Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 72: Tidak Tahu Harus Bagaimana


__ADS_3

Ketika tiba di rumah sakit, didampingi oleh para pengawalnya, Erlan buru-buru menuju ke arah ruang ICU tempat Elvin dirawat.


Dan benar saja ketika dirinya tiba di ruangan itu dirinya melihat Sylvia yang saat ini memakai kursi roda menatap ke arah dalam ruangan dengan ekspresi sedih.


Sylvia yang mendengar langkah seseorang itu datang segera mengalihkan tatapannya dan sekarang tatapannya bertemu dengan Erlan.


"Aku senang kamu mau datang ke sini,"


"Ya,"


Erlan hanya menjawab singkat kata-kata itu.


"Jadi itu artinya kamu percaya padaku? Elvin adalah Putra kita, Putra Kandungmu,"


Erlan yang mendengar tentang Sylvia mengatakan 'Putra kita' itu, dirinya jelas-jelas merasa tidak nyaman, terasa memuakkan ketika kata-kata itu terdengar dari mulut wanita penipu yang ada di depannya itu.


"Begitu banyak kebohongan yang kamu miliki? Kamu sepertinya tidak banyak berubah, bahkan sejak 3 tahun yang lalu," kata Erlan dengan dingin.


Mendengar nada dingin itu, Sylvia menjadi terteguh sejenak tidak mengira reaksi pria yang ada di depannya itu menjadi begitu dingin.


"Aku mengatakan hal yang sebenarnya bahwa Elvin adalah Putra Kandungmu, aku tidak berbohong soal ini,"


Erlan, jelas memiliki perasaan yang cukup rumit ketika lagi-lagi mendengar tentang hal itu, namun dirinya mencoba untuk menormalkan ekspresinya sebisanya, dan segera berkata,


"Bukan itu yang aku maksud, namun tentang kamu yang bahkan membohongi dan menipu Austin selama ini, sungguh aku tidak pernah mengira bahwa kamu selicik itu, menutupi fakta yang sebenarnya tentang Ayah kandung Elvin, dariku dan Austin, kamu selalu memulainya dengan sebuah kebohongan dan sebuah tipuan bahkan sejak pertama kali kita bertemu apakah aku salah?"


Sylvia yang mendengar hal itu segera menunjukkan kepalanya karena tidak tahu harus berkata apa, kata-kata yang keluar dari pria yang ada di depannya itu terasa sangat dingin seolah pria itu benar-benar merasa jijik hanya dengan berbicara dengan dirinya.


Sayangnya percakapan itu tidak berlangsung lama, karena perawat segera datang ke sana dan memandu Erlan untuk menuju ke ruang donor.


Dan benar saja darah yang dimiliki Erlan memang cocok dengan Elvin, untuk mencegah hal-hal yang tidak perlu, Erlan meminta perawat untuk mengambil sempel DNA dari Elvin, setelah anak itu cukup pulih dan kondisinya sudah cukup baik.


Dirinya tahu ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan soal hal-hal seperti Tes DNA, dirinya tentu saja sangat khawatir dengan keadaan Elvin, putra kandungnya.


Namun dalam hati dirinya percaya, jika Elvin adalah anak yang kuat, terbukti tentang bagaimana anak itu masih bisa bertahan sampai saat ini.


Setelah Erlan selesai untuk mendonorkan darahnya, dia segera menuju ke arah ruang tunggu operasi, dirinya terlalu malas untuk bertemu dengan Sylvia di depan ruang ICU, toh karena anak itu sedang dioperasi dirinya tetap belum bisa melihat Elvin.


Dirinya hanya bisa berharap jika operasinya akan berjalan dengan lancar dan anak itu akan segera lolos dari masa kritisnya.

__ADS_1


Sepintas dirinya menjadi sedikit teringat dengan senyuman Elvin miliki, senyuman hangat dan ceria ketika anak itu memanggilnya,


'Paman Elan...'


Anak itu tentu saja belum bisa memanggil namanya dengan lancar, dia bahkan baru sekitar 2 tahun lebih sedikit.


Hal ini tiba-tiba membuat dirinya mulai membayangkan, jika Elvin akan memanggilnya Ayah atau Papa nantinya.


Mendengar pemandangan itu entah kenapa membuat hatinya terasa hangat.


