
Selamat Membaca Dan Jangan Lupa Like sesudah ya🥰Terima kasih
....
"Ibu… kejamnya kau pada kami!!"
Katherine memukul dadanya. Kenyataan ini lebih menyakitkan dari semua hukuman yang pernah dulu ia terima dari mertuanya. Ia lalu menoleh perlahan dan menatapi Aizhe di sana. Dengan langkah pelan dan mata yang bengkak, Katherine mendekatinya dengan air mata mengalir di pipinya.
Arzen pun yang masih syok menyusul di belakang Katherine. Wanita tersebut pun mengulurkan kedua tangannya yang bergetar, memegang dan menatap wajah Aizhe lekat-lekat. "Mama… kenapa?" lirih Aizhe.
"Hiks, anakku. "
Katherine memeluk erat tubuh Aizhe, menangis diantara dua rasa yang mengamuk di hatinya. Ia sedih karena Eric sudah tiada sehingga tak bisa melihat putri mereka masih hidup dan senang karena Tuhan masih menjaga buah cinta mereka.
"Pantas saja awalnya aku merasa kau tak asing, ternyata memang kita punya hubungan, " isak Katherine masih belum melepaskan Aizhe.
"Eric… lihatlah, anak kita sudah bersama ku, sayang sekali kamu sudah pergi, Rik."
Ia lantas menyebut Eric meski sosok suaminya tak ada di antara mereka lagi, tapi ia merasa Eric tetap selalu ada bersamanya.
"Kau tau, Mama sayang banget sama kamu, Emi." Katherine mengungkap perasaannya dan kerinduannya. Ia menyebut nama pemberian dari Eric kepada Aizhe. Dengan sendirinya, Aizhe menangis tiba-tiba.
"Emi? Siapa itu, Mama?" tanya Aizhe belum paham apa yang sedang terjadi. Katherine meraih kedua tangan Aizhe dan mengatakan semuanya.
"Emi itu nama asli kamu, Nak. Ayah kamu yang berikan nama itu dulu, dan kamu adalah anak kami. Maafkan Mama yang pernah jahat padamu," jawab Katherine merasa lebih sakit karena tahu putrinya terlahir cacat.
"Maafkan Papa kamu juga."
Aizhe diam termenung. Ia kemudian memeluk Katherine dan menumpahkan rasa kerinduannya.
"Mama… Papa, Aizhe sangat rindu sama kalian."
__ADS_1
Katherine mengangguk pelan dan balas memeluknya.
"Mama juga sangat rindu padamu."
Arzen mengusap air matanya sendiri, merasa sangat terharu melihat mereka akhirnya dipertemukan selama 23 tahun berpisah. Sedangkan Victor cukup terkesima dengan kenyataan yang mengharukan dari keluarga pasiennya itu.
Sedangkan si kembar juga merasa sama. Terharu dan bersyukur keluarganya kembali utuh.
Katherine mengecup satu-satu tangan keenam cucunya dan memanjatkan puji syukur pada Tuhan yang memberinya balasan yang lebih baik sekarang. Pengacara yang hendak pulang, langsung dihadang oleh Arzen.
"Ada apa, Tuan Arzen? " tanya pengacara berhenti.
Pandangan Arzen berubah sinis dan dingin, ia maju dan menanyakan keberadaan Arita.
"Dimana Nenek saya sekarang? " Arzen ingin bicara serius padanya. Pengacara pun menjawab, "Mohon maaf, saya tidak tahu dimana Nyonya berada."
"Bohong! Anda pasti dipaksa untuk tutup mulut, kan? " Arzen meraih kerah lehernya dan mencengkeramnya.
Arzen melepaskannya dan mengatur emosinya. Ia kecewa berat pada kezaliman Nyonya Arita terhadap kehidupan dan keluarga anaknya sendiri. Pengacara pun mengundurkan diri dan tak mau berurusan lagi.
Meski ia tak tahu dimana Arita sekarang, Arzen tetap mengerahkan semua anak buahnya mencari Arita. Bahkan bukan hanya dia, polisi juga mencarinya.
