
"Gara, kenapa kamu menolak ajakan Raisa, dia cantik, dia juga terkenal di kampus ini karena kecantikannya, rugi loh kamu menolak ajakan nya, jika dia ngajak aku, bakalan bilang ia, hahaha" ucap Indra berbisik pada Anggara dengan maksud merayu Anggara.
"Aku kurang suka dengan sifat nya, aku tidak suka wanita yang seperti itu, lagi pun aku tidak mau makan bersama orang lain" jawab Anggara.
"Baik lah, itu emang sifat mu dari dulu, tapi jika Sasya yang ngajak kamu makan bersama, apa kamu juga menolak?"
"Tentu tidak, dia kan sudah jadi teman kita sejak lama, bagaimana aku bisa menolak ajakan nya".
Indra terdiam mendengar jawaban dari Anggara, tidak tau kenapa, wajah Indra berubah, yang tadi nya senang merayu Anggara, menjadi wajah yang murung.
"Indra, nanti jadi kan kita mengerjakan tugas di Caffe dekat sini?" tanya Anggara.
"Ia, jadi gara, soal nya lusa kita sudah harus mengantar tugas ini, aku kurang paham sama tugas nya, hehehe, kamu pasti ngerti kan?"
"Ia, nanti kita kerjakan sama-sama agar kamu bisa paham sama tugas nya"
Jam makan siang
"Anggara" panggil salah seorang wanita dari belakang Anggara yang hendak berjalan menuju kantin, mendengar itu Anggara langsung menoleh ke belakang, ternyata yang memanggil nya adalah Susi.
"Kamu mau pergi ke kantin ya?" tanya Susi.
"Ia, aku sama Indra mau pergi ke kantin" jawab Anggara.
"Aku boleh ikut gak?"
"Boleh" jawab Indra.
Anggara, Indra dan Susi berjalan bersama menuju kantin yang ada di dalam kampus mereka.
Lalu mereka memesan makanan nya masing-masing, dan duduk di kursi kantin.
Saat sedang duduk, Raisa datang mendekati Anggara, dan langsung duduk di samping Anggara, bersama dua teman nya, yaitu Ayu dan Widia, Ayu dan Widia duduk di dekat Indra, sedangkan Anggara di himpit dengan Susi dan Raisa. Anggara menjadi tidak nyaman dengan keadaan seperti itu.
"Kenapa kalian berdua duduk di sini, aku jadi susah makan" ucap Anggara.
"Aku mau duduk makan bersama mu Anggara" jawab Raisa.
"Aku tidak suka jika makan nya ramai seperti ini"
"Kalau gitu, Ayu dan Widia tidak akan makan di sini, hanya aku aja yang di sini" ucap Raisa.
"Kamu juga harus pergi dari sini, aku tidak nyaman jika duduk nya seperti ini, membuat ku susah makan aja" ucap Anggara.
__ADS_1
"Itu cewek yang di samping mu siapa nama mu?" tanya Raisa pada Susi.
"Nama ku Susi"
"Kamu aja yang pergi dari sini, aku akan duduk di sini bersama Anggara"
"Kenapa kalian ribut hanya karena tempat duduk, kalian bisa duduk di mana aja" ucap Indra.
"Apa kamu tidak dengar tadi! aku mau duduk bersama Anggara" ucap Raisa tegas pada Indra.
"Sudah lah, kalian berdua yang pergi, aku tidak akan duduk bersama kalian" ucap Anggara mengatakan pada Raisa dan Susi.
"Kenapa aku di suruh pergi juga gara, bukan nya kita teman" ucap Susi.
"Aku tidak suka jika ribut seperti ini" jawab Anggara.
"Kamu dengar kan, kamu di suruh pergi"
"Kamu juga pergi Raisa, aku mau duduk dan makan dengan tenang" ucap Anggara.
"Tapi gara, aku tidak akan ganggu kamu makan kok"
"Aku bilang pergi ya pergi Raisa"
"Gara, kenapa kamu suruh Susi pergi juga, kasian dia" ucap Indra.
