Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 73: Jangan Harap!


__ADS_3

Setelah mendengar telepon dari Erlan, dan tentang bagaimana kata-kata yang diucapkan oleh pria yang ada di ujung telepon dengan benar tidak bisa dipercaya, hampir membuat dirinya kehilangan kata-kata, karena saking syok dan kagetnya dengan hal itu.


"Elvin adalah putra kandungmu? Apakah Sylvia yang mengatakan itu padamu? Kamu tidak langsung percaya dengan omong kosong yang dia katakan bukan?"


Ya, Airin masih sedikit percaya jika Sylvia itu baru saja mengucapkan omong kosong soal hal itu bagaimanapun juga melihat reputasi Sylvia yang sangat suka berbohong dan menipu itu jelas, ucapan yang keluar dari mulutnya tidak bisa dipercaya.


Entah trik atau tumpuan apalagi yang coba Sylvia itu lakukan.


Namun sekali lagi jawaban dari dia yang ada di ujung telepon sangat mengejutkan,


"Golongan darahku dan Elvin ternyata benar-benar cocok, saat ini aku sedang melakukan tes DNA pada Elvin, namun sejujurnya aku merasa memiliki kedekatan tertentu saat melihat Elvin, ada perasaan aneh ketika aku menatap anak itu, sebenarnya aku tidak ingin percaya namun dalam hati kecilku aku cukup percaya dengan kata-kata itu itulah kenapa aku sekarang ada di rumah sakit,"


Airin yang mendengar hal itu segera diam lagi, semua fakta ini jelas terlalu berat untuk dirinya terima.


"Lalu apa yang akan Kak Erlan lakukan setelah ini?"


Ada keheningan sejenak dari balik telepon, lalu segera suara maskulin itu terdengar lagi,


"Aku juga tidak tahu harus bersikap seperti apa,"


Airin juga cukup mengerti hal ini tidak hanya berat untuk dirinya terima namun juga membuat berat pria itu.


Namun fakta jika Kak Erlan memiliki seorang anak dengan wanita murahan menyebalkan itu membuat Airin merasa kesal.


Baik sebaiknya dirinya menenangkan diri dulu untuk memikirkan langkah selanjutnya yang harus dirinya miliki, yang paling penting saat ini dirinya harus menyusul pria itu ke rumah sakit.


Bagaimanapun juga kondisi Elvin saat ini masih belum sadar, dan hal-hal ini pasti cukup berat untuk Kak Erlan lalui.


Dirinya teringat bagaimana pria itu selalu mendukung dirinya selama ini, ini bukan saatnya memikirkan perasaan-perasaan tidak jelas ini.


Airin akhirnya membuat sebuah keputusan.


"Aku akan segera ke sana, Kak Erlan sebaiknya untuk menenangkan diri dulu jangan terlalu banyak berpikir,"


"Ya, Terimakasih banyak Airin,"


Setelah telepon diakhiri, Airin segera bersiap-siap untuk menuju ke rumah sakit, tidak lupa untuk memasukkan sarapan yang dirinya buat ke dalam kotak bekal.


Dirinya tahu mungkin Kak Erlan, bahkan belum sarapan, lagi pula dirinya memang sudah memasak semua ini untuk pria itu.


Setelah selesai dengan persiapannya itu, Airin segera masuk ke mobil, dengan beberapa pengawal bersamanya, dan menuju ke arah Rumah Sakit.


####


Di tempat lainnya, saat ini di depan ruangan ICU, dari balik kaca, terbaring seorang anak kecil, yang saat ini memiliki luka-luka di tubuhnya, juga tubuh kecil itu saat itu penuh dengan alat bantu kesehatan.


Wajah kecil yang seharusnya ceria dan tersenyum itu sekarang menunjukkan wajah pucat, yang tidak sadar.


Erlan yang menatap Elvin dari luar itu jelas merasa begitu sedih.


Anak sekecil itu harus menerima semua hal buruk ini...


Putranya...


Dan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa soal hal ini, nasib anak itu nanti juga saat ini belum bisa ditentukan.


Namun dirinya jelas berharap jika Elvin akan secepatnya sadar, dan sembuh.


Ketika Erlan menatap Elvin, tiba-tiba ada seseorang menggunakan kursi rodanya bersama seorang perawat kesana.

__ADS_1


Dia adalah Sylvia, menatap juga ke arah Erlan yang saat ini memiliki ekspresi sedih.


Sylvia lalu juga menatap ke arah dalam ruangan itu di mana putranya satu-satunya saat ini berbaring lemas dan tidak sadarkan diri.


