Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 66: Sebuah Janji


__ADS_3

Sore itu, Erlan sedang berada di sebuah toko bunga, dia saat ini sedang memilih-milih bunga mana yang cocok untuk di berikan pada Airin.


Hmm, karena ini adalah hari spesial jadi tentu saja dirinya ingin menyiapkan sesuatu yang spesial.


Apakah mawar putih?


Itu simbol dari cinta murni.


Atau mawar merah?


Mungkin yang merah lebih cocok, mawar merah yang bersinar dan cerah, seperti Airin, seperti cintanya pada Airin.


"Buket Bunga Mawar Merah, yang cukup besar,"


"Tentu saja Tuan, silahkan menunggu di ruang tunggu kami akan segera membuatkan buket bunga pesanan Anda, ini juga silakan menulis kartu ucapan di sana,"


"Tidak perlu kartu ucapan," kata Erlan lalu segera menuju ke arah ruang tunggu.


Erlan duduk di sana sambil mulai membuka lagi sebuah kotak kecil yang sudah dirinya siapkan.


Ini adalah sebuah cincin, yang nanti akan dirinya berikan pada Airin, bentuk dari komitmen yang akan dirinya berikan, tidak hanya mengungkapkan cintanya, Erlan menatap cincin kecil dengan hiasan permata safir itu dengan cukup puas.


Walaupun, mungkin ini akan terkesan aneh untuk melamarnya padahal saat ini mereka berdua sudah menikah.


Namun tidak apa-apa pula.


Ketika itu, ponsel Erlan berbunyi, itu adalah pesan dari Airin.


'Aku sudah pulang urusan di kantor, dan akan segeran bersiap-siap untuk makan malam nanti, apakah kamu sudah selesai dengan urusan di kantormu?'


Erlan yang membaca itu juga segera tersenyum, Airin sepertinya juga sangat menyukai acara makan malam nanti terlihat tentang bagaimana dia bersiap-siap lebih awal, ini baru jam lima sore dan dia sudah bersiap, janji nanti sekitar jam 7 malam.


Hal-hal yang ada di restoran, tentu saja semuanya sudah dipesan dengan baik dan didesain jadi dirinya hanya segera datang.


Dirinya memang sengaja pulang lebih awal juga untuk bersiap-siap setidaknya untuk mempersiapkan hatinya tentang apa yang akan dirinya katakan nanti.


'Aku juga baru saja pulang lebih awal,'


Itu adalah balasan yang diberikan Erlan, tidak lama sampai ada balasan dari Airin.


Airin: Sampai bertemu nanti malam lagi, Kak Erlan, nanti jika Kakak sudah di jalan bisa menelponku


Erlan: Tentu saja,


Ketika membaca pesan Airin barusan, ini mengingatkan dirinya pada kejadian lebih dari 3 tahun yang lalu.


Saat itu, dirinya juga baru saja memiliki sebuah janji untuk bertemu dengan Airin, kemudian terjadilah kecelakaan yang membuat dirinya sampai koma, yang berujung pada tragedi-tragedi lainnya.


Erlan yang tiba-tiba memikirkan hal itu segera menggelengkan kepalanya.


Mungkin dirinya saja yang terlalu banyak berpikir.


"Ini Pak, Buket Bunga yang ada pesan,"


Erlan segera menata buket bunga mawar merah yang sangat indah itu.

__ADS_1


Erlan mulai berpikir bahwa mungkin Airin akan sangat senang diberikan hadiah seperti itu.


Setelahnya, Erlan segera keluar dari sana.


Mana tahu, ketika dirinya berjalan menuju mobil dirinya malah menabrak sesuatu.


Erlan menabrak seorang anak yang sedang berlarian.


"Elvin?"


Ketika Erlan melihat anak kecil itu, Erlan melihat anak itu tengah menagis.


"Elvin? Kenapa dengamu? Mana orang tua mu?"


Elvin, lalu segera menatap ke arah seseorang yang menabraknya, dan melihat wajah familiar yang dikenalnya, Elvin segera memeluk Erlan.


"Paman Elan... Elvin teltecat, tidak tahu ini di mana... Hanya tadi Mama dan Papa bertengkar, belakangan mereka sering bertengkal membuat Elvin takut, jadi Elvin mulai pergi, ketika melihat meleka bertenglar tadi di taman, dan sekarang Elvin tidak tahu ada di mana,"


Erlan lalu menatap ke sekitar tempat ini yang terlihat sangat ramai sebuah jalanan yang cukup padat.


Ekpersinya segera berubah.


Bagaimana itu Sylvia dan Austin?


Kenapa bisa mereka berdua sangat ceroboh dan membiarkan anak sekecil ini hilang dari pengawasan mereka?


