Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang

Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang
Perasaan mereka


__ADS_3

"Gar, warna mata kamu kenapa berubah?"tanya Sasya.


"Kamu ingat kan yang aku ceritain sebelum nya, kalau aku bisa tembus pandang"


"Ia ingat gar"


"Nah, jika warna mata ku berubah, berarti aku sedang menggunakan kekuatan tembus pandang ku, sekarang aku sedang menggunakan nya"


"Haa, tembus pandang" Sasya terkejut dan langsung menutupi tubuh nya dengan tangan, dia mengira bahwa Anggara bisa melihat tubuh nya dengan kekuatan tembus pandang.


"Kamu kenapa sya?" tanya Anggara heran.


"Kalau kamu sedang menggunakan kekuatan tembus pandang mu, berarti, kamu bisa lihat tubuh ku dong" jawab Sasya panik.


"Hahaha, Sasya, aku gak ada bilang kekuatan tembus pandang ku bisa melihat tubuh manusia, kamu tenang aja, aku hanya bisa melihat benda mati, bukan benda hidup seperti hewan dan manusia, kamu percaya kan sama aku? aku tidak bisa melihat seperti apa yang kamu pikir kan sekarang"


"Bener ni gar?" Sasya melepaskan tangan dari tubuh nya.


"Ia sya, aku beneran kok"


"Ya udah, aku percaya, sekarang apa kamu bisa lihat di mana orang yang mengejar kita tadi?"


"Eemm, sebentar, aku lihat sekeliling dulu"


Anggara melirik kan mata nya ke sekeliling dan tentu nya dia bisa melihat dari balik jerami saja karena dia bisa menembus pandangan nya dari jerami dan dinding rumah.


"Mereka tidak ada lagi sya, kita bisa keluar sekarang" ucap Anggara dan mengembalikan mata nya kembali normal.


"Mata kamu kembali seperti semula lagi gar, jadi kamu sedang tidak menggunakan kekuatan tembus pandang mu lagi dong"

__ADS_1


"Ia sya, aku menggunakan nya jika aku perlu saja"


Sasya berdiri begitu pun juga Anggara, karena mereka sebelum nya jongkok di balik jerami, saat Sasya ingin berjalan keluar, kaki nya tersangkut tali yang mengikat jerami tersebut, Anggara pun dengan sigap menahan tubuh Sasya yang ingin terjatuh dengan memeluk pinggang Sasya, dan mereka bertatapan mata saat itu, Sasya menatap mata Anggara dengan romantis begitu pun juga dengan Anggara, keadaan saat itu mereka saling menatap mata dengan cinta yang mereka rasakan, wajah Sasya memerah, dan mata nya tidak berhenti menatap mata Anggara.


"Aah maaf gar" ucap Sasya dan langsung berdiri tegap dengan wajah malu-malu.


"Kamu hati-hati sya, hampir saja tadi jatuh" jawab Anggara melepas kan pegangan nya.


"Ia gar, terimakasih ya"


"Ayo kita pergi sekarang"


"Ia gar"


Anggara dan Sasya pun keluar dari tempat persembunyian mereka, berjalan kaki menuju sepeda motor yang dia parkir kan tadi, untung nya kunci sepeda motor Anggara dia bawa.


"Gar, tadi itu tante kamu kan, kenapa dia seperti itu dengan keponakannya sendiri"


"Ya ampun gar, Tante kamu jahat banget sih, sama Ibu nya sendiri dia tidak ingat"


"Ya begitu lah sya, maka nya aku tidak suka dengan nya, dia hanya mau harta Nenek aja, maka dari itu, aku berbohong dengan dia sya, aku tidak mau rumah yang selama ini Nenek jaga dia jual"


"Ia gar, aku yakin Nenek juga tidak mau memberikan rumah nya pada dia"


Sambil berjalan menuju sepeda motor terpakir mereka saling mengobrol dan tidak sadar hari sudah semakin larut malam.


"Aduh gar, Papa ku dari tadi nelpon ternyata, handphon ku, ku silent tadi, jadi tidak tau deh kalau ada yang nelpon" ucap Sasya melihat handphone nya ada panggilan tidak terjawab dari Papa Sasya.


"Kamu telpon aja dulu sya, bilang kita lagi di jalan mau pulang"

__ADS_1


"Ia gar"


Sasya pun menelpon Papa nya dan memberi tahu kan bahwa dia sedang dalam perjalanan pulang.


"Gimana sya?"


"Papa ku khawatir aja gar, kenapa aku jam segini belum pulang, tapi tadi setelah aku bilang lagi di jalan, Papa tidak khawatir lagi"


"Bagus lah kalau gitu, ayo kita pulang" ucap Anggara naik ke atas sepeda motor nya karena mereka telah tiba di mana sepeda motor yang Anggara parkir kan.


"Ayo naik sya, aku haru segera antar kamu pulang" ucap Anggara karena Sasya masih berdiri.


"Ia gar" Sasya pun langsung duduk di atas sepeda motor Anggara, Anggara pun langsung mengantar kan Sasya pulang ke rumah nya dengan selamat.


"Terimakasih ya gar, sudah antar aku pulang" ucap Sasya yang sedang berdiri di samping Anggara tepat di depan rumah nya, sedangkan Anggara masih duduk di sepeda motor milik nya.


"Sama-sama sya, soal tadi aku minta maaf ya, gara-gara Tante aku, kamu jadi di kejar juga"


"Tidak apa kok gar, oia kamu nggak masuk dulu?"


"Nggak deh sya, aku langsung pulang aja, nggak enak udah malam begini"


"Baik lah gar, kamu hati-hati di jalan ya"


"Ia sya" Anggara pun pulang ke rumah nya, setelah mengantar kan Sasya pulang.


Setiba nya di rumah, Anggara langsung memasukan sepeda motor ke dalam rumah nya agar lebih aman.


Masuk ke dalam kamar dan berbaring di atas ranjang nya.

__ADS_1


"Sasya cantik banget di lihat dari dekat tadi, aku deg-deg an banget, baru pertama kali nya aku merasa gugup gini terhadap cewek, Sasya yang cantik, baik, tegas, mandiri, tidak terlalu menyombong kan diri juga, dia sangat sempurna, tidak mungkin aku bisa memiliki nya, dia kaya, jelas orang tua nya akan mencari kan pendamping hidup nya yang setara dengan dia nanti, aku siapa lah, hanya seorang yang tidak memiliki keluarga, aku juga tidak kaya, uang yang aku miliki hanya untuk kebutuhan kuliah ku, setelah aku lulus dari. kuliah, aku akan mencari pekerjaan yang sesuai, Indra juga mencintai Sasya, aku tidak mungkin bersaing dengan sahabat ku sendiri, Indra selalu ada di saat aku susah mau senang, hanya dia teman yang baik buat ku, ya sudah lah, aku juga belum tau hati Sasya berada di mana, lebih baik aku tidur sekarang"ucap Anggara sambil membayang kan wajah Sasya, di saat bersamaan Sasya yang sedang terbaring di atas kasur nya juga sedang menghayal.


"Anggara, dia tampan, baik, bijaksana, arogan, pendiam, aku sangat suka pada nya, aku ingin sekali selalu berada di dekat nya, apa lagi saat tadi, aaaaa aku jadi ingin memeluk diri nya, andai saja Anggara juga menyukai ku, aku akan mencintai nya seumur hidup ku, tanpa alasan, aku akan terima dia apa adanya, aku ingin selalu berada di sisi nya saat dia susah, sedih, mau pun bahagia, andai saja itu semua bisa terwujud"ucap Sasya.


__ADS_2