksi di sini, jadi Airin meminta makan dari mereka berdua untuk siapa-siapa saja yang akan diundang.


Persiapan berjalan dengan baik, hanya saja semua itu benar-benar membuat Airin sangat sibuk, jadi dirinya jarang untuk berbicara atau mengobrol santai dengan Erlan.


Apalagi, Erlan juga cukup sibuk belakangan karena baru saja menstabilkan soal bisnis yang dijalankan di kota ini bersama dengan Paman Haikal.


Kecuali saat sarapan atau ketika malam hari, itupun keduanya jarang untuk makan malam bersama.


Ini adalah malam sebelum acara pameran itu berlangsung.


Erlan menatap kearah wanita yang ada di depannya itu yang jelas sekali menunjukkan ekspresi lelah karena sudah mempersiapkan semua ini dengan cukup keras, bahkan sampai lembur.


"Semua akan baik-baik saja, besok semua akan berjalan dengan baik," kata Erlan malam itu, sambil mengelus rambut Airin, saat Airin akan memasuki Kamarnya.


Erlan sendiri setelah melaksanakan itu, hanya tersenyum lalu segera masuk ke kamarnya sendiri.


Wajah Airin menjadi merah karena merasa tersipu dengan sentuhan itu tiba-tiba.


Namun hal itu juga memberikan dirinya semagat untuk menghadapi hari esok.

__ADS_1


####


Hari yang dinantikan akhirnya segera tiba, hari pameran itu berlangsung.


Saat ini, Airin sudah berada didepan Galeri, untuk mulai memberikan sambutan sebelum acara itu dimulai.


Tentu saja, Erlan ada di salah satu hadirin yang melihat ke arah Airin yang saat ini sedang berdiri diatas panggung itu.


Sayangnya, bukan hanya Erlan yang ada disana, ada seseorang yang seharusnya tidak di undangan di Acara Pameran itu, namun berada di sana.


Itu adalah Austin Castillo, yang awalnya pergi ke pameran ini karena undangan dari salah satu Klaiennya.


Awalnya dirinya tidak tahu pameran milik siapa di situ namun untuk menghormati Klaiennya, Austin ikut saja.


"Lihat, dia adalah salah satu Pelukis Terkenal di Luar Negeri. Aku benar-benar menyukai lukisan nya sangat beruntung aku berhasil mendapatkan undangannya, aku ingin menunjukkan padamu, selera ku," kata klaien Austin itu dengan antusias.


Namun pandangan Austin, tidak pernah lepas dari arah panggung, dimana Airin berdiri.


Saat ini, Airin berdiri di atas panggung dengan sebuah gaun yang terlihat anggun dan cantik, juga make up yang cocok untuknya, berdiri di sana sambil tersenyum dan mulai memberikan sambutan kepada semua orang.


Berapa orang sempat bertanya soal tentang apa Tema Pamaran itu, Airin tentu saja segera menjawab dengan ceria dan penuh rasa percaya diri,


"Ini tentang sebuah Mimpi, bahwa semua orang berhak bermimpi dan mencoba menggapai mimpi mereka,"


Salah satu Audiensi ada juga yang segera bertanya ketika mendengar itu,


"Apa inspirasi Nona untuk memilih tema itu?"


Airin yang ditanya di atas panggung itu terlihat terdiam sebentar namun segera menjawab dengan penuh percaya diri,


"Suatu hari, Aku pernah kehilangan mimpiku, sesuatu yang sangat berharga untukku. sampai suatu hari aku mulai bangkit kembali dan menemukan sebuah mimpi baruku sampai aku bisa ada di tempat ini sekarang, ini adalah sebuah perjuangan yang panjang. aku yakin semua orang pasti pernah merasakannya ketika jatuh di tempat paling bawah, namun yang paling penting adalah untuk tidak pernah menyerah, itulah kenapa Aku memilih itu sebagai Tema Pameran ini,"


Setelah mengatakan itu terdengar suara tepuk tangan dari Para Audience.


Termasuk Austin, yang sejujurnya tidak bisa berkata-kata ketika melihat Mantan Istrinya itu.


Yang saat ini terlihat begitu cantik, hebat dan bersinar, diatas panggung, seperti sebuah cahaya yang menyilaukan.


Benar-benar berbeda dengan dirinya yang tiga tahun yang lalu saat menjadi Istrinya.


Airin yang berada di atas panggung terlihat seperti sesosok wanita yang sangat kuat, berani, dan mandiri....


Sorot mata penuh percaya diri, dan semua orang yang ada di ruangan itu yang mendukungnya.


Dirinya tidak pernah tahu, kalau Airin bisa memiliki ekspresi seperti itu....


Hal-hal yang tiba-tiba membuat dirinya sedikit terpesona.


"Dia sangat cantik...." Gumanya tanpa sadar.


"Benar bukan Pak Austin? Selain Lukisannya indah, Pelukisnya juga sangat cantik,"

__ADS_1


__ADS_2