KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 75 Pemakaman (ENDING)


__ADS_3

Sudah beberapa hari berlalu, hari ini Aizhe telah diizinkan membuka perban yang menutupi kedua matanya, dan sesuai permintaan Katherine setelah operasi kemarin berjalan lancar, Arita malam ini hadir di tengah-tengah enam cucu kembarnya, tak terkecuali Arzen juga sudah berdiri di samping Aizhe yang sekarang dibantu oleh Dokter.


Ara menggigit bibir bawahnya dan menahan isak tangisnya. Sedangkan Aizhe yang belum tahu apa-apa perihal matanya, terlihat senyumnya merekah perlahan.


“Ayo, bukanya pelan-pelan saja, sayang.” Arzen memberi instruksi sembari menggenggam tangan Aizhe yang bergetar.


“Arzen, a-aku takut,” ucap Aizhe tidak berani membuka matanya.


“Jangan cemas, Bu Aizhe. Anda akan baik-baik saja.” Dokter membantu Arzen membujuk Aizhe.


Perlahan-lahan, Aizhe mengedip kan sedikit matanya dan membukanya sedikit demi sedikit. Penglihatan yang awalnya gelap, seketika terlihat samar-samar ada cahaya muncul di depannya.


Aizhe pun terdiam sejenak melihat di depannya ada enam anak berkumpul dan berdiri di depan dua wanita. Dengan kedua tangannya, Katherine menutup mulut dan terharu melihat perubahan putrinya. Begitupun kelima cucu laki-lakinya turut senang ditatap oleh Aizhe, kecuali Ara di sana sedang terisak-isak. Ia senang melihat Ibunya memandangi wajah Arzen, namun Ara juga merasa sedih karena mata itu milik Victor.


"Ara, jangan nangis terus ya, nanti mata kamu bengkak, sayang.” Katherine menggendong Ara dan mengusap pundak cucu perempuannya itu yang dari kemarin terus menangis. Mereka semua tidak tahu jika Ara sedang patah hati, dan hanya Arzen yang tahu kematian Victor.


“Hm, bagaimana? Apa kamu senang?” tanya Arzen sembari mengusap air mata Aizhe yang mengalir.


Aizhe mengangguk dan memeluk Arzen. Sedangkan Arita diam-diam keluar dan tidak ingin merusak kebahagiaan mereka.


Axel, Chloe, Nathan, Zee dan Arzqa memeluk Aizhe. Mereka menangis bahagia, amat bahagia.


“Ara, sini, peluk Mommy.” Aizhe memanggil putri kecilnya, tetapi Ara menggeleng tidak mau.


“Loh, kenapa? Kok Ara nolak, sayang?” tanya Aizhe bingung.


“Oh ya, dari kemarin aku tidak mendengar kabar Victor, kemana dia, Arzen?” tanya Katherine tiba-tiba.


“Ya Daddy! Jangan lupakan Om Dokter! Dulu Mommy mau sekali lihat bagaimana wajah Om Dokter!” kata Axel, Chloe, Zee, Arzqa dan Nathan sudah tidak sabar ingin Victor datang melihat Ibu mereka sudah bisa melihat.


Sontak saja, Ara menangis jerit di pelukan Katherine membuat Aizhe, dan kelima kakaknya terkejut.


“Kamu kenapa, Ara?” tanya Aizhe khawatir.


"Daddy, ambil Ara,” pinta kelima kakaknya pada Arzen yang daritadi diam di samping Dokter yang juga sedikit cemas mengatakan kenyataan Victor.


" Ada apa ini? Kenapa kalian, diam?” tanya Katherine pada Arzen dan Dokter.


"Nenek, Om Doktel udah meninggal.”


" Apaa?!!" Katheirne serta Aizhe dan lima cucunya mematung.


"Bagaimana bisa, Dok?” tanya mereka pada Dokter.

__ADS_1


" Arzen, Victor sungguh sudah meninggal?” tanya Aizhe pada Arzen. Arzen mengangguk dan melihat Ara di sana yang sedang ditenangkan oleh suster.


"Ya, dia sudah meninggal dan mata yang kamu pakai itu adalah miliknya."


Arita di luar pun juga terkejut, mendengar sang pendonor adalah Dokter Victor. Padahal pria itu sangat baik, namun kematian telah datang menjemputnya. Arita menunduk, memukul dadanya. Merasa seharusnya ia yang berada di posisi Victor saja.


Arzen pun memeluk Aizhe yang terguncang karena ini berita kematian Victor terlalu mendadak. Sedangkan lima kembar Ara menunduk sedih. Seakan tidak percaya, Victor meninggal secepat itu.


Tok tok tok…


Seorang suster datang membawa sesuatu untuk Aizhe dan Ara. Dua buah surat dari Victor sebelum pria tampan itu menghembuskan nafas terakhirnya. Aizhe semakin menumpahkan air matanya, karena Victor menyuruhnya berbaikan pada Arita. Diujung hidupnya, pria itu masih sempat memikirkan keluarga pasiennya. Sedangkan Ara, gadis itu sudah tidak bisa menangis. Air matanya habis menangisi surat di tangannya dan sekarang pingsan di pelukan Aizhe.


Satu tahun kemudian…


Hari ini adalah hari dimana si kembar sudah berumur tujuh tahun dan bulan ini juga, Erina, istri Davis itu sudah melahirkan seorang anak perempuan yang cantik.


