
"Karena aku tidak mau di ganggu orang itu lagi, aku juga tidak kenal mereka, jadi aku bilang aja kalau aku pacar kamu gar, emang nya kenapa gar? kamu gak suka ya?" tanya Sasya sambil memeluk Anggara di belakang, karena sedang berboncengan dengan Anggara.
"Bukan gitu, apa kamu tidak apa-apa jika orang-orang tau kalau kamu pacar aku?"
"Tidak apa kok, biar aja mereka mau beranggapan seperti apa, tapi kamu bagaimana gar? tadi kamu marah ya aku bilang aku pacar kamu? kalau kamu marah aku minta maaf" ucap Sasha sedih.
"Tidak sya, aku sama sekali tidak marah sama kamu, justru aku kesal aja sama Zidan, dia sudah berani mengganggu kamu di depan aku"
"Ooh, jadi nama nya Zidan, apa kamu sebelum nya sudah sering berurusan dengan dia?"
"Bukan aku yang mau berurusan dengan dia, sejak pertama aku kuliah, dia sering mencari masalah dengan ku, bahkan sebelum nya dia sempat mengroyok Indra, untung nya aku sempat menolong nya"
"Mereka sungguh jahat banget, mereka mengroyok Indra seperti itu, jadi kalian sudah sering kelahi dengan mereka?"
"Hanya sekali aku berkelahi dengan mereka, waktu aku nyelamatin Indra, setelah itu, aku dan Indra hanya menghindar dari mereka agar mereka tidak mencari masalah, tapi tetap aja, sampai sekarang mereka masih mencari masalah dengan ku"
"Eemm, ternyata ada orang yang seperti itu ya di kampus, aku lihat di parkiran mereka menggunakan mobil mewah"
"Ia, yang aku dengar, mereka anak orang kaya, maka nya aku malas banget berurusan dengan mereka, biasa nya anak orang kaya ini sangat manja, nanti Nenek aku di panggil lagi ke kampus seperti waktu aku berkelahi dengan Dika dulu, aku hanya tidak mau aja, menjadi beban pikiran Nenek"
"Jadi, di mata kamu, anak orang kaya itu, manja ya?"
"Tidak semua anak orang kaya manja, tapi kebanyakan yang aku jumpai seperti itu"
"Apa aku termasuk manja gar?"
"Kalau kamu tidak terlalu manja seperti mereka-mereka, aku lihat, kamu kalau ada masalah tidak pernah ngadu ke orang tua, yang aku tidak suka itu, jika ada masalah, ngadu nya ke orang tua"
"Gar, aku boleh nanya sesuatu gak sama kamu?"
"Mau nanya apa sya?"
"Apa kamu ada menyukai seseorang?"
"Maksud kamu sya?"
__ADS_1
"Ia, kamu ada gak suka sama seseorang gitu"
"Eemm, itu, akuu" Anggara terbata-bata, dan membuat Sasya penasaran.
"Eh, kita sudah tiba di pasar sya" ucap Anggara, berhenti di depan pasar, dan di sana sangat ramai, orang-orang berbelanja, seperti ikan, sayuran, ayam, dan masih banyak lagi yang berjualan di dalam pasar itu.
"Kita belanja di sini gar?" tanya Sasya karena dia sama sekali belum pernah pergi ke pasar seperti itu, yang banyak di kerumuni orang.
"Ia, kamu mau ikut apa mau nunggu di sini?"
"Aku ikut aja gar, aku mau lihat di dalam sana"
"Baik lah, aku mau parkirin motor dulu" Anggara memarkir kan sepeda motor nya di parkiran, sedangkan Sasya berdiri menunggu Anggara.
"Ayo kita ke dalam" kata Anggara.
Anggara dan Sasya berjalan masuk ke dalam pasar, di sana sangat berisik, ada banyak yang berjualan, dan masing-masing berteriak memanggil pelanggan agar berbelanja di tempat jualan nya.
"Kamu mau beli apa gar?" tanya Sasya yang berjalan di belakang Anggara, karena keadaan sempit, tidak memungkin kan untuk berjalan secara berdampingan.
Anggara berbelanja keperluan di dapur, dengan bertanya-tanya pada penjual harga bahan makanan yang ingin dia beli, seperti sayuran, cabe, bawang, ikan dan ayam, setelah sesuai dengan uang yang dia bawa dan harga nya yang dia tanya tidak terlalu mahal, Anggara pun membeli nya dengan jumlah yang tidak terlalu banyak. Sasya hanya mengikuti kemana Anggara pergi, dan melihat Anggara berbelanja.
"Anggara sangat telaten ya, dia mandiri banget, berbelanja di sini kayak sudah biasa bagi nya, aku bahkan tidak bisa berbelanja bahan dapur seperti ini, aku kira dulu dia anak yang pendiam tapi tidak bisa berkerja atau pun mandiri seperti ini, setelah sudah kenal dia lebih dekat, ternyata selain dia tampan dan manis, dia juga baik, tidak pernah perhitungan, bahkan dia mandiri, dan juga dia tidak pernah menyusahkan Nenek nya waktu masih hidup"ucap di dalam hati Sasya, sambil melihat Anggara.
Setelah Anggara berbelanja, dia mengajak Sasya pulang.
"Apa ada yang mau kamu beli sya?" tanya Anggara sambil menjenjeng bungkusan belanjaan nya.
"Tidak ada gar"
"Kalau gitu, kita langsung pulang aja ya"
"Ia gar"
Anggara dan Sasya kembali ke parkiran, lalu Anggara mengeluar kan sepeda motor dari dalam parkiran, dan mereka pun pulang.
__ADS_1
"Gar, aku mau beli es boba dulu ya, mau minum es boba" ucap Sasya yang sedang di bonceng Anggara.
"Di mana sya, soal nya aku belum pernah beli es boba"
"Di depan ada lorong sebelau kanan, nah tak jauh masuk ke dalam, ada penjual es boba, nanti aku tunjukin"
Anggara terus mengendarai sepeda motor nya, dan tiba di depan lorong yang Sasya bilang, Anggara berbelok ke kanan, lalu masuk ke dalam lorong, di dalam lorong, ada penjual es boba.
"Itu gar, penjual es boba nya"
Sasya membeli es boba, dan Anggara yang mau membayar kan es boba Sasya, awal nya Sasya menolak, namun Anggara tetap memaksa ingin membayar, dan Sasya mengalah.
Selesai membeli es boba, Anggara dan Sasya melanjutkan perjalan pulang ke rumah nya.
"Kamu sering beli es boba di situ ya?" tanya Anggara.
"Ia, soal nya di situ es boba nya enak, aku suka, kalau di tempat lain, tidak seenak di situ"
"Kenapa dia berjualan di dalam lorong, tidak di tepi jalan besar, biar makin laris"
"Dulu nya, dia berjualan di tepi jalan besar gar, cuma karena dia tidak bisa membayar sewa lapak, terpaksa dia berjualan di depan rumah, tapi walau dia berjualan di depan rumah, es boba nya tetap laku, karena banyak yang suka, kamu lihat aja tadi, banyak yang ngantri beli, untung nya kita duluan beli"
"Ooh"
"Kamu cobain deh es nya" kata Sasya memberikan minuman pada Anggara saat masih di bonceng dengan Anggara.
"Tidak ah, kamu minum aja sya, nanti jadi bekas aku lagi"
"Tidak apa gar, kamu cobain aja"
Anggara mencicipi es boba dengan menyedot minuman nya menggunakan sedotan yang sudah di sedot oleh Sasya.
"Bagaimana? enak kan gar?"
"Ia, enak sya"
__ADS_1