Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 36: Kenapa Tidak Mencoba?


__ADS_3

Airin melihat pria yang ada di hadapannya itu saat ini terdiam seolah sedang memikirkan dengan serius soal pertanyaannya barusan itu.


Airin sendiri, sebenarnya suka tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba bertanya soal ini.


Hanya saja....


Hal ini memang terbesit dalam pikirannya karena dirinya benar-benar ingin tahu, apakah Pria yang ada di hadapannya ini ingin membuka hatinya atau tidak.


Karena beberapa orang setelah mengalami penghianatan cinta, terkadang akan sangat sulit untuk membuka hati lagi.


"Aku juga tidak tahu," kata Erlan dengan tenang pada akhirnya, setelah terdiam cukup lama.


Karena memang dirinya tidak tahu bagaimana cara menjawabnya.


Cinta adalah sesuatu yang misterius.


Tidak tahu kapan hal itu datang...


Bisa saja menjadi hal yang tidak terkira, yang datang secara tiba-tiba.


Namun yang paling jelas, bahkan walaupun cinta datang tiba-tiba, tetap harus mengerti batasan tentang siapa yang boleh di cintai atau tidak.


Ketika Erlan menatap ke arah Airin, sekarang muncul lagi sebuah pertanyaan baru.


Kalau ke Airin, apakah boleh untuk jatuh cinta?


Seberapa batas hubungan antara mereka berdua?


Sebelumnya, jelas mereka adalah saudara Ipar, namun sekarang sudah bukan.


Namun, dirinya dan Airin sudah berteman cukup lama, dan mungkin hubungan mereka seperti Kakak dan Adiknya?


Bukan berarti itu hal yang tidak diijinkan, hanya saja Erlan ketika memikirkan hal ini perasaannya menjadi rumit.


Karena hubuangan antara dirinya dan Airin sampai saat ini tidak begitu jelas.


Tentang seberapa banyak batas yang mereka miliki satu sama lainnya.


Erlan memilih untuk mencoba berhenti memikirkan ini.


"Jadi begitu, aku cukup mengerti. Api aku pikir tidak ada salahnya jika Kak Erlan mencoba untuk jatuh cinta,"


"Aku tidak tahu,"


Sekali lagi ketika mendengar jawaban itu, Airin tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Tapi Kak Erlan, Kakak tidak boleh terpaku dengan masa lalu,"


Erlan yang mendengar itu gila sangat paham tentang apa yang dibicarakan wanita di depannya itu.


Bukannya dirinya terpaku pada masalalu, hanya saja...


Dirinya tidak benar-benar mengerti bagaimana caranya untuk jatuh cinta lagi...


Hanya, mungkin penghianatan dimasalalu terlalu buruk.


Orang yang paling dirinya percaya dan cintai...


Ketika Erlan kembali memikirkan hal ini sekarang dirinya mengerti.

__ADS_1


Ya, memang itu masalahnya, sepertinya dirinya benar-benar masih tengelam dalam penghianatan masalalu.


Airin pasti jelas merasa khawatir adanya.


Ya, Airin emang selalu menjadi wanita yang baik yang selalu mengkhawatirkan orang lain bahkan sebelum dirinya sendiri.


"Lalu bagaimana denganmu, Airin? Kamu tidak ingin mencoba untuk jatuh cinta?"


Airin yang tiba-tiba ditanya itu sekarang menjadi bingung harus menjawab seperti apa.


Pertanyaan ini terlalu tiba-tiba dan dirinya belum mempersiapkan jawabannya.


"Apakah kamu juga masih tenggelam dalam penghianatan masa lalu?"


Airin terdiam sebentar lalu dengan yakin berkata,


"Tidak, dari awal hubunganku dengan Austin tidak sebaik itu, ini tidak seperti aku begitu mencintainya secara mendalam, sampai segitunya,"


Erlan yang mendengar itu jelas aja merasa cukup kaget.


"Lalu? Kenapa kamu bertahan sebelumnya?"


Airin lalu segera berkata,


"Karena aku tidak memiliki pilihan, posisiku di bawah dan dia di atas aku tidak memiliki pilihan untuk menolak dan hanya bisa mengikuti semua kemauannya. Bahkan walaupun aku ingin pergi aku tidak bisa pergi, Aku memang memiliki beberapa perasaan padanya pada awalnya, namun seiring berjalannya waktu, perasaan itu perlahan-lahan menghilang, yah apalagi setelah melihat penghianatnya itu, aku merasa cukup bodoh kenapa bisa bisanya aku memiliki perasaan pada laki-laki semacam itu, aku merasa aku sangat butuh bisa aku memikirkannya lagi, benar-benar terlihat seperti wanita konyol dan bodoh,"


Erlan yang mendengar kata-kata terakhir Airin, yang sepertinya merasa menyesal telah jatuh cinta itu, tiba-tiba tertawa, lalu segera berkata,


"Ya, kamu ada benarnya. Aku jika memikirkannya lagi juga merasa aku sangat bodoh, kenapa Aku bisa jatuh cinta pada wanita seperti Sylvia? Aku juga merasa diriku bodoh, hanya karena awalnya dia menolongku, kan berarti aku harus terpaku dan menjadi bodoh dan mencintainya selama itu,"


Airin yang mendengar itu juga ikut tertawa.


