Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang

Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang
Sasya terkilir


__ADS_3

"Bener kan, aku suka banget es boba ini, dulu, aku sering sekali beli di sini" ucap Sasya sambil meminum es boba.


"Kamu mau lagi gar?"tanya Sasya.


"Gak sya, aku tidak terlalu haus, kamu minum aja"


Anggara melihat wajah Sasya dari kaca spion nya, terlihat Sasya yang asyik meminum es boba nya, Anggara tersenyum melihat Sasya yang begitu cantik.


"Sya, andai saja aku berani mengungkap kan perasaan aku ke kamu, aku ingin bilang, kalau aku sangat suka pada mu, aku juga merasa bahagia ketika tadi, kamu bilang kamu adalah pacar aku, tapi aku gak berani bilang karena kamu dan aku jauh berbeda, kamu orang kaya sedangkan aku sederhana, tidak bisa di banding kan dengan diri mu"ucap di dalam hati Anggara.


Anggara sangat mencintai Sasya, namun karena perbedaan ekonomi nya, membuat diri Anggara menjadi tidak berani untuk mengungkap isi hati nya, dia suka dengan Sasya semenjak berkenalan dengan nya, sifat Sasya yang pemberani, tidak sombong, dan juga tidak manja terhadap orang tua nya mau pun teman di sekitar nya, itu lah yang membuat Anggara menyukai Sasya.


"Kita sudah sampai sya" ucap Anggara memberhenti kan sepeda motor nya di depan pagar depan rumah, karena pagar tertutup, Sasya turun dari sepeda motor lalu membuka kan pagar nya, dan Anggara masuk ke dalam perkarangan rumah.


"Kalian sudah selesai belanja nya?" tanya Indra yang sedang duduk di dekat pohon yang ada di depan rumah Anggara, yaitu tempat yang sering Anggara bersantai.


"Sudah ni, tadi kami tiba, kok kamu tidak membuka kan pagar sih ndra" kata Sasya.


"Sorry, tadi aku tidak mendengar suara motor Anggara, soal nya aku nyaman baring di sini, di sini sangat sejuk" jawab Indra.


"Aku masuk dulu ya sya, ndra, mau naruh belanjaan ke dalam kulkas, sini aku bawa sya belanjaan nya" kata Anggara yang sedang menjinjing sebagaian bungkusan belanjaan dia beli tadi, dan sebagian nya ada pada Sasya.


"Biar aku aja yang bawa gar, kamu duluan aja" kata Sasya sambil menjinjing bungkusan belanjaan.


"Baik lah, aku masuk duluan ya" Anggara berjalan masuk ke dalam rumah, dan Sasya masih di luar bersama Indra.


"Dulu kan kita emang sering duduk di sini ndra" kata Sasya pada Indra.


"Ia, tapi sekarang semakin sejuk, dan nyaman di sini"


"Ia ya" ucap Sasya merasakan kenyaman duduk di bawah pohon tersebut.


"Sudah lah, aku mau masuk, aku mau bawa ini ke dalam"ucap Sasya langsung berdiri.

__ADS_1


"Sini aku bawa, aku juga mau masuk ke dalam" kata Indra.


"Gak usah, biar aku aja" jawab Sasya langsung berjalan masuk ke dalam rumah, dan Indra juga berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti di belakang Sasya.


"Gar, ini taruh di mana?" tanya Sasya memperlihat kan belanjaan yang dia jinjing.


"Taruh di atas meja tu aja, mau aku susun ke dalam kulkas" jawab Anggara sedang menunduk di pintuk kulkas yang sudah terbuka, dia sedang membersih kan bagian dalam kulkas.


"Baik lah, mau aku bantu gak gar?" tanya Sasya menaruh belanjaan ke atas meja.


"Eemm, tolong masukin cabe dan bawang ke tempat itu aja" jawab Anggara menunjuk ke tempat cabe dan bawang yang sudah di persiap kan.


"Ok" Sasya dengan semangat nya dia membantu Anggara.


