
"Ndra, kamu jangan marah dulu sama kami, kamu dengar kan dulu penjelasan kami berdua" ucap Sasya yang baru saja duduk di kursi nya begitu juga dengan Anggara.
"Dengar kan apa lagi sya, kalian berdua sudah membohongi ku, kalian ternyata sudah bermain api di belakang ku, aku juga gak nyangka sama kamu gar, aku kira kamu teman baik ku, aku sudah bilang sama kamu kan, kalau aku suka sama Sasya" ucap Indra.
"Eits, ada yang lagi marahan ni" Zidan datang mendekati mereka bertiga, dan mendengar bahwa Indra marah dengan Anggara dan Sasya, dia bersama ke empat teman nya.
"Kamu jangan ikut campur urusan kami ya" ucap Sasya.
"Aduh aduh, nona yang cantik, kamu gak usah marah-marah dulu dong, kamu kalau marah makin cantik deh" rayu Zidan ke Sasya.
"Zidan, apa maksud kamu bilang gitu, kamu mau ganggu Sasya lagi" tegad Anggara pada Zidan.
"Eeehh, ada pahlawan nya Sasya ternyata ya, aku tidak melihat nya tadi, hahaha"
"Sudah lah gar, jangan dengar kan dia, dia kalau di dengar kan makin menjadi" ucap Sasya.
"Ia sya, kamu benar"
"Indra, kamu kalau mau berteman dengan kami boleh saja kok, kami menerima teman seperti mu, kalian kan sudah tidak berteman lagi, benar kan ndra" ucap Zidan pada Indra. Indra terdiam, tidak menjawab apa pun.
"Sudah lah, kamu berteman dengan Anggara tidak ada guna nya tau, dia tidak punya apa-apa, orang tua juga gak ada, mungkin keluarga nya juga sudah membuang nya" ucap Zidan nyinyir pada Anggara.
Anggara diam, tidak mengatakan satu kata pun pada Zidan, dia tidak mau memperbesar masalah.
"Kenapa kamu diam, oo ia, aku dengar Ayah kamu meninggal dalam kebakaran ya, kesian ya kamu, melihat Ayah sendiri meninggal di depan mata, dan tidak bisa berbuat apa pun lagi, dan Ibu kamu meninggal duluan ya, kasihan banget sih kamu, di tinggal kan dengan kedua orang tua kamu" ucap Zidan kelihatan nya ingin membuat Anggara marah.
"Zidan, kenapa kamu membawa-bawa kedua orang tua Anggara, orang tua nya mau meninggal duluan atau nggak itu bukan urusan kamu ya, kamu sama sekali tidak ada hak komentar soal kehidupan Anggara" ucap Sasya dengan tegas pada Zidan.
"Sudah lah sya, tidak apa, kamu jangan bertengkar dengan nya, bertengkar dengan nya sama sekali tidak ada guna nya sya" ucap Anggara.
__ADS_1
"Zidan, kamu jangan bilang seperti itu tentang orang tua Anggara, kasihan Anggara, yang sudah di tinggal kan oleh kedua orang tua nya, dan kamu malah mengungkit hal itu di depan nya" ucap Raisa daru belakang Zidan, dia datang menghampiri Zidan dan membela Anggara.
"Kamu ngapain lagi, membelas anak ingusan ini" ucap Zidan.
"Kamu yang kenapa! ngapain kamu mengungkit orang tua Anggara yang sudah meninggal, itu kehidupan dia, kamu tidak berhak mengungkit tentang orang tua nya"ucap Raisa marah pada Zidan.
" Oohh, ada dua wanita yang membela Anggara ni, seneng kamu di bela sama dua wanita ini haa!"ucap Zidan.
Anggara tidak menjawab omongan Zidan, karena dia malas bertengkar yang tidak ada guna nya.
"Zidan, ayo kita pergi, nanti keburu Dosen datang" ucap Fahri teman nya Zidan.
Zidan pun pergi ke kursi nya bersama teman nya.