Karena Davis mengundang Arzen ke acara akikah putri mereka, Katherine pun menyuruh Arzen dan Aizhe datang ke sana bersama si kembar, kecuali Ara yang tidak mau karena tidak percaya diri dengan kedua matanya yang aneh. Ia tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang di sana sehingga Ara sekarang cuma bisa menyendiri di dalam kamar. Meskipun dibujuk oleh lima kakaknya, Arzen, Aizhe atau Katherine, Ara tetap menolak.


Tok tok tok….


Ara yang duduk di tempat tidur, menoleh dan melihat di ambang pintu ada nenek besarnya. Arita, wanita tua itu semakin renta dan menua, namun semua orang di rumah tetap menyayanginya, karena berkat surat dari Victor, Arita mendapat maaf dari semua orang.


"Ara, kenapa diam terus di sini?” Arita duduk di sampingnya dan membelai rambut Ara yang semakin mirip dengannya, kecuali manik matanya itu.


" Nek, apakah Om Victor benar-benar sudah tidak ada?”


“Ara rindu sama dia?”


Ara mengangguk.


Arita tersenyum sebelum menjawab, "Tidak usah sedih begitu, kalau kamu sedih, Om Victor akan sedih di sana.”


Ara maju dan memeluk Arita.


"Nek, apakah Om Victor di sana sudah bersama Kakek?"


"Ara rindu sama mereka, Nek."


Arita mengusap kepala Ara dan mengecup keningnya.


"Ya udah jangan nangis, nanti Nenek sampaikan salam rindumu.”


" Sekarang Ara tidur, biar cepat besar.”

__ADS_1


Ara mengangguk dan tidur di samping Arita. Memeluk tubuh neneknya yang semakin lemah, dan ketika usapan Arita berhenti di keningnya, Ara mendongak dan melihat Arita tidak bergerak. Bahkan nafasnya sudah tidak ada.


Ara beranjak duduk dan memegang kedua tangan neneknya yang dingin.


NENEK!!!


Satu teriakan Ara yang keras itu, membuat Katherine bergegas ke kamarnya. Istri Ericsson itupun terdiam sesaat melihat Ara menangis di samping Arita yang menghembuskan nafas terakhirnya.


"Huwaa…. nenek!!!” Katherine segera memeluk Ara yang terus mengguncang tubuh Arita yang mulai kaku. Pembantu yang melihat itu segera menelpon Arzen.


Isak tangis mereka kembali pecah.


Meskipun Arita sudah berbuat jahat, mereka tetap merasa sangat kehilangan. Tapi mau bagaimana lagi, takdir kematian seseorang sudah ditetapkan oleh sang Pencipta.


Hari menjelang sore, semua orang pun berjalan pergi dari tempat pemakaman terakhir Arita. Tidak hanya keluarga Arzen yang menghadirinya, adapula beberapa orang ternama yang mengantar kepergiannya, terutama Davis yang juga ikut serta menghadiri pemakaman mantan atasannya itu.


" Ara, sini kita pulang, Nak. Ibumu di rumah sudah menunggu kita." Ajak Katherine pada Ara karena Aizhe saat ini sedang hamil dan tidak bisa ikut, serta semua orang juga sudah pergi menuju ke mobil mereka, kecuali Ara yang masih duduk terdiam di samping kuburan Arita yang basah.


"Nek, Ara masih pengen di sini."


"Ya udah, tapi lima menit harus ke mobil, paham?”


Ara menengadah dan mengangguk. Katherine pun pergi membiarkan Ara di sana sendirian. Memberi waktu cucunya benar-benar melepaskan kepergian Arita.


Tiga menit kemudian, Ara beranjak pergi, kakinya melangkah, menuju ke satu makam seseorang. Ia menaruh satu buket bunga dan surat di batu nisan Victor.


"Om, baik-baik sama Nenek Ara di sana ya.” Tidak lupa tersenyum tegar dan segera berlari sebelum air matanya mengalir lagi. Tanpa ia sadari, seseorang datang mengambil bunga itu. Ia membuka masker dan menunjukkan wajah serta kedua manik biru yang mirip dengan Victor. Ia membuka surat kecil dan sedikit tertegun membaca isinya.


"Om, Ara cinta Om. Meskipun Ara masih kecil dan Om sudah tidak ada. Ara tetap sayang Om."


Ia tertawa geli dan kemudian pergi membawa dua benda itu. "Kakak, aku bersumpah akan menemukan pembunuh mu tahun ini." Remaja tampan itu mendecak lalu pergi membawa motornya.


Cinta memang buta. Terkadang tidak memandang fisik dan usia. Itulah yang terjadi pada Aizhe dan Ara.


Cinta memberi kebahagiaan dan juga kesedihan.


Kadang menjadi penyembuh dan sebaliknya.


TAMAT.


Karena masalah sudah selesai, akhirnya cerita ini bisa author akhiri sampai sini 🥰 maaf ya kalau terasa gantung, soalnya author mau lanjut ke Novel lain. Jangan berharap ekstra part karena author tidak pande bikinnya. Kalau ada ide, mungkin author buat, itupun kalau ada ya😅


Terima kasih banyak atas dukungan kalian selama ini🥰dan buat Ara, tenang saja, nanti author kasih pangeran baru yang lebih muda dari Victor di cerita lima kakakmu😘 sekali lagi Terima kasih kakak-kakak dan bunda cantik. Maaf bila ada kata salah dalam penulisan🙏🌹

__ADS_1


__ADS_2