Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang

Kekuatan Super: Pendengaran Dan Tembus Pandang
Anggara bisa melukis


__ADS_3

Di saat dia sedang menggambar komik, Sasya datang menghampiri.


"Hei gara, kamu sedang apa?" Tanya nya sambil duduk di samping Anggara


"Aku sedang membuat komik" jawab Anggara


"Kamu hobi buat komik ya, boleh aku lihat?"


Anggara memberikan buku komiknya pada Sasya, lalu Sasya melihat-lihat komik yang di buat nya.


"Waaahh gambaran kamu bagus juga" puji Sasya mengembalikan buku nya


"Terima kasih"


"Humm aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tanya aja" jawab Anggara sambil menggambar kembali komiknya


"Kenapa kamu tidak berteman dengan siapa pun?"


"Aku tidak mau aja berteman"


"Kenapa? Apa ada yang menyakiti mu, hingga kau tidak mau berteman dengan siapa pun"


"Tidak"


"Lalu kenapa?"


"Yaa aku tidak mau aja sya, sudah lah jangan tanya hal itu lagi"


"Maaf jika pertanyaan ku membuat mu marah"


"Tidak apa-apa"


"Hei, mau kah kau melukis ku, kau kan bisa menggambar komik, pasti kau juga bisa melukis ku" kata Sasya


"Tidak mau" jawab Anggara


"Ayooo lah, lukis kan diri ku"


"Baik lah, akan ku coba"


"Terima kasih" Sasya tersenyum dan duduk diam agar Anggara bisa melukis dirinya.


Anggara mulai melukis mata Sasya, di lanjutin alis, bulu mata nya, hidung, dan bibir, lalu melukis wajahnya, di lanjutin rambut nya.


"Ini lukisannya" Anggara melihatkan hasil lukisannya pada Sasya


"Waahh cantik sekali, kamu emang berbakat melukis gara"


"Terima kasih" Anggara mengambil kembali buku dan lukisannya


"Bolehkah aku minta lukisan itu"


Anggara menyobek kertas di bagian lukisannya saja, dan memberikan pada Sasya.


"Terima kasih gara" ucap Sasya sambil tersenyum

__ADS_1


Tak lama itu, bel masuk berbunyi.


"Bel masuk sudah berbunyi gara, ayo kita masuk"


"Kamu duluan saja"


"Baik lah" Sasya pergi meninggalkan Anggara.


Lalu Anggara juga pergi masuk ke kelas setelah Sasya. Semua siswa-siwi belajar seperti biasa.


Sudah 3 jam berlalu, waktu nya untuk pulang, dan bel juga sudah berbunyi, Anggara yang sedang bersiap pulang, di hampiri oleh Indra yang dia tolong di lorong buntu pagi tadi.


"Hai" kata Indra langsung masuk ke dalam kelas dan menghampiri Anggara


"Ngapain ke sini" jawab Anggara sambil memakai tas nya


"Boleh aku jadi teman mu?" Kata Indra sambil menjabat tangannya untuk bersalaman dengan Anggara


Anggara tidak menjawab apa pun, dia langsung berjalan dan menyelisihi bahu Indra


"Hei gara, kenapa kau tidak mencoba berteman dengannya?" Tanya Sasya karna melihat Anggara tidak menjawab pertanyaan Indra dan tidak membalas jabatan tangan Indra.


Anggara tidak menjawab apapun perkataan Sasya, dia terus berjalan keluar kelas.


"Sepertinya dia tidak mau berteman dengan ku sya" kata Indra


"Jangankan kamu, dengan aku saja dia jarang sekali berbicara"


"Apa dia tidak memiliki teman sekali?"


"Kata siswa-siswa di sini, dia tidak berteman dengan siapa pun"


"Iya" jawab Sasya sambil mengambil tas nya dan lalu pulang.


Anggara berjalan menuju parkiran sepeda nya, lalu dia pulang ke rumah. Di saat dia hendak keluar gerbang, Indra memanggilnya.


"Heiii, tunggguuu aku" teriak Indra sambil mengayuh sepeda nya dari parkiran dan mengejar Anggara, Anggara menunggu nya.