Victor yang lelah pun pamit pulang setelah mengucapkan selamat kepada Katherine yang sudah berkumpul dengan putrinya.
Kini di rumah besar itu, suasana yang mengharukan tadi berubah ramai dan damai. Pembantu yang awalnya takut pada Katherine, kini mereka merasa lega dengan perubahan sifat dan sikapnya kepada Aizhe.
"Ya Tuhan, rencana engkau memang yang terbaik dan indah." Mereka memanjatkan puji syukur atas kebahagiaan majikannya itu. Sayang sekali, mereka sedih karena Tuan muda mereka yang baik hati dulu sudah tiada.
Malam ini, mereka makan bersama tanpa Arita. Terlihat Katherine selalu tersenyum tulus. Karena begitu bahagia, ia sendiri yang menyuapi Aizhe dan Ara bergantian. Arzen dan kelima anak tampannya merasa ikut senang.
Tak hanya disuapi, Aizhe malam ini tidur di samping Katherine yang memegang terus tangannya. Tampak Katherine sangat sayang dan bucin pada putrinya itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuhan." Aizhe menangis bahagia karena Katherine yang begitu sayang padanya dan pada enam anaknya. Karena Istrinya dan Ara direbut malam ini, Arzen tidur bersama lima bibit tampannya.
“Daddy,” Lima anak kembar di sampingnya tiba-tiba memanggil Arzen.
"Hm, kenapa? Kok kalian belum tidur dan bikin muka kusut, begitu?” tanya Arzen.
" Daddy, kita sudah lama ingin Mommy melihat, kapan mata Mommy bisa melihat?” Axel, Chloe, Nathan, Zee, dan Arzqa, sudah tidak sabar Ibu tercintanya melihat dunia.
Dengan senyuman manis, Arzen yang duduk di samping mereka, mengusap kepala lima jagoan tampannya bergantian.
“Kalian tidak perlu sedih dan murung begitu, Daddy sudah mendapatkan pendonor untuk Mommy. Hanya tinggal menunggu waktu kapan hari yang tepat melakukan operasinya," ucap Arzen.
“Mata baru? Woah! Siapa orang itu, Daddy?” Mereka berlima duduk dan sangat terkejut. Terutama Arzqa, Nathan dan Zee yang awalnya ingin memberikan matanya kepada Aizhe, mereka tidak sangka ada orang baik hati ingin Ibunya melihat.
"Daddy juga tidak tahu, dia melarang Daddy bertemu dengannya.” Arzen menggelengkan kepala dan menghembuskan nafas dengan kasar.
"Sekarang tidurlah, dan doakan operasi mata Mommy berjalan lancar.”
“Baik, Daddy!!” Nathan dan Arzqa tidur di samping Arzen sembari memeluk Ayah mereka yang masih setia menyayangi Aizhe setulus hati. “Makasih, Daddy.” Tidak lupa mengecup pipi Arzen yang merasa geli, tapi merasa senang adanya mereka, dapat membantu Aizhe hidup dan kembali pada Katherine.
" Terima kasih kembali.” Arzen balas mengecup kepala mereka. Tidur bersama dengan damai.
Sedangkan Arita, tampak terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Matanya bengkak dan merah karena sepanjang malam menangisi dosa-dosanya dan akhir hidup dari putranya dulu yang membuat kepribadian nya yang dingin dan kejam, hancur.
Mengingat dirinya yang pernah putus asa, Aizhe mulai percaya jika takdirnya telah dituntun ke dalam kebahagiaan yang sebenarnya. Tapi bagaimana dengan Nyonya Arita? Apa dia sungguh telah bertobat?
Dengan memberi mata ini, saya harap dosa-dosa saya dapat diampuni.
Apakah semudah itu? Apakah Aizhe suatu saat nanti mau menerimanya?
....
__ADS_1
Pendonor ginjal aja susah dicari, apalagi mata😰kira² endingnya nanti gimana ya?😢