
Menatap bintang yang bertaburan di langit, dan mendengar suara daun-daun yang tertiup angin, membuat hati Anggara nyaman, menikmati suasana malam yang tenang. Anggara menyukai suasana yang tenang dan nyaman, tidak suka suasana keramaian.
"Aku rindu Ayah dan Ibu, rindu dengan mereka yang menyayangi ku, andai saja waktu bisa di putar kembali, kejadian di hari itu ingin aku hindari bersama Ayah, agar Ayah masih tetap hidup, andai saja Ayah tidak ke laboraturiun di hari itu, pasti Ayah masih ada hingga sekarang, andai saja aku bisa menyelamatkan Ayah"ucap Anggara yang sedang terbaring sambil menatap bintang di langit. Di saat sedang menimati suasa malam yang tenang, tiba-tiba petir menyambar di atas langit, dan hujan mulai turun. Anggara langsung bergegas masuk ke dalam rumah nya.
"Aneh, bintang banyak, tapi kok tiba-tiba hujan, cuaca emang tidak bisa di prediksi" ucap Anggara yang sedang berada di dalam rumah.
"Oo ia, aku harus melihat Nenek, apa Nenek sudah tidur" ucap Anggara dan langsung ke kamar Nenek untuk melihat keadaan Nenek.
"Ternyata Nenek sudah tidur" Anggara pergi ke kamar nya dan berbaring di atas kasur, terlelap ke dalam tidur nya karena cuaca dingin yang membuat tidur Anggara nyenyak.
Keesokan harinya, Anggara di pagi hari melakukan aktivitas nya seperti biasa, yaitu menyiap kan makanan untuk Nenek, dan masak lauk untuk diri nya sendiri. Begitu lah kegiatan Anggara setiap pagi nya sebelum berangkat ke kampus.
"Nek, Anggara berangkat ke kampus" ucap Anggara dari depan pintu kamar Nenek.
"Ia gara" jawab Nenek.
Anggara pun pergi ke kampus menggunakan sepeda motor milik nya, di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Indra yang juga ingin pergi ke kampus.
"Indra" panggil Anggara yang melihat Indra di depan nya.
"Eh, gara, kamu mau ke kampus kan?"
"Ia"
"Kita barengan aja"
Mereka pun pergi ke kampus bersama-sama.
SesampaSesampai di parkiran kampus, ada Zidan juga yang baru saja tiba di kampus menggunakan mobil milik nya sendiri, serta teman-teman nya yamg juga menggunakan mobil.
__ADS_1
"Zidan, itu Anggara, apa kamu mau berbuat sesuatu padanya?" tanya Fahri pada Zidan.
"Tentu saja tidak semudah itu aku lepas kan dia, aku ingin membuat dia di keluarkan dari kampus ini, semenjak kehadiran nya, para mahasiswa di sini mengagumi nya, dan Raisa mulai menjauhi ku" ucap Zidan dengan tatapan sinis nya.
"Anggara, itu Zidan, mereka menatap kita seperti ingin memakan kita saja" ucap Indra dengan suara kecil.
"Jangan perdulikan mereka, kita masuk aja ke dalam"
"Ia gara, lebih baik kita menghindar dari mereka, bagaimana pun mereka dari keluarga yang kaya, jika kita berbuat salah dengan mereka, mereka pasti tidak akan melepaskan kita" ucap Indra
Anggara dan Indra berjalan masuk ke dalam kampus.
Di ruangan kampus sudah ada beberapa mahasiswa yang datang dan duduk, ada yang saling mengobrol, ada juga yang membaca buku, keadaan di dalam ruangan itu tidak lah sunyi, melainkan begitu serasa seperti di pasar ikan saja, mereka saling berbicara satu sama lain dengan suara yang sedikit keras, Anggara yang tidak terlalu suka dengan suasana seperti itu lebih memilih duduk diam dan menikmati pemandangan di luar jendelanya, ruangan Anggara berada di lantai atas sehingga pemandangan nya lebih indah di pandang dari ketinggian.
