
Siang itu, keduanya tengelam mereka menikmati kehangatan dari satu sama lainnya, sebuah ciuman dalam yang membuat keduanya merasakan candu satu sama lainnya.
Itu ciuman tidak hanya berlangsung sekali namun berlangsung berkali-kali.
Mungkin karena keduanya sudah lama tidak merasakan suatu kesenangan semacam itu, di mereka terbawa suasana dan menikmatinya.
Sampai waktu berlalu, dan keduanya hampir kehabisan nafas, ciuman itu akhirnya itu dilepaskan.
Sekarang, Airin yang masih meletakan tangannya di leher Erlan, masa pria yang ada di hadapannya ini dengan ekpersi malu-malu.
Namun, Airin sebisa mengendalikan ekspresinya.
Lalu, mencoba bertanya,
"Hal seperti ini mungkin tidak apa-apa,"
Kata-kata yang terlihat malu-malu namun mau itu, entah kenapa menjadi semacam undangan untuk Erlan.
"Ya, Aku rasa kita memang harus terbiasa dengan hal-hal semacam ini,"
Airin segera mengangguk setuju dengan kata-kata Erlan.
Berikutnya, Erlan sekali lagi, mencium bibir merah muda itu, yang menurutnya sedikit menggoda, bibir yang sekarang terlihat sedikit bengkak, mungkin karena hal-hal yang mereka lakukan barusan, pesona seksi yang Erlan tidak bisa tahan.
Erlan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini tidak apa-apa.
Ini hanya semacam latihan.
Ya, karena memang ha semacam ini sangat dibutuhkan untuk rencanaan mereka.
Walaupun, kalau Erlan mau jujur, dirinya sangat menikmati ciuman ini, tubuhnya tidak bisa berbohong, dan jelas hal semacam ini, membuat dirinya cukup bergairah.
Sampai akhirnya, ponsel Erlan berbunyi, keduanya akhirnya benar-benar mengakhiri ciuman itu.
"Jatwal Penerbangannya sebentar lagi, kita harus segera cepat untuk menuju bandara,"
Airin segera membenarkan riasannya yang berantakan berkat Erlan, dan mencoba memasang ekspresi setenang mungkin.
"Emm, kamu benar mari kita segera berangkat mari kita mencobanya lagi nanti setelah sampai di sana,"
"Ya,"
Dengan sepersetujuan itu, keduanya lalu mulai benar-benar bersiap untuk menuju bandara.
Menuju ke hotel tempat mereka akan bulan madu.
Dan sekarang, tidak cukup lama sampai mereka sampai di bandara, lalu mulai memasuki Pesawat.
Butuh waktu dua jam, sampai mereka tiba di lokasi tempat Bulan Madu mereka.
Itu adalah sebuah tempat wisata yang sangat indah, sebuah pantai yang juga dekat dengan pegunungan.
Ketika mereka keluar dari bandara, keduanya segera melihat hamparan pantai yang sudah terlihat oleh mata dari arah jalan yang memang berada di dekat kawasan pantai.
"Tempat ini benar-benar sangat indah," kata Airin yang melihat-lihat keluar jendela mobil.
"Ya, tempat ini memang merupakan tempat wisata yang cukup populer. Dan hotel yang akan kita tinggal di nanti adalah salah satu Hotel milik ER Group yang dibangun bersama Perusahaan milik Paman Haikal,"
"Ah, benar kamu sudah menceritakannya sebelumnya, soal lokasi hotel yang cukup dekat dengan Hotel milik Keluarga Castillo? Apakah itu memang disengaja dibangun di sana?"
"Tentu saja, tempat ini cukup populer, namun tidak banyak hotel dan resort yang dibangun di wilayah ini, jadi Hotel dan Resort milik Keluarga Castillo menjadi begitu populer dan hampir memonopoli pengunjung, terutama dari kalangan kelas menengah keatas,"
"Pasti sejak Hotel Baru itu di resmikan, itu menghambat bisnis mereka?"
