
Saat itu, ketika Elvin datang jujur Erlan, Tidak mengerti tentang apa yang sebaiknya dirinya lakukan, perasaan aneh yang sebelumnya muncul ketika bertemu dengan anak itu kembali muncul dibenaknya.
Erlan tahu, kemumgkinan besar ini karena Sudah cukup lama sejak dirinya memngiginkan seorang anak.
“Paman Elan!” kata Elvin lagi dengan cukup ceria.
Erlan Melepaskan pelukannya dari Airin, dan secara refleks memeluk Elvin.
Itu terlihat seperti sebuah pemandangan yang cukup hangat.
Jelas saja ada beberapa orang yang tidak suka dengan Pemandangan itu terutama itu Austin.
“Elvin sayang, Kamu jangan seperti itu jangan dekat-dekat Paman Erlan, mari lepaskan dia,” kata Austin Sambil mencoba menarik putranya itu dari pelukan Erlan.
Elvin Tiba-tiba ditarik itu jelas saja merasa bingung, lalu segera bertanya dengan penasaran,
“ Memangnya kenapa Pa? Paman Elan kan, Pamannya Elvin,”
Austin Mengerti jika seorang anak kecil jelas tidak mengerti apa-apa soal hal ini tatapannya segera menatap kearah Erlan.
“Lepaskan tanganmu dari Putraku!” kata Austin Dengan cukup agresif,
Erlan sendiri Tidak memiliki alasan untuk terus keras kepala memeluk Elvin lebih lama, Hanya saja ada di kita rasakan ketika dirinya hendak melepaskan pelukan Si Kecil.
Yang membuat Erlan Sendiri merasa cukup Bingung tentang apa yang dirinya lakukan.
Austin yang tidak suka Elvin bersama Erlan, jelas langsung menarik anak itu kedalam pelukannya.
Slyvia Yang melihat hal itu jelas saja merasa cukup gugup lalu segera berkata,
“Sudahlah, Austin Kita sebaiknya pergi saja dari sini,”
Austin Sebenarnya masih ingin marah pada Erlan dan Airin, namun jelas dirinya tidak ingin menunjukkan hal semacam itu di depan putranya sendiri.
“Tapi Papa, Elvin ingin bermain dengan Paman Erlan,”
Austin yang melihat Putranya itu malah terlihat sangat keras kepala jelas merasa cukup marah dengan hal itu.
“Elvin, Kamu itu menurut saja apa yang aku katakan jangan seperti itu nanti kita berdua bisa bermain bersama Papa dan Mama, Paman mu Erlan bukan orang yang baik,” kata Austin lagi.
“Elvin dengarkan apa kata Papamu itu,” kata Slyvia menambahkan.
“Tapi menurut Elvin mereka orang baik,” kata anak itu dengan wajah polosnya.
Airin Mendengar itu segera berkata dengan sinis,
“Kalian berdua ini, Mempengaruhi yang tidak-tidak pada seorang anak kecil, bahkan Putra kalian ini cukup bisa membedakan mana orang baik dan tidak,”
“Diam kamu, Airin! Terserah apa yang akan kami lakukan pada Putra kami,” kata Austin.
Airin ingin melanjutkan perdebatan itu namun tangannya segera dipegang oleh Erlan, yang seolah mengatakan bahwa, untuk menyudahi saja pertengkaran ini.
Airin segera mengerti, Dan tidak berkata apapun lagi.
Setelahnya, Erlan menatap Elvin lalu mendekatinya dan mengelus rambut anak itu sambil berkata,
“Paman tinggal di hotel sebelah, Mungkin nanti kita bisa bertemu lagi sampai nanti ya,”
Terlihat sedikit ekpresi kecewa disana, namun Elvin hanya mengaguk.
Setelahnya, Erlan dan Airin segera pergi dari sana.
__ADS_1
####
Sesuai rencana saat ini, Erlan dan Airin sedang berjalan-jalan di pantai, mencoba menikmati udara segar setelah tadi mengeluarkan banyak tenaga pada pertengkaran barusan.
Airin Diam-diam menatap pria yang ada di disaat ini terlihat sedang melamun.
Ini membuat dirinya penasaran tentang apa yang dipikirkan oleh pria yang ada di sampingnya itu.
“Kenapa denganmu, Erlan? Apa yang kamu pikirkan saat ini ?”
Erlan yang dari tadi melamun segera sadar dari lamunannya itu.
“Entahlah, Aku juga tidak tahu apa yang membuatku menjadi seperti ini, hanya saja ketika menatap Elvin, Ini mengingatkanku tentang Aku yang sudah lama ingin memiliki seorang anak.”
“Ya, itu benar. Sejujurnya ketika menatap Elvin Ini mengingatkanku pada calon anakku dulu, jika saja kejadian semacam itu tidak terjadi, anakku pasti sudah sebesar itu, itu pasti akan menjadi seorang anak yang begitu lucu juga,”
Erlan lalu menatap wanita yang ada di sampingnya itu, yang saat ini menunjukan wajah kesepian juga, sama dengan dirinya.
Ya, jika Erlan memikirkannya memang dirinya dan Airin sedikit berbagi takdir yang sama, sama-sama dikhianati, juga tentang mereka yang kehilangan sesuatu yang berharga.
Erlan segera memegang tangan Airin yang sedikit dingin itu, mencoba menenangkan wanita itu.
“Tidak apa-apa setidaknya, kamu memiliki aku mulai sekarang,”
Airin merasa cukup terkejut dengan kata-kata barusan, kata-kata yang seolah masuk ke dalam hatinya dan memberikan dirinya beberapa ketenangan.