Raisa yang sudah berapa di dalam ruangan memperhatikan Anggara, sejak Anggara masuk ke dalam ruangan. Dia berusaha mendekati Anggara, walau Anggara terus cuek pada nya.
"Gara, Raisa menanyai mu" ucap Indra melihat Anggara tidak menjawab pertanyaan Raisa.
"Tidak, aku ingin makan sendiri" jawab Anggara
"Kamu tidak ingin makan bersama ku?cowok-cowok di sini semua nya ingin makan bersama, kenapa kamu tidak mau"
"Aku tidak suka makan bersama dengan orang yang tidak dekat"
"Kalau gitu, apa aku boleh mendekati mu, agar aku bisa makan bersama mu"
"Aku tidak ingin dekat dengan siapa pun"
"Tapi aku bisa jadi teman mu kan, asal kamu tau Anggara, di kampus ini aku yang paling cantik, aku juga kaya, kalau kamu berteman dengan ku, aku jamin, tidak ada yang berani mendekati mu, apa lagi mengusik mu" ucap Raisa dengan wajah sombong nya.
__ADS_1
"Aku tidak butuh perlindungan".
Di saat Raisa sedang mengajak Anggara makan bersama nya nanti, Zidan yang baru saja datang melihat nya, dengan wajah marah dia langsung mendekati Raisa.
" Raisa! kenapa kamu berbicara dengan nya, apa kamu tidak lihat, dia melihat mu saja tidak"ucap Zidan dengan nada tinggi.
"Zidan, kenapa kamu seperti marah pada ku, aku hanya ingin mengajak Anggara makan siang bersama nanti"
"Apa dia mau makan bersama mu?"
"Tidak"
"Ya sudah, kalau begitu kenapa terus mendekati nya, ada aku yang ada di dekat mu, jika kamu butuh teman untuk makan atau kemana aja itu, aku bisa bersama mu"
"Aku ingin bersama Anggara"
"Baik lah kalau itu yang kamu ingin kan" dengan rasa kesal, Zidan duduk di kursi nya.
"Bagaimana Anggara, kamu tidak mau makan bersama ku?"
"Aku tidak mau, Raisa, cukup ya, jangan dekati aku lagi".
Mendengar itu, Raisa pun kembali ke tempat duduk nya dengan wajah yang cemberut.
"Sudah lah Raisa, Anggara sudah menolak mu, masih banyak laki-laki lain yang mau sama kamu, seperti Zidan, dia begitu perduli terhadap mu" ucap Ayu temannya Raisa.
"Aku ingin Anggara, aku suka dia, dia sangat tampan, dia juga pintar, banyak wanita di kampus ini yang ingin mendapatkan nya, aku harus bisa mendapatkan nya, bagaimana pun caranya" jawab Raisa dengan wajah penuh ambisi ingin mendapatkan Anggara dan ingin memiliki Anggara. Dia memiliki sifat yang ingin mendapatkan apa yang dia ingin kan, sejak kecil dia selalu di manjakan oleh orang tua nya, apa pun yang dia ingin kan pasti di turuti orang tua nya, jadi sifat nya hingga dewasa tidak pernah hilang, bahkan suka pada seseorang, seseorang itu juga harus dia miliki, padahal Anggara selalu cuek pada Raisa, dan tidak pernah menanggapi ajakan Raisa, dari ajakan ingin berteman, bahkan ajakan makan siang bersama, bagi Anggara orang yang bisa menjadi teman nya ia lah yang bisa dia percaya, selain Sasya dan Indra tidak ada lagi teman yang dia percaya.
Anggara juga tidak terlalu suka pada sifat Raisa yang sombong, makanya Anggara tidak ingin berteman dengan Raisa, apa lagi melihat kelakuan Raisa yang kadang centil.
__ADS_1