Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang

Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang
Nenek tiada


__ADS_3

"Kita udah sampai ni, kamu yang pesan apa aku aja yang pesan" tanya Anggara pada Sasya di parkiran.


"Kita berdua aja masuk ke dalam" jawab Sasya.


"Baik lah"


Anggara dan Sasya berjalan masuk ke dalam toko yang menjual nasi ayam geprek, lalu mereka memesan nasi ayam geprek serta minuman, dan mereka menunggu pesanan nya selesai.


Selesai mereka berbelanja, mereka pun pulang ke rumah.


"Kami sudah pulang" ucap Sasya ketika masuk ke dalam rumah, Indra menonton televisi sambil menunggu Anggara dan Sasya pulang.


"Lama banget kalian, aku sudah laper ni" kata Indra.


"Sorry, tadi ban motor Anggara bocor, jadi harus cari tambal ban dulu" jawab Sasya sambil menarok makanan di atas meja.


"Aku ambil piring dulu ya" ucap Anggara langsung ke dapur mengambil piring lalu di bawa ke depan televisi dan di letak kan di atas meja.


"Nenek, tadi ada bangun ya ndra?" tanya Anggara duduk di kursi.


"Tidak tau gar, soal nya dari tadi gak ada suara Nenek meminta sesuatu, mungkin masih tidur" jawab Indra.


"Ia lah"


"Ayo kita makan, aku udah laper" ucap Indra.


"Ia ia"


Anggara, Sasya dan Indra segera makan, sambilan menonton televisi.


"Aku aja yang cuci piring nya gar" ucap Tania pada Anggara yang hendak membawa piring kotor karena mereka sudah selesai makan.


"Tidak apa sya, aku aja yang cuci piring" kata Anggara.

__ADS_1


"Tidak apa gara, aku aja yang cuci piring, kamu siap kan aja makan buat Nenek" ucap Sasya.


"Baik lah sya"


Sasya membawa piring kotor ke tempat pencuci piring, dan Anggara menyiap kan makan buat Nenek, yaitu bubur serta ikan goreng yang sudah dia masak pagi tadi.


"Nek, ni gara bawa kan bubur, Nenek ayok makan dulu"ucap Anggara membangun kan Nenek yang masih tidur. Tapi Nenek belum juga bangun.


"Kenapa Nenek belum bangun juga ya, nek" Anggara mencoba menggoyang kan sedikit badan Nenek, agar Nenek bangun, namun Nenek tetap tidak bangun, hal itu membuat Anggara khawatir, dan Anggara mencoba menggoyangkan badan Nenek lebih kuat, tetapi Nenek tetap belum terbangun.


"Nenek kenapa tidak bangun juga" pikiran Anggara mulai kacau, dan dia memberanikan diri untuk memeriksa nafas Nenek, dengan perlahan jari nya bergerak ke arah hidung. Terkejut nya nafas Nenek tidak terasa oleh jari Anggara, semakin membuat jantung Anggara berdegup kencang karena gugup sesuatu terjadi pada Nenek.


"Nafas Nenek tidak terasa, Nenek tidak mungkin pergi kan" Anggara mencoba lagi merasakan nafas Nenek, tetap saja hembusan nafas Nenek tidak terasa. Anggara dengan langsung menggoyangkan badan Nenek dengan kencang nya agar Nenek terbangun.


"Nek, bangun nek, Nenek, banguuunnn" ucap Anggara sambil meneteskan air mata nya.


"Nenek tidak mungkin pergi meninggalkan Anggara kan nek, Nenek harus bangun" ucap Anggara menggoyangkan tubuh Nenek, namun bagaimana pun usaha Anggara membangun kan Nenek, tetap saja Nenek tidak terbangun.


Suara Anggara terdengar oleh Sasya dan Indra.


"Aku juga tidak tau, ayo kita lihat ke kamar" jawab Indra langsung berdiri dari duduk nya dan. pergi ke kamar Nenek bersama Sasya.


"Ada apa gar?" tanya Sasya ketika masuk ke kamar Nenek, dan melihat Anggara sedang menunduk kan kepala nya ke tubuh Nenek.


"Gara, kamu kenapa?" tanya Sasya lagi sambil menyentuh bahu Anggar.