"Elvin selalu menjadi anak yang kuat, Aku yakin dia akan segera sadar," guma Sylvia tiba-tiba.


Erlan tentu saja merasa cukup kaget dengan kedatangan Sylvia, masih tidak tahu harus bersikap seperti apa.


"Kamu benar,"


Namun dirinya jelas saja tidak ingin memiliki banyak percakapan dengan wanita itu, hanya menjawab singkat, tidak tertarik untuk melanjutkan percakapan.


"Kata Dokter kondisinya saat ini sudah cukup stabil, dan Putra kita akan segera sadar,"


Terlihat Sylvia masih mencoba berbicara, mencoba mencari topik pembicaraan dengan pria itu.


Dirinya ke sini tentu saja untuk melihat keadaan Putranya Elvin, namun tidak ada salahnya juga jika dirinya sedikit mengambil kesempatan ini bukan?


Untuk sedikit mendekati Erlan, dia sekarang kaya setelah semua.


Mau bagaimanapun, mereka berdua masih memiliki seorang anak, yaitu Elvin.


Namun Erlan tidak menanggapi kata-kata Sylvia.


"Apakah kamu khawatir dengan Elvin? sesungguhnya aku sepanjang malam juga tidak bisa tidur untuk memikirkan keadaannya yang seperti itu, dia masih sangat kecil namun harus menerima semua tragedi ini,"


"Aku khawatir padanya,"


"Itt benar, setelah semua Dia adalah Putramu, Aku pikir kamu pasti memiliki beberapa perasaan atau firasat ketika bertemu dengan anak itu? Aku melihat sebelumnya bagaimana Kamu sepertinya, dekat dengannya,"


"Aku juga tidak tahu."


"Aku pikir kamu belum sarapan? Sebelumnya aku sempat membeli sarapan di Kantin, karena tidak menyukai masakan di rumah sakit, ini Aku membawakan sarapan untukmu," kata Sylvia lalu segera memberikan kantong plastik yang ada di tangannya ke depan Erlan.


Erlan menatap kantong plastik itu, namun tidak menerimanya.


"Kamu tidak perlu repot-repot, Aku sedang tidak memiliki selera makan,"


"Jangan seperti itu, kamu juga harus makan untuk menjaga kesehatanmu, kamu tidak bisa sakit, Bukankah kamu habis mendonorkan darahmu semalam? Kupikir kondisimu pasti kurang baik saat ini, jadi ambilah ini," kata Sylvia sambil tersenyum dan mencoba membujuk pria yang ada di depannya itu.


"Tidak perlu, aku nanti bisa membeli sarapan sendiri,"


Sylvia segera memaksa dan memberikan kantong plastik di tangannya ke tangan Erlan.


Erlan yang mendapatkan sentuhan tiba-tiba itu, secara refleks menepis tangan Sylvia, membuat sarapan itu jatuh.


Erlan yang melihat itu, lalu segera berkata,


"Aku sudah bilang padamu Jika aku nanti akan mengurus sarapanku sendiri," kata Erlan lalu mengambil kontong plastik di sana, dan mengembalikannya pada Syiva.


Benar-benar tidak tertarik untuk, menerima sesuatu dari wanita itu.


Tanpa mereka berdua tahu sebenarnya dari jauh ada seseorang yang menatap mereka.


Itu adalah Airin, yang baru saja tiba di rumah sakit.


Adegan dimana Erlan dan Sylvia terlihat sama-sama mengkhawatirkan Putra mereka, sedikit membuat hati Airin terasa tidak enak.


Namun, Elvin memang adalah anak mereka, harusnya itu hal yang wajar jika orang tua mengkhawatirkan anaknya.

__ADS_1


Namun adegan berikutnya membuat Airin kesal, tentang bagaimana Sylvia itu mencoba memanfaatkan situasi ini, untuk mendekati Erlan.


Dalam hati, Airin hanya bisa berpikir jika wanita itu benar-benar tidak tahu malu dan tidak tahu diri.


Sylvia itu, jelas sekarang masih Istri Austin, hah sikap tidak tahu malu ini benar-benar terasa sangat familiar, sama seperti tiga tahun lalu.


Hal-hal menjijikan ini ternyata tidak berubah tentang wanita sialan itu.


Tidak perlu ditanyakan lagi, motif yang dia miliki sudah sangat jelas, dengan mulai mencoba membelikan sarapan.


Namun respon dari Erlan yang dingin itu, membuat Airin merasa cukup puas.


Ya, Kak Erlan merupakan sosok yang cukup realistis, dirinya tentu memiliki kepercayaan ini pada pria itu.