"Aku belum tau siapa nama mu, aku Indra" ucap Indra sambil menjabat tangannya lagi


"Aku Anggara" jawab Anggara dan membalas jabatan tangan Indra, setelah membalas jabatan tangannya, Anggara mengayuh kembali sepeda nya.


"Tunggu Anggara" kata Indra mengejar Anggara


"Ada apa?" Ucap Anggara sambil mengayuh sepeda


"Kita kan seumuran, boleh aku jadi teman kamu?" Tanya Indra


"Aku tidak berteman dengan siapa pun"


Mereka berdua berbicara di tepian jalan sambil mengayuh sepeda.


"Kenapa kau tidak berteman dengan siapa pun?"


"Tidak ada apa-apa"


Indra terus saja berbicara pada Anggara, tetapi Anggara tidak banyak bicara, dia hanya menjawab sepatah dua patah.

__ADS_1


"Di depan aku belok kanan, rumah aku di lorong kanan yang ada di depan sana" ucap Indra sambil menunjuk perempatan jalan yang ada di depan mereka


"Iya"


"Rumah mu di mana?"


"Lurus aja dari sini, dan tak jauh dari perempatan itu ada lorong kecil sebelah kiri samping toko harian"


"Baik lah, aku duluan ya" ucap Indra karna sudah tiba di perempatan rumahnya.


Indra pun berbelok ke kanan karna sudah tiba di perempatan jalan.


Anggara terus mengayuh sepedanya, dan setibanya di rumah, dia memarkir sepedanya lalu masuk ke dalam rumah.


"Neeeekk, gara sudah pulang" ucap nya sambil membuka sepatu


"Iya, ganti baju dulu, nanti bantu Nenek cuci baju ya" kata Nenek dari dapur


"Iya nek"


Anggara mengganti baju nya di kamar, setelah itu dia membantu nenek mencuci baju di kamar mandi yang ada di dapur.


"Nek, bajunya ini aja ya?" Tanya Anggara karna bajunya hanya sedikit.


"Iya"


Anggara mulai mencuci bajunya menggunakan mesin cuci, selesai mencuci baju dan sudah di bilas, dia membawa baju yang sudah di bilas ke depan rumah untuk di jemur.


"Nek, pagi tadi gara membantu seorang teman, dia sedang di buli di lorong buntu di dekat sekolah gara" ucap Anggara sambil berjalan masuk dari depan rumah


"Bagus kalau kau bisa membantu nya"


"Iya, tapi Anggara berkelahi nek"


"Apa! Kau berkelahi" ucap Nenek dengan kaget


"Iya nek, tiga orang itu besar dari gara, dia meminta uang dengan teman gara, terus memaksanya"


"Kau tidak kenapa-kenapa kan? Tidak terluka kan?" Kata Nenek karna khawatir


"Tidak nek, cuman gara heran, kenapa gara bisa berkelahi, padahal gara tidak belajar bela diri"


"Ya bagus kalau begitu, nanti kau jagain Nenek dari orang-orang jahat" ucap Nenek dengan bercanda


"Neneeekk, gara tidak bercanda"


"Hehehe iya iya"


"Sudah lah nek, gara jadi gak mau cerita lagi"


Anggara masuk ke dalam kamar nya dan mengerjakan PR yang sudah di berikan ibu guru di sekolah. Selesai mengerjalan PR nya, di rebahan di kasur, sambil memikir kan soal kekuatan yang dia dapatkan.


"Huumm.. yang terjadi apa itu kekuatan atau hanya ilusi saja, tapi jika itu ilusi tidak mungkin terjadi berulang kali, dan soal aku bisa melihat dengan tembus pandang, terjadi seperti semua nya nyata, telinga ku kenapa mendengar hal-hal yang tidak terjadi di sekitar ku" katanya sambil memikirkan hal yang terjadi padanya.


Dia berpikiran untuk mencoba kekuatan yang dia miliki tapi belum bisa dia kuasai. Dia mencoba kekuatan tembus pandang nya, dengan membesarkan matanya sendiri, dan menutup buka matanya berkali-kali, tentu saja kekuatannya tidak keluar begitu saja, dia tidak bisa melakukan tembus pandang lagi.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


__ADS_2