
Apa yang diharapkan Aizhe, malah sebaliknya. Ia masih hidup dan sekarang berada di sebuah klinik kecil. Dengan kondisi yang lemah, Aizhe membuka mata, dan seperti biasa, gelap.
"Aku masih hidup?"
"Benar, kalau aku sudah mati, aku pasti sudah melihat." Aizhe beranjak duduk. Diam sejenak, merasakan angin menghembus dan udara di sekitarnya yang sedikit bau obat-obatan.
Aizhe meraba tubuhnya, kemudian diam merasakan dirinya memakai baju lain. Seketika, menunduk dan menangis.
"Aizhe," panggil seseorang datang. Gadis yang duduk di atas brankar itu menoleh ke sumber suara.
"Aizhe…." Orang itu semakin dekat. Aizhe mundur dan segera memekik. "Berhenti! Aku benci Nenek!" ungkap Aizhe kepada Evelin. Wanita paruh baya itu tersentak, mendengar Aizhe yang membencinya.
"Hiks, katanya Nenek mau bawa aku ke tempat orang tua ku, tapi rupa-rupanya membawa ku kepada laki-laki gila! Kalau benar, Nenek memang tidak suka kehadiran Aizhe, bilang saja, tidak usah bohong, Nek. Biar Aizhe pergi, dari Nenek. Hiks! Aku benci, Nenek!"
"Nak Aizhe, tenanglah." Pemilik Klinik masuk, menenangkan Aizhe yang merasa hancur dan kecewa berat.
"Pergi, jangan sentuh aku! Pergi kalian!" ujar Aizhe menjerit. Namun, pada akhirnya, pasrah dalam pelukan Dokter itu.
"Huuhuhu, aku cuma mau hidup tenang, tapi kenapa semua orang benci padaku. Kenapa tak ada yang cinta dan sayang sama aku. Aku tidak pernah jahat, selalu dengar kata Nenek, dan suka bantu orang. Kenapa…." Isaknya tersiksa.
"Kalau memang aku nyusahin Nenek, kenapa Nenek rawat aku di sini? Kenapa, Nek? Apa aku memang terlahir untuk dibuat mainan? Aku bukan benda mati maupun boneka, Aizhe manusia! Aku punya nafas dan impian, Nek." Sekali lagi, meracau. Sangat sakit, sampai rasanya ingin mati.
"Sudah, Nak Aizhe. Nenek mu sudah keluar dari sini," ucap Dokter melepaskan gadis buta yang malang itu.
"Kamu baru saja siuman, istirahatlah dulu." Dokter membaringkan Aizhe dan menyelimutinya. Aizhe berbaring ke kiri. Diam dan sesenggukan. Dokter keluar, menemui Evelin.
__ADS_1
Kedua wanita itu duduk berhadapan dan membicarakan sesuatu yang serius. "Nek Evelin, sekarang Aizhe sudah sadar dari komanya, dan hasil dari pemeriksaan saya kemarin, ada sesuatu di dalam rahimnya," ucap Dokter itu yang lebih muda 30 tahun dari Evelin, dan dia adalah Dokter sungguhan, tidak seperti Evelin yang hanya sebagai perawat biasa, dan bekerja apabila ada janin yang ingin diaborsi.
"Sesuatu? Apa itu?" tanya Evelin setengah kaget.
"Cucu anda, hamil. Usianya telah masuk satu bulan dan juga ada enam janin yang sehat di dalam sana."
Evelin terpaku diam, lebih syok sekarang.
"Bagaimana bisa anak ini hamil? Sedangkan di kereta itu jelas-jelas hanya dirinya sendiri, apakah si masinis yang memperkosanya?" Evelin bergumam, dan berusaha tenang.
"Nek Evelin, anda baik-baik saja?" tanya Dokter.
"Sa-saya tak apa-apa," jawab Evelin kemudian berdiri.
Mau bagaimana lagi, Aizhe tetap pulang bersama Evelin. Namun untuk beberapa hari ini, Aizhe belum pernah bicara kepadanya. Mendengar suara Evelin saja, Aizhe pergi dengan acuh ke kamarnya. Dua bulan berlalu, Evelin yang tua, tak sehat seperti dulu lagi dan ia semakin bungkuk. Namun, ia tetap berusaha membujuk gadis buta itu bicara padanya.
