KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 51 Nenek Paling Galak


__ADS_3

"Ibu, maaf. Maafkan aku," isak Katherine. Tangisnya terdengar menyesal dan memohon dalam kamarnya. Ia tak dapat beralasan lagi setelah kelakuannya pada Aizhe diketahui oleh mertuanya itu.


"Katherine, sejak kematian Eric, kau ini mulai berubah. Seandainya saja putraku itu tak meminta dirimu tinggal di sini selamanya, aku sudah lama membuang mu dari keluarga ini."


"Ampun, Ibu. Aku janji, tidak akan mengulanginya lagi." Katherine terduduk. Bergerak perlahan mendekati Nyonya Arita dan memohon di kakinya. "Ibu, maafkan aku." Katherine menangis lagi karena bila ia keluar dari rumah itu, ia akan menjadi gelandangan di luar sana, sebab selama ini, Katherine tak pernah dapat sepeserpun uang dari mertuanya itu semenjak suaminya meninggal. Hanya modal dari uang pemberian Arzen yang kadang dipakai bersenang-senang.


"Kau memperlakukan Aizhe dengan keterlaluan, tapi kau tak sadar diri bahwa kau juga dulu sama sepertinya!"


Katherine diam, terguncang dan menunduk cepat. Terisak-isak dengan menyedihkan. "Aku me-memang wanita miskin dan yatim piatu, tapi aku tak buta dan cacat sepertinya, dia lebih rendah dariku," lirih Katherine meramas jemarinya.


"Apa kau bilang barusan?!" geram Nyonya Arita mengangkat tangan dan rotannya. Dengan sorotan mata yang menakutkan itu, Katherine memohon pilu. "Ampun, Ibu. Jangan cambuk aku lagi." Tapi, amarah yang terbakar di hatinya, membuat Nyonya Arita tak terkendali dan benar-benar tak ada balas kasihan yang dia berikan.


"BERHENTI, NENEK!" Axel, Chloe dan Arzqa masuk sebelum rotan itu mencambuk Katherine. Padahal Ibu mereka juga sedang kesakitan atas ulah nenek kandung mereka, tapi tiga anak kembar itu tetap tidak tega melihat Katherine sakit. Mereka merasa, sama saja seperti Katherine jika itu dibiarkan. Kini mereka juga sadar kalau nenek paling galak adalah Arita. Tak segan-segan menyakiti seseorang sampai mau mati. Di keluarga ini, semua orang memiliki kekejaman tersendiri dan itu membuat ketiga twins tampan ini sedikit takut.


Nyonya Arita membuang nafas, dan mengelus dada. Hampir saja menghabisi Katherine di depan tiga anak cucunya itu. "Hari ini, aku maafkan. Tapi bila ada laporan lagi, siap-siap menerima hukuman lebih berat dari ini." Nyonya besar keluarga Neo itupun keluar dari kamar sambil membawa rotannya.


"Nenek, sini Axel bantu." Ulur Axel, memberi tangannya namun ditepis oleh Katherine. "Pergi kalian!" bentaknya mengusir tiga cucunya tersebut dengan marah.


"Ma-maaf, Nek. Kami salah." Axel meminta maaf dan merasa prihatin melihat kedua kaki Katherine mendapat bekas cambukan. Berdiri pincang-pincang dan mendekati tempat tidurnya sendiri.


"Bik!!" panggil Katherine teriak, namun tak ada satupun yang masuk mempedulikannya. Tentu dua pembantu itu dilarang melayani Katherine. "Nenek, mau apa?" tanya Arzqa berdiri di sebalahnya bersama Axel dan Chloe.


Katherine berpaling tak mau melihat mereka. "Apa kalian tuli? Aku bilang pergi! Pergi kalian! Aku tak butuh balas kasihan dari kalian." Marahnya membentak-bentak dan ujung-ujungnya meringis kesakitan.


"Biik! Kamari!" panggil Katherine lagi. Namun dua pembantu tak kunjung datang mengobatinya.


"Nenek, biar kami yang obati," sahut Chloe, Arzqa dan Axel membawa obat luka. Berlutut di dekat kaki Katherine dan mengolesi obat pada kedua kakinya yang lebam.


"Keluar!! Aku bilang, keluar!!" usir Katherine marah sampai menghindarkan kakinya dari tangan kecil tiga cucunya. Namun mereka masih gigih mengobatinya.


"Nek, jangan gerak. Nanti bisa bengkak." Arzqa menegurnya dan mendongak pada Katherine yang terdiam. Pelan-pelan, tak ada suara bentakan lagi, melainkan suara tangis Katherine yang pecah kembali.


"Eric," lirihnya terdengar sakit dengan air mata bercucuran jatuh. Axel, Chloe dan Arzqa diam, merasakan Katherine sedang sangat-sangat tertekan.

__ADS_1


"Ayo, kita keluar." Axel mengajak dua adiknya untuk biarkan Nenek mereka istirahat. Sebelum menutup pintu, mereka memastikan Nenek mereka dulu. Melihat Katherine tidur dan sesenggukan di sana sampai tenang, akhirnya tiga anak tersebut baru menutup pintu kamar Katherine.