Pada akhirnya Erlan berada di sana sampai pagi tiba, operasi itu berjalan dengan lancar dan Elvin akhirnya melewati masa kritisnya, Erlan setidaknya bisa merasa lega setelah mendengar hal itu.


####


Saat itu hari sudah pagi, ketika Airin mulai terbangun dari tidurnya.


Dia tentu saja belum menyadari soal kepergian Erlan, jadi setelah mencuci mukanya tingginya segera pergi ke dapur seperti biasanya dan mulai memasak untuk sarapan mereka berdua.


Airin berpikir, karena Erlan baru saja mengalami banyak hal buruk kemarin mungkin dia membutuhkan lebih banyak istirahat, dirinya hanya bisa sebisa mungkin untuk membantu pria itu untuk menenangkan dirinya.


Jadi, Airin mulai memasak sarapan kesukaan Erlan.


Karena merasa ada yang aneh, Airin segera menuju ke kamar Erlan, dirinya menjadi sangat terkejut ketika tidak melihat siapapun ada di kamar itu.


"Kemana Kak Erlan pergi? Apakah terjadi sesuatu?"


Airin jelas merasa panik dan kebingungan ketika tidak melihat Erlan disana, jadi dirinya segera menuju ke arah ruang tamu di mana ada para pengawal di sana dan ingin bertanya soal kemana Erlan pergi.


Salah satu pengawal mulai, menjelaskan kepada Airin ke mana pria itu pergi.


"Apa? Dia menuju rumah sakit? Apakah terjadi sesuatu padanya?"


"Dia tidak kenapa-napa hanya saja sepertinya tuan menerima telepon dari sakit dan buru-buru ke sana saya juga tidak tahu tentang apa yang terjadi,"


Airin yang mendengar kabar itu entah kenapa merasa kecewa.


Kenapa Kak Erlan tidak memberinya kabar lebih dulu soal apa yang terjadi?


Kenapa dia pergi begitu saja seperti itu?

__ADS_1


Memikirkan ini membuat dirinya merasa, jika Erlan tidak mau terbuka pada dirinya.


Pengawal melihat bagaimana Airin menunjukkan wajah sedih lalu segera mencoba untuk menenangkannya dan berkata,


"Tuan Erlan pasti hanya tidak ingin melihat Nyonya khawatir, dia pasti akan segera menghubungi anda nanti,"


Mendengar penghiburan itu dirinya hanya bisa tersenyum, lalu mulai menuju ke arah kamarnya dan mencari ponselnya.


Dan benar saja ada sebuah pesan di sana, bahwa dirinya jika sudah bangun bisa mulai mengabari Erlan, Ada hal penting yang ingin pria itu katakan padanya.


Tanpa banyak kata-kata, Airin segera menelepon Erlan, dan tidak lama sampai panggilan itu tersambung.


"Kak Erlan kenapa kakak berada di rumah sakit?"


Ada kediaman yang cukup lama sebelum Airin mendengar sebuah jawaban.


"Aku pasti membuatmu khawatir, maafkan aku,"


"Tidak apa-apa, hanya kenapa kakak terdengar begitu sedih apakah terjadi sesuatu di rumah sakit? Apakah keadaan Elvin baik-baik saja?"


Airin menjadi teringat bahwa pria itu semalam terlihat sangat khawatir memikirkan keadaan keponakannya itu, bahkan walaupun anak itu adalah anak dari musuh-musuhnya, rasa kebaikan dan ketulusan itu, benar-benar membuat Airin cukup tersentuh.


Sekali lagi ada jeda lama dalam percakapan itu.


Erlan di ujung telepon terlihat sedang mempersiapkan hatinya untuk mengatakan hal ini kepada Airin.


Dirinya sebenarnya tidak tahu harus mulai menjelaskan ini dari mana, jadi Erlan hanya segera mengatakan inti masalahnya.


"Elvin ternyata adalah Putra kandungku, Sylvia baru saja mengatakan itu padaku ketika dia membutuhkan donor darah untuk Elvin semalam,"


Kata-kata itu cukup singkat, namun jelas membuat Airin sangat syok.


Apa?


Elvin ternyata adalah anak kandung Kak Erlan?


Itu artinya Kak Erlan memiliki seorang anak dengan Sylvia?


Airin yang mendengar hal itu jelas merasa terguncang, tiba-tiba tidak tahu harus merespon atau bersikap bagaimana pada kenyataan ini.

__ADS_1


__ADS_2