__ADS_1
Erlan yang mendengar kesimpulan dari Airin, merasa cukup puas.
Ya, Airin sebenarnya adalah seseorang yang cukup pintar, dan sangat mudah beradaptasi.
Selama ini, dirinya memang menyuruh Airin untuk fokus pada Lukisannya, namun dia juga belajar beberapa hal soal bisnis, terutama untuk membuat galeri Lukisan untuk dia nantinya.
Juga bisnis perabotan barang antik yang juga cukup cocok jika disandingkan dengan sebuah lukisan klasik buatan Airin.
Orang-orang Kaya selalu menyukai hal-hal semacam itu, sangat baik Paman Haikal juga memiliki banyak koneksi di Luar Negeri, yang benar-benar sangat membantu perkembangan mereka berdua.
Wanita cerdas yang ternyata cukup kompeten dan berbakat.
Erlan sejujurnya cukup heran, kenapa wanita sehebat itu, dulu hanya berada di rumah saja saat masih bersama dengan Austin, benar-benar melewatkan kesempatan untuk bisa berkarir di dunia luar.
Ya, itu mungkin karena saat itu nasip tidak berpihak begitu baik pada Airin?
Namun sekarang, ketika Erlan menatap wanita yang ada di sampingnya itu, dimana sudah terlihat sangat berbeda dari tiga tahun yang lalu.
Airin bah berubah menjadi sosok yang cantik, hebat dan mandiri, seorang wanita yang sangat tegar dalam menghadapi semua hal setelah semua yang dialaminya selama ini.
Erlan tiba-tiba menjadi tenggelam dalam pesona wanita yang ada di sampingnya itu dan tanpa sadar menatap kearah nya.
Airin terlalu asik melihat arah keluar jendela sehingga tidak memperhatikan bagaimana Erlan menatapnya.
Namun mendegar perkataannya tidak juga di balas, Airin lalu memanggil nama Pria itu lagi.
"Erlan? Kak Erlan? Apakah ada yang salah dari kata-kataku barusan?"
Dengan panggilan itu, akhirnya Erlan tersadar dari lamunan nya.
Segera menatap kearah lain, takut-takut ketahuan jika dirinya menatap Airin dari tadi.
"Tidak ada yang salah tentang kesimpulan yang kamu buat. itu memang benar dari awal hotel ini memang dibangun untuk bisa bersaing dengan mereka, agar mereka bangkrut,"
"Ya, mati kita akan pamer soal kesuksesan hotel ini di depan mereka nanti?"
"Tentu saja, kita benar-benar harus membuat mereka kesal. Aku juga sudah mendapatkan laporan dari Manager soal Event yang diadakan di Hotel yang benar-benar menarik banyak pengunjung ke sana untuk menginap, dan tentu saja membuat bisnis disebelah agak sepi,"
Airin yang mendengar itu terlihat semakin bersemangat.
"Ahahaha... Aku benar-benar ingin melihat wajah pucat mereka nanti begitu mereka tahu,"
Erlan yang melihat wajah penuh semangat itu, lalu segera tersenyum,
"Ya, Aku juga menantikan nya,"
Airin yang melihat pria di sampingnya itu tersenyum begitu manis itu, entah kenapa sedikit tersipu.
Astaga, Kak Erlan benar-benar terlihat sangat menawan ketika tersenyum seperti itu...
####
Saat ini, Airin dan Erlan baru saja tiba di hotel mereka akan menginap, begitu mereka check in di Resepsionis, keduanya segera dipandu untuk menuju ke kamar mereka.
"Silahkan untuk Tuan Erlan dan Nyonya Airin, saya akan memandu kalian ke Kamar yang akan kalian tempati, Kamar VVIP di Hotel ini," kata petugas hotel itu dengan ramah.
"Terimakasih banyak," kata Airin dengan sopan.
