
Sesuai perkataan Arzen, ke-enam anak kembar Aizhe mulai bersekolah hari ini. Mereka sudah siap dengan seragam yang rapi dan bergegas menemui Aizhe. "Mommy!" panggil mereka.
Aizhe tak menoleh, ia masih diam di kursinya. "Mommy, kami mau belangkat sekolah," ucap Ara lalu diam melihat raut wajah Aizhe yang sedih.
"Mommy, kenapa? Dari tadi kenapa tidak bicara? Mommy sedih karena tidak ada yang jaga ?" tanya mereka.
Aizhe menarik nafas, ia menggelengkan kepala. "Tidak, Mommy senang kok kalian sudah mulai sekolah, cuman Mommy gelisah memikirkan kalian di sana, sayang," ucap Aizhe tak bisa jujur kalau sekarang sedang memikir ayah biologis mereka.
"Mommy, tidak perlu sedih dan gelisah, kami bisa jaga diri dan juga ada supir yang jaga kita di sana," ucap mereka menghibur Aizhe.
Aizhe mengangguk, menarik mereka ke dalam pelukan. "Ya sayang, kalian mulai sekarang sudah aman tanpa Mommy," ucap Aizhe mengejutkan mereka.
"Mommy, jangan bilang begitu, kami tidak suka," kata mereka ingin menangis mendengarnya.
Aizhe tersenyum dan mengusap air matanya sampai kering kemudian tertawa kecil, "Puff, Mommy bercanda kok. Sekarang pergilah sekolah dan dapat nilai tinggi buat Mommy," ucapnya tak bisa merusak hari bahagia mereka.
"Baik, Mommy! Kami akan pulang membawanya untuk Mommy!" ujar mereka kembali tersenyum dan memeluk Aizhe. Setelah pamit dengan ciuman di pipi, mereka berlari keluar menuju ke mobil. Pergi ke sekolah secepatnya.
Aizhe berdiri, perlahan keluar dari kamar. Melangkah menuju ke pintu rumah, kemudian berdiri sejenak sebelum membuka pintu. "Dari kemarin, anak-anak sangat bahagia bersama Daddy mereka. Sekarang mungkin sudah saatnya aku pergi dan tidak menyusahkan mereka di sini. Aku yakin tuan Presdir itu pasti tidak keberatan dengan kepergianku. Aku buta dan tidak pantas di sini." Aizhe merasa sudah tak dibutuhkan lagi, karena anak-anaknya sudah dikelilingi dengan harta ayah mereka. Sudah tidak kekurangan apa-apa lagi.
Namun, saat ingin membuka pintu, seseorang menahan dari belakangnya. Aizhe berbalik badan dan mundur terkejut.
"Siapa di situ?" tanyanya cemas ada maling yang masuk.
"Cowok jahat yang merusak mu dulu," jawab Arzen ternyata berada di rumah dan tidak pulang. Tentu saja, tadi pagi, Arzen tidak langsung pulang karena anak lelakinya yang melarang jadi ia yang memasak sarapan tadi.
Mereka juga tak terkejut adanya Arzen, melainkan anak-anak kembar Aizhe senang ada Arzen menginap di rumah mereka, sehingga mereka bisa merengek dan memohon agar Arzen mau memasangkan seragamnya.
__ADS_1
"Tuan Presdir, maaf, tolong izinkan saya keluar," ucap Aizhe lirih dan takut.
"Bagaimana kalau saya menolak?" Arzen semakin mendekat dan menyadari Aizhe sudah tahu dirinya berkat ucapannya itu barusan. Aizhe menunduk dan memohon lagi, "Ku mohon, saya hanya ingin hidup tenang tanpa membebani mereka, jadi tolong biarkan saya pergi, Tuan."
"Jika tak mau membebani mereka, kenapa kau melahirkan mereka?" Arzen memukul pintu di dekat wajah Aizhe, membuat wanita buta itu semakin gemetar dan berpikir Arzen marah.
"Saya menyayangi mereka, dan mereka tak berdosa untuk masalah ini," lirih Aizhe tentu tidak bisa membunuh enam buah hatinya itu.
"Terus, setelah kau pergi, apa kau pikir mereka akan terima semudah itu? Kau pikir, hidup mereka akan bahagia? Kau pikir, mereka sanggup hidup tanpa Ibunya??" Arzen maju, mendesak Aizhe.
"Ta-tapi, jika saya hanya di sini, saya hanya menyusahkan mereka dan menghambat impian mereka, dan lagi, kehadiran saya di sini akan membuat orang-orang curiga dan berpikir Anda menyimpan seorang wanita simpanan. Itu bisa merusak reputasi mu, jadi jika anda izinkan saya pergi, saya tidak akan pernah mempermasalahkan dan menuntut perbuatan anda di masa lalu," tutur Aizhe memohon dan sudah memikirkannya.
