Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang

Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang
Nenek memberikan buku tabungan


__ADS_3

"Ajak dia makan bersama gara, ini nenek sudah selesai masak nya" ucap Nenek sambil menyeduhkan lauk yang sudah di masak ke dalam piring.


"Ia nek".


"Ndra, ayok makan, Nenek baru selesai masak"


"Aku tidak lapar gara, kamu aja yang makan"


"Gak ada, kamu harus makan, Nenek bakalan marah nanti kalau kamu tidak makan" ucap Anggara menarik tangan Indra.


"Ia ia"


Indra keluar dari kamar dengan pakaian yang masih lusuh karena dia belum ganti pakaian.


"Ayok sini Indra, kita makan" ucap Nenek, saat itu Nenek belum melihat wajah Indra yang sudah babak belur.


"Ia nek"


Anggara dan Indra duduk di kursi makan, sedangkan Nenek mengambil piring.


"Indra, ada apa dengan wajah mu itu, kalian habis berkelahi ya?" tanya Nenek ketika melihat wajah Indra yang masih penuh lebam.


"Tidak nek, kami tidak berkelahi" jawab Anggara.


"Terus kenapa dengan wajah Indra"


"Di kampus tadi ada orang yang jahil sama Indra nek, Indra di kroyok" jawab Anggara.


"Kok bisa, kalian ada masalah?"


"Tidak nek, orang itu aja yang suka cari masalah dengan kami"


"Sudah lah, ayok makan, setelah itu Anggara bantu obati wajah nya Indra"


"Ia nek, Indra akan nginap di sini sampai wajah nya sembuh nek, tidak apa kan?" tanya Anggara saat sedang menyendok nasi ke dalam piring.


"Tidak apa-apa, lama pun di sini juga gak apa nak Indra"


"Terimakasih banyak nek, aku takut orang tua ku marah nek jika aku pulang nya dengan wajah seperti ini" ucap Indra.


"Ia sama-sama"


Anggara memberikan nasi ke pada Indra, lalu Indra menyendok nya ke dalam piring.


"Tapi aku tidak ada bawa pakaian gara, aku tidak bisa pulang untuk mengambil pakaian di rumah" ucap Indra.

__ADS_1


"Tidak apa, kamu bisa pakai pakaian aku aja dulu, nanti kamu kabari dulu orang tua kamu, bilang aja kamu nginap di rumah aku" ucap Anggara.


"Ia, nanti aku telepon orang tua aku"


Selesai mereka makan, Anggara mengobati lebam di wajah Indra, saat itu mereka berada di kamar Anggara.


"Ini kompres dulu wajah mu ndra" ucap Anggara memberikan kompresan pada Indra.


"Terimakasih ya gara" Indra mengambil kompresan tersebut lalu dia meletakan ke wajah nya untuk menghilangkan lebam di wajah nya.


"Kamu banyak buat komik ya gara" ucap Indra melihat buku-buku komik yang tersusun rapi di tempat buku Anggara.


"Tidak juga, sebagian komik nya aku yang buat, sebagian lagi aku beli untuk aku baca" jawab Anggara.


"Kenapa sekarang kamu tidak buat komik lagi?"


"Aku tidak ada cerita untuk di buat komik ndra, jadi aku berhenti buat komik"


"Ini di dinding kamu, semua lukisan kamu kan?"


"Ia ndra, aku iseng-iseng aja melukis nya, selesai aku lukis, ya aku tempelin aja ke dinding"


"Kenapa tidak ada foto kamu bersama orang tua kamu gara?" tanya Indra karena melihat di sekeliling kamar nya tidak ada foto Anggara bersama orang tua nya.


"Eemm, itu karena foto-foto kenangan aku bersama orang tua ku habis terbakar di rumah ku dulu, aku tidak sempat menyimpan nya, jadi aku hanya melukis kan gambar orang tua ku saja" jawab Anggara.


"Itu di belakang kamu"


Tepat di belakang Indra adalah lukisan orang tua Anggara, dia tempelkan ke dinding kamar nya.


