Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang

Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang
Mendaftar ke Universitas


__ADS_3

"Baik lah nek, kalau gitu gara pulang dulu untuk mengambil uang ya, kita bayar dulu biaya rumah sakit ini" ucap Anggara


"Ia gara"


Anggara pergi meninggalkan Nenek di ruangan, pergi ke parkiran sepeda motor untuk mengambil sepeda motor nya, lalu pulang ke rumah.


Sesampai nya di rumah, dia langsung mengambil uang di tempat yang biasa Nenek simpan.


Lalu setelah itu dia kembali ke rumah sakit dan langsung membayar administrasi.


"Besok Nenek kamu sudah bisa pulang" ucap suster


"Syukur lah kalau gitu" mendengar itu Anggara sangat senang, dia pun langsung memberitahu nya pada Nenek.


Keesokan harinya.


Anggara dan Nenek kembali ke rumah nya, hanya saja Nenek tidak bisa beraktifitas seperti biasanya lagi, Nenek Anggara banyak menghabiskan waktunya di kamar untuk beristirahat, sedangkan Anggara sibuk mengurus Nenek nya, dari memberi Nenek makan, dan mengurus rumah. Anggara mendaftar kan diri nya ke Universitas di kota tempat dia tinggal, karena dia tidak mau pergi jauh dari Nenek nya, apa lagi dengan keadaan Nenek yang tidak bisa sehat seperti biasanya, Anggara memutuskan untuk mengambil jurusan IPA, karena dia sangat suka dengan alam, dia lebih senang bila belajar tentang alam, mempelajari para hewan dan binatang, tumbuhan, manusia dan masih banyak lagi. Tetapi saat Anggara mendaftar kan diri ke Universitas, tidak di sangka, Indra juga mendaftar di Universitas yang sama, karena sebelumnya Anggara memberitahu pada Indra bahwa dia tidak melanjutkan pendidikannya, hingga tidak ada mereka janjian mau masuk di Universitas yang sama.


"Anggara, bukankah itu Anggara" kata Indra ketika melihat Anggara yang sedang berada di Universitas itu, dan langsung menghampiri Anggara.


"Anggara, kamu di sini juga?" tanya Indra sambil memegang bahu Anggara yang sedang berdiri di depan ruang pendaftaran.


"Eh Indra, kamu di sini, kamu mendaftar di sini juga?" kata Anggara


"Ia, kamu ngapain di sini? kamu mendaftar juga?"


"Ia"


"Bukannya kamu bilang, kamu tidak melanjutkan pendidikan"

__ADS_1


"Sebenarnya waktu itu aku belum sama sekali memberitahu Nenek, kalau aku ingin melanjutkan pendidikan, karena aku pikir Nenek gak biaya"


"Terus, kenapa kamu bisa ada di sini?"


"Itu karena uang Ayah ku ada dengan Nenek, itu untuk biaya pendidikan aku"


"Oohh, ternyata begitu, bagus dong, jadi kita bisa satu Universitas lagi" ucap Indra sambil sumringah.


"Kamu ambil jurusan apa?"


"Aku mengambil jurusan IPA, yaa karena aku lebih suka IPA, kalau kamu?"


"Sama, aku juga ngambil jurusan IPA"jawab Anggara


" Bagus, jadi kita bisa bersama lagi, hehehe"ucap Indra.


Anggara dan Indra mendaftar di Universitas yang sama dan jurusan yang sama, mereka melewati tes tanpa hambatan, karena Anggara pintar begitu juga Indra. Di Universitas hanya mereka berdua yang memiliki nilai yang tinggi saat mendaftar, jadi mereka di letakkan di ruangan IPA 1, yaitu ruangan tempat berkumpulnya mahasiswa pintar. Di saat Anggara masuk ke ruangan itu, banyak wanita yang melirik ke arah nya, wanita terpesona dengan ketampanan Anggara, apa lagi dia juga pintar.