Arzen mendecak lidah, lalu memegang lengan Aizhe. Membuatnya semakin takut dan berpikir akan diperlakukan dulu lagi. Tetapi, melainkan Arzen maju memeluknya.
"Tenanglah, aku sudah waras dan tak seperti dulu yang memang kadang gila. Kau boleh benci aku, tapi tak perlu takut padaku. Aku tak akan menyakitimu seperti dulu, dan jujur aku sebenarnya menyukai mu, dan ingin menikah dengan mu," kata Arzen mengutarakan perasaan dan niatnya.
"Kau sungguh tipeku, Aizhe," lanjutnya sungguh-sungguh.
Arzen langsung mengatakan semua kekurangannya. Tapi ia tak bisa jujur kalau sifatnya begitu setelah kematian ayahnya.
Aizhe diam sejenak, merasa Arzen sedikit lucu.
"Hm, kenapa kau tertawa?" tanya Arzen heran.
"Itu, apa kau tidak malu mengatakan itu semua padaku?" tanya Aizhe.
"Malu? Untuk apa malu kepada wanitaku sendiri?"
__ADS_1
"Blusss"
Aizhe tersentak dan berpaling muka mendengarnya. Sedikit merasa aneh dianggap wanita Arzen. Sedangkan Arzen sendiri, ia tersenyum smirk melihat wajah Aizhe yang merah. Mudah sekali membuat Aizhe tersipu. Kepolosannya, masih seperti di kereta waktu itu. Dipuji sedikit, langsung nge-blus.
"Apa kau tak malu? Aku buta, miskin, bodoh dan yatim piatu, dan cacat. Seharusnya kau bilang itu kepada wanita lain," kata Aizhe menunduk.
Arzen menarik dagunya, dan mengecup bibir Aizhe tiba-tiba. Berbisik dengan serius. "Memang banyak wanita di luar sana yang menunggu kata ini, tapi kau adalah satu-satunya yang membuatku segila ini mencintai mu," kata Arzen kembali mencium Aizhe. Sudah lama, rasa kobaran di dadanya terkubur, dan sekarang perasaan itu perlahan bangkit lagi.
"Menikahlah dengan ku, Zhe," pinta Arzen dengan nafas memburu. Aizhe menunduk lagi dan melipatĀ bibir bawahnya. 'Apa ini sudah benar? Apakah menjadi istrinya, hidupku kini bisa merasakan kebahagian paling luar biasa itu?' Aizhe masih ragu dan takut akan dibohongi seperti dulu.
Arzen meraih dua tangan Aizhe, menggenggamnya serius dan sekali lagi meminta Aizhe menerima keinginannya.
"Dulu aku menolak berkenalan dengan mu, tapi setelah aku tau nama mu, sekarang isi hati ku penuh dengan nama mu, bahkan kepala ini terus memikirkan mu. Aizhe, menikahlah dengan ku. Tak hanya mencintai mu, aku juga sangat-sangat menyayangi anak-anak kita, jadi jangan takut lagi padaku," mohon Arzen.
'Ya Aizhe, setelah kita menikah, aku akan mencari pendonor mata untuk mu dan dengan setia menemani mu sampai kau dapat melihat. Kau tahu, ada sisi dunia yang paling indah dibalik semua ini.' Batin Arzen tulus ingin menebus kesalahan di masa lalu.
"Ba-baiklah, kali ini aku akan sungguh percaya padamu," ucap Aizhe sontak membuat Arzen mengangkatnya.
"Akhh, turunkan aku," pekik Aizhe takut jatuh. Arzen mengecup kening Aizhe, senang tidak ditolak. Ia membawa Aizhe ke sofa dan meletakkannya di sana.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Aizhe merasakan Arzen berada di atasnya. "Aizhe, aku tak sabar membawa mu ke Nenek," bisik Arzen kemudian bermain di bibir Aizhe yang lebih lembut dan menggoda. "Tunggu, jangan lakukan ini," tahan Aizhe tak mau.
"Tenanglah, sayang. Aku sungguh-sungguh akan menikah dengan mu." Arzen menahan tangan Aizhe. Ia terus cium, cium dan cium sampai Aizhe merasa geli, namun lama-lama ikut menikmatinya.
Di luar, tampak Davis berjalan masuk, karena mencari atasannya yang tak kunjung muncul di kantor. Sontak, Davis menutup pintu secepatnya setelah melihat Arzen menggoda Aizhe .
"Astaga, Tuan Arzen. Aku beri saran untuk menikahinya dulu, bukan menganggunya lagi." Davis segera pergi dan membiarkan atasannya itu menuntaskan kerinduannya.
__ADS_1
Sedangkan Katherine, tak tahan dengan sikap Arzen yang suka menginap di luar tanpa memberitahukannya dulu.
"Akhh, kemana sih sebenarnya Arzen bermalam akhir-akhir ini?" gerutu Katherine karena merasa harga dirinya sebagai Ibu sudah tak dianggap lagi.