Ini adalah sebuah jalanan yang ramai Bagaimana jika anak ini nanti malah tertabrak mobil atau motor?


Lupakan soal itu, bagaimana jika anak ini di culik, oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab?


Sangat ceroboh untuk membiarkan anak sekecil ini pergi begitu saja.


Erlan yang merasa kasihan itu, segera membawa Elvin ke gendongannya.


"Elvin tenang saja, nanti akan Paman antarkan ke rumahmu,"


"Tapi, Elvin sedang tidak ingin pulang Paman, Papa dan Mama selalu bertengkar, juga Kakek dan Nenek sibuk bertengkar juga belakangan, Elvin tidak suka berada di rumah, terlebih Bibi Pengasuh sedang libur,"


Erlan hanya menatap anak dalam pelukannya itu dengan sedih.


Yah, Elvin masih kecil, dia benar-benar tidak tahu apa-apa, ya cukup wajar jika saat ini keadaan Rumah Keluarga Castillo sedang kacau, mengingat hal-hal yang terjadi sebelumnya di Perusahaan.


"Baik, bagaimana jika Paman belikan Es Krim? Lalu nanti akan Paman temani setelahnya kamu akan pulang?"


"Es Krim? Mau! Elvin mau Es Krim Coklat, kesukaan Elvin,"


"Tentu, Mari kita membeli es krim di cafe sebelah sana, tapi sebentar, biarkan Paman menyimpan ini di mobil dulu,"


Baru sekarang, Elvin menyadari tentang sesuatu yang dibawa Erlan.


Itu adalah buket bunga yang indah.


"Woahh... Buket bunga ini sangat indah dan keren, untuk siapa buket bunga ini Paman?"


Erlan yang ditanya itu segera tersenyum dan berkata,

__ADS_1


"Tentu saja untuk Tante Airin, kamu tahu dia bukan?"


"Elvin, tahu! Tante Ailin bukan? Tante Ailin Pasti akan sangat suka dengan bunga ini, ini sangat indah dan besar!"


"Semoga saja,"


Erlan yang menatap anak itu, benar-benar merasa sangat senang juga.


Yah, dirinya berharap nanti jika Airin mau menerima cintanya, mereka berdua bisa ikut program kehamilan lagi.


Dan jauh ini dirinya sudah mengikuti berbagai macam terapi dan kata dokter masih memiliki kemungkinan besar untuk bisa memiliki seorang anak.


Jika dirinya memiliki seorang anak, itu pasti nanti akan menjadi selucu Elvin ini.


Ya, rasanya sangat menyenangkan bersama dengan Elvin ini, Erlan tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya Kenapa dirinya merasa sangat dekat dengan anak ini?


Dan begitulah, akhirnya mereka berdua menghabiskan sore itu bersama, itu tidak begitu lama Namun cukup untuk menyenangkan seorang anak kecil.


"Mari, sekarang Paman antarkan ke Rumah?"


"Emm, sebenarnya Elvin masih ingin menghabiskan waktu dengan Paman Erlan,"


"Lain kali mungkin kita bisa bertemu lagi,"


"Benar Paman?"


"Emm, Paman tidak bisa berjanji,"


"Yah...."


"Orang Tua Elvin, tidak menyukai Paman Jadi cukup sulit jika kita ingin bertemu,"


"Tapi kenapa? Bukankah Paman dan Ayah adalah saudara?"


"Hubungan antara orang dewasa itu cukup rumit, suatu saat Elvin akan mengerti,"


"Hmph, Elvin benar-benar tidak mengerti,"


Erlan yang mendengar jawaban itu hanya tersenyum lalu segera menggendong anak itu menuju ke arah mobilnya.


Elvin segera naik mobil itu dengan ceria lalu berkata,


"Paman, Apakah aku boleh membuka kaca jendela?"


"Tentu saja, buka saja kacanya, kamu ingin melihat-lihat pemandangan bukan?"


"Benar Paman,"


"Ingat untuk hati-hati,"


Itu adalah hari yang tenang menurut Erlan, Erlan benar-benar tidak merasa curiga, karena ternyata mobil miliknya sedang dibuntuti oleh beberapa mobil lainnya.


Baru ketika tiba di tempat yang cukup sepi, sebuah mobil mulai menyerempet kearah mobilnya.


"Apa-apa mobil-mobil ini! Elvin! Pegangan yang erat!"

__ADS_1


Itu terjadi dengan cukup cepat, membuat Erlan kehilangan keseimbangannya dalam menyetir, belum lagi tiba-tiba ada sebuah truk yang mengarah ke arah mobilnya.


__ADS_2