
"Gara, kau benar, ada ember di atas pintu, mereka pasti ingin menjebak kita" ucap Indra ketika melihat nya, ketika Anggara masuk ke dalam ruangan, di sana hanya ada Zidan dan ke empat temannya, yang bernama Budi, Fahri, Rian dan Zainal.
"Hahaha, ternyata kau hebat juga Anggara, sayang sekali, jebakan kita tidak mengenainya" ucap Zidan yang sedang duduk.
"Kenapa kalian melakukan ini! apa kalian kurang kerjaan" teriak Indra memarahi Zidan.
"Hei, tenang lah bung, jangan marah seperti itu, kami hanya ingin mencari kesengan saja, hahaha" ucap Fahri sambil merangkul leher Indra.
Anggara tidak berbicara apa pun, dia berpikir jika dia membalas perbuatan Zidan, itu akan membuang waktunya saja, dia mengabaikan perbuatan Zidan padanya.
"Hey! kenapa kau tidak berbicara, apa kau bisu" kata Zidan melihat Anggara yang hanya berdiam diri.
"Indra sudah lah, jangan herani mereka" ucap Anggara. Anggara dan Indra langsung duduk di tempat nya.
"Apa kau marah? ayok lah, jika kau marah, kau bisa membalasnya pada kami" kata Zidan yang berjalan mendekati Anggara dengan wajah sombong nya.
Anggara tidak menjawab apa pun, dia memalingkan wajah nya ketika Zidan ada di dekat nya.
"Ternyata kau berani memaling kan wajah mu ya, apa kau sudah berani dengan kami" ucap Zidan.
Di saat mereka ingin membuat Anggara marah, mahasiswa yang lainnya sudah mulai berdatangan, dan Zidan memberhentikan perlakuannya pada Anggara, karena dia tidak ingin mahasiswa melihat sifat jahatnya. Di kampus dia terkenal dengan sifat baik nya, dan murah hati, padahal sifat asli Zidan tidak lah seperti itu. Teman-teman Zidan yang ada di dekat nya itu juga orang kaya, tapi kekayaan orang tua mereka masih di bawa kekayaan orang tua Zidan.
"Anggara, kenapa kamu hanya berdiam, kamu tidak ingin melawan mereka?" tanya Indra pada Anggara.
"Aku tidak ingin berurusan dengan mereka ndra, jika kita berurusan dengan mereka, akan membuang waktu saja" jawab Anggara.
"Kamu benar gara, tidak ada gunanya kita berurusan dengan mereka, mereka itu terlalu menganggap bahwa diri mereka yang berkuasa, maka nya mereka bersikap seperti itu, tapi gara, aku masih penasaran, kenapa kamu bisa tau di atas pintu ada ember, aku bahkan sama sekali tidak melihat nya, karena pintu tertutup"
"Eemm itu, lupakan saja, itu tidak penting" jawab Anggara tersenyum.
__ADS_1
Ketika Anggara dan Indra mengobrol, ada seorang wanita berambut panjang terurai, pakaian sedikit mini, berkulit putih, datang menghampiri Anggara.
"Kamu Anggara kan?" tanya nya pada Anggara.
"Ia" jawab Anggara dengan cetus, dan bahkan Anggara tidak melihat ke arah wanita itu.
"Kenapa kamu tidak melihat ku, perkenal kan aku Raisa" ucap nya sambil menyorong tangan bermaksud ingin bersalaman dengan Anggara.
"Aku Anggara, kamu kan sudah tau" jawab Anggar, dan tidak membalas salaman dari Raisa.
"Baik lah, kamu tidak ingin bersalaman dengan ku, aku tau, kamu baru masuk semester ini, tapi kamu sudah terkenal di seluruh kampus ini"
Anggara hanya berdiam, tidak menjawab apapun dari ucapan Raisa.
"Anggara, ada wanita yang ingin mengobrol dengan mu, kenapa kamu hanya terdiam dan membaca buku" ucap Indra yang merasa dia di tengah-tengah cuaca dingin, karena sikap Anggara yang begitu dingin.
