
Anggara dan Sasya masuk ke dalam kelas dengan perlahan, semua siswa melihat ke arah mereka berdua. Sasya pun merasa aneh karna di pandangi terus seperti itu.
Anggara tidak memperdulikan pandangan mereka, karna dia sudah terbiasa menghadapi sikap semua siswa-siswi padanya.
"Kenapa semua orang membicarakan kita dan melihat ke arah kita seperti itu?"tanya Sasya sambil berjalan menuju bangku nya.
"Itu biasa sya, mereka merasa aneh aja, karna aku mengikuti perlombaan ini" jawab Anggara
"Begitu ya" jawab Sasya
Tak lama kemudian, mereka belajar seperti biasanya, karna Ibu Guru sudah memasuki kelas mereka.
Beberapa jam kemudian, terdengar suara deringan bel pulang berbunyi, semua siswa-siswi bergegas membereskan buku dan pulang.
Anggara, Sasya dan Indra pulang bersama seperti biasanya. Beberapa menit, mereka sudah sampai di rumah masing-masing, begitu juga Anggara.
"Kamu sudah pulang gara" kata nenek yang sedang duduk santai di depan rumah.
"Sudah nek" jawab Anggara memasuki sepeda ke dalam rumah.
Dia langsung masuk ke dalam kamar setelah membuka sepatunya, di kamar dia membuka pakaian sekolah dan mengganti nya dengan baju kaos biasa.
"Di perlombaan nanti, aku akan melukis apa ya, aku aja hanya melukis wajah orang tua ku" ucap Anggara sambil menatap ke atas saat sedang terbaring di atas kasur.
"Sudah lah, aku tidak perduli, aku akan menang apa tidak" ucap nya lagi.
Hari terus berlalu, Anggara menjalani hari-hari nya seperti biasa, tapi dia masih belum bisa menguasai kekuatannya dengan sepenuh nya.
Dan hari di mana perlombaan melukis yang sedang di adakan di sekolah, sudah tiba. Anggara mempersiapkan dirinya untuk mengikuti perlombaan itu, semua siswa yang mengikuti perlombaan sudah duduk di kursi masing, yang di hadap kan dengan alat pelukis, yaitu kertas putih yang tinggi dan kuas serta warna-warna untuk mewarnai lukisan. Anggara merasa dirinya belum siap untuk di tonton banyak orang, ketika seluruh siswa serta guru-guru melihat ke arah nya, dia merasa canggung dan gugup.
"Anggaraaaa... kamu pasti bisa" teriak Sasya untuk menyemangati Anggara.
Mendengar teriakan Sasya, Anggara pun tersenyum sambil melihat ke arah nya.
Dalam hitungan 10 detik, perlombaan akan di mulai.
10.. 9.. 8.. 7.. 6.. 5.. 4.. 3.. 2.. 1..
__ADS_1
Semua siswa bergegas mengambil kuas serta pensil, Anggara bingung dia harus melukis apa, dia termenung melihat ke arah kuas dan pensil yang ada di samping nya.
"Kenapa Anggara berdiam seperti itu, apa dia merasa gugup" ucap Sasya berbisik pada Indra.
Di samping itu, Anggara terbayang tentang orang tua nya, dia pun berpikir akan melukis wajah orang tuanya. Lalu dia mengambil pensil, dan dia mulai melukis sesuatu di kertas putih.
Dika yang sedang melukis, terus melirik ke arah Anggara, tidak tau apa yang dia rencanakan.
Anggara terus menggerakan tangannya dengan lihai, setelah menggunakan pensil, dia mengambil kuas dan dia mewarnai lukisannya dengan sangat cepat.
Anggara sudah menyelesaikan lukisannya, terlihat di wajahnya tersenyum bahagia sambil melihat ke arah lukisannya. Selain Anggara, beberapa siswa juga sudah menyelesaikan lukisan mereka.
Sebelum lukisan mereka di perlihatkan ke juri, semua lukisan yang sudah selesai akan di tutup menggunakan kain, karna salah satu juri mengalami sakit perut, dan penilaian di tunda beberapa saat. Semua siswa menunggu untuk penilaian, Dika hanya tersenyum seperti akan terjadi sesuatu.