"Pffff.... Kamu benar, jika dipikirkan soal kesalahan dimasalalu, hanya kita berdua saja yang terlalu bodoh, untuk mencintai orang yang salah,"


Ya, cukup lucu jika memikirkannya, dan membahasnya sekarang.


Yang salah bukankah soal cinta, namun hanya mencintai orang yang salah saja, tidak lebih dan tidak kurang.


"Ya, aku memang memiliki harapan semoga aku bisa mencintai orang yang tidak salah lagi dimasa depan," kata Erlan lagi, setelah berhenti tertawa.


Airin yang melihat pria di depannya itu yang saat ini sekolah sedang membulat kan sebuah takad, mau tidak mau merasa kagum.


Semakin Airin menatap kearah Pria itu pandangannya semakin tidak bisa berpaling.


"Kamu benar, aku pikir aku akan mencoba untuk jatuh cinta lagi," kata Airin lagi, seolah menjawab tentang pertanyaan Erlan sebelumnya, lalu juga bertanya, "Jadi, Kak Erlan tidak ingin mencobanya? Untuk jatuh cinta lagi?"


"Aku pikir tidak masalah untuk mencoba jatuh cinta lagi, aku akan mencobanya,"


"Itu sangat bagus, lalu tipe wanita semacam apa yang Kak Erlan sukai?"


Airin juga tidak tahu kenapa dirinya bertanya hal ini secara tiba-tiba.


Erlan yang mendengar pertanyaan itu segera terdiam.


Itu mungkin karena dirinya tidak benar-benar pernah memikirkan soal tipe wanita seperti apa yang dirinya sukai.


Jelas, dirinya tidak bisa menyebutkan wanita setipe Sylvia karena Sylvia yang dirinya tahu mungkin adalah sebuah kebohongan, gua hal yang wanita itu lakukan di depannya adalah sebuah kebohongan tanpa ujung.


"Aku menyukai seorang wanita yang jujur,"

__ADS_1


Mendengar jawaban simpel itu, Airin cukup terkejut, tidak pernah mengira jika tipe Kak Erlan akan menjadi cukup sederhana seperti itu.


"Apakah ada yang lain?"


Erlan yang ditanya itu segera terdiam lagi seolah sedang berpikir keras.


Airin sedang menunggu jawaban Erlan dengan tidak sabar.


Ya, dirinya benar-benar ingin tahu tentang Wanita yang Kak Erlan mungkin sukai?


Ini bukan tipe yang seperti si tidak tahu mau Sylvia itu bukan?


"Aku pikir aku juga sangat menyukai wanita yang cukup mandiri dan kuat. Seorang wanita yang bisa menghadapi semua ha sulit, dengan mengandalkan dirinya sendiri, seorang wanita yang mampu bangkit bahkan setelah dirinya terpuruk, tidak pernah menyerah tentang apapun yang ada di hadapannya, Aku pikir sesuatu seperti itu cukup keren dan hebat, Aku suka tipe ini,"


Airin yang mendengar itu entah kenapa merasa malu tiba-tiba.


Emm...


Tidakkah itu sedikit sama dengan dirinya?


Ketika Airin memikirkan ini dirinya merasa bodoh.


Itu mungkin hanya Kak Erlan mengatakannya dengan random.


Lagipula, Pria kan memang suka tipe yang seperti itu?


Emm, entahlah dirinya juga tidak benar-benar mengerti soal selera Pria.


Jadi, Airin mencoba untuk menormalkan ekspresinya sebisa mungkin tidak menunjukan kegembiraan di hatinya.


Karena, dirinya cukup dekat dengan Tipe Kak Erlan, harusnya udah kesempatan untuk dirinya bukan?


"Jadi begitu, itu juga sangat bagus,"


Sekarang giliran Erlan yang menetap Airin, dan segera bertanya,


"Lalu Tipe Pria seperti apa yang kami suka?"


Ya, tiba-tiba Erlan juga merasa ingin tahu soal hal ini, Tipe Pria yang Airin suka.


Seperti apa itu?


Apakah Pria yang pintar?


Atau mungkin Pria baik hati dan lembut?


Yang juga cukup hebat?


Atau memiliki beberapa kriteria khusus?


Airin tidak siap dengan pertanyaan itu dan malah hanya menjawab secara refleks setelah menatap wajah Erlan,


"Ini Pria Tampan."


Setelah mengatakan itu, Airin tiba-tiba merasa sangat malu.


Ya, omong kosong apa yang barusan dirinya katakan!!


Disisi lainnya, setelah mendengar itu, Erlan merasa ingin segera tertawa karena jawaban itu tidak terduga.

__ADS_1


Pria Tampan ya?


Jadi itukah Tipenya?


__ADS_2