Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 65: Sedikit Lagi


__ADS_3

Ketika Airin memasuki ruangan itu, semua orang di dalam ruangan merasa terkejut, namun setelah Erlan mulai menjelaskan tingkat kopetensi yang Airin miliki, juga soal dia dan Paman Haikal sendiri sebagai salah satu pemilik saham yang akan memandu Airin, semua orang terlihat cukup percaya.


Terlebih, saat ini Erlan dan Paman Haikal, mendapatkan hak mayoritas untuk pengambilan suara jadi keputusan yang mereka berdua ambil mau tidak mau harus disetujui oleh semua orang.


"Baik, sekarang untuk mempercepat proses ini kita akan segera melakukan proses pencopotan CEO lama, dan akan segera dilakukan pengesahan untuk diangkatnya CEO baru," kata Erlan lagi, yang segera diberi sambutan positif dan tepuk tangan dari semua orang.


Hanya Austin dan Ayahnya yang saat ini memiliki ekspresi pucat dan tidak senang, hari ini mereka berdua merasa ditipu, tidak hanya saham-saham mereka baru saja diambil alih, namun sekarang jabatan mereka juga diambil alih.


Austin jelas sekali ingin protes di depan semua orang namun walaupun dirinya protes dirinya tahu hal itu tidak akan ada gunanya setelah semua, saat ini yang memiliki hak suara prioritas adalah Tim kakaknya Erlan.


Dan terlebih...


Airin dari semua orang yang mendapatkan posisi CEO?


Dirinya juga tidak menyangka dalam 3 tahun tidak hanya diam menjadi seorang pelukis yang cukup terkenal ternyata dia juga cukup hebat dalam hal bisnis.


Dirinya saja selama 3 tahun mengurus perusahaan tidak banyak kemajuan yang perusahaan ini miliki, hal itu juga malah membuat perusahaan memiliki hutang lebih banyak, sampai memasuki krisis seperti ini sehingga saham kepemilikan yang dimilikinya direnggut begitu saja.


Austin merasa sangat kesal ketika memikirkan semua itu.


"Baik, untuk mantan CEO, Pak Austin Anda sebaiknya segera menyerahkan dan mengesahkan CEO baru, saat ini memang dokumen-dokumennya belum selesai namun kita masih bisa melakukan acara simbolis dengan cara berjabat tangan," kata Erlan yang memimpin rapat itu.


Airin sendiri saat itu ada di tengah ruangan seolah menunggu untuk mendapatkan pengesahan atas jabatan baru yang dirinya miliki.


Austin, yang saat ini memiliki ekspresi wajah yang buruk mau tidak mau berdiri dan melangkah menuju ke arah Airin.


Ketika menatap Airin, Austin benar-benar tidak menyangka jika wanita itu masih air yang sama yang dulu pernah menjadi istrinya.


Rasanya saat ini wanita yang ada di hadapannya itu terlalu berbeda, dia terlihat terlalu bersinar dan sangat menyilaukan dengan semua yang dia miliki.


Bahwa ternyata dia juga bisa memiliki kemampuan dan kehebatan sampai ke taraf itu.


Perasaan Austin tiba-tiba menjadi sangat rumit ketika memikirkan hal ini.


Sekarang, tatapan Austin bertemu dengan Airin, mereka berdua segera berjabat tangan untuk simbolis penyerahan jabatan.


Melihat ekspresi tidak enak dari mantan suaminya itu membuat Airin merasa cukup puas, benar kata Kak Erlan, untuk membuat pria yang ada di depannya itu merasakan apa itu kehilangan seperti yang pernah dirinya rasakan yaitu dengan mengambil hal yang paling penting untuk pria itu.


Airin sangat tahu pasti Hal paling penting apa yang pria di depannya ini miliki, itu adalah Harta dan Tahta.


Dan sekarang, dua hal penting itu baru saja dilucuti dari pria yang di depannya itu direnggut darinya.


