
Erlan yang ada di sana juga menjadi cukup terkejut ketika dirinya mendegar semua ini.
Soal hal-hal yang diinginkan oleh Airin.
Namun bagaimana itu mungkin?
Jelas tidak ingin percaya dengan apa yang didengarnya itu.
Hal itu terlalu tidak mungkin.
Dirinya cukup yakin sejak dirinya dan Airin bertemu itu adalah saat hari ketika Austin melamar Airin, sebelum hari itu mereka berdua tidak pernah tahu ataupun saling kenal sama sekali.
Dan saat itu ketika mereka bertemu mereka jelas-jelas seperti orang asing.
Jadi bagaimana bisa adiknya yang bodoh ini memiliki gagasan semacam itu?
Bahkan selama Airin masih menjadi Istri adiknya, hubungan antara dirinya dan Airin tidak lebih seperti hubungan antara saudara ipar, mereka berdua juga hanya berinteraksi secukupnya tidak pernah macam-macam atau menjadi begitu dekat seperti bagaimana Austin dan Sylvia selingkuh.
"Cukup hentikan omong kosongmu itu!" kata Airin lagi dengan cara setelah mendengar kata-kata tidak jelas itu.
"Sudahlah, Airin aku sangat tahu bagaimana kamu tidak puas dengan pernikahan kita tentang kamu yang hanya dinikahkan dengan Tuan Muda kedua Keluarga Castillo yang tidak ada apa-apanya di bandingkan Kakaknya yang akan mewarisi Perusahaan. Kamu kecewa dengan perjodohan bisnis ini dari awal, Aku tahu ini dari Saudaramu, kamu tidak perlu mengelak lagi."
"Kamu dengar hal itu dari Adikku? Dahlia? Atau Robert?"
"Apakah itu sekarang menjadi penting aku mendengarnya dari mana?"
Hah.
Baru sekarang Airin mulai memikirkan hal ini.
Alasan kenapa pernikahan bisa hancur dari awal.
Padahal saat pertemuan-pertemuan sebelumnya, hubungan antara dirinya dan Austin baik-baik saja mereka bahkan sempat berkencan dan dirinya cukup suka dengan sikap lembut dan ramahnya.
Namun sejak hari upacara pernikahan mereka sikap Austin menjadi berubah drastis.
Austin yang sejak malam pernikahan mereka, tidak mau menyentuhnya sama sekali.
Lalu kata-kata Austin yang terpaksa menerima pernikahan itu.
Dirinya kira sikap ramah dan kebaikannya di awal hanyalah pura-pura dan akting, karena Austin hanya ingin menyenangkan keluarganya dengan pernikahannya.
Namun ternyata masalahnya tidak sesimpel itu.
__ADS_1
Airin lalu teringat kata-kata dari adik dirinya, Dahlia.
'Lihatlah apakah kamu akan bahagia dengan pernikahanmu itu,'
Ternyata itu bukan hanya sekedar omong kosong, memang saudaranya itu menginginkan bahwa pernikahannya tidak akan bahagia.
Dirinya memang tau, awal saat perjodohan ini, Dahlia lah yang ingin dijodohkan dengan Tuan Muda Keluarga Castillo.
Namun perjanjian pernikahan itu, Kakek Austin buat dengan Almarhum Ibu Kandungnya, yang dulu sepertinya pernah menolong Kakek Austin, dan hubungan mereka sangat dekat saat itu.
Sayangnya , dulu Putra-putranya sudah menikah, jadi mereka membuat perjanjian untuk memudahkan anak dan cucu mereka di masa depan.
Itu adalah sebuah janji lama.
Awalnya mungkin Kakek ingin menjodohkan cucu tertuanya, namun sayangnya cucu tertuanya sudah bertunangan dan akan segera menikah dan sebagai seorang kakek yang sangat menyayangi cucu pertamanya itu dia tidak bisa apa-apa lalu hanya bisa menjodohkan cucu keduanya, yaitu Austin.
Mungkinkah, Austin sebenarnya tidak menyukai pernikahan itu karena dia hanya dianggap sebagai pengganti Kakaknya, Erlan?
Terutama setelah mendengar omong kosong dari Dahlia itu.
Ya, dirinya juga tahu bahwa Austin selalu tidak begitu menyukai kakaknya dalam beberapa aspek, terutama jika mereka berdua dibandingkan.
Namun mereka berdua adalah saudara yang tinggal di rumah yang sama dan berada di rumah yang sama yang pastilah akan selalu terikat dan mungkin juga dibanding-bandingkan kemanapun mereka akan pergi.
