
Ini adalah sebuah pagi yang baru, pagi baru sejak Airin mulai tinggal di Apartemen yang sama dengan Erlan.
Walaupun ini sudah beberapa hari berlalu, Airin tetap merasa canggung untuk tinggal seatap dengan orang lain.
Tentu saja, mereka berdua tinggal di kamar terpisah dan memiliki privasi masing-masing.
Namun tetap saja, Airin terasa cukup canggung tinggal di sana.
Selama tiga tahun, sejak Erlan sembuh dari Lumpuhnya tidak lama setelah Erlan melakukan Operasi, Airin sudah tidak tinggal bersama Erlan lagi, berita masing-masing hidup di Apartemen masing-masing, untuk mengurusi kesibukan masing-masing.
Walaupun mereka kadang akan sering bertemu, entah untuk makan malam, membahas soal rencana mereka atau hanya sekedar berbicara santai satu sama lainnya.
Mereka cukup dekat, namun tidak terlalu dekat masih memiliki jarak yang aman antara keduanya.
Itulah yang membuat Airin canggung, dulu dirinya belum terlalu mengenal Erlan, namun sekarang dirinya sudah mengenal pria itu dengan cukup baik.
Ketika Airin keluar kamarnya, Airin sudah disambut seseorang yang juga keluar dari kamar sebelah.
"Kamu sudah bangun, Airin?"
Airin menatap Pria dari kamar sebelah itu, masih memiliki rambut yang sedikit berantakan mungkin karena pria itu baru saja bangun tidur.
Pesona bagun tidur yang sedikit berantakan, dan menujukan beberapa rasa malas itu, benar-benar membuat Airin merasa sedikit gugup.
Itu mungkin karena Erlan biasanya selalu menunjukkan wajah dan ekspresi yang serius, dan sekarang menujukan ekpersi santai semacam itu, yang membuat Airin merasakan suatu kehangatan tertentu.
"Emm, aku baru saja bangun,"
"Aku pikir ini tidak biasanya kamu bangun terlalu pagi?"
"Hari ini kebetulan hari libur mungkin aku ingin berolahraga sebentar,"
"Kamu memang tidak ke studio hari ini?"
"Tidak, Aku rasa aku butuh istirahat untuk mencari inspirasi untuk karya baruku yang akan dipamerkan di pameran mandiri ku berikutnya,"
Erlan yang mendengar itu segera mengaguk.
"Emm, kamu benar memang perlu saatnya untuk beristirahat, mari kita berolahraga bersama, apakah kamu mau?"
Airin terdiam sebentar dan merasa itu bukan hal yang buruk juga.
"Tentu saja kenapa tidak?"
Keduanya, lalu segera bersiap-siap untuk pergi dari sana, mengenakan baju olahraga yang masing-masing miliki.
Namun ketika keduanya bertemu lagi di Ruang Tamu, ketuanya cukup terkejut, itu karena kebetulan baju yang mereka pakai memiliki warna yang sama yaitu warna biru muda.
Airin tiba-tiba merasa malu mengingat bajunya sama dengan Erlan, ini...
Ini kenapa seperti pakaian pasangan?
Erlan seolah bisa melihat tatapan malu Airin.
"Tidak apa-apa, lagipula orang-orang di luar kan tahu kalau kita sepasang suami istri? lebih baik memang suka cerita menunjukkan hubungan kita di luar sana,"
"Emm, Kak Erlan benar."
"Aku pikir kamu sebaiknya jangan memanggilku Kakak lagi, panggil saja namaku, Erlan,"
"Rasanya sedikit aneh,"
"Tidak apa-apa juga saja dulu,"
__ADS_1
"Erlan,"
Mendengar namanya di panggil tanpa tambahan apa-apa itu, Erlan diam-diam tersemyum merasa cukup puas, jadi tanpa sadar Erlan mengelus rambut Airin.
"Bagus,"
Gerakan tiba-tiba itu jelas mengagetkan Airin, membuat Airin melangkah mundur dan hampir terpeleset karpet.
Sangat beruntung, Erlan menangkap Airin dengan cukup sigap.
Sekarang tatapan mereka bertemu.
Airin yang berada dalam jarak ini yang begitu dekat dengan Erlan, entah kenapa merasa malu, namun juga merasa nyaman.
Pelukan Erlan sangat hangat dan menyenangkan.
"Kamu harus hati-hati,"
Kata-kata Erlan itu, membuyarkan lamunan Airin.
Dan Airin segera sadar dengan pikiran konyolnya itu.
