
Malam itu, Airin sedang memilih milih baju yang akan dipakai nya nanti untuk datang ke pesta itu. Ya itu juga karena dirinya akan bertemu dengan saudara tirinya dan keluarganya yang lain di pesta itu.
Keluarga yang memanfaatkan dirinya habis-habisan dan malah meninggalkannya di saat dirinya butuh, tidak hanya itu mereka juga sampai menjual peninggalan Almarhum Ibunya.
Airin terlalu malas untuk memikirkan mereka semua, jadi dirinya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya lagi, dan fokus tentang apa yang akan dirinya pakai dan dandanan seperti apa yang akan dirinya tunjukkan.
Ya setidaknya diri kita harus menunjukkan sekarang bahwa dirinya bukan lagi Airin yang dulu, yang gampang ditindas dan dimanfaatkan, sekarang dirinya sudah menjadi seorang wanita yang mandiri juga memiliki karir yang bagus.
Butuh waktu beberapa saat sampai Airin akhirnya selesai dengan dandanan dan pakaian yang akan dia pakai nanti.
Segera, Airin keluar dari kamar dan seseorang yang menyambutnya di luar kamar adalah Erlan yang saat ini sudah memakai pakaian yang sangat pas di tubuhnya, membuat Erlan terlihat lebih tampan.
Erlan sendiri, ketika melihat Airin keluar dari sana dan mengenakan gaun pesta berwarna merah itu, merasa penampilannya terlihat sangat cantik.
Sesuai dengan make up yang Airin pakai, menunjukkan sisi elegan dan keanggunan dari wanita itu.
Ya, tanpa sadar Erlan sudah menatap Airin cukup lama.
Merasa cukup terkesima dengan tampilan Airin yang cantik itu.
Airin memang selalu secantik ini, yang terkadang membuat pandangannya tidak bisa berpaling dari wanita itu.
Apalagi sejak malam yang mereka habiskan sebelumnya.
Walaupun Airin meminta Untuk melupakan segalanya namun jelas dirinya tidak bisa untuk melupakannya.
Itu menjadi salah satu kenangan indah dalam hidupnya, bahkan walaupun itu dimulai dari sebuah kesalahan.
Yah, sejak malam itu dirinya benar-benar memikirkan jika mungkin dirinya sudah jatuh cinta pada Airin.
Dirinya menyadari hal itu jelas saat Airin bilang ingin melupakannya.
Hatinya terasa hancur, seolah dirinya ditolak.
Memang, hubungan mereka saat ini masihlah sebatas teman dan pasangan dalam kontrak.
Dirinya juga tidak begitu yakin tentang bagaimana dirinya bisa merubah hubungan ini.
Airin mungkin saat ini masih terganggu dengan malam yang mereka habiskan.
Mungkin untuk Airin, malam itu akan menjadi sesuatu penyesalan untuknya.
Namun dirinya juga tidak tahu bagaimana cara untuk menembusnya.
Hah, saat ini yang dirinya bisa hanya mencoba menjaga hubungan mereka tetap baik.
Dan, dirinya akan sebisa mungkin untuk mencoba membuat hubungan antara dirinya dan Airin menjadi lebih baik, dan mungkin bisa membuat Airin mau membuka hati untuknya?
Yah, waktu saat ini toh masih banyak.
Yah, saat ini memang mereka masih memiliki misi balas dendam mereka, jadi mungkin sulit untuk memikirkan hal lain.
Erlan juga cukup paham, hal yang Airin lalui di masa lalu benar-benar sulit.
Dan dirinya akan membantu Airin membalaskan hal-hal di masa lalu itu sedikit demi sedikit ini juga cara dirinya menunjukkan kepeduliannya pada Airin.
Mungkin saja Airin bisa mencoba membuka hatinya?
"Kak Erlan? Kenapa kamu menatapku dari tadi apakah dandananku terlihat aneh?"
__ADS_1
Suara Airin membuyarkan lamunan Erlan, dan Erlan segera berkata,
"Tidak sama sekali kamu benar-benar terlihat sangat cantik dengan gaun itu,"
Airin yang dipuji itu merasa sedikit malu.
Ukhh, di puji oleh orang yang dirinya sukai memang sesuatu yang sangat menyenangkan.
"Kak Erlan bisa saja, Kak Erlan juga sangat tampan malam ini!"
Erlan lalu segera berkata dengan sedikit candaan,
"Jadi selama ini Aku tidak tampan begitu?"
"Tentu saja tidak! Kak Erlan tentu saja selalu tampan! Sangat Tampan malah! Pria paling tampan yang pernah aku lihat!!"
Erlan yang mendengar pujian itu merasa cukup puas.
Owh benar, dirinya ingat jika Airin sebelumnya pernah bilang jika dia menyukai seorang pria tampan.
Dan dirinya apakah termasuk?
Erlan cukup bersyukur dengan penampilan yang dirinya miliki, Bukankah ini bisa menjadi suatu cara untuk memikat Airin kedalam pelukannya?
Sebenarnya Erlan ingin bertanya sesuatu seperti, Apakah Airin menyukai Pria tampan seperti dirinya?