Dirinya cukup mengerti bagaimana rasanya dibanding-bandingkan karena dirinya juga sering dibanding-bandingkan dengan kedua adiknya itu, dirinya tidak memiliki kemampuan yang baik dalam hal belajar namun dirinya hanya baik dalam hal seni, jadi susah saat dibandingkan dengan kedua adiknya itu secara terus-menerus.
Austin mungkin merasakan hal itu juga selama ini, dan bisa jadi karena hal itu juga membuat Austin mengiginkan apa yang Kakaknya Erlan miliki?
Merasa iri dengan semua hal yang kakaknya miliki itulah kenapa dia mencoba merebut Sylvia?
Dan bahkan jabatan CEO dengan cara-cara kotor?
Hal ini jelas tidak bisa dibenarkan.
Sebenarnya, hal yang paling dirinya sukai dari Austin adalah tentang bagaimana dia itu adalah seseorang yang pekerja keras yang selalu tidak pernah menyerah tentang apa yang dia inginkan, bahkan ketika di Perusahaan, dia tetap selalu sebisanya untuk terus meningkatkan dirinya untuk bisa mengejar Kakaknya, tidak pernah menyerah sedikitpun, bahkan walaupun banyak orang tidak puas dengannya.
Hal itu juga yang memberikan dirinya cukup motivasi pada awalnya untuk bisa bertahan sampai sejauh itu.
Mungkin, jika dirinya tidak menyerah, dirinya mungkin akan bisa mendapatkan hati Austin juga, dengan harapan kecil ini, dirinya bertahan.
Namun semua harapan tidak selalu berakhir dengan indah.
Hubungan atara saudara-saudara ini, terlalu rumit, Austin ternyata membenci kakaknya lebih daripada yang dirinya kira hingga ada berbagai macam tragedi bahkan perselingkuhan.
__ADS_1
Sudahlah, bahkan walaupun ada salah paham antara dirinya dan Austin, lalu kenapa?
Sekarang hal-hal sudah menjadi seperti ini.
Semuanya sudah terlambat dan semuanya sudah menjadi seperti ini.
"Austin, kenapa kamu selalu menjadi begitu bodoh dan begitu mudah percaya dengan orang lain? Kamu tidak pernah sekalipun bertanya padaku soal perasaanku. Ah tidak, kamu bahkan tidak memperdulikan bagaimana perasaanku. Yang selalu kamu pikirkan adalah tentang kamu yang selalu merasa rendah diri kepada Kakakmu, kamu yang bahkan tidak bisa menghargai dan menilai dirimu sendiri, itulah kebodohan paling fatal yang kamu miliki. Tidak perlu sampai membandingkanmu dengan Kakakmu, kamu bahkan lebih bodoh dari kebanyakan orang, tidak mungkin akulah yang bodoh karena sempat mencintai orang seperti mu."
Austin yang mendengar semua itu segera merasa terdiam karena dirinya tidak tahu harus berkata apa.
Perasaannya tiba-tiba menjadi cukup ketika memikirkan hal-hal di masa lalu.
Soal dirinya dan Airin....
Airin sendiri, merasa semua energinya terkuras, juga emosinya yang meluap-luap setelah mengatakan semua ini.
Membuat dirinya teringat tentang semua kenangan menyedihkan yang dirinya alami selama pernikahan itu dan ini semua tidak lebih dari permainan adik perempuannya yang menyebalkan itu yang mengadu domba antara dirinya dan Austin.
Hal-hal disatukan menjadi sebab akibat, dan semuanya menjadi hancur seperti itu.
Dan bahkan calon bayinya yang berharga harus menjadi korban.
Katika mengigat hal itu, perasaan Airin menjadi semakin hancur.
Airin jelas, tidak ingin menangis di tempat seperti ini jadi dirinya segera mengandeng Erlan untuk segera pergi dari sana.
Erlan sendiri lebih memilih untuk diam dan tidak mengatakan apapun, takut hal itu hanya akan membuat lebih banyak masalah dan mungkin akan membuat Airin menjadi teringat soal hal-hal sedih.
Ya, dirinya khawatir dengan Airin.
Yang dirinya bisa lakukan saat ini adalah mengikuti ke mana wanita itu akan pergi.
Sampai mereka tiba di dekat tangga darurat, Airin akhirnya berhenti dan segera menjadi diam.
Erlan yang sempat melihat wajah Airin, tingginya tahu jika perasaan Airin sedang sedih.
Namun dirinya juga tidak tahu bagaimana caranya untuk menghiburnya.
Erlan lalu segera memeluk Airin.
"Sudah, tidak apa-apa semuanya akan baik-baik saja,"
Kata-kata itu benar-benar menghangatkan hati Airin, membuat dirinya merasa bahwa dirinya tidak sendirian bahwa di sampingnya ada seseorang yang selalu bersamanya dan selalu ada di sisinya.
__ADS_1