
"Suami Aizhe? Apa itu benar, Aizhe?" tanya tetangga baik. Aizhe masih diam, tapi setelah mendapat kode cubitan dari Arzen di pinggangnya, ia pun mengangguk. "Iya, namanya—"
"Nama saya, Zen. Hampir mirip dengan nama anak saya, Zee." Arzen langsung melanjutkannya sebelum Aizhe mengatakan nama aslinya.
"Iya, kan, sayang ku?" Senyum Arzen dengan panggilan mesra. Membuat lima anak di sampingnya melongo. "Sayang? Mommy dipanggil sayang?" Mereka bertatapan tak percaya kepada Arzen yang sejauh itu kepada Aizhe.
"Iya," ucap Aizhe ikut saja ke dalam sandiwaranya.
"Oh, kalau begitu, apakah benar apartemen ini mau digusur oleh Presdir Neo?" tanya mereka beralih topik.
Arzen tersenyum kecut, "Ya, sebenarnya dia mau. Tapi karena istri saya tinggal di sini, saya telah meminta kepada beliau untuk mencabut rencana penggusuran. Jadi, berterima kasihlah pada istri saya yang telah menyelamatkan hidup kalian," jawab Arzen serius.
"Syukurlah!" Mereka berbahagia mendengar kabar itu. Sebagian meminta maaf dan berterima kasih. Sebagiannya lagi ada yang pergi begitu saja.
"Makasih, Bu, Pak, sudah membantu saya," ucap Aizhe ke tetangga baiknya.
"Sama-sama, Nak Aizhe. Kami senang, melihat keluargamu telah berkumpul, apalagi ternyata kamu punya suami yang tampan. Pantas saja, anak-anak kamu tampan dan cantik, ternyata turunan kedua orang tua mereka." Tetangga baik, tersenyum dan tak lupa memuji.
"Hihihi, tellima kasih, Tante juga cantik!" Ara tersenyum bahagia.
Suami istri tetangga Aizhe itupun pulang. Kini di depan apartemen Aizhe telah sepi dan hening. Arzen menghela nafas lega kemudian berbalik badan. Langsung berhenti melihat Aizhe dan anak-anaknya berdiri di depannya.
"Hm, kenapa melihat saya?" tanya Arzen dipelototi oleh mereka, kecuali Aizhe yang buta.
"Om, apakan ucapan yang tadi itu, benar?" tanya mereka.
__ADS_1
"Ohh itu, saya melakukannya agar kalian terlepas dari mereka," ucap Arzen agak grogi.
"Berarti, itu cuman bohong?" tanya Aizhe.
Arzen diam. Tak mau bicara, sehingga membuat Aizhe dan anak-anak mengira Arzen memang bersandiwara.
"Ara, kamu jangan sedih, walau ini bohong, kita tetap harus berterima kasih sama Om ini," ucap Nath menghibur Ara yang patah semangat.
"Ya." Ara tersenyum dan mendongak, "Tellima kasih, Om!" Kemudian pergi dengan menundukkan kepala. Chloe dan yang lainnya pun menyusul adik kecil mereka.
"Tuan, terima kasih sudah membantu kami. Maaf kalau tempat ini sangat berisik dan membuat anda kurang nyaman," kata Aizhe merasa bersalah, karena seperti sudah memanfaatkan Arzen.
"Tak apa-apa, tak usah dipikirkan." Arzen mau menyentuh kepala Aizhe tetapi masih ragu. Aizhe pun berjalan dengan tongkatnya, pergi membangunkan Axel.
"Hei, Om! Kenapa berdiri di sini terus? Sedang memantau siapa?" Axel yang habis mandi dan berpakaian lengkap, menepuknya.
"Hei, Nak, apa di sini kau tahu siapa yang mencurigakan selain pemilik tanah yang kemarin?" tanya Arzen.
"Memang kenapa Om mencari orang seperti itu?" tanya Axel. Arzen diam, bimbang dan perlu dipikirkan matang-matang jawabannya.
"Baiklah, ini adalah rahasia Om, saya akan memberitahukan ini pada mu, tapi apa kau bisa menjaga rahasia?" tanya Arzen terlebih dulu.
"Kalau merugikan, aku bocorkan, kalau tidak, aku simpan," kata Axel.
"Bagus, sebenarnya saya sedang mencari seorang peretas yang berani mempermalukan saya dengan mengirim foto jelek saya!" ucap Arzen.
__ADS_1
"Kalau dia tertangkap, apa yang akan terjadi padanya?" tanya Axel.
"Mudah sekali, dia akan dipenjara selamanya!" kepal Arzen.
"Kalau itu saudara Axel, gimana?" tanya Axel dan sedikit takut.
"Tentu saja, dia harus—" putus Arzen diam.
"Eh, maksudnya, siapa?" lanjutnya kaget.
Axel pun menjelaskan itu ulah Chloe yang kesal karena melihat kaki Ara yang luka setelah dari rumah Arzen.
'Ya ampun, ternyata musuhku adalah anakku!' batin Arzen tak habis pikir, Chloe bisa sejenius itu meretasnya. Benih kedua, yang menakjubkan! 5 bintang untuk Chloe!
"Jadi, Om akan marah dan penjarakan Loye?" tanya Axel berharap, tidak.
"Tidak, untuk masalah ini saya bisa memaafkannya." Axel tersenyum, senang adiknya terlepas dari hukuman. "Terima kasih, Om!" ucap Axel.
"Hm, sama-sama." Arzen tersenyum kecut, kemudian melirik Chloe yang bersembunyi dan menguping di sana. Tampak merasa lega mendengarnya
"Anak-anak ini tidak bisa diremehkan." Itulah isi hati Arzen mengetahui setiap anaknya memiliki keunggulan di bidangnya masing-masing.
.
🤭Gimana ya, jenius nya dari kau sih.
__ADS_1