
"Terimakasih ndra, kamu sudah menolong aku, apa kamu ketahuan oleh mereka?"
"Tidak, aku bersembunyi, mereka sama sekali tidak melihat ku"
"Ayo kita pulang, jangan sampai kita bertemu mereka lagi"
"Ia, apa kamu tidak kenapa-napa?"
"Tidak, aku bersembunyi dalam, mereka tidak menemukan aku, untung nya kamu datang, jadi mereka pergi"
"Bagus lah kalau gitu".
Anggara mengambil sepeda motor nya yang dia sembunyi kan di balik tong sampah berukuran besar.
" Kamu menyembunyikan motor kamu di balik tong sampah"ucap Indra melihat Anggara mengeluar kan sepeda motor nya.
"Ia, aku sempat menyembunyikan sepeda motor aku, sebelum mereka datang ke sini" jawab Anggara.
Anggara dan Indra pun kembali pulang ke rumah masing-masing. Setibanya di rumah, Nenek Anggara sedang duduk di depan teras rumah.
"Nenek, kenapa Nenek duduk di luar?" tanya Anggara yang sedang menarok sepeda motor ke dalam parkiran rumah nya.
"Nenek bosan di dalam rumah terus gara, Nenek ingin menghirup udara segar, jadi Nenek duduk di depan aja, kenapa kamu baru pulang gara? tidak biasanya kamu pulang jam segini" tanya Nenek.
"Nenek harus istirahat, Nenek belum sembuh total, emm, tadi gara ada tugas di kampus nek, maka nya lambat pulang" jawab Anggara yang tidak ingin membuat Nenek khawatir, dan Anggara yang khawatir dengan Nenek langsung membantu Nenek berdiri dan membawa ke dalam rumah nya.
__ADS_1
"Tapi Nenek bosan di kamar terus-terusan"
"Ia, Nenek sendirian di rumah, jika terjadi apa-apa dengan Nenek, tidak ada yang tau"
"Nenek bisa jaga diri gara"
"Sudah lah nek, apa Nenek sudah makan?"
"Belum, Nenek nunggu kamu pulang"
"Nenek kalau lapar bisa makan duluan, bubur yang gara masak juga masih ada, gara masak lebih biar Nenek bisa makan tanpa masak sendiri"
"Nenek belum lapar"
"Ya udah, ayo kita makan dulu nek, gara juga sudah lapar".
" Gara mau narok tas dulu di kamar nek"ucap Anggara, lalu dia pergi ke kamar nya dan menaruh tas di gantungan tas yang ada di kamar.
Setelah itu Anggara mengambil bubur Nenek yang ada di dalam periok, dan di letakkan di atas meja makan. Selain bubur, di atas meja makan juga terdapat beberapa hidangan lauk pauk yang sudah Anggara masak sejak pagi, Anggara masak di pagi hari agar setelah dia pulang dari kampus bisa langsung makan, dan Nenek juga tidak perlu masak lagi.
"Gara, di kampus apa semua nya lancar?"tanya Nenek yang sedang makan.
"Lancar nek, gara juga menikmati pelajarannya" jawab Anggara.
"Kenapa kamu tidak mengambil jurusan yang sama dengan Almarhum Ayah kamu?"
__ADS_1
"Gara kurang suka nek, gara lebih suka pembelajaran tentang alam, tentang merawat alam, merawat para hewan, dan gara suka mempelajari tentang kehidupan makhluk hidup" jawab Anggara.
"Padahal Ayah kamu mau kamu jadi seperti dia, menjadi seorang ilmuan".
Anggara hany tersenyum mendengar ucapan dari Nenek.
"Habisin nek bubur nya, agar Nenek bisa cepat sehat" ucap Anggara mengalihkan pembicaraan.