Jadi, yang bisa dirinya lakukan...


Ya, sekarang Airin yang melihat adegan itu segera membulatkan tekad dan rencananya.


Sylvia yang ditolak itu jelas tidak merasa putus asa, hanya mencoba melakukan pendekatan pelan-pelan, dan sekarang dia pergi dari sana.


Ya, tidak perlu terlalu buru-buru karena masih memiliki banyak kesempatan untuk mencoba meluluhkan hati Pria itu, setelah semua dirinya ini adalah wanita yang pernah Erlan cintai, juga Ibu dari Putranya satu-satunya.


Sylvia merasa cukup puas dengan dua fakta penting ini.


Ketika tiba di ujung lorong, wajah ceria Sylvia itu segera berubah menjadi kekesalan, ketika menatap wanita yang cukup familiar, hampir saja melupakan fakta penting bahwa Erlan saat ini sudah menikah dengan Airin.


Namun walaupun begitu, bukan berarti dirinya.


Airin juga melihat tentang tatapan Sylvia yang penuh kebencian itu.


Sylvia yang lebih dulu berbicara, mencoba untuk memprovokasi wanita itu sama seperti yang dirinya lakukan 3 tahun yang lalu.


"Kalau kamu di sini, Aku pikir kamu sudah tahu apa yang terjadi, Elvin adalah Putraku dan Erlan, dia adalah anak kandung kami berdua,"


Airin yang mendengar nada kesombongan itu, mencoba untuk menahan emosinya agar tidak segera menjambak wanita itu, dan tetap memasang senyuman dan ekpersi santai.


"Owh? Apakah itu benar?"


"Tentu saja Ini benar! Apakah kamu tidak sadar dengan posisimu, Airin? Sekarang Aku adalah Ibu dari Putra Erlan satu-satunya, kamu seharusnya khawatir tentang posisimu,"


Airin yang mendengar itu, lalu segera tertawa dan berkata lagi,


"Lalu ada apa dengan itu? Kamu pasti berpikir, akan sangat mudah untuk menyingkirkanku, hanya karena kamu memiliki seorang anak dengan Erlan?"


Sylvia yang mendengar itu segera menunjukkan ekspresi kekesalan yang jelas,


"Hah, kamu itu rupanya terlalu sombong Airin, bagaimanapun juga Erlan dulu mantan Suamiku, Aku adalah wanita yang pernah dia cintai dan mengisi hatinya, terlebih sekarang kami memiliki seorang anak, sebuah ikatan yang tidak akan pernah bisa terlepas,"


"Astaga, ternyata kamu ini tidak pernah berubah dari 3 tahun yang lalu. Hanya karena, kamu dulu pernah merebut Austin dariku? Kamu sekarang berharap bisa kembali mengambil Erlan dariku?"


Ketika mengatakan itu, Airin sedikit tertawa, lalu segera melanjutkan kata-katanya,


"Sungguh, Aku tidak pernah melihat wanita yang tidak tahu malu seperti dirimu. Kamu harus paham satu hal, Aku yang kamu lihat sekarang ini sudah berbeda dengan Airin tiga tahun lalu, kamu sekarang tidak memiliki apa-apa untuk bisa merebut sesuatu yang aku miliki, malah Aku sekarang yang bisa mengambil apapun yang kamu miliki, Erlan mungkin mantan Suamimu, juga Pria yang pernah mencintaimu, dia mungkin juga Ayah dari Putramu, namun apakah kamu tahu? Sekarang Erlan adalah milikku, Aku merebut Mantan Suamimu sepenuhnya darimu, dan membuat dia sepenuhnya melupakan soal masa lalu kalian, hatinya sekarang adalah milikku dan tidak akan pernah lagi menjadi milikmu, bahkan walaupun kalian memiliki seorang anak, lalu kenapa? Aku mungkin bisa merebut Elvin darimu juga, jadi kamu saat ini jangan terlalu banyak bermimpi, posisi kita sudah terbaik sekarang,"


Ya, Airin benar-benar sudah bertekad sekarang, tidak akan pernah membiarkan Erlan sampai jatuh ke pelukan wanita ****** didepannya ini, dirinya pasti akan mendekati dan benar-benar mendapatkan Erlan untuk sepenuhnya menjadi miliknya, apapun yang terjadi.


Lagipula, dirinya cukup yakin, jika Erlan bukan Pria yang cukup bodoh, untuk terkena trik murahan dari wanita tidak tahu malu ini bukan?


"Kamu jangan pernah berharap, Sylvia!"

__ADS_1


__ADS_2