Pembalasan ini benar-benar sangat setara.


Seperti bagaimana pria yang ada di depannya itu dulu merebut hal-hal yang berharga darinya, mengabaikan cinta yang dirinya berikan bahkan sampai membuat dirinya keguguran.


####


Setelah rapat itu berlalu, Austin dan ayahnya segera menuju ke ruangan Austin untuk mendiskusikan kembali soal apa yang terjadi di rapat itu.


Ayah Austinlah yang merasa sangat marah lalu mulai membuat meja putranya itu berantakan dengan membuang hal-hal yang ada di atasnya.


"Sialan aku tidak pernah mengira jika aku bisa ditipu seperti ini!"


"Aku sejujurnya juga tidak pernah mengira bahwa akan ada hal seperti, lalu sekarang kita berdua harus bagaimana ayah?"


Max yang ditanya oleh putranya itu jelas malah balik marah,


"Kamu itu seharusnya menemukan solusi bukan malah bertanya padaku seperti ini kamu ini bagaimana sih kenapa sangat tidak becus sekali? Jika saja pekerjaanmu beres kita pasti tidak akan terlilit begitu banyak hutang seperti ini!"

__ADS_1


"Kenapa sekarang ayah mulai menyalahkanku? Jelas semua yang aku lakukan atas persetujuan ayah aku hanya menuruti apa yang ayah katakan dari awal,"


"Itulah kamu kamu itu memang tidak memiliki inisiatif dan inovatif sedikitpun itulah kenapa kamu itu selalu kalah dari kakakmu Erlan,"


Austin yang malah segera dibandingkan dengan kakaknya itu oleh ayahnya jelas menjadi marah,


"Apa? Sekarang ayah mulai membandingkanku dengan kak Erlan? Ayah lah yang dari awal membuatku untuk seseorang seperti ini dan sekarang ayah malah begitu egois dan menyalahkanku, sungguh sangat tidak masuk akal!"


Dua orang itu jelas terlibat dalam sebuah pertengkaran.


Sampai pintu menuju ruangan itu di ketuk seseorang.


Dua orang itu segera mencoba menormalkan ekspresinya menunggu siapa yang akan masuk.


Mana tahu, yang masuk ke dalam ruangan itu adalah Airin dan Erlan.


Austin, yang melihat mereka berdua saling berlakukan mesra itu masuk ke dalam ruangannya jelas langsung menjadi marah dan berkata,


"Mau apa lagi sekarang kalian berdua di sini?"


Airin yang mendapatkan suara bentakan itu hanya sedikit tertawa dan berkata,


"Apa? Aku di sini tentu saja untuk melihat-lihat ruangan yang akan aku tempati nanti,"


"Ruangan ini katamu?"


"Tentu saja iya aku saat ini adalah CEO yang baru jelas sekali aku akan menempati ruangan ini dan kamu sebaiknya segera membereskan barang-barangmu aku benar-benar tidak menyukai desain ruangan ini yang terlalu buruk," kata Airin sambil menatap ke arah seisi ruangan itu yang memang desainnya biasa-biasa saja.


"Airin! Kamu sekarang sudah begitu berani bukan?"


Airin segera membalas ucapan pria yang ada di hadapannya itu,


Wajah Austin, segera menjadi pucat lagi, karena mulai terlalu kehabisan kata-kata.


Kemarahan yang ada di dalam hatinya jelas itu bukan hal yang bagus.


Erlan lalu menatap kearah Austin dan berkata,


"Tunggu apa lagi? Bukankah kamu seharusnya segera membereskan barang-barangmu?"


"Erlan kamu!!"


Max yang melihat mereka berdua datang, juga segera datang dengan marah,


"Erlan! Kamu itu berani-beraninya bersekongkol dengan Paman Haikal!"