"Kakak! Ala pulang!" pekik Ara melengking, memanggil tiga kakaknya yang menuruni anak tangga. Ia dengan cerianya, berlari ke arah mereka. "Selamat datang, Momi, Ara, Zee, Nath" sambut mereka bertiga.


"Hm, Daddy ndak?" Tunjuk Ara ke Arzen yang cemberut di sana.


"Selamat datang, Daddy." Sambutnya agak terlambat.


"Hm, tangan Mommy kenapa?" tanya Zee dan Nath baru sadar tangan Ibunya selesai diperban. Ara menoleh dan mendekati Aizhe.


"Mommy,  jatuh dimana?" tanya Ara dengan raut wajah sedih.


"Cuma luka kecil, kok. Kalian tenang saja." Aizhe menjawab dan tersenyum. Tak mau mereka khawatir. Tetapi, Zee dan Nath pun sudah tahu kronologinya dari tiga saudara lelakinya.


"Sakit, yah, Mom?" Ara mau menyentuhnya tapi tak berani.


"Tidak, sudah baikan dikit." Aizhe menjawab semudah itu.


"Hm, ya udah Mommy, ayo mandi, mandi solle sama Ala. Nanti Ala bantu." Ajak gadis kecil itu sudah tak tahan bau keringat di tubuhnya gara-gara studio yang agak panas.


"Hm, baiklah." Aizhe mengangguk dan digandeng Ara naik ke atas.


"Daddy, mau kemana?" Lima kakak kembar Ara menahan langkah Arzen. "Mau ke Nenek kalian," ucap Arzen melihat ke arah kamar Katherine. "Daddy, jangan dulu. Nenek lagi tidur. Nanti saja." Axel, Chloe dan Arzqa melarang.


"Ya sudah, nanti malam saja." Hembus Arzen menuruti lima anaknya.


"Daddy, ayo sini, katanya mau bahas tentang pekerjaan. Ayo jelaskan sama kita." Zee dan Nathan memohon, karena menyukai pekerjaannya dengan Erina sehingga ingin tampil sesekali di acara itu. "Baiklah, sini ikut Daddy." Arzen membawa lima penerus masa depan perusahaannya ke ruang kerja miliknya.


Malam pun tiba, semuanya berkumpul di dapur kecuali Katherine. Arzen maupun Nyonya Arita, tak ada yang mempedulikannya. Aizhe yang merasa tak enak tanpa adanya Ibu mertuanya itu, ia meminta pada Arzen yang duduk di sampingnya.


"Sudah, makan saja. Nanti juga turun sendiri." Arzen menolak dan menyuruh Aizhe lanjut makan. Melihat Ibunya resah, Axel turun dari kursinya.


"Mau kemana, Axel?" tanya Arzen.

__ADS_1


"Mau kasih ini ke Nenek, Dad," jawab Axel dan memegang sepiring makanan lezat.


"Tak usah, kembali duduk di sana." Larang Arzen.


"Tapi, daritadi Nenek tidak keluar kamar, Dad." Axel tetap ngotot.


"Arzen, biarkan saja," ucap Aizhe memohon.


"Ya sudah, kalau sudah bawa itu, cepat kemari." Arzen menurut dan mengizinkannya. Nyonya Arita yang makan dengan tenang di sana, melirik Axel yang pergi dan kemudian lanjut makan. Diam-diam, Ara menyusul kakak sulungnya sampai masuk ke dalam kamar Katherine.


"Asel bawa makanan, dimakan ya, Nek." Axel menaruhnya di atas meja dan melihat Katherine di sisi ranjang sana tak bergerak. Terlihat menyelimuti dirinya dan meringkuk sedikit.


"Kakak, ayo bangunkan, Nenek!" sahut Ara mengagetkannya.


"Ehh, Ara jangan!" Axel mengejar Ara yang pergi ke sisi lain tempat tidur. Seketika raut wajah Ara memucat perlahan melihat Katherine di sana juga pucat. Tak hanya Ara, Axel pun diam memucat.


"Daddy! Daddy!" Ara turun tergesa-gesa memanggil Arzen.


"Ada apa, Ara? Nenek melakukan sesuatu padamu?" tanya Arzen cemas dan berhenti menyantap makanannya.


"Bukan, Nenek ndak begellak! Nenek pingsan, Daddy."


Deg*


Nyonya Arita nyaris tersedak mendengarnya.


"Apa?" Arzen berdiri, barlari secepatnya ke kamar Ibunya. Sementara Aizhe pun menyusul bersama anak-anaknya, kecuali Nyonya Arita yang masih diam di tempatnya.


"Biik! Cepat panggil Victor!!" lantang Arzen setelah melihat langsung wajah Ibunya pucat dan lemah. Serta merasakan tangannya perlahan dingin dan hembusan nafasnya yang pendek.


"Ma, Ma, sadarlah. Jangan buat Arzen takut. Ma, bangun." Arzen mengguncang Katherine yang kehilangan kesadaran. Mendengar Arzen ketakutan di sana, Aizhe mulai merasa khawatir. Apakah ini lagi-lagi rencana Katherine?


__ADS_1


__ADS_2