KEMBAR JENIUS CEO KEJAM

KEMBAR JENIUS CEO KEJAM
BAB 58 Siapa Orang Tua Aizhe?


__ADS_3

Aizhe masuk ke dalam bathtub dan duduk di sana setelah membuka semua pakaiannya. Arzen yang berdiri di dekatnya sedikit menelan saliva karena tubuh istrinya yang menggoda. Buah dada yang montok dan besar, serta body semok yang empuk. Sangat menggetarkan hasrat terpendamnya.


"Mas Zen, kenapa diam saja?" tanya Aizhe tak mendengar suara Arzen.


"Ah, maaf." Arzen masuk ke dalam bahtub dan duduk di belakang.


"Bagaimana tanganmu? Sudah sembuh total?" tanya Arzen sambil menggosok punggung istrinya yang mulus dan cerah.


"Hm, sudah." Aizhe mengangguk dengan polos dan sedikit menunduk tersipu. Arzen tersenyum dan tiba-tiba mengecup punggung istrinya lalu mendekap tubuh Aizhe, membuatnya berdebar-debar.


"Hm, kenapa, Mas?" tanya Aizhe merasakan Arzen sedang murung di belakangnya.


'Apa dia sudah tidak tahan ingin dilayani?' pikir Aizhe yang memang belum pernah lagi disentuh Arzen setelah menikah.


"Aizhe, aku sayang padamu."


Aizhe diam tertegun lalu menoleh. Meski tak dapat melihat, tapi ia bisa merasakan Arzen sedang bersedih.


"Hm, kau kenapa?" tanya Aizhe cemas.


Arzen mendekap Aizhe dan mencium pipinya. "Aku... sebenarnya ingin membawamu pergi dari rumah ini."


"Hm, kenapa bicara begitu?" Aizhe semakin khawatir.


Arzen menghembus nafas lalu menjawab, "Aizhe, sebenarnya.... aku ini hanyalah laki-laki biasa." Suara Arzen sedikit tertahan dan sulit mengatakannya.


"Hm, maksudnya apa?" Aizhe tak paham.

__ADS_1


Arzen mengusap rambut istrinya dan menunduk lesu. "Aku bukanlah cucu kandung di keluarga ini dan bukan anak Mama. Orang tuaku sudah lama meninggal dan aku hanyalah anak angkat yang diadopsi oleh Nenek," ucap Arzen tahu identitasnya yang tidak diketahui publik.


Aizhe pun diam dan tak dapat berkata-kata.


"Aku tau ini semua dari Papa sebelum dia meninggalkan kami. Aku pikir ucapannya itu bohong, ternyata semuanya benar kalau Nenek mengadopsi ku, bukan lahir dari Mama. Maafkan aku, Aizhe. Mungkin selama ini aku sudah membohongimu dan semua orang." Arzen meraih tangan Aizhe. Ia jujur dan sudah tidak kuat merahasiakan sendiri identitasnya dari orang lain. Itulah mengapa ia bersikap sombong dan kejam agar orang-orang percaya dirinya adalah bagian dari keluarga Maverick. Memang tak tahu malu, tapi Arzen punya luka sendiri di hatinya dan karena itulah mengapa ia dulu benci Arita karena merahasiakan asal usulnya. Gara-gara itupun, ia menjadi cowok liar dan berandalan sampai berurusan dengan Mafia.


"Aizhe, maafkan aku."


Aizhe mendongak dan mengangkat kedua tangannya. Meraba wajah suaminya dan seketika terkejut merasakan air mata Arzen berlinang. Sontak saja, Aizhe memeluknya dengan cepat. Ia tak sangka, Arzen punya sisi rapuh sepertinya dulu.


"Tenanglah, kamu sekarang tak sendirian."


Arzen menahan nafas dan tangisnya. Ia tersenyum dan balas memeluk Aizhe.


"Terima kasih, sayang." Mengecup hidung Aizhe dengan perasaan lega. Aizhe tersenyum dan merasa takdirnya memang untuk hidup bersama Arzen.


Usai pakai piyama, Arzen membawa Aizhe keluar untuk bergabung kepada Katherine yang sedang diperiksa oleh Victor. Tak hanya dia, enam anak kembarnya juga sedang menunggu giliran.


"Mommy, duduk di sini!" panggil Ara di samping Katherine. Namun, Arzen menarik Aizhe duduk di sampingnya, membuat Ara cemberut, akan tetapi ia mengernyitkan dahi melihat mata ayahnya sembab.