"Gar, kamu jangan dengar kan omongan Zidan ya, dia memang seperti itu, suka mencari keributan" ucap Raisa pada Anggara.
"Ia" jawab Anggara cetus.
"Apa sih ni orang, padahal sudah di cueki sama Anggara, tapi masih juga dekati Anggara, tidak tau malu banget ni cewek, sudah jelas Anggara tidak suka pada nya, dan di cueki Anggara, tapi dia masih berusaha mendekati Anggara" ucap di dalam hati Sasya, karena dia tidak suka Raisa yang berusaha mendekati Anggara.
"Gar, kamu kok diam, aku ngomong sama kamu gar" ucap Raisa.
"Raisa, aku harus bilang berapa kali sama kamu, jangan dekati aku lagi" tegas kan Anggara pada Raisa.
Mendengar itu, teman Raisa yaitu Wiwid langsung datang menghampiri Raisa.
"Eh kamu, mending ya Raisa mau dekati kamu, kamu malah menolak dia dan memarahi dia seperti itu, kamu sama sekali tidak merasa beruntung ya, Raisa itu wanita yang di ingin kan para lelaki, dia populer di kampus ini, dia dekati kamu itu sudah beruntung ya bagi kamu" ucap Wiwid pada Anggara.
"Aku tidak menyuruh dia mendekati aku kan" jawab Anggara.
__ADS_1
"Sudah lah wid, kita pergi saja dari sini, percuma kamu berusaha mendekati dia, tidak bakalan dia pandang kamu" ucap Wiwid.
"Bener tu, pergi aja sana" di jawab oleh Sasya.
Raisa pun langsung pergi ke kursi nya dengan wajah marah.
Indra hanya diam dari tadi, dia tidak mengatakan satu kata pun pada Anggara dan Raisa, hal itu membuat Anggara merasa tidak enak pada Indra, dan dengan spontan dia mengatakan pada Indra.
"Kami tidak berpacaran ndra" ucap Anggara, mendengar itu Indra pun langsung terkejut, dan Sasya juga terkejut.
"Jadi kalian berdua tidak berpacaran?" tanya Indra lagi.
"Tidak, kami tidak berpacaran" jawab Anggara.
"Benar itu sya?" tanya Indra pada Sasya.
"Hehe ia ndra, kami sama sekali tidak ada hubungan khusus, kami mau menjelas kan ini dari tadi, tapi kamu tidak mau mendengar kan" ucap Sasya.
"Terus, kenapa kamu bilang pada Zidan bahwa kalian berpacaran"
"Itu karena kemarin Zidan mau mengganggu ku, jadi aku bilang kalau aku pacar nya Anggara agar dia tidak mengganggu ku lagi" jawab Sasya.
"Begitu ya, aku kira kalian sudah menghianati ku"
"Tidak ndra, kami sama sekali tidak menghianati mu, aku tau kamu suka sama Sasya" ucap Anggara tersenyum, tapi di balik senyuman Anggara dia merasa terluka karena dia mungkin tidak akan bisa memiliki Sasya sebab Indra sahabat nya sendiri juga menyukai Sasya.
Anggara, Sasya dan Indra sudah berbaikan, Indra tidak lagi salah paham pada Anggara dan Sasya, tetapi mereka saling tidak mengetahui perasaan masing-masing, hanya Indra yang mengungkap kan perasaannya pada Sasya, namun Sasya masih belum memberikan jawaban pada Indra.
Dosen yang mengajar di saat itu sudah datang, mereka belajar seperti biasa, belajar tentang teori-teori alam, dan mempraktik kan teori yang sudah di pelajari agar lebih memahami tentang hewan dan alam.
__ADS_1
"Indra sangat menyukai Sasya, bagaimana bisa aku melanjut kan perasaan ku pada Sasya, apa aku harus memendam perasaan ku ini selama nya, dan akan menyatukan Indra dan Sasya, tapi jika di bayang kan rasa nya aku tidak rela Sasya bersama orang lain" ucap di dalam hati Anggara.