
Mendegar pertanyaan dari Erlan, Austin segera menjawab tanpa ragu-ragu, karena jawaban dari pertanyaan itu benar-benar sudah sangat jelas,
"Aku tentu saja masih akan mau untuk merawat Elvin,"
Erlan yang mendengar jawaban itu kurang lebih sudah menduga, waktu sudah cukup berlalu dan terkadang bisa mengubah seseorang, Erlan merasa ada beberapa hal yang sudah berubah dari dalam diri adiknya ini sejak tiga tahun lalu.
Bahwa, mungkin setelah melalui begitu banyak hal terutama hal-hal yang belakangan ini terjadi adiknya ini sudah mulai belajar tentang apa yang paling penting untuk hidupnya.
Austin yang bahkan rela mempertaruhkan nyawanya sebelumnya untuk menyelamatkan Elvin.
Dirinya cukup yakin, Austin awalnya memang dibujuk oleh Ibunya itu untuk setuju dengan rencana jahatnya itu.
Kalau dilihat-lihat otak dari semua kejahatan ini memang Ibu Tirinya, Diana...
Yang sepertinya dari awal memasuki keluarga itu memiliki maksud lain.
Erlan cukup dengar juga banyak hal dari Paman Haikal, soal rencana Diana dan Kakaknya itu, yang dari awal ingin menguasai perusahaan milik keluarga Castillo, dan bagaimana mereka selama siang melakukan penggelapan dana dan pencucian uang.
Tuntunan yang diberikan padanya 3 tahun lalu adalah perbuatan mereka, awalnya dirinya kira hal-hal seperti pencucian uang dan penggelapan dana itu adalah hal-hal yang dibuat-buat juga, namun setelah dirinya melakukan penyelidikan lebih dalam memang benar-benar terjadi pencucian uang dan penggelapan dana yang terjadi di perusahaan selama jangka waktu bertahun-tahun.
Dan mungkin saja ketika hal-hal itu hampir diketahui oleh kakeknya dirinya malah dijadikan kambing hitam.
Lalu soal semua kejahatan Ibu tirinya itu, apakah Ayahnya juga tahu?
Perasaan Erlan menjadi tidak nyaman ketika memikirkan soal semua ini.
Lagi pula dari awal penggelapan dana itu tidak bisa dilakukan tanpa bantuan Ayahnya, yang memang merupakan orang dalam perusahaan apalagi posisinya sebagai CFO, Direktur Keuangan Perusahaan.
Dan lagi ayahnya tahu jika dirinya difitnah namun dia terlihat diam saja dan memilih tidak mengatakan apapun sama seperti tentang bagaimana dia diam saja ketika melihat Ibu Kandungnya terbunuh.
Apakah orang itu benar-benar Ayah Kandungnya?
Namun sayangnya, ikatan darah antara mereka berdua tidak bisa di pungkiri, hanya saja Erlan masih tidak mengerti bagaimana Ayahnya sendiri sampai berbuat sejauh itu pada dirinya?
Apakah ikatan darah di antara mereka benar-benar tidak ada artinya?
Maka dari itu, Erlan jujur cukup kagum pada Austin, yang bahkan setelah tahu bahwa Elvin bukan putra kandungnya, namun rasa sayang yang diam kepada Elvin tidak berkurang sedikitpun, perhatian dan ketulusan yang selalu Austin bagikan pada Elvin bahkan setelah tahu kenyataannya.
Bahwa bahkan walaupun mereka tidak memiliki ikatan darah, Austin tetap mengagap Elvin sebagai Putranya sendiri.
Rasa cinta dan kasih sayang dari seorang Ayah, yang benar-benar sangat tulus bahkan walaupun tidak ada ikatan darah.
Berbeda sekali dengan dirinya dan Ayah Kandungnya, Ayahnya itu mungkin hanya menganggap sebagai suatu alat atau bahkan sebagai kambing hitam.
Hanya memikirkan semua hal itu saja membuat perasaan Erlan menjadi cukup hancur.
"Itu bagus, Austin. Aku harap di masa depan kamu tetap masih bisa mejaga Elvin dengan baik. Dan soal kenyataan bahwa Elvin adalah putra kandungku Mari kita akan menjelaskannya ketika anak itu sudah cukup besar untuk mengerti keadaannya. Namun aku harap, aku masih bisa bertemu dengan Elvin.. Hanya saja..."