Airin lalu menatap kearah lobby itu di mana memang saat ini penuh dengan orang-orang lewat, tempat ini benar-benar cukup meriah dan ramai.
Sesuai dengan apa yang Erlan katakan.
Sedikit berbeda dari Hotel di ujung jalan, yang bahkan sepertinya tidak banyak mobil di tempat parkiran.
__ADS_1
Berbeda dengan tempat ini, yang parkirnya hampir penuh.
Bisnis pada akhirnya berjalan dengan baik.
Airin merasa cukup senang dengan perkembangan ini.
Dan sekarang, ketika Airin dan Erlan sampai di kamar mereka, Airin merasa cukup kagum juga dengan desain Ruangan Kamar itu, yang benar-benar di desain dengan baik, terlihat sangat mewah dan elegan, kombinasi furniture dan hiasan kamar yang tertata dengan baik.
Ya, bisa dimaklumi kenapa hotel ini ramai.
Namun Airin kera menemukan sebuah masalah ketika menatap kearah sebuah tempat tidur di kamar itu.
Ya, ada satu tempat tidur besar, yang diatasnya ada desain bunga-bunga mawar yang dibentuk hati.
Hal ini, membuat Airin merasa aneh.
"Kamu terganggu dengan dekorasi itu? Yah, kau bagaimanapun juga mereka mengira kita pergi berbulan madu jadi wajar saja ada hal-hal semacam ini," kata Erlan sambil menjelaskan.
Airin lalu segera mengeleng dan berkata,
"Tidak, ini malah cukup bagus sebenarnya, mari kita mengambil beberapa foto di sini?"
"Tentu, ambil beberapa foto untuk di pamerkan nanti,"
Keduanya, benar-benar terlihat menikmati awal bulan madu ini.
Yang entah nanti akan ada kejadian apa selama bulan madu ini.
####
Disisi lainnya, Austin dan Sylvia baru saja tiba di Hotel tempat mereka akan berlibur, dan tentu saja Elvin di ajak.
Austin yang baru sampai di hotel itu jelas memiliki mood yang buruk, itu karena dirinya mendapatkan laporan dari Manajer Hotel, tentang kinerja hotel yang belakangan ini menurun.
"Papa, Mama... Mari kita segera ke kamar! Elvin ingin beristirahat,"
"Itu benar Austin, kamu jangan terlalu banyak pikiran kita di sini untuk berlibur,"
Mendengar kata-kata itu, Austin lalu menatap kearah Putranya yang lucu, dan mengendongnya.
"Tentu saja, mari kita kekamar! Lalu, kita akan jalan-jalan setelah ini, pahlawan kecil Papa yang paling manis, kebanggaanku," kata Austin dengan senang sambil menggendong Elvin kecil itu.
Austin ketika menatap senyuman kecil dari Elvin, Putra kebanggaan dan kesayangannya itu.
"Yey! Tentu saja, Papa! Kita akan jalan-jalan setelah ini, Elvin sangat senang,"
Senyuman kecil yang membuat semua pikiran Austin menjadi sedikit tenang.
Yah, mari lupakan sejenak soal hal-hal rumit, dan melakukan hal-hal menyenangkan dengan Putranya ini nanti.
Benar, Austin sangat menyayangi Elvin, ada saat dimana Austin merasa sedikit bersalah ketika kejadian Airin keguguran dulu.
Yah, walaupun itu bukan anak yang begitu diharapkan, karena bukan berasal dari wanita yang dicintainya, namun tetap darah dagingnya.
Namun sekarang tidak apa-apa, toh dirinya sudah memiliki Elvinnya, Putranya bersama dengan wanita yang dirinya cintai.
"Mari, Sylvia kita segera naik,"
"Tentu saja,"
Dari belakang, Sylvia menatap bagaimana Austin sangat menyayangi Elvin, dan kedekatan mereka.
Sylvia mulai memikirkannya, memang membiarkan hal-hal rahasia tetap menjadi rahasia, dan semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1