"Anak-anak, menjelang penilaian dari para juri, kalian bisa istirahat terlebih dahulu, karna salah satu juri mengalami sakit, dan dia sedang di dalam UKS"ucap Bapak Guru.
Semua siswa pun pergi ke luar dari ruangan, begitu juga beberapa Guru, hanya Dika dan temannya yang tinggal di dalam ruangan. Anggara, Sasya dan Indra juga pergi keluar dari ruangan, semua lukisan yang masih tertutup kain, di tinggal kan di dalam ruangan.
Beberapa menit kemudian, semua siswa di kumpulkan kembali ke dalam ruangan, dan akan di lakukan penilaian, karna juri yang sedang sakit sudah merasa sehat.
Juri membuka semua penutup kain yang menutupi lukisan, Anggara merasa tenang saat itu, dia seperti tidak menghadapi kesulitan sama sekali. Para juri mulai menilai lukisan siswa yang sudah mengikuti perlombaan itu.
"Juara tiga jatuh pada Veni.." ucap juri yang mengumumkan pemenang nya, beberapa bersorak dengan bahagia.
"Juara dua jatuh pada Tino.."ucap juri lagi.
"Daann.. juara pertama, jatuh ke padaa... Dikaa" ketika juri mengucapkan itu, Sasya dan Indra terkejut, sedangkan Dika, tersenyum bahagia.
"Tunggu pak" ucap Anggara memberhentikan juri.
"Ada apa?"jawab juri
"Dika sudah curang pak" kata Anggara menegaskan pada juri.
"Curang bagaimana? Apa maksud mu aku curang, kau tidak menerima nya kan, kalau aku yang menang, bukannya kau" jawab Dika dengan marah.
Anggara langsung berjalan mendekati lukisan Dika.
__ADS_1
"Lihat lah pak, ini adalah lukisan ku" kata Anggara
"Bagaimana mungkin ini lukisan mu, aku sendiri yang melukis nya" jawab Dika sambil berjalan mendekati Anggara.
"Kenapa bisa ini adalah lukisan mu Anggara?"tanya Bapak Guru
"Lihat pak, ini adalah lukisan dua orang sepasang kekasih, tanya kan saja pada Dika, apa dia tau ini siapa" ucap Anggara
"Lukisan siapa ini Dika?"tanya Bapak Guru
"Tentu saja lukisan sepasang kekasih pak, aku hanya membayangkannya saja, jadi aku langsung melukisnya pak" jawab Dika
"Bohong! Jika benar ini lukisan mu, kenapa nama ku ada di sini" tegas Anggara
Mendengar itu, juri langsung mendekati lukisan itu dan melihat dengan detail, dan ternyata, nama Anggara memang tertulis di ujung lukisan tersebut.
"Benar, ini tertulis jelas, nama Anggara" ucap juri
"Benar kan pak, jadi ini adalah lukisan ku" kata Anggara
"Baik lah, karna ini adalah lukisan Anggara, jadi kami putuskan, juara satu adalah Anggara" sebut juri dengan lantang.
"Dika.. ternyata kamu sudah curang, perlakuan kamu ini, akan mendapatkan hukuman" ucap Bapak Guru.
Dika menjadi malu, dia pun langsung berlari meninggalkan ruangan.
Semua orang bahagia, karna Anggara lah yang menjadi pemenangnya. Anggara pun merasa bahagia, bisa memenangkan perlombaan ini. Sasya dan Indra langsung menghampiri Anggara.
"Hebat gara, kau bisa melawan Dika, dia menjadi malu atas perbuatannya sendiri" ucap Sasya
"Benar gara, kau sangat hebat, kau juga bisa memenangkan perlombaan ini"kata Indra.
"Anggara, siapa yang kau lukis itu?"tanya Ibu Guru yaitu ketua Wali kelas nya.
"Itu adalah orang tua ku bu" jawab Anggara.
Terlihat di lukisan, dia melukis tentang orang tuanya yang sedang tertawa bahagia di bawah pohon yang rindang, Ibu nya sedang bersandaran di bahu Ayah nya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya😊