Austin mendengar kata-kata kakaknya itu di bagian belakang yang terlihat menunjukkan beberapa nada yang cukup rumit.
Austin kurang lebih mengerti apa yang dimaksud oleh Kakaknya itu.
"Tidak apa-apa, Kak Erlan selalu bebas untuk bertemu dengan Elvin, bagaimanapun juga Kak Erlan tetaplah ayah kandungnya. Aku mengerti apa yang kakak khawatirkan, apakah ini soal Sylvia? Kakak tidak perlu khawatir aku yang akan mengurusnya, Aku pastikan dia tidak akan bisa memanfaatkan Elvin untuk menggagu Kakak, jadi kakak tenang saja tidak perlu khawatir lagi soal masalah itu, dan nikmati saja kehidupan bahagia Kakak,"
Erlan hanya mengaguk setelah mendegar itu, sambil diam-diam menatap kearah Airin.
Bagaimanapun juga Airin dan Austin hubungan yang cukup buruk.
Airin yang sadar akan tatapan Erlan, hanya mengangguk.
Sama seperti bagaimana Erlan melupakan Sylvia dan masa lalu yang mereka berdua miliki, dirinya juga harus move on, melupakan masa lalu kelam yang dirinya miliki dengan Austin.
Bukan berarti dirinya memaafkan, Airin sendiri juga merasa bahwa toh Austin sudah terkena karma atas perbuatannya di masa lalu, bahkan dirinya belakangan tahu juga soal kondisi Austin yang kemungkinan besar susah memiliki anak.
Hal-hal yang dilakukan terkadang memang mendapatkan balasan yang setimpal.
Dan sekarang dirinya sudah menyelesaikan soal dendam masa lalunya, sudah cukup untuk hal-hal di masa lalu dan sekarang dirinya ingin fokus untuk menemukan kebahagiaannya, sendiri tentu saja, dengan Suaminya Erlan sekarang.
Tatapan Austin segera bertemu dengan tatapan Airin, seolah-olah ingin mengatakan begitu banyak hal pada wanita itu, namun tidak tahu harus mulai dari mana.
Airin yang melihat tatapan itu jelas merasa tidak nyaman lalu segera berkata,
"Austin, kamu mungkin memiliki banyak hal untuk dikatakan padaku namun aku tidak ingin mendengarnya. Hubungan antara kita sudah selesai di masa lalu sejak kamu menceraikanku, jadi untuk sekarang ataupun di masa depan aku tidak ingin kamu mengungkit-ngungkit hal itu lagi,"
Austin yang mendengar itu hanya bisa pasrah dan berkata,
"Ya, Aku menegrti. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaanmu,"
Dan begitulah mereka segera berpisah disana, Austin kembali ke ruangan di mana Elvin masih dirawat, sedangkan Erlan pergi bersama Airin, sambil bergandeng tangan satu sama lain mencoba untuk menguatkan.
Mereka berdua siap untuk menuju lembaran baru yang mereka impikan, dengan cinta yang mereka berdua miliki.
####
Hari-hari berlalu dalam sekejap mata, Elvin yang sudah cukup pulih, akhirnya sudah di ijinkan pulang, Erlan dan Airin jelas sangat senang dengan hal itu.
Elvin tentu saja akan pulang dengan Austin, dan tentu saja dengan Ibunya juga, Sylvia.
Erlan sendiri tidak tahu soal masalah hubungan antara mereka berdua.
Namun Austin bilang, dia akan mengurus semuanya, bagaimanapun juga jika memikirkan saat ini Elvin masih begitu kecil, masih tetap membutuhkan sosok Ibu kandungnya.
Erlan memilih percaya pada adiknya itu bahwa dia akan bisa mengurus semuanya sehingga dirinya merasa lega.
Namun masih ada hal-hal lain yang ingin Erlan urus, ya ini soal Ayahnya yang ada di penjara.
Setidaknya dirinya ingin pergi ke sana dan menemuinya, walaupun dirinya tidak mengharapkan banyak hal.
Namun rasanya sedikit terganggu jika dirinya meninggalkan ayahnya tanpa kata-kata seperti itu di dalam penjara.
