
"Anggara, jelasin apa benar yang di katakan Zidan?"
"Tidak pak, saya tidak akan mengakui perbuatan yang tidak pernah saya lakukan"jawab Anggara dengan wajah yang tenang.
" Kamu jangan tidak mengakui nya Anggara! kamu lihat ini, wajah saya, kamu yang melakukan nya pagi tadi, kamu tidak bisa mengelak lagi"ucap Zidan dengan nada tinggi.
"Bagaimana Anggara, kamu masih tidak mau mengaku juga? kamu akan di skor dengan perbuatan mu ini, di kampus kita di larang untuk berkelahi, apa lagi menyebab kan wajah memar seperti ini"
"Kamu ngaku aja deh, sudah ada bukti tapi masih mau mengelak juga"
"Gini aja pak, jika saya bisa membukti kan bukan saya yang melakukan nya, saya tidak akan di skot kan?" ucap Anggara dengan yakin.
"Tentu saja, kamu juga tidak akan di kenakan tuduhan ini, jika kamu bisa membuktikan nya"
"Mau membukti kan gimana lagi sih, jelas-jelas bukti sudah ada di depan mata, masih mau mengelak juga, Bapak lihat sendiri kan, wajah saya memar begini" ucap Zidan.
"Ia Bapak tau, tapi jika bukan Anggara yang melakukan nya, kamu bisa di kenakan hukuman Zidan, jadi biar kan Anggara mencari bukti nya, jika memang dia yang melakukan, kamu tidak perlu takut kan" tegas Dosen Bambang, dia terkenal dengan Dosen yang baik hati, tegas, pinta, dan adil terhadap mahasiswa nya.
"Baik lah pak"ucap Zidan.
" Kalau begitu kalian bisa pergi, Anggara, kamu harus memberikan bukti nya pada saya tiga hari lagi ya, saya beri kamu waktu tiga hari"
"Baik pak"
Anggara dan Zidan keluar dari ruangan Dosen Bambang.
Dengan wajah tenang, Anggara berjalan mendahului Zidan, karena Anggara tau bahwa Zidan sengaja melakukan ini agar bisa memfitnah diri nya.
Setibanya di dalam ruangan, Indra langsung bertanya pada Anggara.
"Kenapa kamu tiba-tiba di panggil sama Dosen Bambang ngga?"
"Kita duduk dulu, nanti aku ceritain" ucap Angga dan berjalan menuju kursi tempat duduk nya tepat di dekat jendela.
"Ceritain lah ngga, kenapa kamu di panggil ke ruangan Dosen Bambang"
"Aku di tuduh memukuli Zidan".
__ADS_1
Saat sedang berbicara, Zidan masuk ke dalam ruangan dengan wajah memar nya, semua mahasiswa yang ada di dalam ruangan menjadi tercengang melihat wajah Zidan, ada mahasiswi yang langsung bersimpati terhadap Zidan.
" Kamu kenapa Zidan? wajah mu kenapa memar begini"ucap mahasiswi itu sambil memegang wajah Zidan, Zidan tidak memperdulikan nya dan langsung duduk di dekat teman-teman nya.
"Ada apa dengan wajah Zidan, kenapa bisa memar begitu" ucap Indra yang sedang melihati Zidan.
"Itu lah, aku di tuduh memukuki wajah nya, jadi pak Bambang memanggil ku, untuk menanyai soal itu"
"Bukan nya pagi tadi di ruangan wajah nya baik-baik aja"
"Itu masalah nya, tiba-tiba aja ada aduan seperti itu, tentu aja aku tak mau ngaku, kan bukan aku yang melakukan nya"
"Terus, bagaimana? apa Zidan di marahi karena memfitnah mu?"