"Hm, kenapa matamu bengkak, Arzen?" tanya Katherine yang juga menyadarinya.


"Daddy habis nangis, ya?" terka Ara. Victor dan lima anak kembar Aizhe menoleh. Mereka pun sama terkejutnya melihat mata Arzen merah.


"Apa sih, Ma. Ini tadi mata Arzen kena sampo, jadi agak perih sedikit," ucap Arzen mengelak. Ia malu mengakuinya karena ada Victor. Kalau dia jujur, yang ada si Victor bisa menyebarkan aibnya ke orang lain.


"Bagaimana, apakah semua sehat, Victor?" tanya Arzen setelah semuanya diperiksa.

__ADS_1


"Hm, benar. Mereka hanya tinggal minum obat dan istirahat secukupnya," ucap Victor merapihkan alat medis dan kotak obat-obatan nya.


"Sekarang aku pergi dulu, masih ada kerjaan di rumah sakit, permisi." Victor pamit pulang setelah mendapat bayaran. Kini di hadapan mereka hanya ada Katherine.


"Oh ya, semenjak kalian menikah, Mama tidak pernah dengar rencana bulan madu kalian. Apakah tidak ada niat ingin melakukannya?" tanya Katherine.


Arzen menatap Aizhe yang sedikit salah tingkah, karena ia agak canggung membahas itu sebab mereka sudah punya anak terlebih dulu.


"Daddy, ayo pelghi saja!" Ara setuju, demi hubungan Aizhe dan Arzen semakin erat.


"Ya, benar! Daddy dan Mommy harus liburan bersama!" Zee dan Nathan tiba-tiba ikutan. Mereka paham kondisi perasaan Arzen yang menyukai Ibu mereka.


"Hm, baiklah. Besok Daddy akan memikirkannya, tapi bagaimana dengan kalian? Apa kalian ingin ikut juga?" tanya Arzen dan menggenggam tangan Aizhe.


"Tidak, kami mau di sini jaga Nenek, hihi." Ara dan lima kakaknya menolak cepat. Aizhe semakin ngebluss karena anak-anak mereka benar-benar seperti bocah yang tidak polos.


Katherine tersenyum senang melihat hubungan enam cucunya, Aizhe dan Arzen yang sangat kuat. Ia jadi teringat dengan suaminya.


"Mama, ke kamar duluan ya." Katherine berdiri dan pergi ke kamarnya. Sedangkan Aizhe, pergi ke dapur makan malam bersama anak-anak jeniusnya dan suami tampannya.


Katherine di tempat tidur memandangi foto seorang pria muda. Tak terasa air matanya jatuh mengenai foto tersebut.


"Eric, sudah 10 tahun berlalu. Sejak kepergian mu, aku selalu berdoa yang terbaik untukmu disana dan kau tau, Arzen, sekarang sudah berkeluarga dan bahkan punya enam anak. Mereka lucu dan menggemaskan. Arzen sungguh mengalahkan kita," lirih Katherine sedikit tersenyum kecut. Ia lalu menangis karena gagal memberikan anak untuk Ericsson dan ia berpikir alasan Arita tidak menyukainya karena tidak memberi pewaris untuknya.


"Ini memang salahku, aku wanita yang tidak pantas menjadi Ibu." Katherine sesenggukan. Merasa sedih dan rapuh karena dalam hidupnya tak pernah menggendong seorang bayi, apalagi anak kandung dari pria yang dia cintai. Karena itulah, dia sangat menjaga dan menyayangi Arzen segenap hati seperti anak sendiri.


Keputusan Arzen sudah diputuskan. Ia akan pergi sore nanti bulan madu ke Korea dan berbagai tempat liburan di luar negeri lainnya selama seminggu nanti. Namun, sebelum keduanya berangkat, lima anak kembar Aizhe masuk ke dalam kamar dan menghampiri Ibu mereka yang sedang duduk sendirian sambil menunggu Arzen menyelesaikan urusan tiket penerbangan. Tak hanya liburan saja, Arzen juga berniat mencari mata pengganti yang cocok dengan Aizhe. Sedangkan Ara, bersama Katherine untuk menyiapkan hal-hal lainnya.

__ADS_1


"Mommy!" Mereka datang ingin tahu siapa orang tua Ibunya dan berharap Ibunya bukan anak dari wanita lain, atau istri gelap Ericsson di luar sana.


__ADS_2