KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 71 Dapat Cincin


__ADS_3

"Nenek, ayo pulang, ini mau hujan." Zee menarik-narik tangan Katherine yang sementara mengobrol dengan wali kelasnya. Dan Ara, nampak matanya yang unik itu berbinar-binar melihat hadiah di tangan empat kakak kembarnya yang tidak ingin Ara bersusah payah membawanya.


Bukan hadiah dari perlombaan sih, cuma hadiah dari beberapa anak perempuan yang mengidolakan mereka. Kecil-kecil sudah banyak penggemar. Enam bibit kembar Arzen seperti mengikuti jejak sang kakek dulu.


Ada permen, coklat, susu, kinderjoy, biskuit dan jenis makanan ringan lainnya serta kotak mainan yang harganya mahal-mahal. Tetapi ada juga hadiah kecil namun pemiliknya takut memberikannya. Ia seorang gadis mungil yang pemalu.


Zee yang merengek, nanar matanya yang hitam menawan itu beralih pada tembok di belakang sana.


"Nenek! Zee pergi ke sana!" Arzqa dan Nath teriak dan menunjuk Zee yang berlari.


"Zee, kamu mau kemana!!?" Katherine segera tersadar satu  anak Aizhe lari meninggalkannya. Axel dan empat adiknya menyusul cepat.


Sontak, mendengar suara jatuh, Katherine, wali kelas dan lima anak kembar di samping mereka terdiam melihat Zee jatuh di dekat gadis kecil itu, dan di tangan Zee terdapat kotak kecil milik gadis pemalu itu.


"Hmm, kenapa kamu lari ke sini, Zee?" Chloe mendekat.


"Terus, siapa anak ini?" Axel di sampingnya, menunjuk.


"Hei! Kamu suka sama Zee ya!?" seru Arzqa dan Nath membuat Katherine dan wali kelas bertatapan. Sedangkan Ara, lari menolong gadis kecil itu yang tingginya setara dengan kakaknya. Memakai jepit rambut merah yang lucu, namun bajunya sangat lusuh.


"Kamu ndak papa?" tanya Ara dan membantunya berdiri. Sedangkan Zee dibantu oleh Katherine. Tampak mereka berdua barusan tak sengaja bertabrakan sampai jatuh ke tanah. Zee barusan ingin menahannya, namun keduanya malah jatuh ke tanah.


"Ndak papa, terima kasih." Gadis itu kemudian melarikan diri.


"Heiii, jangan kabur!!" teriak Zee, namun teriakannya diabaikan.


"Sudah, jangan dikejar. Biarkan dia pergi," tahan wali kelas.


"Bu Gullu, entuh tadi siapa?" tanya Ara.


"Saya baru melihat dia, anak siapa itu, Bu?" tanya Katherine lalu melihat Zee yang cemberut di dekat empat saudaranya dan memandangi kotak kecil milik anak perempuan tadi di tangannya.


"Dia murid di sini, cuman untuk tahun ini dia berhenti. Ayahnya udah nggak ada, Ibunya sakit dan dia anak terlantar di daerah ini, Nyonya," ucap wali kelas merasa prihatin.

__ADS_1


"Kasihan dia," sungut Katherine merasa iba, ia melihatnya seperti Aizhe yang terlantar tanpa keluarga.


"Nenek, ayo bawa saja dia pulang!"


Deg!"


Zee terperangah, sama seperti empat anak di sampingnya yang terperanjat mendengar usulan Ara.


Katherine tersenyum lalu membelai kepala Ara. "Maaf sayang, kita nggak boleh sembarangan mengambil keputusan. Terus, untuk membawanya pulang, kita harus minta izin dulu sama orang tua kalian dan juga pada nenek besar kalian."


"Sekarang, ayo pulang sebelum hujan turun."


Katherine pamit pada wali kelas lalu ia membawa enam cucu menggemaskan nya ke dalam mobil.


"Hei, Zee! Buka kotak itu dong!" pinta Axel, Chloe, Arzqa dan Nathan merasa penasaran pada isi kotak di tangan Zee. Sementara peri cerewet mereka, sibuk mengacak isi hadiah kakaknya yang menumpuk di dekat mereka.


"Buang aja deh," ucap Zee membuka jendela.


"Hm, kenapa?" Lima kakak tampan itu bertanya.


"Siapa tau isinya entuh kucing!" kata Ara dengan polos. Katherine yang duduk di dekat supir, ia menahan tawa mendengar obrolan mereka.


"Hahahaha…. kucing? Hahaha…."


Bibir mungil Ara manyun melihat lima kakaknya terbahak-bahak.


"Dek, kucing itu besar, tidak bisa masuk di sini. Lihat, kotaknya kecil." Mereka dengan gemas mencubit pipi Ara yang cengengesan.


"Tellus, isinya apa dong?"


"Coba kalian buka, Nenek juga penasaran mau lihat apa isinya," kata Katherine.


Zee memandangi cukup lama penutup kotak itu, lalu perlahan membukanya. Seketika matanya membola hebat.

__ADS_1


"Hei, kamu kenapa, Zee?" Mereka merasa cemas melihat Zee yang tiba-tiba diam. Apakah isinya emas? Kodok? Atau uang mainan? Jangan-jangan bom?


"Kakak, Ara juga mau lihat!" Ara merebut kotak itu dan ia pun ikut diam.


"Ihhh, kalian lihat apa sih?" Axel, Chloe, Arzqa dan Nathan mengambil nya di tangan Ara. Mereka lantas terdiam juga.


"Axel, kalian baik-baik saja?" tanya Katherine cemas. Perlahan, Nathan mengeluarkan sesuatu dari kotak lalu menunjukkannya pada Katherine.


"Nenek, lihat ini."


Mulut Katherine sedikit terbuka menatapi cincin mainan di tangan Nathan. Ia lantas berpindah melihat Zee yang raut wajahnya terlihat sangat kaget, seperti dilamar oleh gadis pemalu itu. Supir yang penasaran, ingin rasanya menoleh, tapi ia harus fokus mengemudi .


"Nathan, sini, itu punya ku!" Zee mau merebutnya karena tak suka hadiahnya dipegang orang lain, tetapi cincin itu justru terpasang di jari Chloe.


"Akhh!" Tiba-tiba Ara memekik.


Pak supir menepikan mobilnya cepat dan merasa di kursi belakang sangat ribut. "Maaf, apa yang sedang terjadi?" tanya Pak supir cemas.


"Kamu kenapa, Ara?" tanya Katherine.


"Nenek, Kak Loye udah jadi suwami!" Petir bagai menyambar di kedua kuping Zee.


"Nenek hallus bawa dia itu ke lummah!"


Chloe terperanjat mendengar pernyataan dari adik kecilnya. Tak hanya dia, tiga lainnya juga, sampai bola matanya mau copot.


“Tidak! Ini punya ku!!” pekik Zee mau merebutnya, tetapi cincinnya justru nyangkut di jari Chloe. “Huwaa, Nenek!!” Zee merasa semakin tidak karuan. Pak supir nyaris pingsan mendengar suara mereka yang ricuh di belakang.


…..


Cuma cincin, ribut semua wkwk,


Btw ini bakal author jadiin cerita di lapak sebelah, maaf kalau agak gaje ya😅🙏..

__ADS_1


__ADS_2