"Sya, Nenek sya" jawab Anggara menegakkan kepala nya, dan air mata menetes di pipi.


"Kenapa dengan Nenek gar? kenapa kamu menangis?"tanya Sasya.


"Gara, Nenek kenapa?"tanya Indra.


"Nenek tidak bernafas sya, ada apa dengan Nenek" ucap Anggara.

__ADS_1


Mendengar itu Sasya langsung meletakan jari telunjuk nya ke hidung Nenek, namun Sasya juga tidak merasakan hembusan nafas Nenek, seketika air mata Sasya juga menetes di pipi nya, mata memerah, dan berkata.


"Anggara, Nenek sudah tiada" ucap Sasya dengan suara tersedu.


"Tidak mungkin sya, mungkin Nenek masih tidur, tadi Nenek baik-baik aja" ucap Anggara tidak menerima jika Nenek sudah tiada.


"Gara, kamu yang tabah ya, kamu harus bisa melepas kan Nenek" ucap Indra menenang kan Anggara.


"Ndra, tadi Nenek baik-baik aja kan, kenapa sekarang Nenek tinggal kan aku" kata Anggara dengan suara sedih.


"Kami juga bersedih dengan kepergian Nenek gara, tapi kamu haru bisa mengiklas kan Nenek, agar Nenek bisa tenang di sana" kata Sasya.


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang sya, aku hanya memiliki Nenek sebagai keluarga ku, jika Nenek juga pergi meninggal kan ku, tidak ada lagi yang aku miliki di dunia ini"


"Kamu masih ada kami gar, kami selalu ada untuk mu" ucap Indra.


"Ia gar, apa kamu lupa, kehadiran kami di sisi kamu saat ini"


"Terimakasih ya sya, ndra" ucap Anggara.


Di malam itu Nenek tiada, meninggalkan Anggara sebatang kara, tanpa menyebut kan apa pun, Nenek pergi dengan tenang, walau berat hati Anggara menerima kepergian Nenek, tapi itu lah yang harus dia lakukan, harus bisa menerima kepergian Nenek, Indra dan Sasya memberi tahu ke pada tetangga Anggara bahwa Nenek sudah tiada, dan meminta bantu untuk menjaga mayat Nenek menjelang besok. Esok hari nya, Nenek di makam kan, Anggara menahan air mata nya dan melihat Nenek di kubur kan di depan mata nya sendiri, namun di selang Nenek di kubur kan, tiba-tiba ada dua orang wanita dan laki-laki datang ke pemakaman Nenek menggunakan mobil, mereka turun dari mobil dengan pakaian hitam, berjalan mendekati pemakaman Nenek.


"Tante" ucap Anggara melihat wanita itu, ternyata dia adalah Tante Anggara dan suami nya, dia anak kedua dari Nenek, yaitu Adik dari Ayah Anggara, dia sudah lama tidak datang ke rumah Nenek, semenjak Ayah Anggara meninggal hingga Nenek pun meninggal.


"Kenapa Ibu aku bisa meninggal Anggara?" tanya nya pada Anggara dengan wajah bersedih.


"Nenek sakit" jawab Anggara dengan cetus, Anggara tau watak dari Tante nya itu, dia sangat licik, kedatangan dia di hari itu tidak lain tujuan nya adalah warisan dari Nenek, karena dia tau, Nenek memiliki banyak tabungan. Dia menangis dan berkata di pemakaman.


"Ibu, kenapa Ibu tinggal kan aku secepat ini, aku ingin bersama Ibu" ucap Tante Anggara itu.


Anggara tidak memperdulikan Tante nya, karena Anggara sudah dari dulu tidak menyukai dia.


Selesai pemakaman dan baca doa, Anggara, Indra dan Sasya pulang ke rumah, dan Tante nya juga pulang ke rumah Anggara.

__ADS_1


"Anggara, kedatangan aku ke sini, ingin mengambil rumah ini, dan tabungan Ibu aku" ucap nya pada Anggara yang baru saja tiba di rumah dan baru saja duduk di kursi, mendengar itu, Sasya dan Indra menjadi jengkel, karena baru saja Nenek tiada dia sudah meminta rumah serta tabungan Nenek.


__ADS_2