
"Gar, kamu kenapa diam aja dari tadi?" tanya Indra, karena melihat Anggara yang termenung sambil melihat ke arah luar jendela.
"Gak ada apa-apa ndra" jawab Anggara tersenyum.
Selesai sudah jam pelajaran, waktu nya para mahasiswa pulang, karena hari itu para Dosen ingin pergi rapat, jadi jam pulang di percepat.
"Sya, kamu di jemput sama supir kamu ya?" tanya Anggara.
"Ia gar, tadi aku sudah bilang buat jemput"
"Kalau mau aku antar juga gak apa-apa sya" kata Indra, saat itu mereka sedang bersiap-siap mau pulang.
"Gak apa ndra, aku sudah bilang untuk jemput aku, mungkin supir aku sudah dalam perjalanan"
"Ayo aku bantu kamu berjalan" ucap Indra ketika Sasya hendak berdiri, Sasya belum menjawab apapun Indra langsung memegang tangan Sasya dan membantu Sasya berdiri dari kursi nya, terlihat di wajah Anggara sedang cemburu melihat Indra memegang tangan Sasya.
"Kenapa dengan diri ku, mereka kan sudah sering berpegang tangan seperti itu, dan Indra juga sedang membantu Sasya berjalan, tapi kenapa? kenapa rasa nya dada ku sesak, dan terasa aku tidak bisa mengontrol diri untuk tidak cemburu pada mereka" ucap di dalam hati Anggara.
"Ayo gar, kita pergi" ucap Sasya.
"Ia sya"
Indra dan Sasya berjalan di depan Anggara, dan Anggara berjalan di belakang mereka sambil melihat mereka berdua.
Terlihat di mata Anggara yang sedang sedih melihat kedekatan Indra dan Sasya di saat Indra yang sedang memopong Sasya. Setiba nya di depan kampus, Anggara, Indra dan Sasya duduk di kursi sambil nunggu supir Sasya menjemput nya.
"Belum ada supir kamu menjemput sya, atau saya antar aja kamu" kata Indra yang sedang duduk di samping Sasya, sedang Anggara duduk di samping Indra.
__ADS_1
"Ia sya, atau nggak Indra aja yang antar kamu pulang " kata Anggara.
"Tidak apa lah gar, ndra, aku nunggu supir ku aja" jawab Sasya.
"Ya udah kalau kamu mau nya gitu sya" kata Indra.
Tak lama kemudian supir Sasya pun datang.
"Itu mobil ku gar, aku pulang dulu ya" ucap Sasya.
"Ia sya, biar aku bantu kamu ke mobil" kata Indra berdiri di depan Sasya, namun mata Sasya melihat ke Anggara, tetapi Anggara hanya nunduk, tidak melihat ke arah Sasya.
"Terimakasih ndra" ucap Sasya dengan wajah yang tidak terlalu bahagia.
Indra pun membantu Sasya berdiri, dan membantu Sasya berjalan menuju mobil nya, Anggara hanya melihat dari tempat dia duduk, dengan tatapan yang tidak rela dan sedih.
Setelah Indra mengantar Sasya ke mobil, Indra pun mengajak Anggara pulang.
"Ia ndra" Anggara berjalan menuju parkiran bersama Indra.
Di parkiran Anggara mengeluarkan sepeda motor nya begitu pun juga dengan Indra, lalu mereka menghidup kan sepeda motor masing-masing.
"Gar, ayo pulang samaan" ucap Indra.
"Duluan lah ndra, aku ada urusan di tempat lain" jawab Anggara.
"Ya udah, aku duluan ya gar"
__ADS_1
"Ia, hati-hati ndra"
Indra pergi terlebih dahulu, dan Anggara masih berada di parkiran, setelah Indra pergi, Anggara pun menarik gas sepeda motor nya, lalu dia pergi ke suatu tempat. Tidak tau ke mana Anggara ingin pergi, dia terus mengendarai sepeda motor nya, terus berjalan menelusuri kota, dia singgah di suatu toko, di toko itu berjualan bunga warna warni yang tidak bertangkai, setelah membeli bunga, Anggara melanjut kan perjalanan nya, lalu dia tiba di suatu tempat, dan ternyata dia pergi ke pemakaman Ayah, Ibu dan Nenek nya, makan mereka berdekatan, jadi Anggara bisa berziarah dengan sekali jalan. Tertulis di pintu gerbang pemakaman yaitu pemakaman TPU (tempat pemakaman umum), Anggara pun masuk ke dalam pemakaman, tapi saat hendak ke pemakaman orang tua nya, dia melihat dari kejauhan ada seorang pria berdiri di samping makam, memakai baju warna serba hitam.
"Siapa orang itu? kenapa dia ada di samping makam Ayah ku, apa dia keluarga ku ya, tapi selama ini, aku hanya sekali melihat nya, apa aku tanya ke dia aja langsung ya" ucap Anggara sambil melihat dari kejauhan, Anggara tidak melihat wajah nya, karena Anggara hanya melihat dari belakang pria tersebut. Anggara pun berjalan menuju makam, dan dia ingin bertanya pada pria tersebut, namun saat hendak sampai di makam, pria itu pergi begitu saja, dan tidak sempat untuk Anggara bertanya pada nya.
"Yaa dia sudah pergi, aku bahkan tidak sempat bertanya pada nya, tapi siapa pria itu sebenar nya, apa dia orang yang aku kenal ya" ucap Anggara ketika sudah sampai di samping makam Ayah nya.
"Ya sudah lah, nanti aku akan coba bertanya pada penjaga makam di sini, mungkin penjaga makam di sini sering melihat dia datang ke sini" ucap Anggara. Lalu Anggara duduk di samping makam Ayah nya, di sebelah makam Ayah nya ada makam Ibu, namun makan Nenek nya berjarak sekitar lima makam. Anggara membaca kan yasin untuk Ayah dan Ibu nya, lalu setelah membaca yasin, Anggara menabur kan bunga yang dia beli tadi ke atas makam Ayah dan Ibu nya. Setelah itu, Anggara juga membaca kan yasin untuk Nenek, membaca yasin guna untuk mengirim kan do'a kepada orang yang sudah meninggal, itu adalah aturan di agama Islam.
Selesai sudah Anggara membaca kan do'a untuk almarhum Ayah, Ibu serta Nenek nya. Anggara setiap dia rindu pada orang tua nya, dia selalu ke makam almarhum Ayah dan Ibu nya dan mengirim kan do'a untuk mereka.
Anggara berjalan menuju rumah penjaga makam yang ada di dekat pemakaman.
"Permisi pak" panggil Anggara dari depan pintu nya.
"Ia" di jawab oleh Bapak penjaga makam dari dalam rumah.
"Ada apa ya nak?" tanya Bapak tersebut pada Anggara ketika sudah membuka kan pintu.
"Sasya mau bertanya pak, tadi pas saya ke makam Ayah saya, saya lihat ada pria berbaju hitam tinggi berdiri di samping makam Ayah saya, apa Bapak sering melihat nya pak?" tanya Anggara.
"Makam nya yang mana ya nak?"
"Yang ada di sana pak" tunjuk Anggara pada makam Ayah nya.
"Ooh di sana ya, pria berbaju hitam itu memang sering Bapak melihat nya, ya terkadang skitar sebulan sekali dia datang ke makam ini, Bapak kira dia adalah keluarga kamu, soal nya kan Bapak sering lihat kamu datang ke sini" jawab Bapak tersebut.
__ADS_1
"Apa Bapak kenal dengan nya?"
"Maaf nak, kalau itu Bapak tidak mengenal nya nak"