Ada terlalu banyak hal yang ingin dirinya katakan...
__ADS_1
Erlanpun memutuskan untuk pergi ke kantor polisi ditemani oleh Airin, Airin hanya menunggu di luar kantor polisi memberikan ruang untuk ayah dan anak itu saling berbicara empat mata hanya berdua.
Maximilian yang melihat wajah Putra tertuanya itu, tiba-tiba merasa cukup malu untuk bertemu dengannya jadi ketika tatapan mereka bertemu, Max tetap diam tidak mengatakan apapun menunggu Putra tertuanya itu untuk mulai percakapan itu.
Namun, Erlan sendiri hanya menatap ke arah Ayahnya itu dalam diam, seolah-olah tidak tahu ingin mengatakan apa pada Ayahnya itu, hanya terlalu banyak hal yang ingin dirinya katakan pada Ayahnya itu.
Max yang akhirnya angkat bicara duluan,
"Erlan, Aku pikir kamu memiliki hal yang ingin dikatakan padaku,"
"Apakah Ayah tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?"
Maximilian yang mendengar pertanyaan balik itu segera menujukan ekpersi sedih.
"Apa yang bisa Aku katakan? Kamu mungkin sudah tahu soal semuanya,"
"Apakah kamu tidak merasa bersalah sedikitpun pada Almarhum Ibuku?"
Max yang ditanya itu segera terdiam.
Terlihat ekpersi penyesalan mendalam disana, namun tidak berani untuk mengatakan atau mengungkapkannya kepada putranya merasa jika mengatakannya sekarang sudah terlalu terlambat.
Erlan sendiri juga merasa, terlalu terlambat untuk Ayahnya menyadari semuanya.
"Tidakkah Ayah pernah memikirkan soal perasaan ku sedikit saja, sebelum Ayah melakukan semua itu? Apa bahkan Ayah pernah memikirkan soal aku?"
Max yang ditanya itu sekali lagi terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa.
Kekecewaan yang Erlan rasakan pada Ayah Kandungnya itu, semakin meningkat setiap waktu berlalu di tempat itu.
Merasa tidak tahan lagi, Erlan akhirnya pergi dari sana.
Ada banyak penyesalan yang ada di dalam hati Erlan.
Dulu, ketika dirinya kecil, dirinya sangat mengagumi Ayahnya, berharap bahwa Ayahnya akan lebih peduli dan lebih menyayangi dirinya.
Namun, hubungan mereka berdua memang selalu lebih buruk dan menjadi lebih buruk ketika dirinya tumbuh dewasa.
Rasa segang mulai muncul, dan Erlan tidak lagi mengharapkan apapun dari Ayahnya.
Namun mereka masih Ayah dan Anak, sebuah fakta yang tidak bisa dihilangkan.
Jadi, Erlan segera berbalik dan berkata lagi,
"Ayah, Aku harap ketika kamu berada di balik jeruji besi ini kamu bisa merenungkan semua hal yang telah kamu lakukan,"
Max yang melihat putranya hampir pergi itu merasa jika dirinya tidak mengatakan sesuatu mungkin ini terakhir kali putranya itu mau menjeguknya.
Namun jelas Max tidak tahu harus memulai dari mana jadi setelah berpikir sejenak dan mulai memikirkan kata-kata yang akan diucapkannya, Max segera berdiri,
"Kamu benar Erlan, biarkan Aku membayar semuanya disini, dan mungkin kita bisa membuka lembaran baru lagi setelah Aku keluar dari tempat ini, dan untuk Pamanmu Haikal... Tidak, aku rasa aku akan mengatakannya sendiri setelah bertemu dengannya, jaga dirimu baik-baik Erlan, dan berbahagialah,"
Erlan yang mendengar itu, hanya berbalik sebentar menatap ke arah Ayahnya itu, memberikan sebuah angukan, dan segera pergi dari tempat itu.
Airin yang menunggu Erlan diluar itu, jelas merasa sangat cemas dan langsung mendatangi Erlan dan berkata,
"Erlan, apakah kamu baik-baik saja? Apa yang ayahmu katakan di dalam sana?"