"Aku tau nek, aku dulu sangat suka dengan pekerjaan Ayah, hampir setiap hari aku ikut ke laboraturium milik Ayah, aku suka melihat Ayah meneliti berbagai penemuan baru nya, dulu aku bercita-cita ingin menjadi seperti Ayah, tapi setelah kecelakaan itu, aku memutuskan untuk. mencari penyebab kebakaran itu, aku yakin itu di seban oleh seseorang, karena aku ingat di saat itu tidak ada sumber yang bisa memicu kebakaran, aku masuk kuliah jurusan IPA karena aku tak mau teringat tentang Ayah, apa lagi tentang Ayah yang berjuang meneliti sesuatu penemuannya"ucap di dalam hati Anggara, sekejap dia termenung di depan makanannya.
"Gara, kenapa kamu diam, apa ada yang menganggu pikiran mu?" tanya Nenek yang melihat Anggara berhenti makan.
"Tidak ada nek, gara mau segera mengerjakan tugas kuliah"jawab Anggara langsung segera menghabis kan makanan nya.
Selesai Anggara dan Nenek makan, Anggara membereskan meja makan, lalu membantu Nenek berjalan ke dalam kamar nya. Piring kotor yang bertumpuk Anggara cuci sampai bersih.
Anggara segera masuk ke kamar nya setelah mencuci piring kotor, lalu dia berbaring di atas kasur.
"Siapa orang yang mengejar ku tadi, mereka berpakaian jas warna hitam, ciri-ciri nya sama dengan orang yang sudah menggeledah rumah ku kemarin, dan membuat Nenek jatuh sakit, apa mereka orang yang sama, jika ia, apa yang mereka inginkan dari ku, aku tidak bermusuhan dengan siapa pun, aku juga tidak membuat masalah dengan siapa pun, aku bahkan menjauhi masalah yang mendekat, siapa mereka sebenar nya? aku harus mencari tau siapa mereka, agar aku tau tujuan mereka mencari ku"ucap Anggara yang sedang banyak pertanyaan di benak nya.
"Sudah lah, aku akan mencari tau nga nanti, sekarang aku mau mengerjakan tugas kuliah dulu" ucap Anggara beranjak dari tempat tidur nya, lalu dia membuka laptop milik nya yang baru dia beli semenjak masuk ke Universitas, menggunakan uang milik Ayah nya. Anggara menyelesaikan tugas yang sudah di berikan Dosen dengan cepat.
Di malam hari, Anggara duduk di bawah pohon besar di mana pohon itu tumbuh di depan rumah Nenek, pohon yang sangat rindang, di bawah pohon terdapat tempat bersantai yang sengaja di buat. Pohon yang setiap malam menyaksikan kesedihan Anggara, mendengar kan seluruh keluh kesah Anggara, bahkan memberikan kenyamanan pada Anggara, selalu menemani Anggara di setiap malam yang sunyi dan sepi, tiada teman setia yang menemani Anggara selain pohon itu. Pohon tersebut sudah tumbuh sejak Anggara masih kecil, di saat kedua orang tua Anggara masih ada. Anggara dan kedua orang tua nya selalu duduk di bawah pohon itu, saling bercerita, bercanda tawa bersama, di waktu hari yang ceria menemani Anggara. Pohon itu lah saksi kebersamaan Anggara bersama keluarga nya, bahkan di batang pohon terdapat gambar Anggara dan kedua orang tua nya yang dia gambar masih saat kecil.
Hanya pohon itu lah yang masih menyimpan kenangan Anggara bersama kedua orang tua nya.
__ADS_1
Di masa kecil Anggara adalah anak yang paling ceria, mudah berteman dengan siapa pun, tidak pernah merasa sedih. Sejaka kedua orang tua nya meninggal, Anggara menjadi anak yang pendiam, dingin, tidak mau berteman dengan siapa pun, menjadi kepribadian yang tertutup. Tapi semenjak berteman dengan Sasya dan Indra, sedikit demi sedikit Anggara mulai ceria kembali, dan mulai terbuka, tapi sifat dingin nya masih aja ada, dan tidak menerima teman siapa aja.