
"Nanti di makan ya nek, Nenek harus menghabis kan bubur nya, agar Nenek tidak sakit lagi" ucap Anggara
"Iya gara" jawab Nenek.
Lalu Anggara pun pergi meninggalkan kamar Nenek, dan dia makan malam sendirian di meja makan. Terasa sedih di hati nya, yang biasanya makan bersama Nenek, sekarang dia makan sendirian tanpa di temani siapa pun. Selesai nya makan, dia kembali ke dalam kamar nya, terdengar deringan handphone, ada yang sedang menelponya, Anggara pun langsung menjawab telpon itu. Karna sudah cukup umur, Anggara, Sasya serta Indra memiliki handphone genggam, mereka saling berkomunikasi melalui handphone genggam.
"Halo gara" ternyata yang menelpon Anggara adalah Sasya.
"Iya, halo sya, ada apa sya?"kata Anggara sambil duduk di atas kasur, handphone yang masih di letakkan di telinganya.
"Aku ingin bertemu dengan mu gara, apa kah kamu bisa?"kata Sasya
"Malam begini sya, tumben kamu ingin bertemu di malam begini, ada apa sya?"tanya Anggara, karna biasanya Sasya tidak pernah mengajak Anggara bertemu di malam hari, di karenakan orang tua nya yang membatasi Sasya, dia tidak boleh keluar di malam hari.
"Ada yang ingin aku omongin sama kamu gara" jawab Sasya.
"Tapi sya, apa kamu di bolehin Papa kamu keluar di malam hari?"tanya Sasya.
"Tenang aja gara, aku sudah minta izin sama Papa, dia bolehin aku keluar, tapi aku tidak boleh lama-lama gara" jawab Sasya.
"Jadi kita ketemu di mana sya?"tanya Anggara.
"Kita bertemu di taman tempat biasa kita kumpul ya gara" jawab Sasya.
"Oke sya" Anggara menutup telponnya.
Anggara bersiap-siap untuk pergi ke taman yang sudah di janji kan dengan Sasya. Dia pergi menggunakan sepeda motor, taman yang di janjikan yaitu taman yang di tepian danau, jarak nya tidak lah jauh dari rumah Sasya.
Beberapa menit kemudian, Anggara pun tiba di taman, di sana, Sasya sudah menunggunya.
"Sasya.." panggil Anggara ketika melihat Sasya berdiri di tepian danau.
__ADS_1
"Anggara" jawab Sasya berbalik badan.
"Kamu ke sini menggunakan apa sya?"tanya Anggara karna melihat Sasya sendirian.
"Aku di antar dengan supir ku gara, dia menunggu ku di sana" jawab Sasya sambil menunjuk ke arah mobil berwarna hitam terparkir di tepian jalan.
"Baik lah, apa yang ingin kamu bicarakan sya?"tanya Anggara, dia berdiri berhadapan dengan Sasya.
"Aku ingin memberikan ini gara, anggap saja ini adalah hadiah ku pada mu, aku ingin kamu selalu menyimpannya, aku juga memiliki sebelah nya" ucap Sasya, dia memberikan sebuah liontin yang berbuah hati, dan hati itu terbelah dua dan bagiannya di berikan pada Anggara.
"Liontin" ucap Anggara dengan heran.
"Iya gara, aku ingin kau menyimpannya, lihat lah, aku juga memilikinya, jika kita satukan seperti ini, dia kan sempurna" kata Sasya sambil menyatukan liontin yang dia pegang dengan yang di pegang Anggara.
"Kenapa kamu memberikan liontin ini pada ku sya?"tanya Anggara, dia merasa aneh dengan Sasya.
"Tidak ada apa-apa gara, aku hanya mau, kita saling menyimpan ini sebagai kenangan" jawab Sasya.
"Tidak gara, aku memberikan ini hanya pada mu, aku mohon jangan bertanya apa pun lagi" ucap Sasya, sambil melihat ke arah bawah.
