Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang

Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang
Di kejar orang suruhan Tante Anggara


__ADS_3

"Ayo kita pulang" ucap Sasya.


"Ia" jawab Anggara, Anggara naik ke atas motor nya, sedangkan Indra kembali ke sepeda motor dan mereka mengeluarkan sepeda motor dari parkiran.


"Ayo naik sya" ucap Anggara pada Sasya.


Indra melihat Sasya naik ke atas sepeda motor Anggar seperti sedang tidak rela, melihat Sasya boncengan dengan Anggara, tampak dari tatapan mata Indra pada saat Sasya naik.


"Udah sya?" tanya Anggara.


"Ia udah gar"


"Ndra aku dan Sasya duluan ya, kita kan beda arah" ucap Anggara pada Indra yang sedang duduk di atas sepeda motor di belakang Anggara.


"Ia, duluan lah gar"


Anggara langsung menancap gas sepeda motor nya dengan perlahan, Sasya pun dengan cepat memeluk Anggara dari belakang, Indra melihat itu langsung tampak kesal pada Sasya dan Anggara.


Di perjalanan pulang, Sasya dan Anggara saling mengobrol, saling tertawa bersama, dan tampak Sasya dan Anggara bahagia ketika bersama, beda di saat Sasya bersama Indra, tidak sebahagia saat dia bersama Anggara.


Ketika sedang asyik mengobrol, tiba-tiba sepeda motor Anggara di serempet oleh mobil.


"Gara" teriak Sasya karena dia terkejut. Anggara langsung memberhentikan sepeda motor nya di tepi jalan, mobil yang menyerempet nya pun memberhentikan mobil nya tepat di depan Anggara.


"Sya, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Anggara.


"Tidak apa-apa gar"


Anggara mendekati mobil tersebut, mobil itu berwarna merah, lalu Anggara mengetuk pintu mobil tersebut, dengan perlahan kaca mobil di buka.

__ADS_1


"Tante" ucap Anggara melihat Tante nya lah yang ada di dalam mobil.


"Tante mau ngomong sama kamu" jawab Tante nya sambil membuka pintu mobil, dan dia keluar dari dalam mobil.


"Ada apa Tante? mau ngomong apa?" tanya Anggara.


"Kamu jujur sama Tante, surat rumah itu di mana kamu sembunyi kan?"


"Aku tidak ada menyembunyikan surat rumah itu tan, aku sudah jujur, mau jujur bagaimana lagi"


Sasya yang sedang berdiri di dekat sepeda motor Anggara melihat Anggara sedang ngobrol bersama Tante nya di samping mobil.


"Kamu jangan bohong!" ucap Tante Anggara dengan nada tinggi.


"Terserah Tante mau bagaimana, yanga jelas aku tidak menyembunyikan surat rumah itu" jawab Anggara dengan tegas.


"Tante! apa-apaan ini" ucap Anggara marah.


"Anggara" kata Sasya langsung menghampiri Anggara karena melihat Anggara yang sedang di usik.


"Sya, kamu jangan ke sini, kamu tunggu aja di sana" ucap Anggara pada Sasya.


"Heh perempuan, kamu jangan coba-coba ikut campur ya, mending kamu pergi dari sini" ucap Tante Anggara pada Sasya.


"Sya, kamu tunggu aja di sana, kamu tenang, aku tidak akan kenapa-napa, kamu percaya kan sama aku" ucap Anggara menatap mata Sasya.


"Baik lah gar, aku tunggu kamu di motor" Sasya kembali berjalan menuju sepeda motor yang sedang terparkir di tepi jalan.


"Aku tanya lagi sekali sama kamu, di mana kamu sembunyikan surat rumah itu, serta buku tabungan Ibu aku" kata Tante sambil berdiri di depan Anggara. Tentu saja Anggara tidak akan menjawab nya.

__ADS_1


"Tante cari sampai ke ujung duni pun, tidak akan menemukan nya, aku tidak menyembunyikan apa yang Tante cari itu"


"Kalau kamu masih tidak mau mengaku, aku tidak segan-segan untuk menyuruh orang-orang ku memukuli mu, mending sekarang kamu kasih tau aku, di mana surat rumah dan buku tabungan Ibu aku"


"Aku tidak akan menjawab apa yang Tante tanya kan itu"


"Ooh, kamu masih berani ya, pukul dia" perintah Tante nya pada orang suruhan dia.


Orang suruhan nya yang lain datang menghampiri Anggara, berdiri di depan Anggara, dan tiba-tiba dia langsung memukul di bagian perut Anggara, tentu saja Anggara langsung tertunduk karena sakit, Sasya yang melihat itu langsung terkejut, tapi Sasya tidak tau harus berbuat apa, dia tidak akan bisa menolong Anggara jika mendekati Anggara saat itu.


Tiga kali orang suruhan Tante nya memukul Anggara di bagian perut, sedikit darah keluar dari mulut Anggara.


"Hei, sekarang kamu kasih tau aku cepat, di mana kamu sembunyi kan surat dan buku tabungan Ibu aku?"


Anggara hanya tersenyum pada Tante nya, dengan darah yang ada di bibir nya, tatapan nya pada Tante itu seperti orang yang tidak memperdulikan pertanyaan Tante nya.


"Berani nya kamu tersenyum seperti itu, cepat habisi dia" ucap Tante nya.


Dengan posisi tangan Anggara yang masih di genggam erat di belakang nya, dengan mudah orang yang berdiri di depan nya memukul di bagian pipi Anggara, rasa sabar Anggara pun habis, dengan sigap Anggara memutar badan dan menarik tangan nya dari genggaman orang itu dengan tenaga nya, dan Anggara langsung memukul balik ke dua orang itu, yang satu dia pukul di bagian perut, dan yang satu nya dia tendang di bagian kaki, orang itu membalas dengan ingin memukul di wajah Anggara, Anggara langsung mengelak kan wajah nya, agar tidak terkena pukulan. Sasya menyaksikan Anggara berkelahi dengan dua orang lelaki suruhan Tante Anggara. Ketika Anggara punya celah untuk lari, Anggara langsung mengambil kesempatan itu, dan menarik tangan Sasya untuk lari dari tempat itu, orang suruhan Tante nya mengejar Anggara dan Sasya, malam itu di tempat kejadian, sangat lah sepi, tidak banyak orang yang ada di tempat itu.


"Ayo lari sya, kita harus bisa menghindar dari mereka" ucap Anggara sambil menarik tangan Sasya.


"Ia gar" Sasya pun berusaha lari sekencang mungkin.


Dengan cepat Anggara mengeluar kekuatan tembus pandang nya, untuk mencari tempat persembunyian yang aman. Akhir nya Anggara menemukan tempat persembunyian yang aman, mereka bersembunyi di balik dinding rumah orang yang ada tumpukan jerami di balik dinding tersebut, Anggara melihat dari kejauhan bahwa di situ ada tumpukan jerami yang bisa di jadikan tempat persembunyian agar mereka tidak terlihat oleh dua orang suruhan Tante nya itu.


"Gar, apa mereka akan melihat kita?" tanya Sasya ketika bersembungi bersama Anggara.


"Tenang aja sya, kita aman kok di sini" jawab Anggara, saat itu mata Anggara masih berwarna ungu menandakan kekuatan tembus pandang nya masih ada, Sasya melihat warna mata Anggara yang berubah, tentu saja Sasya menjadi bertanya-tanya dalam benak nya. Kekuatan tembus pandang Anggara hanya bisa untuk melihat benda tidak hidup, tidak berarti untuk benda hidup, seperti manusia, dan binatang.

__ADS_1


__ADS_2