"Kalian sedang ngerjain apa?" tanya Indra yang baru datang dan menghampiri Anggara dan Sasya di dapur.


"Sedang berberes rumah" jawab Sasya.


"Aku bisa bantu apa ni?" tanya Indra.


"Bisa sih, dikit-dikit"


"Ya udah, kamu nyapu aja ya" kata Anggara.


"Biar aku aja yamg sapu gar, soal nya di kamar aku sering nyapu, emang sih tidak nyapu rumah, cuma nyapu kamar aja, tapi aku bisa kok nyapu" kata Sasya.


"Baik lah, kalau gitu, Indra aja yang pisahin makanan yang aku beli tadi ya" kata Anggara.


"Ok, yang di dalam bungkusan ini kan gar?" tanya Indra.


"Gak ndra, yang di pasar sana, ya ia lah yang di dalam bungkusan" jawab Anggara.


"Hahaha, kamu sih ndra, ada-ada aja, pertanyaan mu itu, sungguh tidak berguna sekali" ucap Sasya tertawa mendengar jawab Anggara.

__ADS_1


"Hehe, aku takut salah aja tadi, maka nya aku nanya gitu"


"Mana sapu nya gar?" tanya Sasya.


"Di belakang, begantung di dinding, kamu lihat aja di dinding, ada tu sapu nya" jawab Anggara.


Sasya berjalan ke dapur, dan mencari sapu yang di bilang Anggara.


"Di mana gar sapu nya, aku tidak melihat sapu nya" ucap Sasya dari belakang dapur yang berada di dapur.


"Di belakang pintu itu sya, ada ya?"


"Ada ni gar" Sasya menjijit kan kaki nya untuk mengeluar kan tali sapu yang di sangkut di paku, namun Sasya belum berhasil mengeluar kan nya, Anggara melihat Sasya yang sedang kesusahan, langsung berjalan menuju Sasya, di saat Anggara sudah dekat dengan Sasya, tiba-tiba kaki Sasya terkilir, Anggara langsung menyambut tubuh Sasya yang hampir jatuh ke lantai. Indra yang melihat itu juga langsung berlari menuju Anggara dan Sasya yang ada di pintu dapur.


"Aduuhh, gar, kaki ku sakit" ucap Sasya memegang kaki nya yang terkilir.


"Di mana yang sakit sya?" tanya Anggara.


"Di mana yang sakit sya?" tanya Indra juga langsung melihat ke kai Sasya.


"Di sini gar" jawab Sasya menunjukan bagian mana kaki nya yang sakit. Di saat Anggara ingin memeriksa kaki Sasya yang sakit, langsung di dahului dengan Indra. Anggara langsung memberhentikan tangan nya, dan tidak melanjutkan untuk memeriksa keadaan kaki Sasya.


"Di sini ya sya, sini aku lihat" kata Indra.


"Tidak apa ndra, ini tidak terlalu sakit kok" jawab Sasya.


"Aku gendong ya" kata Indra.


"Gak usah ndra, Anggara bisa kok gendong aku, ia kan gar?"ucap Sasya dan langsung melihat ke Anggara, namun Anggara menjadi tidak enak pada Indra.


"Indra juga bisa gendong kamu sya" jawab Anggara.


"Ya sudah lah, aku bisa jalan sendiri" kata Sasya dan mencoba untuk berdiri, namun dia tidak sanggup untuk berdiri sendiri.

__ADS_1


"Udah lah sya, jangan di paksa, gar, gendong aja Sasya nya, nanti kaki nya makin sakit" ucap Indra.


"Baik lah" Anggara langsung menggendong Sasya, wajah Sasya langsung berubah, dia menjadi senang ketika di gendong oleh Anggara dan berjalan menuju ke kamar Nenek, tetapi Indra yang berada di belakang Anggara, wajah nya menjadi berubah cemberut, dia merasa Sasya lebih memilih Anggara dari pada diri nya.


__ADS_2