"Baik lah sya, aku tidak akan bertanya apa pun lagi, aku janji, aku akan menjaga kalung ini"ucap Anggara dan memegang wajah Sasya sambil mengangkat wajah nya dan melihat ke arah nya, lalu melepaskan tangannya dari wajah Sasya.
"Terima kasih gara" jawab Sasya dengan air mata yang menetes di pipinya.
"Eehh, kenapa kamu menangis, jangan menangis Sasya" Anggara mengusap air mata Sasya.
"Gara, aku akan pergi ke luar negeri besok lusa, karena ada pendaftaran yang harus aku selesai kan" kata Sasya sambil melihat ke mata Anggara.
"Baik lah sya, aku minta, kamu selalu hati-hati ya" kata Anggara.
"Iya gara" jawab Sasya.
__ADS_1
Mereka saling bertatapan mata, terasa di hati Anggara bersedih karena Sasya harus pergi secepat itu, dia masih ingin bersama Sasya, tetapi itu tidak lah mungkin.
"Baik lah gara, aku harus pulang sekarang, jika tidak, Papa ku akan marah" kata Sasya
"Iya sya, hati-hati di jalan ya" ucap Anggara.
Sasya berjalan dengan perlahan meninggalkan Anggara masih berdiri di tepian danau, Anggara melihat Sasya yang berjalan meninggalkannya, ketika melihat Sasya pergi, tanpa dia sadari, air mata menetes di pipi nya.
"Hati-hati sya, aku di sini akan menunggu mu" ucap Anggara.
Setelah Sasya pergi, baru lah dia pergi dari taman itu, dia mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan yang rendah. Dia sangat merasa sedih, karena Sasya harus pergi jauh dalam waktu yang sangat lama.
"Sudah lah, aku tidak boleh bersedih, aku harus cepat pulang, karena Nenek tinggal sendirian di rumah" ucap Anggara langsung menarik gas sepeda motornya.
Setibanya di depan rumah, keadaan rumah nya sangat berbeda, tanaman di depan rumah yang biasanya tersusun rapi, terlihat berserakan di tanah. Melihat itu, Anggara langsung berlari masuk ke dalam rumah nya, saat itu lampu menyala semua, semula saat dia pergi, yang hidup hanya lah beberapa lampu saja, tapi sekarang, semua lampu di rumah nya hidup.
Anggara terkejut, ketika melihat, barang-barang di rumah nya berserakan, tidak tau apa yang terjadi, tanpa memikirkan apa yang terjadi, dia langsung berlari menuju kamar Nenek.
"Neneeekk.." panggil nya sambil membuka pintu kamar. Sungguh mengejutkan, Anggara melihat nenek tergeletak di atas lantai kamar, semua barang di kamar Nenek berjatuhan ke lantai, dan bubur yang di masak Anggara, berserak di lantai.
"Neneekk... Nenekk bangun nek, apa yang terjadi nek" Anggara mengangkat kepala Nenek ke atas pangkuannya dan mengguncang tubuh sang Nenek dengan perlahan hanya untuk membangunkannya.
"Nenek, bangun nek, apa yang sudah terjadi nek" ucap Anggara dengan air mata yang menetes di pipi nya.
"Garaa.." ucap Nenek dengan suara yang lemah, Nenek berusaha membuka matanya.
"Nenek, apa yang terjadi nek, apa yang terjadi di rumah, kenapa bisa seperti ini nek" ucap Anggara sambil menangis melihat Nenek keadaan yang sangat lemah.
"Garaa.."saat Nenek mau memberitahukan pada Anggara, apa yang sudah terjadi, Nenek pingsan kembali. Melihat itu, Anggara langsung menggendong Nenek, dia pergi membawa Nenek ke rumah sakit menggunakan sepeda motor nya. Anggara mendudukan Nenek di belakang nya, lalu dia memegang tangan Nenek dan di rangkulkan nya ke pinggang nya, agar Nenek tidak terjatuh.
Bersambung...
__ADS_1
Berikan komentar dan sarannya ya😊 saran kalian lah yang penting bagi saya.. serta beri kan dukungannya teman