Erlan tersenyum melihat kekhawatiran istrinya itu hanya segera berkata,
"Aku baik-baik saja,"
"Benar?"
"Sungguh aku benar-benar baik-baik saja. Aku sempat melupakan sesuatu ada hal yang sangat-sangat sangat penting yang hampir aku lupakan,"
Airin merasa sedikit lega bahwa suaminya terlihat benar-benar baik-baik saja namun sekarang dirinya menjadi lupa hal yang sangat penting apa yang sampai suaminya lupakan itu,
"Huh? Hal penting apa yang kamu lupakan? Apakah masih ada masalah yang ada di perusahaan? Atau soal keadaan Elvin?"
Erlan segera menggelengkan kepalanya lalu mulai mendekatkan wajahnya pada wanita yang ada di hadapannya itu memeberikan sebuah ciuman ringan di bibirnya lalu segera berbisik di telinga Airin,
"Aku sempat lupa, untuk mengabulkan salah satu keinginanmu yaitu membuat adik untuk Elvin, sebenarnya aku sudah menyiapkan pesawat pribadi untuk kita bisa pergi ke suatu tempat, Mari kita bersenang-senang di sana, Aku sepertinya harus mulai bekerja keras mulai sekarang untuk bisa menuruti keinginanmu, apakah kamu siap untuk melakukannya setiap malam?"
Wajah Airin menjadi memerah karena merasa sangat malu dengan ucapan pria yang ada di depannya ini yang benar-benar terlihat sekali mengodanya.
"Si... Siapa yang mau setiap malam..."
Airin yang malu, segera menutupi wajahnya sendiri namun ekspresi manis yang ditunjukkan oleh Airin malah semakin menggoda untuk Erlan.
"Istriku benar-benar sangat manis, Aku benar-benar menantikannya malam ini,"
"Erlan... Kamu jangan berbicara hal-hal omong kosong semacam itu di depan umum apakah kamu tidak tahu bahwa dari tadi orang yang lewat menatap ke arah kita?"
"Apa? Kamu itu toh adalah Istriku, kita adalah pasangan muda jadi bebas melakukan apa yang kita suka, sah sah saja,"
Airin yang merasa malu hanya memukul-mukul kecil dada Pria itu, merasa bahwa ucapan pria itu benar-benar terlalu tidak tahu malu.
Namun Airin sesungguhnya juga merasa sangat bahagia karena dirinya juga menantikannya...
Hal-hal indah malam ini....
####
Ini adalah pagi yang baru, hal pertama yang Airin rasakan ketika mulai bangun adalah sebuah pelukan hangat dari seorang pria.
Airin disambut oleh wajah tampan dari seorang Pria, melihat penampilan tidur itu benar-benar menyenangkan mata.
Apalagi, setelah Airin teringat tentang kejadian semalam, malam yang begitu indah untuk mereka berdua.
Berbeda dari saat pertama kalinya karena saat itu mereka berdua tidak begitu sadar namun mereka berdua benar-benar dalam keadaan sadar dan melakukannya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Melihat perlakuan Erlan yang begitu lembut padanya, Airin merasakan seperti apa itu begitu mencintai.
Erlan yang benar-benar sangat mencintai diri dengan tulus, perasaan ini sangat menyenangkan.
Dan lagi, Erlan benar-benar sangat bisa menyenangkan dirinya dan membuat dirinya puas semalam...
Erlan ternyata memiliki keterampilan yang cukup baik jugadalam hal semacam itu...
Tidak perlu dikatakan soal ukurannya yang mengagumkan...
Ketika Airin tengelam dalam tatapannya pada Erlan, Erlan segera mulai membuka matanya dan merasa cukup kaget dengan bagaimana Airin menatapnya dari tadi.
"Apa yang kamu lihat di wajahku sayang?"
Airin yang ketahuan pagi-pagi sudah memikirkan hal-hal yang tidak senonoh, segera memalingkan wajahnya dan mulai mencoba mengalihkan pembicaraan,
"Aku hanya penasaran kenapa dari semua tempat kamu kembali membawaku ke daerah pantai ini? Aku pikir kamu memiliki ingatan yang buruk tentang tempat ini,"
Airin ingat, pantai yang saat ini dikunjungi adalah pantai tempat Erlan bertemu dengan Sylvia dan mulai ditipu oleh wanita itu.