Namun jelas, Erlan belum memiliki cukup keberanian lagi pula ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan hal itu malam ini masih ada beberapa hal yang harus diurus.
Mari, membersihkan beberapa orang sampah yang harus dibersihkan.
"Baik, Mari kita segera berangkat saja aku benar-benar menantikan pertunjukan malam ini,"
####
Saat ini, di salah satu Aula sebuah hotel, terlihat Tengah diadakan sebuah pesta mewah yang merayakan ulang tahun pernikahan dari Jimmy Will dan Dahlia Kartawijaya.
Sudah terlihat dari dekorasi mewah tempat itu jika jelas itu bukan pesta biasa.
Tamu-tamu juga sudah mulai berdatangan, jelas juga mereka bukan orang biasa juga.
Salah satunya, ada sepasang Pria dan Wanita, yang saat ini memasuki ruangan Aula pesta dengan ekspresi tidak enak di wajah mereka.
"Austin, kamu sebaiknya jangan terlalu memikirkan soal tadi siang coba rileks sejenak dan nikmati pesta ini," kata Sylvia mencoba untuk menenangkan suaminya itu.
"Bagaimana Aku bisa tenang? Tadi siang, Erlan itu benar-benar mendapatkan projek yang aku incar dia memenangkan tender itu! Kamu harus tahu bagaimana respon orang-orang yang malah menyalahkanku karena aku kalah! Sialan!" Kata Austin yang terdengar marah itu.
Ya, tadi siang memang sempat ada sebuah tender yang diikuti oleh perusahaan Keluarga Castillo, namun sayangnya Erlan juga mengikutinya sebagai perwakilan dari Perusahaan Erlan sendiri.
Mereka kebetulan bersaing untuk mendapatkan projek itu sayangnya, Austin kalah, dan bisa dilihat sekarang Hal itu membuat moodnya menjadi berantakan.
Sylvia sendiri tidak mengerti tentang cara menenangkan suaminya itu.
Hah, hal-hal menjadi tambah rumit sejak Erlan kembali.
Kenapa pula dia harus kembali?
Sial.
Dua orang itu segera menuju ke pusat acara, yaitu sang pemilik pesta yang saat ini mulai menyambut para tamu.
__ADS_1
"Ah, Sylvia kamu datang? Terima kasih sudah meluangkan waktumu dengan Suamimu," kata Jimmy dengan senyum palsunya itu kepada adik tirinya Sylvia.
Sylvia jelas langsung memasang senyum palsu yang sama dan berkata,
"Ya, Selamat untuk Kak Jimmy dan Kak Dahlia, semoga pernikahan kalian selalu bahagia,"
Austin juga mengikuti menyapa mereka dengan ramah hanya saja ketika dirinya menatap ke arah wajah Dahlia, yang tidak lain dan tidak bukan adalah saudara Airin, perasaannya menjadi rumit.
Dunia benar-benar terlalu sempit bukan?
Kenapa harus, saudara Sylvia menikah dengan Saudaranya Airin?
Austin tentu hanya memikirannya, Awalnya mereka berempat terlihat mengobrol dengan santai sekedar basa-basi untuk keramahan.
Sampai tiba-tiba, ada pasangan lain yang datang menghampiri mereka.
Empat pasang mata itu, segera menatap ke arah pasangan yang datang.
"Astaga, Aku cukup terkejut bisa bertemu dengan wajah-wajah orang yang Aku kenal. Aku tidak mengira jika pesta salah satu kolegan suamiku ini ternyata adalah pesta milikmu Dahlia. Kenapa kamu tidak mengundangku?"
Itu adalah suara Airin yang saat ini merangkul Erlan dengan mesra.
Dahlia ketika menatap wajah kakaknya itu ekspresinya segera berubah.
Airin?
Kenapa dia bisa di sini?
Apa maksud dan tujuannya datang ke pesta ini?
Lalu, suami Airin?
Siapa?
Tunggu...
Itu bukannya Erlan Castillo?
Sungguh?
Dahlia, mencoba tenang dan menyapa.
"Kita sudah lama kehilangan kontak sejak Kakak menikah,"
"Jadi ini ulang tahun pernikahanmu ya, ini benar-benar pesta yang sangat bagus aku pikir suamimu pasti benar-benar mencintaimu,"
Dahlia yang mendengar pujian dari kakaknya itu jelas segera merasa bangga dan berkata,
"Tentu saja, Suamiku sangat mencintaiku aku benar-benar bahagia bisa menikah dengannya,"
Airin lalu segera berbisik ke telinga adik tirinya itu.
"Apakah kamu yakin? Karena kita baru saja bertemu aku sebenarnya sudah menyiapkan sebuah hadiah untukmu,"
Dahlia yang mendengar itu jelas tiba-tiba merasa tidak nyaman.
"Airin! Jadi kamu datang ke sini ingin mengacaukan pestaku?" Kata Dahlia dengan ekpersi marah.
Airin yang dituduh itu hanya segera tersenyum,
__ADS_1
"Aku tidak pernah memiliki maksud untuk merusak pesta siapa-siapa, Aku hanya ingin memberimu beberapa Hadiah apakah itu salah?"