"Aku hanya ingin makan dengan tenang ndra, aku tidak suka jika mereka ribut" jawab Anggara.
"Oke oke, kamu emang suka di tempat yang sunyi" jawab Indra.
Selesai makan siang, Anggara dan Indra balik ke ruangan nya, tapi tiba-tiba Dosen memanggil Anggara, menyuruh Anggara ke ruangan nya.
"Kenapa ya Dosen memanggil aku?" ucap di dalam hati Anggara yang sedang berjalan menuju ruangan Dosen.
Tok.. tok.. tok
Anggara mengetuk pintu ruangan Dosen.
"Masuk"
Anggara masuk ke dalam ruangan, di dalam ruangan hanya ada Dosen yang memanggil Anggara tadi, nama Dosen itu adalah Dosen Bambang, guru yang mengajar di ruangan Anggara.
"Ada apa ya pak memanggil saya?" tanya Anggara yang baru masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Duduk dulu Anggara".
Anggara pun duduk di kursi yang ada di depan meja Dosen Bambang.
"Ada yang mengadukan kamu pada Bapak"
"Mengadukan soal apa pak?"
"Katanya, kamu memukuli Zidan, apakah itu benar Anggara?"
"Saya sama sekali tidak memukul Zidan pak"
"Katanya pagi tadi kamu ketemu dia di parkiran, terus kamu memukul nya tanpa sebab, Bapak juga melihat memar yang ada di wajah Zidan"
"Tapi pak, saya sama sekali tidak memukul nya, pagi tadi saya emang ketemu dia, tapi saya tidak memukul nya, bahkan saya tidak mendekati nya"
"Nanti kamu jelas kan aja, saya akan memanggil Zidan untuk ke ruangan saya"
Tidak tau apa yang terjadi, tiba-tiba ada berita bahwa Anggara memukul Zidan, padahal pagi tadi Anggara sama sekali tidak memukul nya, apa Zidan yang memfitnah Anggara?.
Di ruangan terasa Anggara sedang di introgasi yang bahkan itu bukan perbuatan nya.
"Pak Ahmad" panggil Dosen Bambang dari dalam ruangan, dan seorang pria masuk ke dalam ruangan, dia adalah pak Ahmad, penjaga perpustakaan, tadi dia sedang berjalan melewati ruangan Dosen Bambang.
"Ia pak, ada apa pak?" tanya pak Ahmad.
"Tolong panggilin Zidan yang ada di ruangan satu A ya pak, suruh dia datang ke ruangan saya"
"Baik pak".
Pak Ahmad pun pergi untuk memanggil Zidan. Anggara masih terheran dengan pertanyaan Dosen Bambang, perbuatan yang tidak pernah dia. lakukan, tentu saja membuat Anggara bingung, apa yang sudah terjadi? kenapa Dosen Bambang bertanya seperti itu? dan menganggap Anggara yang sudah memukul Zidan.
Pertanyaan-pertanyaan terus ada di pikiran Anggara, semenjak Dosen Bambang bertanya pada nya.
Tak lama itu Zidan datang dan masuk ke dalam ruangan, dengan keadaan wajah penuh memar, di pipi kiri nya terdapat memar, di kening nya ada luka. Anggara yang melihat wajah Zidan yang memar itu pun terheran.
"Ia pak, Bapak memanggil saya ya?" tanya Zidan.
"Ia, silahkan duduk".
Zidan duduk di samping Anggara.
"Zidan, coba jelas kan apa yang sudah terjadi pada wajah mu itu"
__ADS_1
"Ia pak, pagi tadi saya sedang memarkir kan mobil, saat saya keluar dari mobil, tiba-tiba Anggara menonjok wajah saya, dan membentur kan kening saya ke mobil saya pak, saya tidak tau kenapa, dia tiba-tiba seperti itu pada saya, lihat lah wajah saya pak" ucap Zidan dengan wajah bersedih, seperti seorang yang sedang di aniaya.