Airin segera tersenyum dan berkata,
"Ya, setidaknya kita berdua akan bisa melewati ini bersama. Sudahlah, disini untuk berlibur mari kita melihat-lihat pantai saja."
Setelahnya, keduanya kembali menyusuri pantai itu dalam diam mencoba untuk menenangkan pikiran masing-masing.
"Setidaknya pantai ini sangat indah," kata Airin tiba-tiba.
Airin lagu segera menatap di sampingnya dengan penasaran,
"Jadi itu tidak hanya karena bersaing dengan Hotel milik Keluarga Castillo?"
Erlan lalu segera menatap kearah pantai dan berkata lagi,
"Jika Aku memikirkan itu ini terlihat sangat miris, karena dulunya, Aku juga yang membangun dan mengurusi soal Proyek Pembagunan Hotel milik Keluarga Castillo, Aku yang memilih tempat ini, namun pada akhirnya Aku sendiri yang akan mengacaukan bisnis di tempat itu, tidaklah ini sungguh ironis?"
Airin mendegar ada nada rumit dalam kata-kata itu.
Airin memang ingat, Erlan memang sudah bekerja cukup lama di Perusahaan itu, dirinya dengar Erlan juga belajar Bisnis Keluarganya sejak usia yang masih muda.
Dan ketika menjadi CEO, Erlan hampir mandedikasihkan semua yang dimilikinya untuk mengembangkan bisnis perusahaan keluarganya itu.
Ini pasti cukup berat, untuk mencoba mengacaukan sesuatu yang dulu dia lindungi.
"Terkadang takdir memang cukup aneh,"
"Kamu benar sekali,"
"Lalu jika aku boleh bertanya kenapa kamu memilih pantai ini dari semua tempat? Aku rasa hanya sekedar kamu menyukainya, itu tidak cukup untuk membuatmu membangun hotel itu?"
Erlan lalu terdiam sebentar mengingat suatu kejadian di masa lalu.
"Dulu, ketika Aku masih muda apakah sekitar 10 tahun? Aku pernah mengalami hal buruk di tempat ini, kamu tahu, jika hubunganku dengan Ibu Tiriku selalu bukan hal yang begitu baik, jadi ketika liburan ditempat ini, Aku pernah ditinggalkan disalah satu kamar mandi umum di tempat terpencil di pantai ini,"
Airin yang mendengar itu jelas saja merasa kaget,
__ADS_1
"Huh? Ada kejadian semacam itu? Kenapa dia bisa begitu tega?"
"Entahlah Aku juga tidak tahu,"
"Lalu kenapa kamu malah memilih tempat yang mengerikan semacam ini? Bukankah itu membawa sebuah kenangan buruk?"
"Dulu, ada seseorang yang gadis kecil yang menyelamatkanku, Aku tidak begitu tahu siapa dia, karena saat itu malam hari dan Aku tidak bisa melihat wajahnya,"
Airin yang mendengar itu segera tertawa,
"Apa ini? Apakah ini semacam cerita tentang cinta masa kecil? Kamu berharap bisa bertemu dengannya atau sesuatu?"
Erlan lalu segera menujukan ekpersi sedihnya.
"Saat itu, sebagai ucapan terima kasih, Aku memberikan sebuah gelang pada gadis itu, ketika kami berpisah, dan berjanji akan bertemu lagi tidak lama setelah itu,"
Airin mencoba menebak dalam pikirannya,
"Hmm, apakah itu kalian membuat janji, namun tidak jadi bertemu atau sesuatu?"
Erlan lalu segera berkata,
"Tidak, keesokan harinya, secara mengejutkan, Aku bertemu dengannya ketika ada di pertemuan Keluarga teman dari Ayahku, gadis itu yang membawa gelang yang Aku berikan, itu adalah Sylvia,"
Ketika mendengar itu, Airin memilih untuk tidak bertanya kelanjutannya, sepertinya kelanjutannya sedikit mudah di tebak.
"Tapi apakah kamu yakin? Yah, pada akhirnya kamu tidak pernah melihat wajah gadis kecil itu?"
"Tapi dia membawa gelang itu, itu gelang dengan tulisan namaku. Sudahlah aku tidak mau terlalu memikirkannya."
Airin bertanya sepertinya, karena sepertinya walaupun pantai ini indah, sekarang membawa kenangan yang cukup buruk.
####
Di tempat lainnya, saat ini Austin dan Sylvia yang masih kesal sedang berjalan-jalan di sisi pantai yang lainnya.
Elvin bersama dengan pengasuhnya, sedang bermain pasir.
"Sungguh, aku tidak mengira jika liburan kita akan berangkat pandan kita akan bertemu dengan mereka berdua," kata Austin kesal.
"Hah, aku juga tidak mengira akan bertemu mereka,"
"Memang, terkadang hal-hal buruk sering terjadi,"
Elvin yang asik bermain pasir itu, lalu menemukan gelang kerang lucu, dan membawanya ke orang tuanya itu.
"Mama, Mama lihat, Aku menemukan sebuah gelang kerang, ini sangat lucu,"
Sylvia lalu menatap Elvin yang terlihat senang itu.
"Itu kotor kamu jangan menyimpannya,"
"Namun ini sangat lucu,"
Namun ketika menatap sebuah gelang, Sylvia lalu teringat kejadian tertentu.
Itu adalah sebuah awal dari kebohongan yang dirinya buat.
Tempat ini cukup mengejutkan dan selalu membawa sebuah kejutan.
Mana tahu, sebuah gelang yang dirinya temukan di pantai ini, bisa membawa dirinya melangkah lebih tinggi?
__ADS_1
Dan bisa menjadi menantu Keluarga Castillo.