Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang

Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang
Indra mengungkap kan perasaannya


__ADS_3

"Apa Sasya suka pada Anggara, karena itu, dia lebih ingin di gendong dengan Anggara dari pada aku, aku sangat menyukai nya, aku tidak bisa melihat dia bersama orang lain, bagaimana pun, ini hanya pikiran ku, aku akan mengungkap kan perasaan ku pada Sasya, mana tau dia menerima ku"ucap di dalam hati Indra sambil melihat Sasya yang sedang di gendong Anggara.


Setibanya di kamar Nenek, Anggara meletakan Sasya ke atas kasur Nenek dengan perlahan.


"Kamu tunggu sini ya sya, aku ambilin obat dulu" ucap Anggara.


"Ia gar"


Anggara pergi ke dapur, untuk mencari obat, obat yang di racik oleh Nenek, untuk obat sakit tulang dan bisa untuk mengobati tulang yang terkilir, sedangkan Indra masih berada di dalam kamar Nenek bersama Sasya.


Setelah Anggara mendapat kan obat nya, Anggara langsung berjalan ke kamar Nenek, namun di saat berada di depan pintu kamar Nenek yang sedang tertutup, Anggara mendengar percakapan Indra dan Sasya, Anggara memberhentikan langkah nya, dan berdiri diam di depan pintu kamar, untuk mendengar obrolan Indra dan Sasya.


"Sya" ucap Indra.


"Kenapa ndra?"


"Ada sesuatu yang ingin aku omongin sama kamu"


"Ngomong aja ndra, mau ngomong kok bilang dulu"


"Mmm, aku sebenar nya, suka sama kamu, aku ingin kamu jadi pacar aku" mendengar itu, Sasya menjadi terkejut dan setengah tidak mempercayai nya.


"Haha, kamu bercanda ya ndra"


"Tidak sya, aku tidak bercanda"


Sasya langsung terdiam, dan tidak tertawa lagi, dia bingung mau jawab apa, karena dia sama sekali tidak memiliki perasaan pada Indra.


"Maaf ndra" saat Sasya ingin melanjutkan omongan nya, Indra langsung berkata.


"Sya, kamu jangan jawab dulu, kamu bisa menjawab nya nanti, aku harap kamu tidak menolak aku"


Wajah Anggara menjadi terkejut, karena Indra sahabat nya juga suka dengan Sasya yaitu wanita uang dia sukai.


"Indra juga suka dengan Sasya, wanita yang aku sukai, bagaimana jika nanti persahabatan kami hancur hanya karena seorang wanita, aku akan mencoba menunggu jawab Sasya, jika Sasya menerima Indra, aku akan berusaha melupakan perasaan ku terhadap nya" ucap di dalam hati Anggara, setelah mereka selesai ngobrol, Anggara mengetuk pintu kamar, dan di buka oleh Indra.


"Gar, kenapa kamu lama sekali" ucap Sasya yang masih duduk di atas kasur Nenek.


"Maaf sya, tadi aku mencari-cari obat ini, maka nya agak lama" jawab Anggara.


Anggara duduk di samping Sasya.

__ADS_1


"Sini aku oleskan obat nya sya" ucap Anggara.


Sasya dengan perlahan mengangkat kaki nya ke atas kasur, dan di bantu oleh Anggara. Indra lihat kan Anggara yang mengoles kan obat ke kai Sasya.


"Udah sya, nanti kalau masih belum sembuh, cepat aja ke rumah sakita ya, untuk di obati" ucap Anggara.


"Ia gar, terimakasih ya"


"Kamu mau di sini dulu apa mau pulang? soal nya aku mau lanjut rapiin kulkas yang masih berserak" tanya Anggara pada Sasya.


"Aku dia sini dulu aja gar, belum mau pulang" jawab Sasya.


"Baik lah, kalau gitu aku ke dapur ya"


"Ia gar"


"Aku mau temeni Sasya di sini aja gar" ucap Indra pada Anggara.


"Tidak perlu ndra, kamu bisa bantu Anggara, aku bisa sendiri kok, aku mau di sini sendirian" ucap Sasya.