"Eh, ternyata ini lukisan orang tua kamu ya, aku tidak tau kalau itu lukisan orang tua kamu"


"Hanya itu yang aku lukis, karena aku tidak ingat jelas bagaimana wajah orang tua ku, Ibu ku meninggal saat aku masih sangat kecil, aku tidak ingat saat itu aku berumur berapa, dan Ayah ku meninggal saat kebakaran itu, hanya wajah Ayah ku yang ku ingat sangat jelas" jawab Anggara sambil memandangi lukisan tersebut.


Wajah tersenyum manis, raut wajah yang masih muda, serta tubuh nya yang mungil, alis nya tebal, hidung mancung, rambut nya panjang, tangan memeluk tubuh seorang pria, pria itu berkumis tipis, tubuh kekar, wajah nya yang tampan, berdiri tegak dengan wajah yang bahagia, itu lah lukisan kedua orang tua Anggara yang telah dia lukis.


"Orang tua mu cantik dan tampan ya, aku lihat kamu mirip sekali dengan Ayah mu" ucap Indra. melihat lukisan itu.


"Ia, orang-orang yang kenal dengan Ayah ku juga mengatakan seperti itu ndra"


"Aku dengar dari orang tua ku, kalau Ayah mu adalah seorang ilmuan terkenal gara, emang benar ya?"


"Ia, ada beberapa penelitian nya yang di ketahui banyak orang, setiap penelitian nya tidak pernah gagal"


"Kenapa kamu tidak masuk ke kuliah ilmuan juga?"

__ADS_1


"Aku tidak berminat sebagai seorang ilmuan, aku lebih suka berteman dengan alam"


"Ooh, sudah lama banget juga ya aku tidak ke rumah mu ini, terakhir kali aku ke sini waktu Sasya masih sekolah di sini"


"Ia, sekarang kamu ganti pakaian mu dulu, dengan pakaian ku ini" ucap Anggara mengambil pakaian di dalam lemari lalu memberikan nya pada Indra.


"Aku mau mandi dulu lah gara, rasanya keringat di badan ku ini lengket-lengket" ucap Indra.


"Kamar mandi nya kamu masih ingat kan di mana?"


"Tentu lah ingat, emang nya rumah mu sudah berubah ya maka aku tidak ingat" ucap Indra.


"Itu handuk nya, pergi lah mandi, aku juga mau mandi ni"


"Ia ia"


Indra pun pergi mandi, sedangkan Anggara menunggu di dalam kamar nya.


"Gara" panggil Nenek dari luar kamar.


"Ia nek" Anggara keluar kamar.


"Ada apa nek?"


"Kemana Indra?"


"Dia mandi, kenapa nek?"


"Nenek kira dia pulang, maka nya gak ada di kamar kamu, itu Nenek mau ngasih ini ke kamu" Nenek menunjukan buku tabungan pada Anggara.


"Ini kan buku tabungan Nenek, kenapa di kasihkan ke gara nek?"


"Nenek kan sudah sangat tua, Nenek mau kamu menyimpan buku tabungan Nenek, semua nya ini adalah tabungan Nenek bersama Kakek mu, Nenek berharap ini bisa biayai kuliah kamu"


"Tapi kan nek, tabungan Ayah juga Nenek kasih ke gara kemarin, bahkan tabungan Ayah masih banyak, itu bisa untuk biaya kuliah gara"


"Sudah lah, kamu simpan aja, Nenek tidak bisa lagi menyimpan ini, kalau Nenek sakit, kamu juga kan yang ngurusin Nenek"


"Baik lah nek, ini gara simpan, tapi tidak gara gunakan ya, gara simpan kan untuk Nenek aja"Anggara mengambil buku tabungan dari tangan Nenek.


"Ia"


Nenek kembali ke kamar nya dan dia istirahat di kamar, Anggara menyimpan buku tabungan Nenek di dalam laci nya, bersama dengan buku tabungan milik Ayah nya Anggara.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote ya teman, mohon dukungan nya😊


__ADS_2