Hah, karena sepertinya yang merasa gugup soal ini hanya dirinya saja, sedangkan Pria yang ada di hadapannya tetap memasang ekspresi datar seperti biasanya.
"Kamu hanya sedikit mengejutkan ku,"
Erlan akhirnya sadar dengan tindakannya yang memalukan tadi.
"Maaf, aku rasa aku bertindak berlalu jauh,"
"Astaga, itu bukan apa-apa,"
"Jadi lain kali aku boleh melakukannya?"
"Itu... Itu...."
"Sudahlah, lupakan apa yang aku katakan tadi mari kita segera keluar saja,"
Erlan terlihat melarikan diri dan segera pergi dari ruangan itu.
Airin hanya bisa bertanya-tanya sambil menatap heran ke arah pria itu.
Pagi itu mereka berdua pergi ke taman di dekat Apartemen, berlari kesana, walaupun itu masih pagi ternyata cukup banyak orang juga yang ada di sana.
"Ternyata di sini cukup ramai," kata Erlan dengan heran.
"Mungkin karena ini hari sabtu,"
"Ah, aku sampai lupa tanggal kalau ini sabtu,"
"Itu karena kamu terlalu banyak bekerja,"
Keduanya lalu duduk sebentar disalah satu bangku, untuk bersantai sambil melihat orang-orang.
Sampai kemudian ada seorang anak kecil lewat, mengendarai sepeda roda tiganya, namun sialnya anak itu malah terjatuh didepan mereka berdua.
"Astaga, kasihan sekali anak itu, aku akan kesana dan membantunya sebentar,"
"Tentu, Aku juga akan ikut,"
Erlan segera kesana dan membantu anak itu untuk bangun.
Airin melihat pemandangan itu dan perasaannya merasa cukup hangat.
__ADS_1
Ya, Airin tahu sepertinya Kak Erlan memang menyukai anak kecil.
Lihat cara Kak Erlan mencoba menengangkan anak kecil itu.
Kak Erlan pasti akan menjadi seorang Ayah yang baik.
Namun ketika memikirkan ini, perasaan Airin menjadi rumit.
Tentang keadaan Erlan, yang bisa dibilang tidak begitu baik soal hal semacam itu.
Seorang pengasuh terlihat datang dan menyusul anak itu, ikut menenangkan anak itu.
"Terimakasih atas bantuannya telah membantu Tuan Muda, kami permisi dulu,"
"Terimakasih Kakak Baik," kata anak itu, yang saat ini sudah tidak menagis lagi.
Erlan yang merasa gemas dengan anak itu, segera mengelus pipinya.
"Emm, bukan apa-apa,"
Airin melihat senyuman tulus Erlan.
Erlan yang tersenyum seperti itu, selalu terlihat sangat tampan, dan kebaikan hatinya...
Itu adalah sebuah pesona yang tidak tertahankan.
Jadi bagaimana bisa ada wanita yang menghianati Pria sebaik ini!
Sungguh terlalu kurang ajar!
"Anak itu tadi lucu, ini membuatku teringat pada Elvin," kata Erlan tiba-tiba.
"Elvin ya? Dia memang sangat menggemaskan, rupanya walaupun baru bertemu sekali, kamu sudah merindukan anak itu?"
Erlan hanya mengaguk, merasa dirinya tidak masuk akal.
Ya, karena tiba-tiba mengigat Elvin, yang jelas anak dari musuh-musuhnya.
"Itu mungkin karena dia keponakanku,"
"Haha, mungkin saja bagaimanapun juga kalian masih memiliki sebagian darah yang sama,"
"Mungkin itu benar. Sudahlah tidak perlu terlalu memikirkannya, aku hanya merasa kasihan pada anak itu,"
"Ya, karena dia memiliki orang tua semacam itu,"
"Ini membuatku sedikit ragu, jika menjalankan rencana kita, apa yang akan terjadi pada anak itu nanti?"
Ya, kata-kata Erlan memberikan sedikit nada keraguan di sana.
Airin lalu segera terdiam.
"Tidak apa-apa, ini tidak seperti kita akan mencelakakan mereka pula,"
"Kamu benar,"
Keduanya lalu mulai tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Airin diam-diam menatap ke arah pria yang ada di sampingnya, melihat ekspresi tentang itu.
Ya, Pria ini bahkan masih sempat untuk menghawatirkan anak orang lain.
Dia benar-benar laki-laki yang lembut.
__ADS_1
Airin tiba-tiba merasa tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Pria disampingnya ini.