"Hay, apa kamu Anggara?" ucap salah satu mahasiswi dengan wajah yang penuh make up, dia cantik dan putih, tapi kecantikannya tidak bisa membuat hati Anggara luluh. Anggara hanya berdiam di saat mahasiswi itu bertanya.


"Kenapa kamu diam saja, aku bertanya pada mu" ucap mahasiswi itu.


"Dia tidak berbicara dengan siapapun, kecuali aku atau Dosen" jawab Indra yang sedang duduk di samping Anggara.


"Apa kamu temannya? "


"Tentu saja, kami sudah berteman sejak lama"


"Kalau begitu, kenal kan aku padanya"

__ADS_1


"Sudah lah, jangan ganggu Anggara, Anggara tidak suka di ganggu"


Mendengar itu, mahasiswi tersebut dengan wajah kesal langsung pergi, dia tidak berhasil mendapatkan perhatian dari Anggara, bukan hanya dia saja, masih banyak mahasiswi lainnya yang mencari perhatian Anggara, dia terkenal dengan ketampanan dan kepintarannya.


Dari awal dia masuk ke Universitas, dia sudah menarik perhatian banyak wanita, sifat dingin yang dia miliki masih ada, dia bersikap hangat hanya saat bersama Nenek, Indra dan Sasya saja.


Beberapa hari sudah Anggara kuliah, dia menjalani kuliah nya dengan sangat senang, tetapi dia menunggu kabar dari Sasya, dari Sasya pergi hingga saat ini belum ada kabar, bahkan tidak ada telepon dari nya.


"Apa kabar Sasya sekarang?apa dia baik-baik saja di sana?kenapa dia tidak mengabari ku hingga saat ini?aku menantikan kabar dari nya, apa aku telepon aja dia, tapi aku takut jika itu mengganggu, bagaimana jika aku mengganggu dia nanti nya, ya sudah lah, aku tunggu aja kabar dari nya" ucap Anggara saat sedang duduk di bawah pohon depan rumah nya sambil berbaring dan menatap bintang di langit.


Handphone di samping nya tiba-tiba bergetar, ada pesan singkat masuk, Anggara langsung melihat nya, dan ternyata itu dari Sasya.


(Anggara, apa kabar kamu? maaf jika aku baru mengabari mu, aku tidak sempat untuk menganari mu sebelumnua, karena urusan aku di Inggris sangat banyak, aku haru mendaftar dan mengikuti segala ujian agar bisa masuk ke Universitas yang Ayah aku ingin kan)


"Ini pesan dari Sasya, aku baru saja memikirkannya, eeh dia akhir nya mengabari ku juga" ucap Anggara tersenyum bahagia melihat pesan dari Sasya. Lalu Anggara pun membalasnya


(Kabar ku baik sya, bagaiman kabar mu? tidak apa sya, yang penting kamu baik-baik aja di sana, oia aku mau bilang, aku mendaftar ke Universitas di sini, aku melanjutkan pendidikan karena uang dari Ayah ku ada sama Nenek, dan aku satu Universitas dengan Indra)


(Kabar ku baik, itu kabar baik gara , aku ikut senang jika kamu bisa melanjutkan pendidikan mu, kenapa kamu tidak mendaftar ke Universitas yang lebih baik, kamu kan pintar)


(Aku tidak bisa meninggalkan Nenek ku di sini sendirian, dia sedang sakit, dia bakalan lama untuk sehat seperti biasa)


(Baik lah gara, semoga Nenek mu cepat sehat ya, sudah dulu ya gara, aku mau belajar, nanti Papa ku marah jika aku main handphone terus)


(Ia sya, kamu hati-hati ya di sana)


(Ia gara, kamu juga ya)


Pesan singkat mereka berakhir begitu cepat, sudah lama mereka tidak berkomunikasi, tetapi mau bagaimana pun Sasya harus menuruti Papa nya.

__ADS_1


"Aku senang jika Sasya baik-baik aja di sana, entah kapan aku bisa bertemu dengan nya lagi" ucap Anggara menatap pesan singkat dari Sasya.


__ADS_2