Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 77: Tersadar


__ADS_3

Erlan yang mendengar kata-kata dari istrinya itu jelas menjadi cukup kaget.


Airin menyadari soal omong kosong memalukan yang baru saja dirinya katakan itu segera menutup mulutnya dan mulai membuat alasan,


"Aku... Aku hanya asal bicara, kamu tidak perlu terlalu memikirkan omong kosong ku barusan,"


Erlan yang mendengar itu segera tersenyum lalu segera megecup ringan kening Airin.


"Jadi begitu, kamu pasti menantikan hal-hal itu setelah tahu perasaan masing-masing, maafkan aku belum bisa melakukan kewajibanku sebagai suamimu sekarang,"


Airin yang melihat ekspresi rasa bersalah dari suaminya itu, tentu saja merasa tidak enak juga dan segera berkata,


"Astaga, aku benar-benar minta maaf karena mengatakan hal-hal yang terlalu terburu-buru. Sungguh aku tidak bermaksud apa-apa, saat ini yang paling penting adalah kesehatan Elvin, kita masih memiliki begitu banyak waktu nanti jadi tidak perlu terlalu memikirkannya sekarang,"


Mendegar kata-kata penuh pengertian dari Airin itu, Erlan lalu tersenyum,


"Airin terima kasih kamu telah mengerti, aku benar-benar merasa sangat beruntung bisa memiliki kamu sebagai istriku, kamu begitu pengertian dan bahkan mau menerima keberadaan Elvin, walaupun mungkin itu cukup sulit untukmu. Kamu bahkan sangat peduli dengan kesehatan Elvin, kamu benar-benar sangat baik hati,"


Airin yang tiba-tiba dihujani oleh banyak pujian itu segera wajahnya memerah, apalagi setelah ciuman di kening barusan juga.


"Kamu terlalu berlebihan harusnya aku yang merasa sangat beruntung memilikimu sebagai suamiku," kata Airin sambil mengegam tangan Erlan.


Dua orang itu segera bertatapan satu sama lain, tatapan yang penuh cinta, seolah-olah benar-benar menginginkan satu sama lain tenggelam dalam cinta yang mereka miliki saat ini.


Namun dua orang itu tahu jika saat ini mereka masih harus menahan diri, ketika saatnya tiba dan mereka berdua benar-benar bisa menikmati cinta mereka.


Jadi mereka berdua segera saling mengalihkan tatapan masing-masing.


Hanya genggaman tangan mereka yang terjalin sangat erat seolah-olah tidak ingin melepaskan kehangatan tangan satu sama lain, keduanya menikmati kebersamaan dan keromantisan kecil antara mereka.

__ADS_1


Sayangnya hal-hal itu tidak berlangsung lama karena segera, ponsel Erlan berbunyi.


Erlan lalu segera menatap ponselnya, dan memiliki ekspresi yang cukup kaget namun ada rasa senang di sana.


Airin yang melihat ekspresi itu segera bertanya dengan penasaran,


"Ada apa?"


"Aku baru saja mendapatkan pesan bahwa saat ini, Elvin sudah sadar,"


Airin yang mendengar hal itu jelas merasakan senang juga,


"Ini benar-benar berita yang sangat bagus, Mari kita segera ke sana dan menemui anak itu,"


Dua orang itu tentu saja segera menuju ke ruangan rawat Elvin, dan tentu saja mereka berdua harus bertemu dengan Sylvia.


"Huwaa.... Mama.... Ini sakit..."


Sylvia segera memeluk anak itu mencoba untuk menenangkannya, masih ada inpus dan peralatan-peralatan lain yang dipakai pada anak itu.


"Tidak apa-apa, ini akan segera baik-baik saja,"


Elvin tetap masih menagis, Erlan dan Airin sendiri menatap sepasang ibu dan anak itu.


Erlan belum memiliki kesempatan untuk mecoba memeluk Elvin, jelas dirinya sangat ingin memeluk anak itu.


Dari luar ruangan, terlihat seorang Pria mengintip dari balik pintu sedikit merasa lega ketika melihat Elvin akhirnya sadar, namun jelas tidak berani untuk sekedar masuk ke dalam ruangan itu.


Elvin sendiri, begitu merasa tenang dia langsung segera mulai bertanya,

__ADS_1


"Mama, Papa mana? Apakah Papa tidak disini? Elvin ingin bertemu Papa..."


Semua orang yang ada di ruangan itu jelas sekali tahu siapa Papa yang di maksud anak itu, itu adalah Austin.


Orang-orang di sini, tidak tahu keberadaan Austin dimana, tidak ada yang melihat lagi wajahnya sejak kejadian dia tahu bahwa Elvin bukan Putra kandungnya.


"Elvin, itu... Papa Austin... Dia belum bisa menemuimu dulu sekarang," kata Sylvia sedikit ragu, karena tidak tahu harus berkata apa pada putranya itu.


Elvin yang saat ini masih sedikit sensitif segera menangis lagi setelah mendengar itu.


"A... Apa Papa marah pada Elvin, karena Elvin pergi sebelumnya? Huwaa... Elvin ingin bertemu Papa... Papa... Papa mana, Papa..."


Anak itu benar-benar menagis keras, membuat tiga orang dalam ruangan itu, tidak tahu harus berkata atau menjawab apa.


Sampai orang yang ada diluar pintu, merasa tidak tahan lagi, dan segera masuk kedalam, dia adalah Austin, langsung masuk dan memeluk Elvin.


"Papa disini sayang, tidak kemana-mana, tidak marah pada Elvin."


Elvin yang dipeluk Austin itu segera memeluk Papanya lebih erat, dan berhenti menangis.


"Papa tidak akan marah pada Elvin Sungguh?"


"Iya, tidak akan marah, Papa sangat sayang padamu, bagaimana Papa bisa marah?"


Reuni antara Austin dan Elvin itu menjadi pemandangan yang begitu hangat, dari sini saja Erlan bisa mengerti dan tahu seberapa dekatnya mereka berdua, dan perasaannya menjadi cukup rumit.


Airin sendiri, segera mengeggegam tangan Erlan lebih erat, mencoba untuk membuat pria itu sedikit lebih tenang.


Namun apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2