"Hueekkk…"
"Hueekk…"
"Hmm, apa ini? Kenapa akhir-akhir ini aku mual? Apa Nenek sudah menaruh racun di makanan aku tadi?" Aizhe terisak, perasaannya tak enak daritadi. Sedangkan Evelin, menunduk sedih, dan menyadari cucunya benar-benar hamil.
"Apa masinis itu yang sungguh telah menghamilinya?" gumam Evelin mengepal tangan. Namun seingatnya, saat ia datang mencari Aizhe dengan jalur kereta, ia hanya menemukan Aizhe sendirian tergeletak di tanah. Dan lagi, masinis yang mengendalikan kereta dikabarkan sudah meninggal.
Evelin pun diam, memperhatikan Aizhe yang keluar ke tetangga baik, menyuruhnya memanggilkan Dokter.
__ADS_1
Dokter yang kemarin pun datang dan mengatakan sebenarnya jika ada enam anak di dalam perut Aizhe. Gadis buta itupun syok berat dan langsung meraba perutnya yang memang sangat besar. "Apa itu benar, Dok?" tanya Aizhe.
"Ya, Nak Aizhe." Jawab Dokter serius.
Setelah Dokter pergi, Aizhe duduk diam dan mengelus perutnya. Evelin pun kaget melihat anak itu mengangkat dua tangannya dan ingin memukul perutnya. Evelin maju, ingin menghentikannya, namun seketika Aizhe mengurungkannya.
"Huhuhu… kenapa kalian harus ada di sini, jelas-jelas aku buta, kalian hanya akan menderita," tangis Aizhe tak tega memukul calon bayinya. Gadis itupun berdiri, disusul Evelin mengikutinya diam-diam. Sekali lagi, ia terkejut melihat Aizhe mengemas bajunya.
"Aizhe, apa yang kau lakukan?" Akhirnya, Evelin bicara.
Aizhe berhenti kemudian, "Aku mau pergi, supaya anda tak repot merawat saya lagi," jawab Aizhe membuat Evelin sedih karena cara bicaranya yang terdengar formal.
"Jangan, Aizhe. Nenek tak mau kau pergi lagi," cegah Evelin. Kemudian ia meminta maaf setulus-tulusnya dan membujuk Aizhe dengan cara akan menerima anak itu. Merawat Aizhe hingga melahirkan dan membantunya membesarkan mereka.
Tak ada pilihan lain, Aizhe pun memeluk Evelin. Dengan lapang dada, memaafkan wanita tua itu setulusnya. "Aizhe, juga minta maaf sudah mengabaikan Nenek." Keduanya kini bersama-sama menjalani hidup, dan terpaksa berbohong jika Aizhe sudah menikah, namun suaminya meninggalkan mereka.
"Suaminya gilaa." Sebagian penghuni mengutuk Arzen dan mereka ikut senang melihat Aizhe melahirkan keenam bayi yang amat menggemaskan, kecuali Ara yang terlihat aneh. Akan tetapi, kebahagiaan itu hilang begitu cepat setelah Evelin tutup usia. Aizhe pun dengan susah payah membesarkan mereka hingga sekarang berhasil mendidik mereka dengan kemampuannya sendiri.
#Flashback_off
"Mommy, kenapa menangis?" tanya Ara melihat air mata Aizhe berlinang. "Mommy, apakah masakan Asel tidak enak?" Sahut Axel yang tengah makan malam bersama Aizhe dan kelima adiknya.
"Tidak, sayang. Mommy hanya mengingat mendiang Nenek kalian." Aizhe menjawab dan mengusap sisa air matanya. Mereka pun lanjut makan dengan tenang dan harmonis.
Kecuali, Arzen yang saat ini sedang kesal karena hadirnya Erina di rumah. 'Katanya, Nenek sakit, ternyata Mama bohong.' Arzen menggerutu dalam hati dan tidak karuan makan malam bersama Erina.
__ADS_1
…..
🥺Ayo kembar, berikan yang terbaik untuk Momy kalian,, jangan biarkan wanita lain merebut kebahagiaan Ibumu😞