Namun Erlan tidak segera menjawab hanya segera mengambil sesuatu dari lagi meja lalu menyerahkan sebuah kotak kecil ke depan Airin.
Airin menatap otak itu dengan penasaran lalu segera membukanya, dan terkejut ketika melihat sebuah kalung liontin yang terlihat familiar, Airin lalu menatap Erlan dengan ekspresi penasaran.
"Ini..."
"Lihatlah baik-baik liontin itu nanti kamu akan segera tahu jawabannya,"
Airin menatap lagi, dan mengamati liontin itu namun dirinya segera terkejut ketika melihat sebuah tanda disana, kode nama Ibunya, Kalung Liontin ini adalah sesuatu miliknya yang hilang.
"Namun bagaimana bisa itu ada di tanganmu? Aku kira itu hilang Ketika aku kecil,"
"Kamu mungkin tidak ingat namun, Kamu sendiri yang memberikan itu padaku,"
"Maksud mu?"
Erlan lalu segera tersenyum dan berkata,
"Airin, Aku pikir kamu adalah cinta pertamaku, dan juga cinta terakhirku,"
Airin yang mendengar kata-kata itu benar-benar merasa cukup terkejut.
Dirinya memang sempat ingat pernah kehilangan ingatannya saat kecil.
Jadi dirinya adalah gadis kecil, yang pernah menolong Erlan dulu?
Ada banyak hal yang harus dilalui mereka berdua setelah perpisahan itu.
Bahkan, masing-masing dari mereka telah menikah namun masing-masing berakhir dengan tidak bahagia, dalam takdir yang aneh, mereka berdua dipertemukan lagi Kemudian jatuh cinta.
Apakah itu yang di namakan jodoh?
Sesuatu yang benar-benar tidak pernah terduga dalam hidup.
"Aku benar-benar sangat mencintaimu, Airin," kata Erlan lagi, sambil mencium kening Airin.
Lalu, Airin juga mulai memeluk Erlan.
"Aku juga sangat, Mencintaimu Erlan...."
Hari-hari berikutnya yang mereka berdua jalani adalah sesuatu yang sangat bahagia.
Mereka saling mengisi hari-hari mereka saling mendukung satu sama lain.
Sampai setengah tahun berlalu dalam sekejap mata.
Saat ini dua orang itu berada di salah satu Rumah Sakit, sedang melakukan pemeriksaan.
"Selamat, Untuk Ibu Airin dan Pak Erlan, saat ini Ibu Airin sedang hamil, ini baru bulan Pertama, kandungan Ibu Airin saat ini dalam keadaan yang sangat baik, perkembangannya juga cukup normal,"
Airin dan Erlan saling menatap sangat terkejut, lalu saling memeluk satu sama lainnya.
Seolah-olah, penantian mereka berdua terjawab.
Ya, mungkin tidak begitu lama namun juga tidak begitu cepat.
Calon Buah Hati mereka akhirnya akan hadir dalam kebersamaan mereka.
Airin, sejujurnya akhirnya merasakan sebuah kebahagiaan yang tidak terkira.
Memiliki anak dari Pria yang paling dirinya cintai...
Dengan cinta yang mereka berdua miliki, Airin yakin, bahkan di masa depan nanti kebahagiaan akan selalu hadir menjadi milik mereka, bersama Keluarga Kecil mereka.
...*****...
...TAMAT...
...*****...
Catatan Penulis: Terimakasih atas dukungannya selama ini, untuk Para Pembaca sekalian, sejujurnya berkat dukungan kalian semua Aku bisa menulis sampai sejauh ini,
Komentar-komentar kalian yang selalu memberiku semagat, juga like, vote dan gift dari kalian, para pembaca sekalian, 😊😊😊
Terimakasih sudah membaca sampai sejauh ini, 😆😆😆
Aku benar-benar senang, ada kalian para pembaca setiaku yang selalu mendukung ku, 🥰🥰🥰🥰
Mari nantikan Karyaku Berikutnya, 😆😆
Ada Novel-novel menarik lainnya, Silahkan Cek di Profilku....
__ADS_1
Semoga kita semua diberikan kebahagiaan sama seperti Airin dan Erlan, 😊😊😊