"Aku tidak punya bukti, jadi pak Bambang memberi ku waktu tiga hari untuk mencari bukti, kalau nggak, aku di skor"
"Aku bisa jadi saksi nya, pagi tadi kan aku bersama mu"
"Kalau cuma kamu saksi nya tidak cukup ndra, pasti nanti dia bilang kalau aku menyuruh kamu berpura-pura"
"Tapi kan semua mahasiswa di ruangan ini melihat, kalau pagi tadi wajah nya baik-baik aja, tidak ada yang memar sama sekali, waktu sebelum makan siang kan wajah nya masih baik-baik aja"
"Kamu benar gara, jadi gimana dong, bagaimana kita cari bukti nya"
"Nanti aku pikirin cara nya, masih ada waktu tiga hari"
"Bagaimana cara ku mencari bukti nya, eemm, setau aku, di parkiran ada CCTV, aku bisa tanya sama pak satpam yang menjaga CCTV itu, mungkin bisa di jadi kan bukti nya kan" ucap di dalam hati Anggara.
"Indra, di parkiran kampus kita ada CCTV kan?"
"Ia ngga, emang kenapa?"
"Nanti temani aku nemui pak satpam yang menjaga CCTV ya, mana tau bisa di jadikan bukti"
"Kamu benar gara, pulang nanti kita ke sana"
Jam pulang
__ADS_1
"Ayok gara, kita haru ke ruangan satpam, agar kita bisa mendapatkan hasil CCTV itu" ucap Indra menggesak Anggara yang sedang mengemas kan buku-buku nya ke dalam tas.
"Ia sabar ndra, aku beresin ini dulu"
"Kalian kenapa terburu-buru gitu?" tanya Raisa yang datang mendekati Anggara dan Indra.
"Hehehe, tidak ada apa-apa sa, kami hanya mau ngerjalan tugas" jawab Indra, Anggara tidak berbicara sepatah kata pun pada Raisa, dan hanya acuh pada nya.
"Ayok ndra, kita pergi" ucap Anggara menggendong tas nya di punggung.
"Ia gara".
Anggara dan Indra pergi keluar dari kampus, sedangkan Zidan masih berada di dalam ruangan nya itu, dan menyaksikan Anggara dan Indra yang pergi dengan terburu-buru.
Setibanya di ruangan satpam yang menjaga rekaman CCTV, Anggara langsung menanyai pak satpam di ruangan itu.
"Pak, saya boleh nanya soal rekaman CCTV nggak pak?" tanya Anggara.
"Maaf dek, saya di larang memberikan informasi tentang rekaman CCTV"jawab pak satpam.
" Tapi pak, ini penting, kami hanya ingin tau rekaman CCTV yang ada di parkiran aja kok pak"ucap Indra.
"Memang nya ada apa dek?"
"Ceritanya panjang pak, bisa gak pak, kami mau cepat ni pak" ucap Indra.
"Baik lah, Bapak cek dulu ya" ucap pak satpam, dan mengecek rekaman CCTV di layar komputer.
Siapa sangka, CCTV di perkiran ternyata sedang rusak, Anggara dan Indra tidak mendapat kan bukti apapun dari CCTV tersebut.
"Waduh, maaf dek, ternyata CCTV di parkiran sedang rusak"
"Yaaa, gimana dong gara, CCTV nya rusak, kita tidak bisa mendapat kan informasi nya" ucap Indra dengan panik.
"Sudah lah ndra, sebaik nya kita pergi ngerjakan tugas sekarang, urusan bukti itu, aku bisa cari sendiri, kamu jangan panik gitu dong" ucap Anggara dengan wajah tenang, bahkan yang panik Indra bukan nya Anggara.
"Kamu kok tenang-tenang aja gara, aku yang panik karena kamu di tuduh seperti itu, jika kita tidak mendapat kan bukti nya, kamu bakalan di skor, nanti gimana dengan nilai kamu" ucap Indra. Anggara dan Indra berdiri di depan ruangan satpam tadi.
__ADS_1
"Kamu ke sini dulu, nanti kita akan mendapat kan bukti nya" ucap Anggara.
"Bukti apa gara? di mana kita mendapat kan bukti nya?"