Erlan lalu menatap Ayahnya sambil berkata,


"Maaf, Ayah. Seharusnya Ayah berkaca dulu, apa yang pernah Ayah lakukan pada Almarhum Ibuku? Apakah orang seperti dirimu layak untuk aku hormati?"


Max yang mendengar kata-kata itu segera terdiam, karena Erlan sepertinya sudah tahu apa yang terjadi dulu.


Max menjadi tidak ingin melanjutkan pertengkaran ini, karena nanti pastinya lebih banyak hal-hal di masa lalu yang terungkap takut-takut dirinya malah menjadi keceplosan dan itu semua malah dijadikan sebuah bukti untuk kesalahannya dimasa lalu.


Setidaknya untuk saat ini semua itu belum terbukti benar, tidak ada bukti jelas karena dirinya sudah melenyapkan semua bukti yang ada.


Max segera menarik Austin keluar dari ruangan itu, membiarkan mereka berdua tetap didalam.


Airin, yang melihat mereka berdua pergi akhirnya merasa sangat lega,

__ADS_1


"Astaga Kak Erlan, tadi ikut sangat keren sekali, coba lihat wajah mereka berdua dirapat tadi begitu aku masuk,"


Mendengar Airin menjadi begitu ceria itu, Erlan segera tertawa dan berkata,


"Itu semua juga berkat kemampuan dan penampilanmu, kamu itu memang cukup hebat, Bagaimana kamu beradaptasi dan mempelajari bisnis dengan cepat,"


"Ini semua jelas berkah dukungan Kak Erlan,"


"Itu benar untunglah kita saling mendukung satu sama lain hingga kita sampai kepada langkah ini,"


"Kak Erlan benar, Aku tidak menyangka bahwa rencana balas dendam kita sudah hampir sampai pada finalnya,"


Sebenarnya, Airin sedikit gugup.


Karena rencana balas dendam mereka sudah hampir selesai, lalu nanti bagaimana dengan Pernikahan pura-pura mereka?


Apakah itu akan selesai juga?


Airin yang memikirkan itu jelas merasa tidak nyaman namun dirinya tidak berani bertanya.


Erlan sendiri, sudah memiliki rencananya sendiri, ya karena semuanya sudah hampir selesai bukankah ini saat yang baik?


"Airin, Apakah kamu punya waktu nanti malam?"


Mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, Airin sedikit terkejut,


"Huh? Ada apa memangnya Kak Erlan?"


"Mari, nanti kita makan malam bersama,"


"Tentu saja, kita perlu merayakan ini bukan?"


"Itu memang benar, kita perlu merayakan ini, namun aku memiliki hal lain yang ingin Aku katakan padamu,"


"Apa itu? Kenapa tidak katakan sekarang saja?"


Erlan hanya tersenyum, lalu mengelus rambut Airin.


"Ini rahasia, jadi kamu sebaiknya datang saja oke? Aku akan mengirimkan alamatnya padamu nanti," kata Erlan lalu berniat pergi dari ruangan itu.


Airin yang masih bingung dengan tindakan tiba-tiba itu hanya bisa mengiyakan.


"Tentu, sampai nanti malam lagi,"


Airin benar-benar menjadi penasaran tentang apa yang akan dikatakan Erlan nanti.


Ini bukan soal pembatalan pernikahan mereka bukan?


Atau sesuatu seperti itu?


Dirinya harap itu bukan hal-hal seperti itu.


Erlan sendiri, segera keluar dari ruangan itu, lalu mengambil sebuah kotak kecil dari jasnya, kotak kecil yang berisi sebuah cincin.


Sesuatu yang sudah dirinya siapkan untuk hari baik seperti ini.


Ya, nanti malam ini adalah saat yang tepat, untuk mencoba mengungkapkan perasaannya bukan?


Dirinya tidak tahu apakah nanti, Airin akan menerimanya atau tidak.

__ADS_1


Namun tidak ada masalah untuk mencobanya bukan?


__ADS_2