"Baik lah kalau gitu"


Anggara dan Indra keluar dari kamar Nenek, di mana Sasya berisitirahat, dan Anggara menutup pintu kamar nya.


"Gar, Sasya cantik ya" ucap Indra pada Anggara, tidak tau apa masud Indra berkata seperti itu pada Anggara.


"Semua wanita itu cantik kok ndra, tapi kecantikan mereka ada takaran nya masing-masing"


"Tapi Sasya itu sangat cantik gar, dia juga berbeda dengan cewek lain nya, aku suka deh dengan dia"


"Kalau kamu suka, kamu ungkap kan aja perasaan kamu dengan dia" ucap Anggara, dia berpura-pura tidak mengetahui, bahwa Indra sudah mengungkap kan perasaannya pada Sasya.


"Tadi aku sudah mengungkap kan perasaan aku gar"


"Terus, bagaimana?"


"Sasya belum menjawab nya, mungkin dia akan menjawab nya nanti, aku bisa minta tolong dengan mu gak gar?"


"Minta tolong apa?"


"Dekat kan aku dengan Sasya, agar dia bisa menerima aku jadi pacar nya nanti, soal nya, aku lihat, dia lebih dekat dengan mu gar"

__ADS_1


"Aku aja tidak mengerti cara dekat dengan cewek ndra, bagaimana bisa aku mendekat kan mu dengan Sasya" ucap Anggara saat sedang memasukan bahan makanan ke dalam kulkas.


"Kamu bilang aja, apa aja hal yang dia suka, dan makanan apa aja yang dia sukai gar"


"Kamu tanya aja sama Sasya nya langsung ndra"


"Tidak mungkin lah, hal yang ingin aku suprise kan ke dia, aku tanya dulu dengan nya, tolong ya gar, tolong lah sahabat mu ini"


"Baik lah, baik lah" jawab Anggara dengan terpaksa.


"Terimakasih gar"


"Aku sudah selesai ni, kalau kamu sudah selesai nyapu, taruh aja sapu nya di belakang tempat tadi ndra"


"Ia gar"


Indra pergi ke belakang untuk menaruh sapu nya, dan Anggara, mempersiap kan, bahan makanan yang mau dia masak.


"Kamu mau masak lauk gar?" tanya Indra melihat Anggara mencincang sayuran.


"Ia ndra"


"Aku bantu ya"


"Kamu masak nasi aja, aku sudah siap kan beras nya yang mau di masak, tinggal di cuci aja"


Anggara dan Indra memasak di dapur, sedangkan Sasya masih di dalam kamar, terlihat di wajah nya, sedang memikir kan, ungkapan sisi hati Indra pada nya.


"Aku sama sekali tidak ada perasaan dengan Indra, bagaimana aku menjelas kan nya, tadi aku sudah ingin menjawab, tapi dia suruh aku berpikir dulu, sekeras apapun aku berpikir, aku tetap menyukai Anggara, waktu aku di Inggris aja, hanya Anggara yang ada di pikiran ku, Indra aku anggap hanya sebagai teman, tidak lebih, aku harus bisa menjelas kan ini secepat mungkin, agar Indra tidak terlalu lama menunggu jawaban ku" ucap Sasya sambil berbaring di atas kasur.


Tak lama kemudian, lauk yang Anggara masak sudah selesai, hari juga semakin sore, Anggara mengajak Sasya untuk makan bersama.


"Sya" panggil Anggara di depan pintu kamar Nenek.


"Ia gar, masuk aja, pintu nya tidak di kunci" jawab Sasya dari dalam kamar Nenek.


Anggara membuka pintu kamar.


"Ayo makan, aku sudah masak lauk buat kita makan" ucap Anggara setelah membuka pintu.


"Tapi kaki ku masih terasa sakit gar"

__ADS_1


"Ya sudah, aku bawa ke sini aja ya nasi nya" ucap Anggara.


"Tidak perlu gar, kamu gendong aja aku ya, aku mau makan di meja makan bersama kalian" jawab Sasya.


__ADS_2