"Baik lah jika kamu tidak ingin berbicara, aku tidak akan mamaksa nya" ucap Raisa dan langsung pergi dari hadapan Anggara.
Raisa adalah anak tunggal di keluarganya, dia juga anak orang kaya, kekayaan orang tuanya setara dengan Zidan, dia populer di kalangan kampus, dia banyak menerima hadiah dari para cowok-cowok di kampus, karena dia sangat di sukai para cowok di kampus. Dia sering mengandal kan uang orang tua nya untuk mendapat kan teman, sekarang dia memiliki teman bernama Ayu dan Widia. Dia berada di semester yang sama dengan Zidan, Zidan dan Raisa berteman sejak kecil, dan selalu bersama. Hanya saja, semenjak Anggara masuk ke kampus itu, Raisa tidak lagi dekat dengan Zidan, dan Zidan merasa dia telah di jauhi dengan Raisa karena Anggara.
"Aku rindu dengan Sasya, apa yang sedang dia lakukan sekarang, aku rindu dia tertawa, aku rindu dia yang selalu marah-marah, aku rindu semua tentang Sasya, ada apa dengan diriku, kenapa aku selalu memikir kan Sasya, apa aku suka pada nya" ucap di dalam hati Anggara, dia sedang menatap keluar jendela.
"Hey gara, kamu kenapa melamun, apa yang sedang kamu pikirkan?" kejut Indra.
"Tidak ada, aku hanya rindu pada Sasya" jawab Anggara.
"Ia gara, aku juga rindu pada nya, kita dulu selalu tertawa bersama, bahkan kita saling kemana-mana bersama, apa dia juga rindu pada kita"
"Mungkin saja"
__ADS_1
"Sudah lah, jangan terlalu memikirkan nya, nanti juga kita pasti ketemu" ucap Anggara
"Ia gara"
Beberapa jam sudah berlalu, waktu nya Anggara pulang ke rumah. Anggara dan Indra pulang bersama, karena rumah mereka searah.
Di perjalanan, tiba-tiba Anggara dan Indra di cegat oleh mobil bewaran hitam, menghadang sepeda motor Anggara dan Indra, lalu sesorang keluar dari mobil tersebut, dan muncul tiga orang lagi dari dalam mobil, entah apa yang inginkan mereka, mereka berpakaian jas bewarna hitam, dan sangat rapi, memakai kacamata hitam.
"Siapa mereka gara?" tanya Indra.
"Aku juga tidak tau siapa mereka ndra, aku baru pertama kali melihat mereka" jawab Anggara.
Orang yang berpakaian jas warna hitam itu menghampiri Anggara.
"Apa kamu bernama Anggara?"tanya orang itu pada Anggara, tentu nya Anggara merasa bingung, siapa orang itu? dan apa yang mereka inginkan dari Anggara?.
" Siapa kalian? aku tidak mengenal kalian"
"Kmau tidak perlu tau siapa kami, kamu harus ikut bersama kami"
"Aku tidak mau! aku tidak mengenal kalian, ayok kita pergi Indra" ucap Anggara, dan langsung menghidupkan sepeda motor nya. di saat itu, orang tersebut menahan sepeda motor Anggara.
"Hey! kenapa kalian menahan motor aku, aku ucapkan sekali lagi, aku tidak akan ikut kalian"
"Kami sudah memintanya dengan baik-baik, tapi nampak nya kamu membuat kami untuk membawa kamu dengan paksa" ucap nya.
Ketika orang itu ingin memegang tangan Anggara, Anggara langsung turun dari motor nya.
"Apa sebenarnya yang kalian ingin kan! aku tidak pernah bertemu kalian, apa aku ada berbuat jahat pada kalian"
__ADS_1
"Jika kamu ikut kami, kamu akan menemukan jawabannya, kenapa kami ingin membawa mu" jawab orang berwajah sangar.
Mereka terlihat seperti ajudan, atau bodyguard, yang memaksa ingin membawa Anggara bersama mereka, tentu saja Anggara tetap menolak nya.